
Ammar dan Yasmin menyambut kedatangan papa dan bundanya dengan penuh suka cita. Kedua bocah yang hanya berselisih usia sekitar satu tahun tersebut terlihat melompat dan menari-nari saking bahagianya, begitu mendengar dari sang bunda bahwa mereka berdua mau diajak jalan-jalan ke kota.
"Hoye, tita pelgi, Yang," ucap Yasmin seraya menarik-narik gamis eyang putrinya.
"Iya, Adik pergi sama Mas Ammar, sama Bunda dan Papa, ya," balas Bu Hajah.
"Ingat, Adik tidak boleh rewel. Oke, Sayang," pesan Bu Hajah yang kini telah berlutut, mensejajarkan tingginya dengan tinggi Yasmin.
"Ote, Eyang. Adek ndak lewel, kok," balas Yasmin dengan menggemaskan, hingga membuat Bu Hajah tak kuasa untuk tidak mencubit pipi chabinya dengan gemas.
"Umm ... pinter banget, sih, kamu." Bu Hajah kemudian menciumi pipi Yasmin bertubi-tubi, hingga membuat gadis kecil tersebut terkikik, geli.
"Sudah, Bu. Nanti gantian bapak, ya, yang digituin." Suara Pak Haji menyudahi aksi Bu Hajah.
"Ish, Bapak. Bikin malu, saja. Ingat umur, Pak. Malu 'kan, sama anak dan cucu," protes Bu Hajah yang wajahnya telah memerah.
Husain dan Aulia tersenyum bahagia, melihat kehangatan pasangan yang tak lagi muda tetapi masih sangat romantis tersebut.
"Kita juga akan seperti beliau berdua, Sayang. Menua bersama dalam cinta dan sayang yang tidak akan pernah berkurang," bisik Husain, membuat hati Aulia membuncah bahagia.
"Terimakasih, Mas. Lia pasti bahagia berada di sisi, Mas. Lia akan selalu mencintai dan menyayangi, Mas. Melayani semua kebutuhan, Mas," balas Aulia seraya menatap sang suami dengan tatapan penuh cinta.
Aulia seperti seorang remaja yang baru pertama kali merasakan cinta. Setelah menikah dengan sang suami, dia merasa dicintai, disayangi dan dihargai. Dipuja dan dimanja, sepanjang masa.
Begitu pula dengan Husain. Setelah menikah dengan sang istri, dia merasa menjadi laki-laki sejati. Dicintai, dihormati, dan dilayani setiap hari.
Mereka berdua sama-sama menemukan kebahagiaan yang selama ini tertunda karena memiliki pasangan yang salah.
"Sudah, mesra-mesraannya lanjut nanti malam. Sana, jalan! Keburu siang, panas," titah Pak Haji, mengurai kemesraan pasangan pengantin baru tersebut.
"Bapak dan Ibu, ikut sekalian, yuk. Biar rame," pinta Aulia.
"Tidak perlu, Nak. Kami akan menunggu di rumah kalian saja, sekalian menata barang-barang kami di sana," tolak Bu Hajah dengan halus.
Wanita paruh baya tersebut mengusap punggung Aulia dengan penuh kasih. "Semoga jalan-jalannya menyenangkan, Nak. Berbahagialah kalian."
__ADS_1
"Terimakasih, Bu. InsyaAllah kami akan selalu bahagia. Do'akan kami selalu ya, Bu," pinta Aulia seraya menyalami Bu Hajah, untuk berpamitan.
Husain juga berpamitan dengan Pak Haji, yang kemudian diikuti oleh kedua putra putri mereka.
"Yang Kung dicium dulu, dong," pinta Pak Haji yang telah berjongkok, seraya memeluk kedua cucunya.
Ammar dan Yasmin langsung mencium pipi eyang kakungnya, pipi kanan dan kiri, bersamaan. Mereka berdua kemudian terkikik geli karena kumis Pak Haji terasa menggelitik di kulit lembut keduanya.
"Geyi, Yang," protes Yasmin seraya mengusap pipinya.
Pak Haji terkekeh, laki-laki paruh baya tersebut malah semakin menjadi menggoda Yasmin dengan menciumi gadis kecil tersebut dengan sangat gemas.
Tawa Yasmin pun memenuhi ruang keluarga di ruko Pak Haji.
"Sudah, Pak. Mereka biar segera berangkat." Suara Bu Hajah membuat Yasmin terbebas dari eyang kakungnya.
Pak Haji kemudian mencium puncak kepala Ammar dengan sayang. "Jaga adik ya, Mas," pesan Pak Haji pada Ammar, seolah Ammar adalah anak laki-laki yang sudah besar.
"Pasyti, Eyang. Ammal akan jaga Adik dengan benal," balas Ammar layaknya sang kakak yang penuh tanggungjawab pada adik perempuannya.
Aulia juga menyempatkan diri berpamitan kembali dengan Mbak Jum, meski tadi sewaktu sarapan wanita berhijab tersebut sudah mengatakan pada istri Mas Dul bahwa mereka akan pergi.
"Hati-hati ya, Dik Lia. Moga jalan-jalannya menyenangkan." Mbak Jum tersenyum seraya melambaikan tangan dari ambang pintu warung makan.
Setelah memastikan semua duduk dengan nyaman di dalam mobil dan Ammar yang duduk di bangku depan, di samping sang papa sudah mengenakan sabuk pengaman, Husain perlahan melajukan mobilnya meninggalkan halaman ruko yang diiringi lambaian tangan Pak Haji dan sang istri.
Sepanjang perjalanan, keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia tersebut, saling bercerita dan bercanda ria. Celoteh Yasmin yang seringkali ditanggapi Ammar dengan lucu, membuat Aulia dan Husain, semakin merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.
Membuat jarak yang ditempuh selama hampir satu jam tersebut, sama sekali tak terasa. Tahu-tahu, mobil Husain telah memasuki kawasan kota lama, tempat keluarga Luna tinggal.
"Mas, nanti di depan ada toko buah. Kita berhenti sebentar di sana, ya. Mau beli buah untuk mama," pinta Aulia.
"Mama?" tanya Husain dengan dahi berkerut.
Sepengetahuan Husain, mamanya Aulia tinggal di kota kecil, kota yang sama dengan mereka tinggal karena sebelum menikah, Aulia pernah mengajaknya untuk datang ke rumah orang tuanya hendak meminta restu.
__ADS_1
Lagi-lagi, kakak pertama Aulia menghalangi dan mengusir kembali Aulia dan Husain.
"Benar-benar bikin malu, kamu! Belum lama pisah sama suami, sudah langsung menggandeng laki-laki lain!" hardik seorang wanita yang seusia dengan Husain, ketika pintu rumah orang tua Aulia baru saja terbuka.
"Mbak, dengerin Lia du ...."
"Tidak ada lagi yang perlu aku dengar. Semua sudah jelas sekarang karena keluarga Handoyo datang kemari dan mengatakan bahwa kamulah yang meninggalkan dia! Ternyata benar, kamu yang selingkuh, Lia!" Kakak kandung Aulia, menuding adiknya dengan jari telunjuk yang terlihat bergetar karena amarah.
Melihat bahwa tidak mungkin kakak kandung Aulia bisa diajak bicara baik-baik, Husain kemudian mengajak calon istrinya itu untuk pulang.
"Sudah, Dik. Ayo, kita pulang! Tidak perlu menjelaskan apapun kepada orang yang sudah terlanjur membenci kita karena percuma, meski mulut kita sampai berbusa, dia akan tetap dengan kebenciannya." Husain menatap Aulia dengan tatapan teduh.
"Jangan khawatir, Allah tidak tidur. Suatu saat, kebenaran akan terungkap dan semua tabir gelap akan terbuka. Semoga mereka tidak terlambat menyadari bahwa apa yang mereka yakini adalah kabar yang salah," lanjut Husain mencoba menenangkan Aulia.
Aulia mengangguk, mengerti. Meski dengan berat hati, Aulia kembali meninggalkan halaman rumahnya dengan langkah lunglai karena lagi-lagi kehadirannya ditolak oleh keluarga kandung sendiri.
"Iya, Mas. Lia biasa manggil mama pada mamanya Luna." Suara lembut Aulia, mengurai lamunan Husain.
"Dan Ammal manggilnya, Oma Baik, Pa," sahut Ammar.
"Oma Baik? Memangnya ada ya, oma yang tidak baik?" tanya Husain seraya menoleh sekilas pada sang putra.
"Ada, Pa. Neneknya Ammal, nenek 'kan syuka jahat syama Bunda," balas Ammar seraya menoleh ke bangku belakang, tempat di mana sang bunda duduk seraya memangku kepala Yasmin yang ketiduran.
"Mas Ammar, nenek tidak jahat, Nak," sanggah Aulia yang tidak ingin meracuni pikiran sang putra.
"Nenek jahat, Nda. Nenek 'kan syuka malah-malah syama Bunda, sepelti ayah. Tidak sepelti kakek yang syuka senyum kalau lihat bunda," balas Ammar yang sudah bisa membedakan mana orang yang suka sama bundanya dan mana yang tidak.
Husain menatap Aulia melalui pantulan kaca spion di depannya. Hatinya ikut sakit mengetahui kenyataan bahwa bukan hanya Handoyo yang bersikap kasar pada Aulia, tetapi ternyata mantan ibu mertuanya pun memperlakukan bundanya Ammar tersebut dengan tidak baik.
'Permata indah sepertimu harusnya dijaga dan disayang, Dik, bukannya disia-siakan dan dibuang seperti itu!' protes Husain, geram.
Aulia menghela napas panjang, tiba-tiba teringat akan papa mertuanya. 'Papa apa kabar, Pa? Siapa yang merawat papa sekarang? Semoga bibi masih betah ngurus papa,' monolog Aulia dalam diam.
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1