Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Ambil Sendiri Jatahnya


__ADS_3

"Sayang, mama mau berangkat kerja dulu, Nak. Yasmin di rumah sama papa ya," bujuk Husain yang langsung menutup pintu rumahnya.


Meninggalkan Cynthia seorang diri yang masih terduduk di atas motor matic yang sudah siap untuk meluncur. 'Apa, aku membawa Yasmin bersamaku saja, ya?' batin Cynthia, galau.


'Nanti sajalah, aku bicarakan dulu sama Mas Han.' Cynthia segera mengenakan mantel karena hujan deras masih mengguyur bumi. Wanita ambisius itu kemudian segera melajukan motor maticnya perlahan, menuju rumah baru, rumah megah idamannya selama ini.


Besar harapan Cynthia untuk dapat menguasai, bukan hanya Handoyo, tetapi seluruh kekayaan laki-laki yang menjadi kekasihnya tersebut.


'Sudah saatnya aku menjadi ratu di rumah megah ini, bukan di rumah sempit dan pengap seperti rumahnya Husain!' Bibir Cynthia menyunggingkan sebuah senyuman, ketika wanita tersebut memarkirkan motornya di halaman rumah yang tinggi milik Handoyo.


Dari tempatnya berdiri sekarang, Cynthia dapat melihat dengan jelas ke arah rumah lamanya yang halamannya lebih rendah. Dia tatap pintu rumahnya yang tertutup rapat, dengan tatapan sinis.


'Selamat tinggal, Husain. Aku sudah bebas sekarang, hidupku pasti akan lebih bahagia di rumah ini.'


"Sayang, kenapa enggak langsung masuk?" Suara bass yang sangat Cynthia kenali, mengurai lamunan wanita seksi tersebut.


"Iya, Mas. Baru saja nyampai, kok," balas Cynthia seraya melepaskan mantel dan kemudian menyimpan di atas motor maticnya.


"Aku sudah tidak tahan, Sayang. Ayo, kita masuk!" ajak Handoyo yang langsung membopong tubuh molek sang kekasih, membuat Cynthia terkejut dan menjerit kecil.


"Aw, Mas ... kamu nakal, deh," protes Cynthia seraya menepuk pelan dada Handoyo.


Handoyo berjalan masuk sambil menciumi wajah glowing Cynthia, wajah yang selalu terawat dan tak pernah lepas dari foundation dan bedak.


Rumah Handoyo yang berpagar tinggi, membuat laki-laki itu merasa nyaman melakukan apa saja di rumahnya karena para tetangga pasti tidak akan melihat apa yang baru saja dia lakukan terhadap Cynthia.


"Mas, aku belum makan, loh. Masak sudah mau dihajar lagi," rajuk Cynthia ketika mereka berdua sudah berada di ruang keluarga. Ruangan tempat Handoyo tadi membanting ponsel Aulia, yang bekasnya masih berserak di mana-mana.


"Aku juga belum makan, Sayang, tapi enggak masalah 'kan, kalau kita main satu ronde dulu di sini?" pinta Handoyo seraya merebahkan tubuh seksi Cynthia di atas sofa empuk.

__ADS_1


Cynthia mengangguk, senang. "Mas, itu bekas apa, sih?" tanyanl Cynthia ketika netranya menangkap pecahan ponsel yang berserak di lantai.


"Ponselnya Lia, tadi aku banting setelah dia menunjukkan kebersamaan kita di hotel tadi pagi," balas Handoyo.


"Oh ya, Mas. Kamu belum cerita secara detail, kenapa dia pergi dari rumah ini?" tanya Cynthia.


"Sstt ... jangan bahas lagi, wanita enggak penting itu!" elak Handoyo yang langsung membungkam bibir Cynthia dengan bibirnya.


Selanjutnya, suara-suara seksi yang keluar dari bibir mereka berdua, berlomba dengan suara derasnya air hujan yang turun semakin lebat dan disertai dengan petir yang menggelegar memecah kesunyian menjelang malam tersebut.


Dua insan yang tidak terikat dalam hubungan halal tersebut, terus berpacu dan berlomba untuk meraih kenikmatan dunia yang sifatnya hanya sementara saja.


Peluh bercucuran membasahi tubuh polos keduanya, meski hujan terus mengguyur bumi dan menciptakan udara yang dingin, tetapi dua anak manusia tersebut terus menggeliat-geliat di atas sofa seperti cacing kepanasan.


"Lebih cepat, Mas!" racau Cynthia yang hampir mencapai puncak kenikmatan.


Cynthia mengangguk seraya tersenyum senang, tak ada lagi yang perlu mereka berdua khawatirkan. Toh, jika sampai Cynthia hamil, mereka memang akan segera menikah ketika semua urusan mereka berdua telah beres dengan pasangan masing-masing.


Sedetik kemudian, suara lenguhan panjang keduanya yang tersamarkan dengan suara petir yang menggelegar, mengakhiri sesi panas percintaan Handoyo dan Cynthia.


⭐⭐⭐


Di tempat lain, tepatnya di kediaman sahabat Aulia.


"Nomor ponselnya enggak bisa aku hubungi, Lut. Dari siang tadi, loh," balas Luna pada suara di seberang telepon.


Ya, Lutfi menelepon Luna untuk menanyakan kabar tentang Aulia karena pemuda tersebut khawatir dengan mantan kekasihnya tersebut, setelah Aulia tiba-tiba pulang tanpa berpamitan dan tidak berhasil dikejar oleh Lutfi.


"Kalau kamu datangi rumahnya bisa enggak, Lun? Kalau aku yang ke sana 'kan, enggak enak," pinta Lutfi, setengah memaksa.

__ADS_1


"Di sini hujan deras, Lut. Besok saja, ya," tolak Luna, dengan halus.


"Baiklah, Lun. Aku tunggu kabar dari kamu segera, ya," harap Lutfi.


"Siap, Lutfi. Udah, kamu jangan khawatir, Lia pasti enggak kenapa-napa," balas Luna, menghibur.


Terdengar helaan berat napas Lutfi. "Semoga saja, Lun," ucapnya yang kemudian mengakhiri panggilan telepon.


"Siapa, Yang?" tanya suami Luna. "Mantannya Lia, ya?" tebak Ferdi kemudian.


"Iya, Mas. Dia kayaknya masih mengharapkan Lia, deh. Kasihan juga sebenarnya Lutfi, tapi 'kan mereka sekarang sudah hidup masing-masing. Lia sudah nikah dan si Lutfi sendiri, sudah memiliki tunangan." Luna menghela napas panjang.


"Aku enggak yakin, meski misalnya saja ternyata Lia tak bahagia dengan suaminya dan berpisah, dia mau kembali pada Lutfi karena dia pasti enggak akan mau, jika ada wanita lain yang tersakiti," ucap Luna.


"Hush, kok kamu ngomongnya kayak gitu sih, Sayang. Enggak baik tahu menebak hal yang tidak baik terjadi pada orang lain, apalagi 'kan Lia sahabat kamu," protes Ferdi, mengingatkan.


Luna mengedikkan bahu. "Entah ya, Mas. Kok aku merasa, ada yang ditutup-tutupi Lia tentang suaminya," kekeuh Luna.


"Udah, ah. Ayo, tidur! Sudah larut malam. Besok kamu 'kan harus berangkat pagi, Yang," ajak Ferdi, mengingatkan seraya mengganti lampu utama kamar dengan lampu tidur.


"Malam ini, ada jatah enggak, Yang?" bisik Ferdi, bertanya.


"Ambil sendiri jatahnya, Mas. Aku ngantuk banget," balas Luna yang memang kelelahan karena seharian tadi dirinya mondar-mandir, untuk menyapa teman-teman lamanya.


"Dengan senang hati, Sayang."


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_1


__ADS_2