
"Barusan aku chat. Aku tanya dia naik apa, tetapi Lia belum jawab," lanjut Luna.
"Aku akan susul Lia ke terminal," pamit Lutfi yang langsung beranjak dan kemudian berlari kecil meninggalkan tempat tersebut.
Pemuda tampan itu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju terminal. Dia menyalip semua yang ada di depan mobilnya seraya membunyikan klakson.
Hanya butuh waktu lima belas menit, mobil yang dikendarai Lutfi memasuki area terminal angkot dan bis kota.
Pemuda tersebut memarkirkan mobil dengan asal, dia kemudian segera turun dan mengedarkan pandangan menyapu area terminal yang tak seberapa luas.
Sementara di dalam sebuah angkot yang baru saja masuk ke dalam terminal, Aulia sedang bersiap-siap hendak turun untuk berganti angkot yang menuju ke kota tempat tujuannya yaitu pulang ke rumah.
Wanita muda itu mengurungkan niatnya hendak turun dari angkot kala netranya menangkap bayangan seseorang yang sangat dia kenali, sosok yang baru saja dia temui di tempat reuni.
'Lutfi? Benarkah itu, dia?' batin Aulia, bertanya. 'Tidak, aku tidak boleh bertemu dengan dia. Sebaiknya, aku sembunyi dulu di sini.'
Jarak mobil angkot dimana Aulia masih bersembunyi dengan mobil Lutfi, begitu dekat. Hingga membuat wanita berhijab tersebut menjadi was-was.
Aulia juga sempat melihat, Lutfi menatap ke arah angkot yang dia tumpangi dan secepat kilat wanita cantik itu membungkukkan badan agar keberadaannya tidak terlihat dari luar.
Setelah beberapa saat bersembunyi, Aulia mengedarkan pandangan hendak keluar dan mencari tempat persembunyian lain yang lebih aman. 'Toilet. Ya, sebaiknya aku ke sana saja.'
Bergegas Aulia turun dari angkot dan menyelinap di antara angkot-angkot yang terparkir untuk menuju toilet.
'Untuk apa ya, Lutfi ke sini? Bukankah acara reuni baru saja dimulai?' Aulia bertanya-tanya dalam hati, sambil berjalan menuju toilet.
Wanita muda tersebut dapat bernapas dengan lega, setelah tiba di dalam toilet. Tepat di saat yang sama, ponselnya berdering.
Aulia segera mengambil ponsel dari dalam tas cangklong hitam. 'Luna?' Dahinya berkerut dalam.
__ADS_1
"Halo, Lun. Assalamu'alaikum," sapa Aulia begitu tombol gambar telepon berwarna hijau telah dia geser untuk menerima panggilan dari sahabatnya.
"Lia, kamu sekarang di mana? Naik apa? Aku chat kok enggak kamu buka?" cecar suara di seberang yang terdengar khawatir.
"Lutfi nyusul kamu ke terminal, Lia. Dia sudah berada di sana sekarang. Kamu naik angkot, kan?" lanjut Luna, bertanya.
"Dia sangat mengkhawatirkan kamu, Lia," imbuh Luna sebelum Aulia sempat menjawab pertanyaan dari sang sahabat.
'Lutfi mengkhawatirkan aku?' tanya Aulia pada diri sendiri. 'Tidak, tidak. Ini tidak banar. Aku masih berstatus sebagai seorang istri dan dia, dia juga sudah memiliki tunangan." Ibu satu anak tersebut menggeleng-gelengkan kepala.
'Kami tidak mungkin bersama lagi karena aku tak mau menyakiti wanita lain, seperti halnya aku yang tak mau disakiti oleh wanita lain.' Air mata Aulia tiba-tiba menetes, teringat kembali kejadian di cafe hotel tadi.
"Lia, kenapa kamu diam saja? Kamu di mana sekarang?" Suara Luna membuyarkan lamunan Aulia.
Buru-buru wanita muda tersebut menyusut air mata, dia kemudian berdeham untuk menetralkan suaranya agar tidak terdengar kalau habis menangis.
"Aku sudah di dalam taksi, Lun," balas Aulia yang kembali berbohong.
Terdengar sang sahabat menghela napas panjang. "Ya sudah Lia, kamu hati-hati, ya," pesan Luna, penuh perhatian.
"Kirim salam buat papa mertua kamu, papa saja, bukan mama mertua kamu yang seperti mama mertua dalam sinetron ikan terbang itu," lanjut Luna, bercanda. Sahabat Aulia tersebut kemudian terdengar terkekeh di seberang sana.
Aulia mau tak mau pun ikut tertawa. "Hush, enggak boleh gitu sama orang tua, Luna. Walau bagaimanapun, beliau itu mamanya Mas Han," ucapnya kemudian, mengingatkan.
"Ya sudah, Lia. Aku mau lanjut ke acara," pamit Luna yang langsung menutup telepon tanpa mengucap salam.
Aulia hanya bisa geleng-geleng kepala seraya menatap layar ponsel yang telah retak di sana-sini, yang telah kembali ke layar utama.
Buru-buru Aulia me-non aktifkan paket data, khawatir ada yang meneleponnya kembali.
__ADS_1
Setelah beberapa saat berada di dalam toilet dan merasa bahwa di luar sudah aman, Aulia bergegas keluar.
'Sebaiknya, aku naik taksi saja biar lebih cepat sampai rumah mamanya Luna,' gumam Aulia pada diri sendiri.
Aulia masih celingak-celinguk, memastikan bahwa sudah tidak ada Lutfi di tempat yang dia lihat tadi. Wanita berhijab tersebut merasa lega, setelah tidak melihat keberadaan mobil milik Lutfi berikut orangnya.
Ibu satu anak tersebut bergegas keluar dari terminal, untuk menghadang taksi yang lewat di jalan raya tersebut.
Aulia berjalan agak menjauh dari terminal, agar sopir taksi mau jika diberhentikan. Benar saja, tak berapa lama setelah Aulia berjalan sedikit menjauh dari terminal angkot tersebut, dia mendapatkan taksi kosong yang akan membawanya menuju pulang.
"Ke kota lama ya, Pak," pinta Aulia setelah duduk di bangku belakang.
"Baik, Mbak," balas sopir taksi tersebut, ramah.
Taksi berwarna biru tersebut pun segera melaju, menuju ke daerah yang diminta oleh penumpangnya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Aulia terus tertuju pada sang suami dan juga Cynthia, tetangga sebelah rumahnya.
'Sudah berapa lama ya, mereka berhubungan? Kenapa aku sebodoh ini, sampai tidak tahu hubungan mereka berdua?' Aulia menyesali kebodohannya yang tidak dapat mencium gelagat buruk sang suami.
'Jadi selama ini Mas Han selalu memuji Mbak Tia dan sering membanding-bandingkan aku dengan dia, itu karena mereka berdua memiliki hubungan spesial?' Air mata Aulia kembali menetes.
Sakit rasanya hati Aulia, mengetahui pengkhianatan yang dilakukan oleh sang suami yang selama ini dia bela-belain untuk tetap bertahan di sisi Handoyo.
'Aku masih mencoba ikhlas selama ini kamu perlakukan dengan tidak adil, Mas. Aku juga diam saja, ketika mamamu lebih menganggap aku sebagai seorang pembantu daripada menantu.' Aulia menyeka air mata dengan ibu jarinya.
'Tetapi untuk pengkhianatan ini, aku ...."
"Kota lamanya sebelah mana, Mbak?" Suara bariton sopir taksi yang bertanya, membuat Aulia melupakan sejenak tentang sang suami yang berselingkuh dengan tetangganya sendiri.
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...