Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Membawa Yasmin


__ADS_3

Husain membuang kasar napasnya dan hendak berlalu, tetapi Cynthia mencegah.


"Oh ... iya, Pa. Ada yang mau aku sampaikan," ucap Cynthia dengan senyumnya yang mengembang sempurna.


"Malam ini juga, aku minta pisah! Aku sudah lelah menjalani hidup melarat bersama kamu!" ucap Cynthia, tegas dan tanpa terlihat penyesalan di matanya.


Husain mengerutkan dahi, tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. "Apa aku tidak salah dengar, Cyn? Mau pisah? Kenapa, Cyn?" cecar laki-laki berkulit sawo matang tersebut.


"Ya karena aku sudah tidak mencintai kamu lagi, Mas!" balas Cynthia, ketus.


"Mulai sekarang, aku akan hidup bersama Mas Handoyo dan kami akan segera menikah!" imbuhnya seraya tersenyum smirk.


"Mas Han, tetangga kita?" tanya Husain, memastikan.


"Iya, Mas Han. Kenapa?" tanya Cynthia dengan tatapan mengejek.


"Tidak mungkin, Cyn. Istri Mas Han orang yang sangat baik. Tidak mungkin Mas Han melepaskan Lia begitu saja," balas Husain, tak yakin.


"Baik? Percuma baik kalau dia tidak bisa memuaskan suaminya. Nyatanya, Mas Han malah mengejarku," ucap wanita bertubuh seksi tersebut, penuh percaya diri.


"Jadi selama ini, kamu dan dia ...."


"Ya, aku dan Mas Han sudah lama menjalin hubungan. Dan Lia, wanita yang penampilannya kuno itu sekarang sudah pergi dari rumah Mas Han. Jadi, aku yang akan menggantikan posisinya menjadi ratu di rumah megah itu," sergah Cynthia, dengan pongah.


Husain menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskan dengan kuat. 'Lia pergi? Apa dia sudah tahu perselingkuhan suaminya dan Cynthia, hingga kemudian memutuskan untuk pergi? Kenapa tadi, Lia tidak bilang apa-apa padaku?'


Husain kemudian segera berlalu menuju kamar sang putri, tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia pun tak ingin bertanya, apakah Cynthia akan membawa putri semata wayang mereka atau tidak. Sebab, laki-laki yang memiliki tatapan teduh tersebut sangat yakin, bahwa mamanya Yasmin tersebut pasti tidak akan berpikir sampai sejauh itu.

__ADS_1


"Mungkin, ini adalah jalan terbaik untuk kami," gumam Husain sambil menuju ranjang tempat di mana Yasmin tengah terbaring lemah.


"Mam-ma," ucap Yasmin, terbata.


Sepertinya benar apa yang dikatakan Husain tadi, bahwa Yasmin merindukan kehadiran sang mama. Meski bagaimana pun sikap Cynthia selama ini terhadap Yasmin, ikatan batin antara ibu dan anak itu, tetaplah ada.


"Sayang, mama masih ada urusan lagi. Yasmin di rumah sama papa, ya," bujuk Husain seraya mengusap lembut puncak kepala sang putri.


Netra laki-laki tersebut berkaca-kaca, bukan karena sedih wanita yang telah dinikahinya selama lima tahun ini meminta berpisah dan ternyata selama ini dia juga menduakannya, tetapi Husain bersedih melihat keadaan sang putri.


Seorang anak kecil yang tengah sakit dan merindukan mamanya, tetapi sang mama tak perduli dan memilih pergi demi kesenangannya sendiri.


'Sepertinya, tidak akan baik bagi kami jika masih tetap tinggal di rumah ini. Sementara Cynthia tinggal dan bersenang-senang di rumah sebelah, bersama laki-laki lain.'


'Sebaiknya, aku cari tempat tinggal baru dan menjual rumah ini. Rumah yang tidak pernah ada kehangatan yang utuh di dalamnya,' lanjutnya, bergumam dalam hati.


Tengah asyik Husain berselancar dengan ponselnya, terdengar Cynthia berteriak dari ruang depan. Tak ingin ada keributan di rumahnya, laki-laki bertubuh tinggi tersebut segera keluar dari kamar setelah sebelumnya berpamitan pada sang putri.


"Papa keluar sebentar ya, Sayang," bisik Husain lembut seraya mengecup kening Yasmin.


Yasmin yang tubuhnya kembali panas setelah dijemput sang ayah dari rumah Aulia tadi, hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


"Ada apa?" tanya Husain, setelah dirinya berada tak jauh dari Cynthia.


"Aku keluar sekarang, aku bawa motorku karena motor itu kamu beli atas namaku, kan?" tanya Cynthia yang tidak membutuhkan jawaban apalagi persetujuan.


Husain hanya membiarkan saja, ibu dari anaknya tersebut berbuat semaunya. Papanya Yasmin tersebut juga tidak bertanya, apakah Cynthia tidak akan berpamitan terlebih dahulu pada Yasmin?

__ADS_1


"Aku baru bawa sedikit baju dan pakaian kerjaku. Besok, baru aku ambil semua," ucap Cynthia sambil mengeluarkan motor matic besar yang dibeli Husain dengan cara kredit karena Cynthia terus saja merajuk, meminta dibelikan motor yang harganya mahal tersebut.


"Jangan lama-lama ambil barang-barang kamu karena mungkin besok, rumah ini sudah berpindah tangan," balas Husain, dingin.


"Kamu mau jual rumah ini?" tanya Cynthia, menghentikan mendorong motornya.


Husain hanya mengangguk.


"Lantas, kalian mau tinggal di mana?" cecar Cynthia, penasaran.


"Bukan urusan kamu lagi," balas Husain, tetap dingin.


"Cih!" Wanita yang sudah dandan maksimal karena ingin bertemu dengan sang kekasih tersebut, berdecih. "Enggak usah sombong, Pa! Aku pastikan, kamu akan merengek padaku dan meminta kembali dengan alasan Yasmin!" lanjutnya, sangat ketus.


Husain hanya tersenyum, sama sekali tak mengeluarkan suara untuk menanggapi ocehan Cynthia yang tak penting lagi baginya.


Hati laki-laki itu memang sakit mengetahui kenyataan bahwa istrinya ternyata selama ini selingkuh dengan tetangga sebelah rumah, tetapi Husain sekaligus bersyukur karena Cynthia tidak mengambil Yasmin darinya.


'Kami pasti akan hidup dengan lebih bahagia, daripada kalian,' batin Husain, terselip do'a untuk dirinya dan sang putri.


Baru saja Cynthia menstarter motornya, tiba-tiba terdengar suara tangis Yasmin yang ternyata menyusul sang papa keluar.


"Mam-ma," panggil Yasmin.


Husain buru-buru mengangkat tubuh mungil sang putri yang terasa panas menyentuh kulitnya. "Sayang, mama mau berangkat kerja dulu, Nak. Yasmin di rumah sama papa ya," bujuk Husain yang langsung menutup pintu rumahnya.


Meninggalkan Cynthia seorang diri yang masih terduduk di atas motor matic yang sudah siap untuk meluncur. 'Apa, aku membawa Yasmin bersamaku saja, ya?' batin Cynthia, galau.

__ADS_1


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_2