Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Pamer Kemesraan di Tempat Umum


__ADS_3

Sementara di bangku lain, dua pasang mata tengah memperhatikan keduanya sejak keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia itu, memasuki mall.


"Apa Mas enggak menaruh curiga sama mereka? Jangan-jangan, mereka sudah main di belakang kita terlebih dahulu, sebelum kita menjalin hubungan Mas."


Laki-laki berahang tegas yang duduk di samping Cynthia, terus menatap ke arah pasangan Husain dan Aulia.


Sementara Cynthia masih ngoceh dengan opininya sendiri yang meraba dan menduga, bagaimana mantan suaminya bisa bersama dengan mantan istri dari Handoyo.


'Kamu beda sekali, Lia. Cantik, lebih montok dan terlihat menggemaskan.' Handoyo tersenyum dikulum, membayangkan bagaimana dulu ketika dia melakukan malam pertama dengan Aulia.


Aulia yang masih ranum, tubuhnya padat dan berisi, kulitnya bersih dan aroma tubuh wanita itu sangat wangi. Hingga membuat Handoyo, lupa diri dan malam itu dia menghabiskan waktu dengan menggempur sang istri sampai pagi.


Seiring berjalannya waktu, tubuh Aulia habis dan hanya menyisakan kulit pembungkus tulang. Wajah cantiknya tak pernah mendapatkan polesan, hingga terlihat kering dan kusam.


Aroma wangi yang bikin Handoyo menggila, berganti dengan aroma dapur, dan pakaian bagus yang semakin memperindah penampilan Aulia, tak lagi pernah dia lihat. Hingga membuat rasa cinta Handoyo pada istri kecilnya kala itu, menguap entah kemana.


Sementara wanita berhijab yang terus diperhatikan oleh Handoyo dari jarak aman, nampak bergelayut manja di lengan sang suami.


"Bagaimana menurut kamu, Mas? Aku benar, kan? Mereka juga sama saja seperti kita? Lihat, tuh, mantan istri Mas yang tidak punya malu," cecar Cynthia, membuat lamunan Handoyo buyar seketika.


Handoyo menoleh ke arah istrinya dengan menyipitkan mata. "Aulia bukan tipe wanita seperti itu, Cyn! Aku yakin itu!" tegas Handoyo.


Cynthia cemberut. "Kenapa, sih, kamu malah belain dia, Mas?"


"Aku tidak membela siapa-siapa, Cyn, aku hanya berbicara sesuai yang aku ketahui," balas Handoyo dengan tatapan yang masih tertuju ke arah sang mantan istri yang semakin terlihat menawan.


"Itu buktinya mereka secepat ini bersama, kan?" kekeuh Cynthia yang mempertahankan prasangka buruknya.


"Sudah, tidak perlu membahas kenapa sekarang mereka bersama. Mereka bebas mau ngapain saja dan itu bukan lagi urusan kita, kan?" Handoyo segera beranjak.


"Mas mau kemana?" tanya Cynthia seraya menarik tangan Handoyo.


"Kamu jadi belanja atau mau jadi mata-mata?" tanya Handoyo balik.


"Tadi kupikir, kamu memintaku untuk mengikuti mereka karena kamu ingin bertemu dengan anakmu. Rupanya aku salah karena ternyata, kamu hanya ingin mencari-cari kesalahan mereka saja." Handoyo segera berlalu meninggalkan wahana permainan anak-anak tersebut.


Mau tak mau, Cynthia mengejar langkah panjang sang suami dengan menggerutu panjang pendek. Dia nampak tidak suka melihat tawa bahagia sang mantan suami yang tatapannya senantiasa terlihat mesra pada Aulia, wanita yang suaminya telah dia goda.


"Mas, tunggu," pinta Cynthia yang segera mensejajarkan langkah dengan Handoyo. Wanita yang mengenakan gaun seksi dengan belahan dada terbuka tersebut kemudian memeluk lengan sang suami.

__ADS_1


"Mas, kita cari minum dulu, yuk! Mas pasti haus, kan?" Cynthia mencoba mengembalikan mood sang suami yang sedari tadi menekuk wajah.


Dia tak ingin suaminya berubah pikiran dan kemudian mengajak Cynthia pulang, sebelum keinginannya untuk berbelanja barang-barang yang telah lama dia incar terkabulkan.


"Hem," balas Handoyo hanya dengan gumaman.


Cynthia segera menuntun sang suami menuju kafe resto yang ada di dalam mall tersebut.


Sementara Aulia dan sang suami, masih asyik bercengkrama dengan sangat mesra, sambil tatapan mereka tak pernah lepas dari wahana permainan anak, di mana Ammar dan Yasmin sedang asyik bermain.


Sesekali, celoteh Ammar dan tawa Yasmin terdengar hingga ke telinga mereka berdua, dan itu membuat papa dan bunda yang baru menikah tiga hari yang lalu tersebut, sangat bahagia.


"Mas, sepertinya sudah cukup mereka bermain. Kasihan kalau kelamaan, nanti mereka kecapekan," ucap Aulia yang tengah menyandarkan kepala di bahu sang suami. Tatapan wanita cantik tersebut masih tertuju ke arah anak-anak.


"Yakin, akan menyudahi kebahagiaan mereka, Sayang?" tanya Husain.


Aulia mendongak, menatap sang suami. "Iya, Mas. Sudah waktunya makan siang juga, mereka pasti mau kalau kita ajak makan ayam. Ammar paling suka sama ayam goreng dan Yasmin, dia 'kan suka banget sama kentang goreng."


"Baiklah. Ayo, kita ke sana!" ajak Husain.


Pasangan pengantin baru tersebut kemudian menghampiri Ammar dan Yasmin.


"Bental lagi ya, Nda!" tawar Ammar, yang juga berseru.


"Mas Ammar, kasihan Adik, Mas. Kalau kelamaan diajak main, nanti Adik sakit."


Mendengar kata sakit, Ammar langsung menggandeng tangan sang adik dan mengajak Yasmin untuk menghampiri kedua orang tua mereka yang ada di luar pagar wahana tersebut.


Aulia tersenyum bahagia, menyaksikan betapa Ammar sangat bisa menjadi seorang kakak yang baik untuk Yasmin.


"Anak papa capek, ya, Nak," ucap Husain yang kemudian mengangkat tubuh kecil sang putri.


"Ndak tapek, Pap-pa," balas Yasmin dengan netra berbinar bahagia.


"Mas yang tapek, Mas yayi-yayian," lanjutnya seraya menunjuk Ammar.


"Mas Ammar capek? Kalau capek, biar papa gendong," tawar Husain.


"Papa mau gendong kami beldua?" tanya Ammar yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


"Mas digendong Papa, biar Adik digendong sama mama," sahut Aulia yang kemudian mengambil Yasmin dari gendongan sang suami.


"Hole," sorak mereka berdua bersamaan.


Keluarga kecil yang tengah berbahagia itu pun segera meninggalkan lantai tersebut, untuk menuju lantai lain yang menyediakan berbagai makanan cepat saji.


Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman, Husain segera memesankan makanan sesuai dengan keinginan anak-anak.


Husain juga memesan untuk dirinya sendiri dan juga untuk sang istri.


Tak berapa lama, makanan yang mereka pesan telah terhidang di atas meja.


Aulia nampak sibuk meladeni kedua anaknya. "Mas Ammar, makan sendiri, ya," ucap Aulia setelah mencuci tangan sang putra.


Ammar kemudian makan sendiri dengan sangat lahap karena tenaganya telah terkuras habis untuk bermain-main tadi.


Sementara Yasmin disuapi oleh Aulia dengan tangannya.


"Sayang, buka mulutnya," titah Husain yang sudah siap hendak menyuapi sang istri.


"Lia bisa makan sendiri, Mas, tapi nanti setelah menyuapi Adik," tolak Aulia dengan halus.


"A' ..." paksa Husain yang tak ingin Aulia telat makan gara-gara menyuapi Yasmin yang makannya lama tersebut.


"Kita makan sama-sama, Sayang. Laper bareng, kenyang pun harus bareng-bareng," ucap Husain seraya tersenyum lebar, menampakkan kedua lesung pipinya yang membuat Husain semakin menawan.


Laki-laki berwajah manis dan sikapnya selalu manis pada sang istri tersebut kemudian melanjutkan makannya, sambil menyuapi istri tercinta.


Lagi-lagi, keromantisan pasangan pengantin baru tersebut, tertangkap oleh pandangan Cynthia dan Handoyo yang sedang menikmati kopi di kafe resto yang sama.


Niat Cynthia mengajak Handoyo untuk minum kopi agar mood mereka yang sempat memburuk karena melihat kehadiran sang mantan beserta anak-anak memasuki mall bisa kembali membaik, kini justru semakin memburuk.


Apalagi Cynthia dan Handoyo saat ini harus melihat kehangatan dan keromantisan keluarga kecil yang tengah menikmati hidangan makan siang tersebut. Di mana Aulia sedang menyuapi putrinya, sementara mantan suaminya menyuapi Aulia.


Pemandangan tersebut membuat pasangan peselingkuh itu, semakin panas dan meradang.


"Ck ... norak! Pamer kemesraan di tempat umum!" gerutu Cynthia dengan bibir mengerucut.


💖💖💖 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2