
Sebuah kecupan manis, mendarat di pipi kanan Aulia.
Husain buru-buru menjauhkan sedikit wajah dan tersenyum pada sang istri. "Yang lain nanti malam saja, ya, di rumah."
"Cie, Bunda syama Papa pacalan," sorak Ammar dengan riang.
Aulia dan Husain mengerutkan dahi dan berbarengan menoleh ke belakang. "Mas Ammar tahu dari mana kata-kata, Nak?" tanya Aulia dengan tatapan lembut.
"Om Nanang dan Tante Yuli, pelnah makan di walung telus meleka duduknya nempel. Kata Bi Jum meleka pacalan," balas Ammar seperti yang pernah dia dengar dari orang dewasa.
"Bukan pacaran, Nak. Tapi mereka berteman," ucap Aulia, mencoba meluruskan.
"Kita jadi jalan sekarang, apa nanti Mas Ammar?" Husain sengaja mengalihkan perhatian Ammar yang memiliki rasa penasaran tinggi tersebut karena sepertinya bocah laki-laki itu masih ingin bertanya mengenai pacaran.
"Jalan sekalang, Pa," pinta Ammar.
"Syekayang, Papa," ucap Yasmin, ikut-ikutan.
"Kalian duduk yang benar, ya. Biar Papa jalanin mobilnya sekarang." Aulia kemudian meletakkan bantal boneka kartun di pangkuan Yasmin.
Mobil Husain segera melaju, meninggalkan halaman kediaman orang tua Handoyo.
Mamanya Handoyo yang ternyata masih melihat dari dalam rumahnya, menatap kepergian mobil yang membawa mantan menantunya dengan perasaan yang entah.
Ya, awal Aulia berpisah dengan Handoyo, mamanya Handoyo tersebut sangat senang karena sejak awal dia tidak setuju Handoyo menikah dengan Aulia yang dinilai masih terlalu muda dan sok alim di matanya karena berhijab.
Wanita paruh baya tersebut berpikir, bahwa Aulia pasti tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya akan merepotkan putranya saja. Namun, penilaiannya ternyata salah, tetapi Bu Tarno sudah terlanjur membenci Aulia hingga dia tetap memperlakukan menantu pertamanya itu dengan buruk.
Seiring berjalannya waktu, Bu Tarno yang sudah terbiasa bergantung pada Aulia jika menginginkan masakan yang enak, mulai merasa kehilangan ketika Cynthia ternyata tidak dapat memasak.
Bukan hanya tidak becus memasak dan mengurus rumah, Cynthia juga tidak menghargai Bu Tarno sebagai ibu mertua. Bicaranya sering ketus, apalagi jika tidak ada Handoyo bersama mereka.
Meski merasa kehilangan dan sebenarnya wanita paruh baya tersebut juga rindu pada Aulia dan sang cucu, tetapi rasa gengsi dan rasa malu Bu Tarno yang bercampur menjadi satu, mengalahkan kerinduannya pada sang cucu.
Mantan ibu mertua Aulia tersebut juga sempat terkejut, ketika pertama kali melihat Aulia datang bersama Husain, mantan suami dari menantu barunya.
Apalagi melihat penampilan Aulia yang semakin cantik dan anggun, dengan pakaian bagus yang dikenakan oleh Aulia tadi, semakin membuat Bu Tarno merasa malu karena semasa masih menjadi istri dari Handoyo, penampilan Aulia sangatlah sederhana.
__ADS_1
"Mereka kelihatannya bahagia sekali," gumam mamanya Handoyo yang masih melihat ke arah jalanan meskipun mobil yang ditumpangi oleh Aulia tak lagi terlihat.
"Maaf, Lia. Mama tidak mau kamu mengetahui, kalau mama menyesal telah bersikap kasar padamu dulu. Mama malu Lia." Setetes air mata jatuh, dari sudut netra Bu Tarno.
"Mama juga tidak mau kamu melihat air mata mama dan itu sebabnya, mama buru-buru mengusir kalian," Bu Tarno mengusap air mata yang mulai berjatuhan.
⭐⭐⭐
Mobil yang dikendarai Husain terus melaju memecah jalanan ibu kota provinsi.
"Kita bawa anak-anak ke mall saja ya, Sayang. Sudah siang banget, panas kalau di wahana terbuka," usul Husain.
"Iya, Mas. Terserah Mas Husain saja, bagaimana baiknya. Yang penting, anak-anak bisa bermain dan bersenang-senang," balas Aulia, pasrah.
"Bundanya, enggak pengin ikut bersenang-senang juga?" tanya Husain seraya menoleh sekilas ke arah sang istri dengan senyuman yang menggoda.
"Asal anak-anak dan Mas senang dan bahagia, Lia juga sudah sangat bahagia, kok, Mas," balasnya, membuat Husain tak dapat lagi berkata-kata.
Begitu sederhananya kebahagiaan seorang ibu. Hanya dengan melihat anak-anak dan suaminya senang serta bahagia, seorang ibu juga akan merasa bahagia.
Kekaguman Husain terhadap sang istri semakin bertambah. 'Istri seperti dirimu yang aku harapkan sejak dulu, Dik. Istri yang sholehah, yang dapat mendidik anak-anak dengan baik. Menyayangi dan mendahulukan kepentingan mereka, bukannya istri yang egois yang mau menang sendiri,' monolog Husain dalam hati.
Husain juga merasa menjadi suami yang benar-benar beruntung karena Aulia sangat menghargainya. Tidak seperti dulu, ketika Husain tak memiliki hak suara untuk menentukan sesuatu dalam rumah tangganya karena semua Cynthia yang menentukan dan mengatur.
Laki-laki berwajah manis tersebut mengambil tangan sang istri dan kemudian menggenggamnya erat.
Membuat hati Aulia berdebar, hingga senyuman bahagia pun terbit di sudut bibirnya.
Aulia merasa seperti muda-mudi yang sedang berpacaran, seperti yang dikatakan sang putra tadi.
Perjalanan yang cukup panjang itu pun tak terasa. Kini mobil Husain telah memasuki area parkir di sebuah mall terbesar di kota tersebut yang dilengkapi dengan wahana permainan anak.
Ammar dan Yasmin terlihat antusias ketika digandeng sang papa dan bundanya memasuki mall.
"Kita ajak anak-anak main dulu, ya. Setelah itu, baru kita cari keperluan untuk mereka dan juga untuk kamu," ucap Husain.
"Keperluan untuk apa, Mas? Baju anak-anak masih bagus dan cukup banyak. Belum lama ini, mereka juga dibelikan sama eyangnya, kan?" tolak Aulia.
__ADS_1
"Enggak harus baju, Sayang. Sepatu, mainan, atau apalah. Dan untuk kamu, mas ingin membelikan sesuatu yang spesial," balas Husain seraya menatap mesra sang istri.
"Tidak perlu, Mas. Mas 'kan juga sudah ngasih macam-macam sama Lia. Bahkan hantaran dari mas, ada yang belum Lia buka, kan?' Kembali wanita cantik itu, menolak.
Obrolan mereka terhenti sejenak, ketika Ammar berseru begitu melihat wahana permainan yang beraneka ragam.
"Mas beli tiketnya dulu, ya," pamit Husain.
Tak berapa lama, suami Aulia itu telah kembali dengan dua lembar tiket di tangan.
"Mas Ammar dan Adik mau main apa, Sayang?" tanya Husain sambil mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak-anak.
"Yang itu saja, Pa. Bial Mas bisya jaga adik," balas Ammar seraya menunjuk kolam mandi bola yang dilengkapi dengan perosotan, terowongan dan tenda kemah.
Husain kemudian membawa kedua anaknya menuju ke tempat permainan tersebut, sementara Aulia menunggu di sebuah bangku yang tersedia tak jauh dari wahana yang dipilih Ammar.
Setelah memastikan kedua anaknya bermain dengan riang dan aman karena ada petugasnya di sana, Husain kemudian mendekati sang istri dan duduk tepat di samping Aulia.
"Lebih baik, uangnya ditabung saja, Mas. Kebutuhan anak-anak jika sudah masuk sekolah 'kan, cukup besar, Mas. Belum lagi kalau nanti mereka punya ...."
Aulia menghentikan ucapannya dan wajah cantik itu tiba-tiba merona merah.
"Punya apa, Sayang? Punya adik yang banyak, begitu kah?" goda Husain, seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, membuat darah Aulia berdesir.
"Jangan banyak-banyak, Mas," protes Aulia. "Satu apa dua saja, nambahnya, ya," lanjutnya seraya tersenyum tersipu.
Husain tersenyum senang karena sang istri memiliki pemikiran ke arah sana. "Berapa saja, Allah memberikan amanahnya pada kita, ya," ucap Husain kemudian, yang mengembalikan semuanya pada Sang Pencipta.
Aulia mengangguk, mengiyakan.
"Dan mengenai tabungan untuk anak-anak, kamu jangan khawatir, Dik. InsyaAllah, mas sudah mulai menabung. Jadi, kamu tidak boleh menolak jika mas mau membelikan kamu sesuatu." Husain tersenyum seraya melirik mesra pada sang istri.
Sementara di bangku lain, dua pasang mata tengah memperhatikan keduanya sejak keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia itu, memasuki mall.
"Apa Mas enggak menaruh curiga sama mereka? Jangan-jangan, mereka sudah main di belakang kita terlebih dahulu, sebelum kita menjalin hubungan Mas."
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1