Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Rindu yang Menggebu


__ADS_3

Hari pernikahan Aulia dan Husain pun semakin dekat. Semua orang terlihat mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu, untuk menyambut hari bahagia tersebut.


Orang yang paling sibuk adalah Mas Dul karena dialah yang disuruh oleh Pak Haji untuk membantu Husain. Selain itu, suami Mbak Jum tersebut juga telah berjanji sendiri bahwa dia akan membantu mempersiapkan pernikahan Husain dan Aulia.


Mas Dul kini tengah sibuk menata kamar yang akan ditempati oleh Pak Haji dan Bu Hajah, juga mempersiapkan kamar untuk anak-anak Aulia dan Husain.


"Mas Dul, saya tinggal kerja dulu ya. Nanti di jam makan siang, saya pulang," pamit Husain pagi ini.


"Siap, Mas Husain," balas Mas Dul.


"Nanti kalau sopir dari toko mebel datang, tolong suruh bantu dia untuk mengangkat barang-barangnya dan bawa ke kamar anak-anak dan kamar Bapak, sesuai dengan warna perabotannya ya, Mas. Dan ini, uang tips untuk pak sopir," pesan Husain.


"Oke, Mas Husain. Saya jamin, semua beres sebelum Mas Husain datang," balas Mas Dul penuh semangat.


Ya, Husain mempersiapkan semuanya dengan matang untuk menyambut Ammar dan juga Pak Haji dan Bu Hajah. Apalagi untuk menyambut calon istrinya nanti.


Kamar untuk anak-anak di desain dan di isi dengan perabotan sesuai dengan karakter kartun serta warna kegemaran Ammar dan juga Yasmin.


Kamar untuk Pak Haji beserta sang istri juga dipersiapkan dengan sebaik mungkin, agar kedua orang tua yang telah memberikan kehidupan layak serta memberikan curahan kasih sayang pada Aulia dan Ammar itu merasa nyaman, dan betah tinggal bersama mereka.


Sementara untuk kamarnya sendiri yang akan ditempati bersama Aulia nantinya, Husain menyiapkan dan menatanya sendiri. Dia bahkan tidak memperbolehkan Mas Dul masuk ke dalam sana dan membantunya.


Laki-laki berwajah manis tersebut benar-benar ingin memberikan yang terbaik untuk sang calon istri, sikapnya sungguh manis seperti wajah dan perilakunya yang juga manis.


Baru saja Husain hendak masuk ke dalam mobil bersama sang putri, nampak Pak Haji dan Bu Hajah, serta Ammar datang dengan menaiki scooter kesayangan Pak Haji.


"Assalamu'alaikum, Papa," sapa Ammar yang langsung turun dan menghambur ke arah Husain yang menggandeng Yasmin.


"Wa'alaikumsalam, Mas Ammar," balas Husain yang diikuti oleh putrinya yang terdengar samar.


Husain langsung memeluk sekilas bocah laki-laki tersebut dan kemudian mencium puncak kepala Ammar, seperti kebiasaannya setelah kembali bertemu dengan Aulia dan putranya, beberapa waktu yang lalu.


"Papa syudah mau belangkat?" tanya Ammar.

__ADS_1


"Iya, Nak," balas Husain.


"Kami ke syini mau jemput Adik, Pa. Kata Eyang, kami mau dibelikan baju yang kembalan," terang Ammar dengan netra berbinar terang.


Bu Hajah yang memiliki ide untuk membelikan baju couple untuk Ammar dan Yasmin, agar di hari pernikahan kedua orang tua mereka nanti kedua bocah tersebut mengenakan baju dengan warna yang sama.


Tentu saja bocah laki-laki tersebut selalu antusias setiap kali eyangnya mengajak untuk membeli pakaian di mall terbesar di kota karena Ammar dulu tidak pernah diajak oleh bundanya bepergian seperti itu.


Apalagi, eyangnya itu juga royal terhadap Ammar. Selain membeli pakaian, beberapa mainan dan jajan, Ammar juga diperbolehkan untuk bermain di wahana permainan anak yang tersedia di mall tersebut.


"Oh, ya? Wah, Adik pasti senang kalau bajunya kembar sama Mas," sahut Husain seraya tersenyum.


"Terimakasih banyak, Pak, Bu," ucap Husain seraya tersenyum tulus.


"Jangan sungkan gitu, Mas Husain. Kita ini 'kan, keluarga. Nak Lia dan Mas Husain, sudah kami anggap seperti anak kami sendiri dan mereka berdua ini, adalah cucu-cucu kesayangan kami," balas Bu Hajah seraya mengusap puncak kepala Ammar dan Yasmin bersamaan.


"Berarti, Husain tidak perlu mengantarkan Yasmin ke ruko, ya," ucap Husain yang sepertinya agak kecewa karena tidak bisa berpamitan pada Aulia sebelum dirinya berangkat bekerja.


Husain mengangguk seraya tersenyum malu. "Iya, Pak."


"Oh ya, Mas Husain. Besok malam, kami berencana mengajak Yasmin untuk menginap di ruko barang dua atau tiga malam. Bi Mus juga siap untuk menemani Yasmin, boleh 'kan?" Bu Hajah meminta ijin.


Husain mengerutkan dahi.


"Maksud Ibumu, biar kalian memiliki waktu spesial sebagai pengantin baru, Mas Husain," timpal Pak Haji, yang mengerti kebingungan Husain.


Mendengar penuturan Pak Haji, Husain tersenyum lebar. "Tidak perlu seperti itu, Pak, Bu. Kami ini 'kan, bukan remaja yang baru menikah untuk pertama kalinya," ucap Husain.


"Kami dipertemukan ketika telah sama-sama memiliki anak, jadi misalnya ada gangguan dari anak, ya ... itu sudah menjadi resiko yang harus kami sadari dengan ikhlas. Anggap saja, sebagai hiburan," lanjutnya bijak.


"Iya, itu benar, Mas Husain. Tetapi, jika ada orang tua seperti kami, tidak ada salahnya 'kan, jika kami yang menjaga anak-anak agar kalian memiliki quality time untuk berdua?" Pak Haji nampak memaksa.


Tentu saja Husain yang mendengar, tersenyum senang. "Kalau itu sudah menjadi keinginan Bapak dan Ibu, silahkan. Asal anak-anak tidak merasa terpaksa," balas Husain kemudian.

__ADS_1


"Berduaan saja di malam pertama itu asyik lho, Mas Husain." Pak Haji mulai bercanda, meracuni pikiran duda satu anak tersebut dengan hal-hal yang sudah cukup lama tidak dirasakan oleh Husain.


Husain hanya bisa tersenyum dikulum.


Sementara Bu Hajah sudah tidak lagi berada di sana karena wanita paruh baya tersebut telah mengajak Ammar dan Yasmin berkeliling halaman samping yang cukup luas, yang rencananya akan dijadikan taman bermain untuk Ammar dan adik-adiknya.


"Sudah, Kung, jangan diajak ngobrol terus. Nanti Mas Husain malah jadi terlambat," tegur Bu Hajah karena suaminya nampak masih asyik mengajak Husain bercanda.


Husain kemudian berpamitan pada kedua orang tua tersebut, menyalami keduanya dengan takdzim seperti menyalami orang tua kandung yang telah lama tiada. Tepatnya, semenjak Husain masih remaja.


Laki-laki yang sikapnya selalu santun tersebut tak lupa mencium putra dari sang calon istri, serta mencium pipi chabi sang putri.


"Assalamu'alaikum," pamit Husain seraya mengucapkan salam.


Mobil yang dikendarai Husain segera berlalu, meninggalkan halaman rumah dengan diiringi lambaian tangan kecil Yasmin dan Ammar.


Husain mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.


"Rasanya, aku tidak sabar untuk menunggu besok," gumam Husain.


Bayangan Aulia yang tersenyum malu-malu melintas dan hal itu membuat Husain semakin rindu dengan calon istrinya tersebut.


"Baru juga semalam tidak bertemu, kenapa rasa rinduku ini begitu menggebu? Ya, Rabb ... jaga perasaan ini, agar aku selalu memiliki rasa rindu pada dia meski nanti telah menjadi istriku."


"Aku ingin selalu merindukannya, dan jatuh cinta berkali-kali padanya."


💖💖💖 bersambung ...


Sweet-nya dirimu, Mas.


Peyuk 🤗🥰


__ADS_1


__ADS_2