
Di sebuah gedung sekolah Taman Kanak-kanak yang cukup bonafide, tepatnya di sebuah ruangan yang lengkap dengan meja dan kursi kerja, serta satu set sofa, terlihat seorang wanita muda berpenampilan seksi tengah mematut dirinya di depan sebuah cermin.
Wanita berkulit bersih itu berputar, ke kanan ke kiri, tersenyum, memainkan bibirnya membentuk kerucut seperti ikan cucut, memainkan alisnya turun naik, dan mengedipkan mata kanan kiri secara bergantian, seolah sedang menggoda seseorang.
Dia pegang kedua gundukan besar di dada yang hampir terlihat karena lingerie yang dipakainya tak mampu menutupi bagian tubuh indah tersebut. Wanita itu tersenyum penuh kebanggaan dengan anugerah indah yang diberikan kepadanya, anugerah yang sayangnya dia salah gunakan.
Cynthia Clara, ibu satu anak yang berprofesi sebagai guru di sekolah Taman Kanak-kanak tersebut, rupanya tengah menanti kedatangan sang kekasih hati.
Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dan senyum wanita seksi itu langsung merekah, menyambut kedatangan Handoyo yang sudah merentangkan kedua tangan.
"Aku sangat merindukan kamu, Sayang," bisik Handoyo di telinga sang kekasih, dia peluk erat sang wanita yang merupakan kekasih gelapnya tersebut.
"Aku juga kangen banget, Mas. Sudah seminggu kita tak melakukannya, bukan?" balas Cynthia seraya memberikan kecupan basah di leher Handoyo, membuat sesuatu milik laki-laki matang tersebut yang sudah bangun sejak melihat foto seksi sang kekasih, semakin menegang.
"Mas, punyamu sudah bangun?" tanya Cynthia terkikik manja. Tangannya seketika bergerak gesit, membuka retsluiting celana Handoyo.
Ayah dari Ammar itu menggeram, nikmat begitu tangan lembut Cynthia menyentuh dan memijat pelan miliknya.
"Apa kamu sudah benar-benar bersih, Sayang?" tanya Handoyo memastikan. Laki-laki yang wajahnya ditumbuhi bulu-bulu kasar itu nampak sudah tidak sabar, ingin segera menuntaskan hasratnya.
"Seminggu kemarin, aku benar-benar tersiksa Cynthia. Kamu lama sekali menstruasinya," protes laki-laki berseragam ASN tersebut, sambil mere*mas gemas bukit kembar yang tinggi menjulang milik sang kekasih.
"Biasanya 'kan memang seminggu, Mas," balas Cynthia dengan bibir mengerucut.
Melihat bibir sang kekasih manyun, Handoyo langsung melahapnya dengan ganas sambil menuntun Cynthia menuju sofa tanpa melepaskan pagutan.
__ADS_1
Hanya dalam hitungan detik, ruangan guru yang di dominasi warna cream tersebut, kini dipenuhi dengan suara-suara desa*han seksi yang keluar dari mulut mereka berdua.
⭐⭐⭐
Di kediaman Handoyo, istri sah kepala bagian keuangan di sebuah instansi pemerintah di kota madya tersebut, tengah bertempur dengan alat-alat dapur.
Peluh terlihat membasahi kening wanita muda tersebut. Tangannya lincah mengulek bumbu rendang, sementara sudut netranya tetap awas mengikuti gerakan sang putra yang tidak mau diam.
Sesekali, suara lembutnya memanggil nama Ammar jika dirasa bocah laki-laki tersebut hendak memainkan alat-alat yang membahayakan. "Sayang, Ammar jangan main itu, Nak."
Ketika sang putra kembali anteng dengan mainan-mainannya yang sengaja diangkut oleh Aulia ke dapur, wanita muda tersebut kembali melanjutkan acara masaknya dengan tenang dan cepat.
Beberapa menit berlalu, terdengar sang putra mulai merengek karena ini memang sudah waktunya bagi anak laki-laki itu untuk tidur. Namun sayangnya, Aulia belum dapat menidurkan putranya.
Bocah laki-laki itu menggeleng. "Bobok Nda, bobok," pintanya masih dengan rengekan.
Wanita muda itu mengecilkan api dan kemudian segera menggendong sang putra, Aulia berjalan dengan cepat menuju kamar Ammar untuk mengambil gendongan.
"Ammar bobok digendong bunda ya, Nak." Aulia kemudian menggendong sang putra di punggungnya.
Ibu satu anak yang sudah kembali di depan tungku tersebut, segera mengaduk serundeng yang sudah berwarna kecoklatan agar tidak gosong.
Sesekali, wanita muda itu menyeka keringat yang mengucur dengan lengan daster lusuh yang dia kenakan. "Anak bunda yang pinter sudah ngantuk, ya. Mau bobok ya, Sayang." Aulia sambil mengajak bicara putranya.
"Anteng di gendongan bunda ya, Nak. Bunda 'kan sambil masak, biar lauk buat nenek cepet mateng," pinta Aulia ketika Ammar gerak-gerak terus dalam gendongan. Sepertinya, bocah kecil itu sedang mencari posisi ternyaman.
__ADS_1
Ibu muda itu memasak sambil menggoyang-goyangkan tubuh dengan pelan, agar sang putra merasa nyaman seperti diayun-ayun. Aulia juga sambil mendendangkan sholawat nabi, sebagai pengantar tidur putranya.
Benar saja, tak lama kemudian bocah laki-laki itu nampak sudah pulas dalam gendongan sang bunda. Sementara Aulia masih melanjutkan aktifitas memasaknya dan membiarkan sang putra untuk tetap berada dalam gendongan, hingga Ammar benar-benar lelap.
Aulia mencicipi rasa masakannya. Setelah dirasa pas, dia kecilkan api dan menutup wajan teflon dengan penutup kaca. Ibu muda tersebut kemudian membawa sang putra, menuju ke kamar Ammar.
"Bobok di kasur ya, Nak. Pundak bunda sudah pegel rasanya." Wanita muda itu berbicara sendiri sambil membaringkan tubuh sang putra di atas kasur busa yang empuk.
Sambil menunggu masakannya matang sempurna, Aulia membereskan mainan sang putra dan menyimpan kembali di kamar Ammar.
Tak butuh waktu lama, wanita yang gerakannya begitu gesit tersebut telah menyelesaikan pekerjaan di dapur. Dapurnya yang cukup luas dengan berbagai perabotan bagus tersebut, kembali mengkilap.
Dua rantang di atas meja yang berisi balado telor dan rendang daging sapi, telah siap untuk diantar ke rumah mertuanya.
"Alhamdulillah, bisa selesai tepat waktu," ucap syukur Aulia sambil mengusap keringat di dahi.
'Ammar masih tidur, kalau aku tinggal sebentar dia bangun enggak, ya?' Aulia! menimbang-nimbang.
'Enggak apa-apalah aku tinggal sebentar, daripada nunggu dia bangun nanti ibu keburu marah,' gumam Aulia.
Wanita muda itu segera mengenakan hijab dan menyambar rantang di atas meja makan.
"Lia! Kenapa lama sekali? Dasar pemalas!"
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1