Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu dan seringnya pertemuan dengan Husain yang senantiasa menunjukkan sikap santun, penuh kasih dan sayang padanya, Aulia semakin mantap dengan keputusan yang telah dia ambil.


Apalagi melihat Yasmin yang tak bisa jauh dari Ammar dan juga dirinya, begitu pula dengan Ammar yang senantiasa lengket dengan Husain, laki-laki dewasa yang dengan tulus menunjukkan rasa sayangnya pada bocah kecil tersebut, membuat Aulia tak ingin lagi menunda untuk membina rumah tangga bersama sang mantan tetangga.


Malam ini, Husain datang ke ruko Pak Haji untuk membahas pernikahannya dengan Aulia. Kedatangannya dengan sang putri, tentu disambut hangat oleh sang calon istri.


"Nda, Mas nana?" tanya Yasmin, yang langsung nemplok di gendongan wanita berhijab tersebut. Padahal, baru sehari mereka tidak bertemu.


Ya, setiap sabtu dan minggu, Husain tidak menitipkan sang putri kepada Aulia karena dirinya libur bekerja.


Biasanya, Husain akan mengajak Yasmin dan Ammar, beserta Pak Haji dan sang istri jalan-jalan tanpa Aulia, tetapi hari ini karena laki-laki tersebut harus mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya dengan bundanya Ammar, maka acara jalan-jalan ditiadakan.


"Mas Ammar di atas, Sayang. Sama eyang. Ayo, kita ke atas," balas Aulia seraya menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua.


Husain mengikuti langkah sang wanita pujaan dengan senyuman lebar, penuh kebahagiaan.


Tak sabar rasanya, Husain ingin bisa segera menggandeng tangan wanita sholehah itu dengan mesra, setiap kali mereka berdua berjalan bersama.


"Adik!" seru Ammar dengan antusias, ketika melihat kedatangan Yasmin yang digendong bundanya, dan sang papa


Ammar kemudian menyalami Husain dan mencium punggung tangan laki-laki dewasa yang telah dipanggilnya dengan sebutan papa tersebut dengan takdzim, seperti yang selama ini diajarkan oleh sang Bunda.


"Kenapa tadi, Papa tidak ajak Ammal jalan-jalan?" protes Ammar, meski seharian tadi sang bunda sudah memberinya pengertian.


"Maaf, Sayang. Papa tadi lagi ada pekerjaan," balas Husain yang bingung untuk menjelaskan.


"Kalau Papa kelja, kenapa Adik tidak dibawa ke syini?" cecar Ammar.


Husain yang bingung menjawab, menatap Aulia.


"Tadi Papa kerjanya cuma sebentar, Nak. Jadi, Dik Yasmin ikut kerja sama Papa," balas Aulia mewakili.


"Mas Ammar ... ayo, ajak Papa ke sana," titahnya kemudian pada sang putra, bermaksud mengalihkan pembicaraan putranya yang nampak belum puas dengan jawaban yang dia berikan.


Ammar mengangguk, mengerti.


"Papa. Ayo, kita makan!" ajak Ammar kemudian, seraya menyeret tangan Husain untuk bergabung bersama yang lain.


Rupanya, makan malam telah disiapkan oleh Aulia dan juga Mbak Jum di ruang keluarga yang cukup luas tersebut.


Di sana, telah berkumpul pula Pak Haji dan Bu Hajah, serta Mas Dul dan keluarga kecilnya.


Husain kemudian menyalami semuanya dan ikut duduk di sana.

__ADS_1


Sementara Ammar langsung mengajak Yasmin untuk bergabung bersama kedua anak Mbak Jum.


"Layani dulu anak-anak kalian, biar mereka makan dengan anteng di sana," titah Bu Hajah pada Aulia dan Mbak Jum, seraya menunjuk karpet di mana anak-anak sudah duduk dengan tertib.


Setelah kedua anak Mbak Jum, Ammar, serta Yasmin mendapatkan makanannya dan mereka mulai makan dengan khusyuk, termasuk Yasmin yang kini sudah pintar makan sendiri, para orang dewasa pun mulai makan.


Aulia nampak melayani Husain, meski masih dengan perasaan canggung. Tangannya terlihat gemetaran ketika mengangsurkan piring yang telah terisi menu makan malam, kepada calon suaminya.


Husain tersenyum melihat semua itu. Baginya, Aulia nampak semakin menggemaskan jika wanita cantik tersebut grogi dengan warna pipi yang memerah, ranum laksana buah tomat yang siap untuk dipetik.


'Semakin lama dipandang, kamu semakin cantik, Dik,' puji Husain dalam hati.


"Silahkan, Mas," ucap Aulia dengan lembut.


"Terimakasih, Dik Lia," balas Husain seraya tersenyum manis.


Aulia kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri, setelah semuanya mendapatkan makanan, termasuk Mbak Jum.


"Makan yang banyak, Nak Lia. Calon pengantin itu, harus kuat dan memiliki banyak cadangan energi," tutur Pak Haji, ketika melihat Aulia hanya mengisi sedikit piringnya dengan nasi.


"Ini sudah cukup, kok, Pak," balas Aulia, malu-malu.


"Benar, Dik Lia. Harus kuat dan tahan banting," timpal Mas Dul seraya tersenyum pada Husain.


Sementara Pak Haji, terkekeh pelan. "Mas Husain bukan kamu, Dul. Dia enggak main smack down, tetapi main yang lain," sahut Pak Haji.


Bu Hajah dan Mbak Jum, tersenyum. Sementara Aulia mengerutkan dahi tak mengerti.


Pasalnya selama ini, Aulia hanya pasif saja melayani kemauan Handoyo yang tak pernah bersikap romantis terhadap dirinya.


Bahkan mantan suaminya itu melakukan hubungan badan tanpa for play dan tanpa efter play. Yang penting bagi Handoyo, laki-laki itu terpuaskan dan tak perduli bagaimana dengan perasaan Aulia.


"Sudah-sudah. Ayo, lanjut makannya! KKasihan calon pengantin wanitanya, jadi malu-malu, kan?" Suara Bu Hajah, mengurai lamunan Aulia.


Mereka pun melanjutkan makan malam sambil ngobrol dengan hangat. Semua nampak sangat menikmati masakan Aulia yang sangat enak tersebut, hanya bundanya Ammar yang nampak tidak dapat menikmati makanannya.


Entah mengapa, malam ini Aulia merasa sangat grogi dengan kehadiran Husain. Padahal biasanya, mereka berdua juga sudah sering makan bersama anak-anak.


Usai makan malam, Mbak Jum membawa kedua anaknya, serta Ammar dan Yasmin untuk pulang ke tempatnya agar pembicaraan para orang dewasa tersebut berlangsung tanpa gangguan.


"Pap-pa, Adek itut Dhe Um," ucap Yasmin, dengan mimik yang sangat lucu.


"Papa nanti jemput kami, ya," pinta Ammar.

__ADS_1


Husain mengangguk seraya tersenyum, laki-laki itu kemudian mengusap puncak kepala Ammar dengan penuh rasa sayang.


Mbak Jum yang sudah menggendong Yasmin segera berlalu, setelah berpamitan pada semua. Diikuti oleh kedua anak Mbak Jum, yang menggandeng Ammar.


"Jadi, kapan pernikahan kalian akan dilangsungkan, Mas Husain?" tanya Pak Haji, mengawali perbincangan.


"InsyaAllah hari jum'at, Pak, karena senin besok kami baru akan mendaftar ke KUA," balas Husain.


"Alhamdulillah, berarti satu minggu dari sekarang, ya?" tanya Bu Hajah, menegaskan.


"Iya, Bu," balas Husain seraya tersenyum melirik Aulia yang senantiasa menundukkan kepala.


"Rencana, mau menikah di mana, Mas Husain? Di ruko sini, atau di kediaman Mas Husain?" tanya Mas Dul.


"Saya siap membantu, dimanapun pernikahan Mas Husain dan Dik Lia, dilaksanakan," lanjut Mas Dul, antusias.


"Nah, ini yang mau saya bicarakan dengan Pak Haji, juga Dik Lia." Husain menatap Pak Haji, Bu Hajah dan juga calon istrinya yang duduk berjajar, bergantian.


"Iya, apa itu, Mas Husain?" tanya Pak Haji.


"Saya bermaksud untuk melaksanakan pernikahan kami di rumah saya, bagaimana menurut Bapak?"


Pak Haji menatap Aulia, sebelum menjawab pertanyaan Husain.


"Kalau bapak dan Ibu pada prinsipnya, di manapun kalian akan menikah, kami ikut saja bagaimana baiknya menurut kalian berdua."


Bu Hajah mengangguk setuju, begitu pula dengan Aulia yang mengangguk malu-malu.


Husain tersenyum lega. "Alhamdulillah, jika begitu saya akan menyiapkan semuanya," ucap Husain dengan netra berbinar bahagia.


"Dan nantinya, saya juga sangat berharap Bapak dan Ibu bersedia tinggal bersama kami," lanjut Husain, penuh harap.


Aulia mengangguk setuju seraya menggenggam tangan Bu Hajah. Kedua wanita berhijab itu saling pandang dan kemudian sama-sama tersenyum.


Pak Haji tersenyum bahagia. "Kalau itu, kita pikirkan nanti saja, Mas Husain. Sekarang kita fokus dulu dengan pernikahan kalian," balas Pak Haji, yang dibenarkan oleh sang istri dengan anggukan kepala.


Husain pun mengangguk, mengerti.


"Nak Lia. Apa, kamu masih memiliki wali nikah?" tanya Pak Haji hati-hati karena selama ini, Aulia tidak pernah menceritakan tentang keluarganya. Hanya pengusiran yang dilakukan oleh kakak perempuan Aulia, yang diceritakan oleh wanita berhijab tersebut.


Aulia menggeleng pelan.


💖💖💖 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2