
"Mas, tadi Luna telepon. Lusa, ada reuni angkatan dan Lia dapat undangan. Kita datang ya, Mas? Mas Han mau, kan, temani Lia?" pinta Aulia, mengurai keheningan.
"Kalau kamu mau membuka hijab, aku mau menemani kamu, Lia." Handoyo yang sudah membuka matanya, tersenyum 𝘴𝘮𝘪𝘳𝘬. Laki-laki matang tersebut sudah dapat menebak, bagaimana reaksi sang istri nantinya.
"Mas, kenapa Mas Han meminta seperti itu?" tanya Aulia, protes. "Sejak awal Mas 'kan tahu kalau Lia berhijab dan Mas tidak mempermasalahkannya, bukan?" lanjut istri kecil Handoyo itu, bertanya.
Ibu satu anak tersebut menghentikan aktifitas memijat kaki suaminya dan menatap sang suami, dengan tatapan tak percaya.
"Ya, ya. Aku memang tidak mempermasalahkannya, Lia. Tapi kamu yang dulu dan kamu yang sekarang itu, beda! Dulu hijabmu selalu rapi, tetapi sekarang ...." Handoyo sejenak menghentikan ucapannya.
Laki-laki matang itu memicingkan mata, menatap sang istri dengan tatapan mengejek. Handoyo beringsut, dia kemudian duduk sambil bersandar pada 𝘩𝘦𝘢𝘥 𝘣𝘰𝘢𝘳𝘥 ranjang.
Handoyo masih memindai penampilan istrinya dari atas hingga ke bawah, membuat Aulia menjadi salah tingkah.
"Penampilan kamu yang berhijab dan kedodoran itu kuno, Lia! Itu kenapa, aku malas mengajak kamu keluar untuk bertemu dengan rekan-rekanku! Sangat memalukan!" hina Handoyo pada sang istri, membuat Aulia membeku seketika.
Tanpa sadar, air mata menggenang di pelupuk mata ibu muda tersebut. Sakit rasanya, mendengar pengakuan dari sang suami yang secara tidak langsung mengatakan, bahwa dirinya tidak layak untuk bersanding dengan Handoyo.
"Kamu lihat, dong, Cynthia! Dia selalu berpenampilan menarik dan wajahnya bersinar, tak seperti kamu yang selalu terlihat kucel!" lanjut laki-laki berahang tegas itu yang terdengar sangat ketus.
Perkataan Handoyo menambah goresan luka di hati Aulia. Air mata wanita muda tersebut tak dapat terbendung lagi. Diapun menangis tanpa bersuara.
'Asal kamu tahu, Mas. Dulu, aku juga suka bersolek karena aku memiliki uang untuk membeli 𝘴𝘬𝘪𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘦 dan 𝘮𝘢𝘬𝘦 𝘶𝘱. Aku pun suka memakai pakaian yang modis, tetapi tetap sopan. Namun sekarang, aku tak memiliki uang untuk menuruti semua keinginanku itu, Mas,' batin Aulia, pilu.
Ini memang bukan yang pertama kalinya sang suami membandingkan dirinya dengan Cynthia, tetangga sebelah rumah mereka yang merupakan seorang guru TK dan selalu berpenampilan super seksi serta glamour.
__ADS_1
"Bagaimana, Lia? Apa kamu mau, membuka hijab kamu?" tantang Handoyo.
Aulia menggeleng tegas. "Tidak, Mas. Ini kewajiban Lia sebagai seorang muslimah yang harus Lia taati, yaitu untuk menutup aurat."
"Itu artinya, kamu tidak mematuhi aku sebagai suami kamu? Bukankah kamu sangat paham, Lia, bahwa mematuhi perintah suami adalah kewajiban istri sholehah? Lantas, buat apa kamu berhijab dan rajin beribadah, jika kamu tidak patuh dengan suami?" cecar Handoyo dengan banyak pertanyaan.
"Wajib hukumnya mematuhi perintah suami bagi para istri, jika perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama, Mas. Namun, apa yang Mas Han minta barusan, itu melanggar aturan agama. Makanya, Lia tidak bisa menuruti perintah Mas," balas Aulia, tegas.
Meskipun seringkali diam jika sang suami memarahinya ataupun bertindak semena-mena terhadap dirinya, tetapi jika mengenai hal yang prinsip, wanita muda tersebut berani bersikap tegas terhadap sang suami.
"Sudah mulai berani kamu, Lia!" hardik Handoyo, menatap tajam pada sang istri.
"Maaf, Mas. Ini bukan masalah berani atau tidak, tetapi ini masalah prinsip yang harus dipegang kuat," balas Aulia.
"Terserah!" ketus laki-laki dewasa tersebut. Handoyo kemudian kembali merebahkan diri.
"Apa Lia boleh berangkat sendiri, Mas?" tanya Aulia meminta ijin.
"Terserah," balas Handoyo, datar.
Hening, menyapa kamar tidur utama di rumah besar milik Handoyo. Rumah besar yang dibangun, ketika suami Aulia tersebut masih membujang.
Terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar, bersamaan dengan suara Ammar yang memanggil sang ibunda.
"Nda, buka!" seru Ammar.
__ADS_1
Aulia segera beranjak untuk membukakan pintu buat sang putra. Wanita muda itu langsung memeluk putranya yang terlihat habis menangis.
"Anak bunda terbangun," bisik Aulia. "Mau apa, Nak? Mau pipis, hem? Apa Ammar haus, Sayang?" tanya Aulia yang masih memeluk sang putra untuk membuat putra kecilnya tersebut, tenang.
Ammar menggeleng. "Ammal mau bobok cama Bunda," balasnya masih dengan isakan kecil.
Aulia melerai pelukan. Dia kemudian membawa sang putra, mendekati ayahnya yang masih tetap memejamkan mata, meskipun laki-laki matang tersebut mendengar suara sang putra.
"Mas, apa Ammar boleh tidur bersama kita?" tanya Aulia, pelan.
"Tidurkan saja dia di kamarnya. Kalau dia mau ditemani, temani saja," balas Handoyo masih dengan mata terpejam. Laki-laki itu seolah tak perduli terhadap putra semata wayangnya.
"Mas, yakin?" tanya Aulia, memastikan. Sebab, tak biasanya sang suami membiarkan dirinya tidur di kamar sang putra yang memang sudah dibiasakan tidur terpisah sejak Ammar disapih.
"Hem ...." Handoyo membalasnya hanya dengan gumaman.
Aulia menghela napas panjang. 'Semarah itukah Mas Han padaku karena aku tidak mau menuruti keinginannya untuk melepas hijab? Sampai-sampai, dia membiarkan aku tidur di kamar Ammar?' batin Aulia, bertanya.
Handoyo memang tidak pernah mengijinkan sang putra untuk tidur di kamar mereka dan sang istri pun tidak diijinkan menemani putranya tidur. Kalau pun Aulia menemani Ammar, wanita itu pasti disuruh untuk segera kembali ke kamar begitu sang putra telah terlelap.
Ya, sebab Handoyo tidak dapat meninggalkan ritualnya mengasah pedang barang semalam saja. Meskipun Aulia tengah berhalangan, laki-laki arogan tersebut akan tetap meminta istri kecilnya itu, untuk memuaskan dirinya.
"Lia akan segera kembali, setelah Ammar tidur, Mas," pamit Aulia sambil menggendong sang putra.
"Tidak perlu, kamu tidur saja di kamar Ammar!"
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...