Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Kita Jadi Jalan-jakan, Kan?


__ADS_3

Aulia dan sang suami masih asyik mengobrol bersama keluarga Luna dan juga Lutfi. Luna yang penasaran kenapa Aulia bisa menikah dengan tetangganya sendiri pun tidak tahan, untuk tidak mengorek informasi dari sang sahabat.


"Lia, kok bisa, sih, nikah sama Mas Husain. Jangan-jangan dulu kalian suka lirik-lirikan, ya?" tanya Luna, bercanda.


"Apaan, sih, Lun. Ya, enggaklah," balas Aulia dengan pipi merona.


Aulia kemudian melirik sang suami dan tersenyum pada laki-laki yang kini telah mengisi dan memenuhi ruang di hati.


Husain pun tersenyum manis pada wanita yang senantiasa dapat membuatnya merasa selalu rindu dan ingin menyatu.


"Terus, kalau dari dulu belum ada rasa, kenapa sekarang bisa bersama?" kejar Luna.


"Takdir yang mempertemukan kami kembali, Lun, dengan keadaan dan status yang berbeda."


Aulia kemudian menceritakan dari awal, hingga akhirnya dirinya dan Husain bisa bertemu.


Lutfi yang sedari tadi mendengarkan dengan seksama, mengangguk-angguk. "Aku turut bahagia dengan kebahagiaan kamu, Lia," ucap Lutfi dengan tulus.


Aulia tersenyum. "Terimakasih, Lut," balas istri cantik Husain tersebut.


"Lia, ucapkan selamat juga, dong, buat Lutfi. Dia 'kan bentar lagi mau jadi ayah." Luna yang dapat menangkap kecemburuan di mata suami sang sahabat, sengaja membuka suara dan mengatakan kebenaran tentang Lutfi yang tak lagi sendiri.


"Oh, ya. Istrinya, kok, enggak diajak?" tanya Aulia, seraya menatap sang mantan kekasih.


"Belum boleh melakukan perjalanan jauh, Lia. Kata dokter, di trimester awal 'kan, masih cukup rentan," balas Lutfi seraya tersenyum bahagia.


Husain bernapas dengan lega, setelah mengetahui bahwa pemuda yang sedari tadi menatap Aulia ternyata telah memiliki istri dan tak lagi sendiri.


"Selamat ya, Lut. Semoga kehamilan istrinya lancar, dimudahkan segalanya, sehat dan selamat sampai Lutfi junior hadir dan menyapa ayah bundanya." ucap Aulia yang mendoakan dengan tulus.


"Aamiin ...."


"Nak Lia, Nak Husain. Kalian tidak buru-buru pulang, kan?" Suara mamanya Lia, menghentikan sejenak obrolan tersebut.


"Makan siang di sini, ya? Sudah lama 'kan, Nak Lia tidak mengunjungi mama. Mama akan ke dapur dulu," pamit mamanya Luna.


"Ma, tidak perlu," cegah Aulia. "Maaf, bukannya menolak rizqi tapi kami sudah janji sama anak-anak mau mengajak mereka bermain ke tempat hiburan. Jadi, kami harus pamit sekarang, Ma," terang Aulia.


"Lia, kok cuma sebentar, sih?" protes Luna, cemberut karena rasa kangennya belum tuntas terobati.


"Maaf, Lun. Aku juga mau jenguk papa dulu," balas Aulia.

__ADS_1


"Ngapain, sih, jenguk mantan mertua segala!" Luna nampak tidak setuju jika Aulia masih perduli dengan anggota keluarga Handoyo karena mantan suami sahabatnya itu telah menyia-nyiakan Aulia dan Ammar.


"Sayang, enggak boleh begitu. Yang mantan dan yang bersalah 'kan anaknya, bukan orang tuanya. Kalau Lia masih mau menjalin silaturahmi dengan orang tua Handoyo ya, baguslah itu," ucap Ferdi dengan bijak.


Husain mengangguk, membenarkan perkataan Ferdi.


"Iya, Lun. Kamu tahu sendiri, kan, kalau dulu papa begitu baik padaku," timpal Aulia.


Luna mengganggu-angguk. "Baiklah, kalau libur kerja aku yang akan main ke rumah kalian. Boleh, kan? Kalau enggak boleh, aku maksa," pinta Luna, bercanda.


"Mama ikut ya, Lun," sahut sang mama yang tak mau ketinggalan.


"Siap, Ma," balas Luna.


"Beneran, Mama mau ikut?" tanya Aulia dengan netra berbinar.


"Ikut, dong. Mama masih kangen sama Ammar, apalagi sekarang ada cucu perempuan juga. Siapa tadi namanya?" tanya wanita anggun tersebut.


"Yasmin, Ma," balas Husain.


"Iya, Yasmin. Nama yang cantik." Mamanya Luna kemudian mencium pipi chabi Yasmin, yang baru saja diajak turun oleh Ririn.


"Ammal mau jalan-jalan dulu, Aunty," balas Ammar, mewakili sang bunda.


"Aunty Lilin boleh ikut enggak?" rajuk Ririn, menggoda Ammar.


"Boleh, boleh. Oma baik juga boleh ikut, kok. Bial lame kata Bunda," balas Ammar.


"Aunty lain kali saja, sama oma. Kita sama-sama ke rumah Bunda Lia dan Papa Husain," pungkas mamanya Ririn, menyudahi obrolan tersebut karena sepertinya Aulia terburu-buru.


Mendengar orang-orang yang menyayanginya itu akan main ke rumah orang tuanya, Ammar begitu bahagia.


Keluarga kecil yang baru disatukan dalam ikatan pernikahan tersebut, kemudian segera berpamitan.


Perlahan, mobil Husain melaju meninggalkan rumah orang tua Luna yang penuh kehangatan tersebut, dengan diiringi lambaian tangan semua orang, termasuk Lutfi.


'Akhirnya, aku benar-benar bisa melihat kamu bahagia, Lia. Aku turut senang dan sangat lega." Senyuman lebar menghiasi wajah tampan mantan kekasih Aulia.


⭐⭐⭐


Kedatangan Aulia dan keluarga kecilnya disambut dingin oleh mantan mama mertua. Bahkan Ammar yang ingin menyalami neneknya tersebut, diabaikan oleh mamanya Handoyo hingga membuat Ammar berkaca-kaca.

__ADS_1


"Tuh, Nda. Nenek jahat, kan?" bisik Ammar, protes, karena sang ibunda selalu melarangnya untuk mengatakan bahwa nenek jahat. Padahal menurut Ammar, dia mengatakan hal yang sejujurnya.


"Mungkin nenek lagi capek, Sayang. Makanya uring-uringan sendiri," balas Aulia yang tidak mau sang putra membenci neneknya.


Bagaimanapun, wanita judes tersebut adalah mama dari ayahnya Ammar.


"Ma, papa bagaimana kabarnya, Ma? Boleh, Lia ketemu papa?" tanya dan ijin Aulia, yang masih berdiri di teras rumah karena sang tuan rumah sepertinya enggan untuk mempersilahkan Aulia dan yang lain untuk masuk.


"Papa sedang terapi sama Handoyo dan istrinya!" balas mantan ibu mertua Aulia, ketus.


Aulia numpak tidak percaya karena selama ini, tidak ada yang perduli dengan kesehatan mantan papa mertuanya, termasuk Handoyo.


Menurut Aulia, ini hanya akal-akalan wanita paruh baya yang ada di hadapannya, agar dirinya tidak bertemu dengan Pak Tarno yang tergeletak dengan kondisi semakin lemah dan memburuk di kamarnya yang pengap.


Husain yang mengerti bahwa sang istri hendak memaksa masuk, memberikan isyarat pada Aulia melalui kedipan mata, agar istrinya tidak memaksakan diri untuk bertemu.


"Ya sudah, Ma. Karena papa lagi enggak ada di rumah, kami pamit ya, Ma. Titip salam buat papa," pamit Aulia kemudian tanpa menyalami mamanya Handoyo karena sejak awal dia datang, wanita paruh baya tersebut bersidekap, tak ingin menyambut uluran tangannya.


Husain yang menggendong Yasmin, segera menggandeng Ammar dan mengajak sang istri untuk kembali ke mobil.


Aulia menghela napas berat setelah duduk di bangku depan karena Ammar ingin duduk di belakang bersama Yasmin.


"Kenapa mamanya Mas Han masih saja memperlakukan aku seperti ini ya, Mas. Bahkan disaat aku sudah tidak lagi menjadi menantunya," keluh Aulia.


"Sabar, Sayang. Jangan diambil hati. Toh di luar sana, masih banyak yang sayang sama kamu. Contohnya mamanya Luna tadi, Bu Hajah yang bahkan menganggap kamu seperti anak kandung, dan yang terpenting ada aku yang akan selalu menyayangimu sepanjang hidupku," balas Husain seraya menoleh ke samping kiri dan tersenyum manis pada sang istri, sebelum melajukan kendaraannya.


Aulia balas tersenyum. "Terimakasih ya, Mas," ucapnya dengan tatapan penuh cinta dan Husain mengangguk.


Sejenak kedua netra mereka saling terpaut, seolah sedang berbicara dari hati ke hati. Hingga tanpa sadar, Husain semakin mendekatkan wajahnya. Dekat dan semakin dekat, hampir mengikis jarak di antara mereka berdua.


Aulia bahkan telah memejamkan mata karena terbawa perasaan, siap menyambut ciuman dari sang suami.


"Papa, kita jadi jalan-jalan, kan?" Suara Ammar, menyadarkan mereka berdua, bahwa ada putra dan putri mereka di sana.


"Cup," sebuah kecupan manis, mendarat di pipi kanan Aulia.


Husain buru-buru menjauhkan sedikit wajah dan tersenyum pada sang istri. "Yang lain nanti malam saja, ya, di rumah."


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_1


__ADS_2