
Husain langsung mengalihkan perhatiannya, pada bocah laki-laki tersebut.
"Kalena Bundanya Ammal diminta syama Yasmin, sekalang Om Syain jadi ayah Ammal, ya?" pinta Ammar dengan netra berbinar.
"Oh, kalau seperti itu, Om Syain pasti mau, Ammal," sahut Pak Haji yang menirukan gaya bicara Ammar, membuat semua orang tertawa kecuali Aulia.
Wanita cantik itu terlihat canggung dan bingung harus bersikap bagaimana. Tingkahnya jadi serba salah dan grogi.
"Jadi, bagaimana Mas Husain? Mau tetap pulang atau menginap di sini?" tanya Pak Haji menegaskan kembali, setelah beberapa saat kemudian.
Husain yang sudah menggendong Ammar kemudian melihat ke arah putrinya, yang nampak menyandarkan kepala dengan nyaman di bahu Aulia.
Tatapan laki-laki itu kemudian tertuju ke manik hitam wanita berhijab, yang memiliki suara lembut serta terdengar merdu di telinganya, siapa lagi kalau bukan Aulia.
"Jika Dik Lia tidak keberatan saya titip Yasmin sebentar, agar saya bisa laporan ke kantor dan nanti langsung kembali ke sini, maka saya akan menginap demi kebaikan Yasmin," balas Husain, mengambil kesempatan baik yang ditawarkan Pak Haji dan Bu Hajah kepada dirinya.
"Ide yang bagus," sahut Pak Haji seraya mengangguk-angguk.
"Nak Lia juga pasti tidak keberatan, ya, kan?" timpal Bu Hajah bertanya seraya tersenyum pada Aulia. Pertanyaan yang terdengar setengah memaksa pada putri angkatnya.
Aulia hanya diam, tak memberikan jawaban apapun. Di satu sisi, wanita cantik itu tidak masalah jika Yasmin ditinggal oleh papanya dan dipercayakan kepada dirinya.
Hanya saja, Aulia tidak mau terkesan memberikan harapan lebih kepada Husain karena pertemuan mereka kembali, juga baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.
"Ya sudah Mas Husain, Yasmin ditinggal dulu tidak apa-apa. Nanti biar Lia dibantu sama Ibu," tutur Pak Haji, memutuskan sepihak karena Aulia tak kunjung membuka suara dan malah menyibukkan diri dengan Yasmin dan Ammar yang telah turun dari gendongan Husain.
"Baik, Pak Haji, Bu Hajah. Saya permisi," pamit Husain.
"Dik Lia. Maaf, jika saya merepotkan. Saya titip Yasmin sebentar, ya," pinta Husain sebelum dirinya meninggalkan kamar Aulia.
Laki-laki berwajah manis dengan dua lesung pipi yang menambah daya tariknya ketika tersenyum itu, mengangguk sopan seraya tersenyum pada Aulia.
Wanita cantik itu Membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman yang tak kalah manis. "Tidak apa-apa, Mas. Mas Husain jangan khawatir, Yasmin tidak akan rewel," balas Aulia, tulus.
__ADS_1
Husain merasa sangat lega, mendengar jawaban yang dia nanti-nantikan dari wanita yang dulu adalah tetangganya tersebut.
Wanita, yang dulu terlihat biasa saja kala memandangnya karena status Aulia yang telah memiliki suami dan dirinya juga memiliki istri. Sehingga Husain harus menjaga pandangan dan perasaannya agar tidak tergoda dengan pesona wanita lain.
Kini, Aulia terlihat sangat berbeda di mata Husain. Dia nampak sangat istimewa. Tutur kata dan sikapnya yang lembut dan santun, telah mampu membuat Husain jatuh hati pada mantan tetangganya sendiri.
Husain kemudian segera berlalu meninggalkan kamar Aulia, setelah mengucapkan salam. Yang diikuti tatapan mata Pak Haji dan Bu Hajah, hingga punggung Husain menghilang di balik pintu.
Kedua orang tua paruh baya tersebut kemudian menatap Aulia dan tersenyum pada putri angkatnya tersebut, dengan senyuman yang penuh arti.
⭐⭐⭐
Di daerah wisata. Handoyo dan Cynthia terlihat sedang bersenang-senang, menikmati bulan madu mereka berdua.
Pasangan pengantin baru tersebut mengunjungi berbagai tempat wisata yang ada di daerah itu dan menikmati kebersamaan sebagai sepasang suami-istri, yang sedang mesra-mesranya.
Tawa keduanya begitu lepas, tanpa beban sama sekali. Mereka berdua seperti muda-mudi yang tengah dimabuk cinta dan baru saja melangsungkan pernikahan pertama. Hanya ada rasa bahagia dan bahagia.
Mereka melupakan bahwa ada anak yang seharusnya mereka beri perhatian dan kasih sayang, tetapi selama empat bulan ini, mereka benar-benar melupakan keberadaan anak-anak tersebut.
Ini adalah tempat terakhir yang mereka kunjungi hari ini, sebelum mereka kembali ke hotel dan melanjutkan jalan-jalannya untuk menghabiskan waktu berbulan madu, esok hari.
"Ayo! Mas akan belikan berapapun yang kamu mau, Sayang. Kalau perlu, sama gerainya sekalian," balas Handoyo, dengan begitu sombongnya.
Ayah Ammar itu memeluk mesra pinggang sang istri dan membawanya menuju gerai yang di maksud Cynthia.
Setelah beberapa saat mengantri, Cynthia mendapatkan es krim yang dia mau dan mereka berdua kemudian menuju taman yang berada tak jauh dari gerai es krim tersebut.
Cynthia menikmati es krimnya sambil sesekali memberikan suapan kepada sang suami dan Handoyo terlihat sangat menikmati momen kebersamaan tersebut.
"Aku bahagia sekali, akhirnya bisa memilikimu, Sayang," ucap Handoyo, sambil mengecup lembut puncak kepala sang istri.
"Aku juga sangat bahagia, Mas. Kamu memberikan segala yang aku mau dan kamu memenuhi semua kriteria laki-laki idamanku," balas Cynthia, memuji sang suami.
__ADS_1
Wanita yang saat ini mengenakan gaun seksi tersebut, kemudian mencium bibir suaminya sekilas.
"Kok, cuma gitu doang," protes Handoyo, menuntut lebih.
"Ya jangan di sini kali, Mas. Banyak anak-anak, tuh," tolak Cynthia ketika Handoyo hendak menekan tengkuknya.
"Terus di mana, Sayang? Kalau balik ke hotel 'kan, kejauhan," balas Handoyo, merajuk.
Rupanya, laki-laki tersebut sedang mode on dan ingin segera dipuaskan oleh wanita yang selalu dapat memberikan kepuasan maksimal kepada dirinya.
"Bagaimana kalau di dalam mobil?" tawar Cynthia, memberikan solusi.
"Mas bawa mobilnya ke ujung taman sana, sepertinya di sana sepi," lanjut Cynthia memberikan ide, setelah mengedarkan pandangan.
Bergegas mereka berdua bangkit dan kemudian segera menuju mobil yang terparkir tak jauh dari gerai es krim.
Handoyo melajukan mobilnya perlahan, menjauh dari keramaian dan menuju tempat yang tadi ditunjuk oleh sang istri.
"Mas, lihat. Di sana ternyata ada danau!" seru Cynthia seraya menunjuk ke arah kanan, di mana ada sebuah danau buatan yang cukup tersembunyi karena berada di balik pohon-pohon besar yang menjadi pagar pembatas antara taman dan danau tersebut.
Handoyo kemudian mengarahkan mobilnya ke danau.
"Sepertinya, di sini dijadikan tempat untuk bersenang-senang, Sayang. Lihatlah mobil-mobil itu," ucap Handoyo seraya menunjuk ke sebuah mobil yang bergoyang sendiri.
Meskipun mobil itu terparkir di pinggir danau di bawah pohon rindang, tetapi mobil tersebut terus bergoyang seolah mengikuti pergerakan orang yang berada di dalam sana.
Bukan hanya satu mobil, tetapi ada beberapa mobil lain yang sama, mobil itu juga bergoyang berirama, mengikuti pergerakan pasangan yang sedang asyik masyuk di dalamnya.
"Ayo, Mas! Kita cari tempat parkir," ajak Cynthia dengan tidak sabar.
💖💖💖 bersambung ...
Karena puasa, mobil bergoyangnya diskip, ya ☺☺
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa, bagi semua yang menjalankan 🙏🙏