Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Ini Tidak Benar, Kan?


__ADS_3

Cynthia tiba-tiba memejamkan mata, seolah ikut menikmati apa yang barusan dia bayangkan ketika sedang bercin*ta dengan Sundoro. Napasnya terdengar memburu, hingga membuat Handoyo yang menyadari keanehan pada istrinya, menegur.


"Cyn! Kamu melamunkan apa, sih?"


Cynthia gelagapan. "Eh, enggak kok, Mas. Aku enggak melamun," kilah Cynthia. "Enggak tahu kenapa, dadaku tiba-tiba terasa sesak," lanjutnya, seraya memegang dada untuk meyakinkan suaminya.


"Aku ke teras dulu ya, Mas. Mau cari udara segar," ijin Cynthia yang kemudian segera berlalu, meninggalkan Handoyo yang masih mengerutkan dahi tak mengerti.


Handoyo kemudian mengedikkan bahu dan segera berlalu meninggalkan ruang kerja, untuk menuju ke kamar. Suami Cynthia tersebut merasa sangat lelah, lelah jiwa karena tekanan dari istri dan juga dari kantor karena ulahnya sendiri.


Sementara di teras rumah, Cynthia mencari tempat yang aman untuk menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Sundoro, laki-laki pemilik senjata pamungkas yang mampu membuat Cynthia ketagihan dan ingin terus mengulang persengga*maan.


"Halo, Om," sapa Cynthia dengan suara mendayu, merayu.


"Chat saja, Honey. Aku sedang berada di rumah," balas suara di seberang, berbisik.


"Aku cuma pengin ngomong sedikit, Om. Om besok ada waktu, enggak?" Cynthia berharap-harap cemas, menanti jawaban dari laki-laki paruh baya yang memiliki tenaga seperti seekor kuda kala bercin*ta.


"Oke, besok siang di jam makan siang, kita ketemu di tempat biasa," balas Sundoro yang langsung mematikan ponsel.


Cynthia tersenyum senang.


'Entah mengapa, sejak mengenal laki-laki tua itu, aku jadi kurang puas setiap kali berhubungan dengan Mas Han.'


"Cyn! Masuk!" Suara Handoyo dari ambang pintu, mengurai lamunan Cynthia.


"Iya, Mas," balas Cynthia yang buru-buru berjalan menghampiri sang suami karena tak ingin membuat suaminya marah.


"Mas, aku pengin," pinta Cynthia seraya bergelayut manja di lengan kekar sang suami.


Ya, Cynthia harus terus merayu suaminya, agar dia bisa mendapatkan apapun yang dia minta, baik dari Handoyo maunya dari Sundoro, dan yang terpenting suaminya tidak mengendus perselingkuhannya agar dia tidak diceraikan.


Cynthia butuh status yang jelas, apalagi suaminya adalah seorang kabag di pemerintahan kota, yang membuat dirinya memiliki status sosial tinggi untuk mendukung gaya hedon-nya dan juga nama baiknya di lingkungan sekolah tempat dia mengajar.


"Mas mau kita melakukannya di mana?" tawar Cynthia dengan suara mendesah manja.


Wanita yang senang mengenakan gaun seksi tersebut, berusaha untuk mengembalikan mood sang suami setelah apa yang dimintanya tadi.

__ADS_1


Cynthia memang selalu menggunakan senjata rayuan tersebut untuk meluluhkan sang suami, agar mau menuruti segala keinginannya.


"Di balkon, sambil melihat ke langit yang bertabur bintang. Apa kamu mau, Sayang?" Handoyo menatap sang istri, menuntut jawab.


"Dengan senang hati, Mas. Kapan pun dan dimana pun, asal bersama Mas, aku mau," balas Cynthia meyakinkan.


Handoyo tersenyum puas. Hilang sudah semua kepenatan hidup yang tadi sempat melanda hatinya. Berganti dengan bunga-bunga panah asmara yang siap dipetik dan direguk madunya.


Tubuh Cynthia serasa melayang, kala Handoyo tiba-tiba membopong tubuh sintal sang istri dan membawanya dengan tergesa menuju balkon.


⭐⭐⭐


Pagi harinya, di kantor Handoyo.


Tepat pukul sepuluh pagi, semua pegawai di dinas tempat Handoyo bertugas, disibukkan dengan kedatangan tim audit KPK dari kantor pusat.


Sidak yang dilakukan tim audit tersebut, tentu saja membuat semua orang kelabakan, sekaligus cemas. Termasuk Handoyo yang sedang berada di dalam ruangannya, wajah laki-laki yang memiliki tatapan tajam tersebut, langsung pucat.


Laki-laki itu hanya bisa pasrah, ketika orang-orang yang memiliki wajah tegas seperti dirinya itu mulai membuka file-file yang telah disiapkan oleh bagian administrasi dan juga laporan keuangan dari bendahara.


'Apapun yang akan terjadi nanti, aku harus siap. Ini semua salahku, yang telah menurutkan hawa nafsu karena aku tidak mau dibandingkan bahkan dianggap lebih rendah dari suami Aulia,' batin Handoyo, pasrah.


Dari para pengembang tersebut, Handoyo mendulang banyak cuan yang bisa dia berikan pada sang istri, untuk menuruti keinginan istrinya.


Bukan hanya itu, Handoyo juga terlibat suap gratifikasi dari beberapa pegawai honorer yang diterima bekerja di dinas tersebut.


"Pak Handoyo, apa Bapak bisa menjelaskan tentang ini?" Salah seorang petugas audit, menunjuk sebuah file pada layar laptop.


Tergagap, Handoyo mencoba untuk memberikan penjelasan yang sekiranya masuk akal, tetapi dari berbagai pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang petugas, Handoyo tidak dapat menjawab sesuai dengan fakta di lapangan.


"Silahkan Bapak ikut kami dan berikan keterangan secara detail di kantor." Salah seorang petugas langsung menggelandang Handoyo untuk masuk ke dalam mobil.


⭐⭐⭐


Di sebuah hotel berbintang di kawasan wisata kota atas, Cynthia tengah bersolek sambil menunggu sang pujaan hati.


Sepuluh menit berlalu, tetapi yang dinanti tak kunjung menampakkan diri, membuat Cynthia menjadi keki.

__ADS_1


"Om Sundoro mana, sih? Biasanya, dia selalu on time," gerutu Cynthia sambil berjalan mondar-mandir di belakang pintu.


Tak berapa lama kemudian, yang ditunggu nampak membuka pintu kamar langganan mereka.


"Maaf, Honey. Aku terlambat," sesal laki-laki paruh baya tersebut, seraya melabuhkan ciuman sekilas di pipi Cynthia.


"Tadi pagi, di kantor sedang ada sidak dari tim audit KPK. Jadi, aku tidak bisa keluar dengan bebas. Setelah itu, aku harus cek kesehatan di rumah sakit," terang Sundoro sambil membuka jaketnya.


Setiap kali berkencan, mereka selalu mengenakan jaket, memakai masker dan berkacamata hitam, agar tidak dikenali.


"Ada yang tertangkap tangan, Om?' tanya Cynthia, pengin tahu.


"Ada, tapi itu tidak penting, Honey. Sekarang yang terpenting adalah kesenangan kita berdua." laki-laki yang rambutnya mulai memutih tersebut segera mendorong tubuh seksi Cynthia dan merebahkannya di atas ranjang yang empuk.


Kamar hotel yang tadinya sunyi, sepi, kini berisik dengan suara desa*han dua insan yang sedang bercumbu rayu untuk mendapatkan kenikmatan dari persengga*maan.


Setelah hampir satu jam mereka berdua bergulat hingga peluh bercucuran, Sundoro segera mengakhiri penyatuan ketika ponselnya berbunyi yang menandakan ada pesan penting masuk ke nomornya.


"Om, kenapa buru-buru?' cegah Cynthia yang masih ingin mengulang penyatuan yang membuat dirinya selalu ketagihan.


"Bentar, Honey. Ada pesan masuk." Sundoro tetap beringsut dan kemudian mengambil ponsel dari atas nakas.


"Baca di sini saja, Om," pinta Cynthia yang ikut beringsut dan kemudian memeluk Sundoro dari belakang.


Dada yang besar milik Cynthia, menempel sempurna di punggung Sundoro, hingga membuat senjata pamungkas laki-laki tersebut kembali terbangun.


"Sabar, Honey. Aku buka pesan sebentar." Sundoro segera membuka layar ponsel dan mulai membaca pesan yang baru saja masuk tersebut.


Tangan laki-laki paruh baya tersebut, bergetar. Ponsel di tangannya terjun bebas ke lantai hotel yang dingin.


"Ada apa, Om?" tanya Cynthia, penasaran.


Cynthia buru-buru mengambil ponsel milik Sundoro dan kemudian membaca pesan yang masih terbuka.


Netra wanita seksi tersebut membulat sempurna kala Cynthia membaca pesan yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit tempat Sundoro memeriksakan kesehatan, barusan.


"Tidak, Om. Ini tidak benar, kan? Ini pasti salah, kan, Om! HIV ... Om terkena HIV? Bagaimana bisa, Om?" teriak Cynthia, frustasi.

__ADS_1


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_2