Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Pergi Dari Sini


__ADS_3

Mendengar kalimat terakhir sopir taksi, Aulia menatap laki-laki dewasa yang mengemudikan mobil taksinya itu dari pantulan kaca spion di depan, dengan dahi berkerut. 'Apa, wajahku terlihat sangat menyedihkan?' batinnya, bertanya pada diri sendiri.


Taksi terus melaju membelah jalanan yang sedikit tergenang dan menembus hujan deras yang mengguyur kota, keheningan sejenak tercipta di dalam kabin mobil jenis sedan tersebut.


Aulia kemudian mencoba memejamkan mata, sambil menyandarkan kepala pada sandaran jok mobil.


Sementara sang putra nampak sangat lelap, dengan berselimut sarung milik sopir taksi tersebut.


Sopir itu terus melajukan mobil, tanpa mengajak bicara kembali penumpangnya, setelah dia melihat melalui pantulan kaca spion bahwa wanita muda yang menjadi penumpang taksinya, memejamkan mata.


'Kasihan sekali dia, sepertinya masalah yang dia hadapi cukup berat dan rumit,' batin sopir tersebut yang dapat melihat gurat kesedihan pada wajah Aulia.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, tibalah mereka di sebuah perkampungan yang cukup padat di pinggir kota kecil, tempat Aulia dilahirkan.


Aulia yang tak dapat tidur meskipun matanya terpejam, sudah membuka matanya kembali ketika mobil taksi yang dia tumpangi keluar dari jalan tol dan menuju ke alamat rumah orang tuanya.


Ya, Aulia bermaksud kembali ke rumah orang tuanya untuk mengistirahatkan pikiran sejenak, sebelum kemudian mengambil langkah untuk masa depannya dan juga sang putra, nanti.


"Gang kedua itu, masuk kanan, Pak," tuntun Aulia pada sopir taksi yang nampak mencari-cari nama jalan yang tadi disebutkan Aulia.


"Oh, baik, Mbak," balas sopir tersebut yang kemudian mengarahkan mobilnya untuk memasuki gang yang disebutkan penumpangnya.


"Rumah pagar hijau di depan kiri jalan itu ya, Pak. Nanti mobilnya langsung masuk ke halaman saja, gerbangnya gak pernah ditutup kok," saran Aulia, mengarahkan sopir taksi.


Sopir taksi tersebut hanya mengangguk dan kemudian segera berbelok ke rumah yang ditunjuk oleh Aulia tepat di saat iqomah dikumandangkan dari masjid di kompleks tempat orang tua Aulia tinggal.


Benar saja, pintu gerbang yang tinggi itu tidak tertutup. Sehingga taksi tersebut dapat langsung memasuki halaman yang cukup luas dengan rerumputan hijau yang basah terkena air hujan.


"Sebentar saya ambil payung, Mbak. Biar putra Mbak tidak kehujanan," pinta sopir taksi setelah Aulia membayar ongkos sesuai jumlah yang tertera pada argo.

__ADS_1


Tak berapa lama, sopir taksi membukakan pintu dengan membawa payung besar untuk memayungi penumpangnya karena hujan masih saja mengguyur bumi.


Aulia segera turun sambil menggendong tas ransel di belakang dan sang putra yang sudah terbangun di depan. Dia kemudian berjalan memasuki halaman rumah orang tuanya, dengan dipayungi oleh pak sopir yang baik hati.


"Sarung Bapak sudah saya lipat dan saya simpan di jok belakang ya, Pak. Terimakasih banyak," ucap Aulia, tulus.


"Iya, Mbak. Sama-sama," balas laki-laki dewasa tersebut seraya tersenyum ramah. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Mbak. Mau numpang sholat di masjid sana dulu," pamit pak sopir sambil menunjuk ke arah masjid.


Aulia mengangguk dan tersenyum. Setelah taksi yang dia tumpangi tadi berlalu dari halaman rumah orang tuanya, wanita muda itu kemudian mengetuk pintu rumah bercat hijau seraya mengucap salam dengan cukup keras, agar sang ibu atau kakak pertamanya yang ikut tinggal bersama ibunya, dapat mendengar suaranya


Tiga kali salam Aulia tak ada yang menjawab. Aulia kemudian mencoba untuk membukanya, tetapi gagal karena pintunya dikunci dari dalam.


Ya, kebiasaan orang tuanya jika sudah terdengar adzan, pintu rumah akan dikunci agar ibadah mereka yang di dalam tidak terganggu.


'Coba nanti lagi, barangkali Ibu dan yang lain masih sholat,' batin Aulia. Dia kemudian mendudukkan diri di bangku panjang yang terbuat dari kayu jati, yang ada di teras rumah orang tuanya. Sementara tas ranselnya di simpan di atas meja.


"Assalamu'alaikum, Mbak Ulfa," ucap salam Aulia yang kemudian beranjak seraya menggendong sang putra, mendekati sang kakak.


"Lia?" Wanita itu mengedarkan pandangan, mencari sosok lain yang mungkin saja datang bersama adiknya.


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya sang kakak, menyelidik. Dia sambut uluran tangan Aulia, dengan dingin.


"Hanya berdua sama Ammar, Mbak," balas Aulia, ragu.


Aulia tahu pasti, keluarganya tak akan suka mendengar kisah perpisahannya dengan sang suami. Hanya saja, untuk saat ini, Aulia tak tahu harus pergi ke mana, selain pulang ke rumah orang tuanya.


Ulfa memicingkan mata. "Kamu berantem sama Handoyo?' cecar Ulfa seraya melirik tas ransel milik Aulia yang ada di atas meja teras.


Aulia mengangguk, pelan.

__ADS_1


"Lantas, mau apa kamu pulang ke sini?" tanya Ulfa. "Kalau ada masalah sama suami itu, diselesaikan baik-baik dan bukan malah main kabur-kaburan seperti ini!" lanjut Ulfa dengan suara meninggi, sebelum Aulia sempat menjawab pertanyaannya.


"Kamu tahu 'kan, Lia, bahwa keluarga kita sangat membenci perpisahan! Apalagi sekarang ibu lagi sakit, mbak enggak mau kalau sampai ibu tahu dan penyakitnya tambah parah! Nanti mbak juga yang repot!" ketus Ulfa.


"Pulang ke rumah suami kamu sekarang dan selesaikan dengan baik-baik masalah kalian!" usir Ulfa, tanpa mau mendengar penjelasan sang adik.


Kakak pertama Aulia itu hendak menutup pintu, tetapi Aulia mencegah dengan memegang tangan sang kakak. "Mbak, tolong jangan usir kami, malam ini saja," pinta Aulia, memelas.


"Kami tidak mungkin kembali ke rumah Mas Han, Mbak, karena Lia dan dia sudah resmi berpisah setelah Lia tahu bahwa Mas Han ...."


"Berpisah?" Suara Ulfa terdengar sangat terkejut, memotong pembicaraan Aulia sebelum bundanya Ammar tersebut menyelesaikan ceritanya.


Aulia kembali mengangguk, pelan.


"Ya ampun, Lia! Bagaimana kalau ibu sampai tahu hal ini? Ibu pasti akan sangat sedih, Lia!" Ulfa menatap tak percaya pada sang adik.


"Berapa kali ibu berpesan sama kamu, Lia, agar kamu mempertahankan pernikahan kalian! Ibu pasti akan sangat sedih dan malu, jika sampai orang-orang di kampung ini tahu, kalau anak bungsunya menjadi janda karena diceraikan oleh suami!" Ulfa menatap tajam adik bungsunya tersebut.


Tatapan Ulfa, membuat Ammar yang berada dalam gendongan sang bunda, mengeratkan tangan pada leher bundanya dan menyembunyikan wajah di bahu Aulia.


"Tapi, Mbak, ini ...."


"Apapun alasannya, Lia! Seorang istri tetap dianggap bersalah dan tak becus menjadi istri yang baik, jika sampai diceraikan oleh suaminya!" sergah Ulfa.


"Cepat, pergi dari sini sebelum ibu tahu kedatanganmu dan para tetangga melihat kamu pulang!' usir Ulfa yang langsung menutup pintu dengan keras.


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_1


__ADS_2