
Husain dengan senang hati meninggalkan buah hatinya bersama orang-orang yang menyayangi Yasmin dengan tulus, sehingga Husain dapat melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.
Sepanjang Husain bekerja, laki-laki berwajah manis itu terus saja tersenyum, membuat para pemilik toko yang dia kunjungi dan cukup lama tak bertemu dengan laki-laki tersebut, bertanya-tanya.
"Wah, lama enggak ketemu sama Mas Husain, ada yang beda, nih," ucap salah seorang pemilik toko, pelanggan lama Husain.
"Beda apanya, Koh? Sama saja, kok," kilah Husain.
"Meski tubuh Mas Husain agak kurusan sekarang, tapi wajahnya berseri-seri," balas Koh Han seraya tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan Husain yang menular padanya.
Ya, berat badan Husain memang turun drastis semenjak menjadi single parent karena selain harus bekerja, duda satu anak tersebut juga harus menjaga dan merawat putrinya yang masih kecil, seorang diri.
Tak jarang, Husain harus tidur sambil duduk dan menimang putrinya, ketika Yasmin sedang rewel di tengah malam.
Dia juga harus rela terbangun di tengah malam, untuk membuatkan susu sang buah hati. Meskipun hal tersebut sudah biasa dia lakukan semenjak Yasmin baru lahir karena Cynthia, mantan istrinya itu tak mau menyusui.
Cynthia tak mau menyusui Yasmin karena khawatir, bentuk *********** akan menjadi jelek dan kendur.
Hanya saja, kali ini berbeda. Full time Husain mengurus putrinya seorang diri, tanpa istri ataupun pengasuh anak.
"Ada kabar bahagia apa, Mas Husain? Apa mau nambah anak?" tanya Koh Han, mengurai lamunan Husain. "Asal jangan nambah istri, ya," lanjutnya terkekeh.
Koh Han, ataupun pelanggan lama Husain di kota tersebut memang tidak tahu apa yang terjadi dengan keluarga Husain. Sehingga wajar, jika Koh Han bercanda seperti itu.
"InsyaAllah, nambah anak lagi, Koh," balas Husain, tersenyum Terselip do'a dari ucapan laki-laki yang murah senyum tersebut.
'Jika Allah mengijinkan saya menikah lagi dengan wanita sholehah seperti Dik Lia, saya ingin memiliki banyak anak,' batin Husain, penuh harap.
Koh Han, mengaminkan ucapan Husain. "Semoga saja ya, Mas Husain, do'anya dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa."
__ADS_1
Husain pun kemudian melanjutkan pekerjaannya, dengan hati riang gembira.
⭐⭐⭐
Di ruko milik Pak Haji. Aulia nampak tengah menidurkan Yasmin di dalam kamarnya, dengan ditemani oleh sang putra yang juga terlihat sudah mengantuk.
Ya, demi menjaga Yasmin atas permintaan kedua orang tua angkatnya, Aulia terpaksa meninggalkan warung dan menyerahkan pada Mbak Jum untuk menjaganya.
"Nda, Dik Yasmin bial bobok di tengah aja," pinta Ammar, ketika Aulia menidurkan Yasmin di sisi kiri ranjang karena ibu satu anak tersebut bermaksud untuk ikut tidur di tengah, agar dirinya bisa bergantian memeluk Yasmin dan Ammar.
"Kita peluk Adik syama-syama, Nda," lanjut Ammar yang mengetahui kebingungan sang bunda, dari tatapan serta kerutan di dahi bundanya.
"Ammar enggak mau dipeluk sama bunda?" tanya Aulia, memastikan. Sebab, dia tahu persis bahwa sang putra tak akan dapat tidur jika tidak dipeluk terlebih dahulu.
Bu Hajah-lah yang sekarang menggantikan posisi Aulia, ketika siang. Wanita paruh baya tersebut dengan penuh kasih akan memeluk Ammar sambil mendongeng, ketika me-ninabobokkan putra Aulia.
Aulia hanya bisa menuruti keinginan sang putra. Dengan penuh kasih, dia peluk kedua anak kecil tersebut sambil mendendangkan sholawat nabi.
Tak berapa lama, kedua bocah itupun terlelap dalam kedamaian kasih seorang ibu. Aulia kemudian mencium puncak kepala sang putra, seraya mengucap do'a kebaikan untuk putranya.
Aulia juga hendak mencium puncak kepala Yasmin, tetapi tiba-tiba bayangan kemesraan Cynthia dan mantan suaminya melintas, membuat Aulia sejenak termenung.
'Apa aunty harus marah pada ibumu, Nak, karena dia telah merebut ayah dari anakku? Ataukah, aunty harus berterimakasih padanya karena ibumu, aunty bisa terbebas dari neraka dunia yang berkedok pernikahan?' batin Aulia, berperang.
Ya, Aulia memang merasakan kebahagiaan yang luar biasa setelah berpisah dengan Handoyo, ayah kandung dari putranya. Meskipun di sisi lain, ibu muda tersebut tetap memikirkan bagaimana dengan perasaan Ammar.
Dia memang bahagia, tetapi Aulia tak mau egois. Baginya, kebahagiaan Ammar adalah segalanya dan Aulia bersyukur karena perpisahannya nampak tidak menimbulkan luka di hati sang putra.
Ammar bahkan terlihat lebih ceria setelah mereka berdua tinggal bersama Pak Haji dan Bu Hajah, yang memberikan mereka tempat terbaik dan kasih sayang yang melimpah.
__ADS_1
"Pa-pa." Suara kecil Yasmin yang mengigau memanggil sang papa, membuyarkan lamunan Aulia.
"Ya Allah, kenapa badan kamu kembali panas, Nak?" gumam Aulia bertanya, setelah meraba kening Yasmin.
Aulia bergegas bangkit dan kemudian mengambil kain bersih serta air hangat suam kuku, untuk mengompres Yasmin.
Telaten, Aulia meletakkan kain yang sudah dicelup ke dalam air hangat di dahi Yasmin. Berharap, demam gadis kecil tersebut segera turun.
Aulia kemudian mencium puncak kepala Yasmin dengan penuh kasih, tanpa terasa air mata berlinang membasahi pipinya.
Wanita muda itu kemudian berbaring kembali di sisi Yasmin, dengan posisi membelakangi pintu yang lupa tidak dia tutup kembali setelah mengambil air hangat dari dapur barusan.
"Aunty bisa merasakan apa yang kamu rasakan, Sayang. Pasti sakit rasanya, ditolak oleh ibu kandungmu sendiri, Nak. Sama seperti aunty yang ditolak oleh keluarga kandung aunty," ucap Aulia sambil mengusap pipi Yasmin yang tak lagi chabi seperti empat bulan yang lalu, saat terakhir kali mereka bertemu.
Husain yang sudah datang dan bermaksud hendak mengetuk pintu kamar Aulia yang tidak tertutup, mengurungkan niatnya.
'Ditolak oleh keluarganya? Jadi, itu alasannya, kenapa Dik Lia dan Ammar bisa sampai di sini?' batin Husain bertanya.
Pak Haji memang belum sempat menceritakan pada Husain, kenapa Aulia dan Ammar bisa tinggal bersama Pak Haji dan Bu Hajah.
"Semoga kelak, kamu mendapatkan ibu pengganti yang lebih baik, Nak. Yang dapat menyayangimu dengan tulus," lanjut Aulia, membuat lamunan Husain menjadi buyar.
Husain kemudian mengetuk pintu kamar wanita berhijab tersebut dan kemudian bertanya, tepat disaat Aulia menoleh.
"Apakah ada, wanita sholehah di luar sana sepertimu, Dik Lia? Yang mau menerima laki-laki biasa yang telah memiliki anak, seperti diriku?"
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1