Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Kenapa Harus Kami?


__ADS_3

"Tidak, Om. Ini tidak benar, kan? Ini pasti salah, kan, Om! HIV ... Om terkena HIV? Bagaimana bisa, Om?" teriak Cynthia, frustasi. Wanita seksi itu menjambak rambutnya sendiri.


Cynthia Masih tak percaya dengan apa yang barusan dia lihat, hasil tes kesehatan yang dilakukan oleh sang kekasih gelap menunjukkan tanda positif pada penyakit HIV, di rumah sakit ternama di kota tersebut.


Ingin rasanya Cynthia tidak mempercayainya, tetapi apa yang dia baca barusan adalah bukti autentik dari sebuah rumah sakit besar yang sangat kecil kemungkinannya salah dalam mendiagnosis penyakit pasien.


"Om harus bertanggung jawab, Om! Aku enggak mau terkena penyakit itu, seperti Om!" Cynthia masih berteriak-teriak, tidak dapat menerima kenyataan.


"Diam!" Sundoro yang juga frustasi dan sedari tadi diam saja, tak tahan mendengar Cynthia yang terus saja berteriak-teriak menyalahkan dirinya.


"Kenapa menyalahkan aku? Kenapa kamu enggak ngaca, Cyn? Bisa jadi, kamulah yang menularkannya padaku!" tuding Sundoro.


"Tidak, Om! Kenapa Om memutar balikkan fakta? Aku hanya berhubungan dengan, Om!" Cynthia semakin meradang dituduh seperti itu oleh Sundoro.


"Cih! Siapa yang percaya kalau kamu hanya main denganku, Cyn? Sekali peselingkuh, maka selamanya kamu akan tetap berselingkuh!" Sundoro sama sekali tidak mempercayai ucapan Cynthia.


Cynthia terdiam. wanita itu memejamkan mata sejenak. Dia akui, dia melakukan sebuah kesalahan. Dia khianati suami pertamanya dan kemudian dia tinggalkan Husain demi Handoyo.


Sekarang, dia mengulang kesalahan yang sama. Dia khianati Handoyo, meski Cynthia tak pernah ingin meninggalkan suaminya tersebut.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Cynthia, bingung.


Cynthia buru-buru mengenakan pakaian, dia ingin segera ke rumah sakit untuk memastikan bahwa dirinya bersih dan tidak tertular penyakit tersebut.


Sundoro pun telah mengenakan pakaiannya kembali. Laki-laki paruh baya tersebut juga hendak segera keluar dari hotel untuk pulang menemui istrinya dan meminta maaf pada wanita anggun yang senantiasa setia mendampingi dirinya selama ini.


⭐⭐⭐


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dengan menaiki taksi, Cynthia terus merenung. Mencoba meraba kesalahannya sendiri, tetapi dia sama sekali tidak mengakui dan malah menyalahkan Tuhan atas apa yang menimpanya.


'Kenapa harus aku yang kena sial ini, Tuhan. Kenapa? Di luar sana, bahkan banyak wanita lain yang sering gonta-ganti pasangan, tetapi mereka baik-baik saja. Kenapa aku yang hanya menjalin hubungan dengan satu orang yang sama, harus menerima semua ini?' geram Cynthia dengan takdir hidup yang menimpanya.


"Bu, kita sudah sampai di rumah sakit yang Ibu tuju." Suara sopir taksi, menyadarkan Cynthia dari lamunan.

__ADS_1


Setelah membayar taksi sesuai dengan tarif, Cynthia bergegas turun tanpa mengucap kata terimakasih dan segera memasuki rumah sakit.


"Sus, saya mau tes darah," ucap Cynthia. Wanita itu kemudian menjelaskan alasannya kenapa dia mau tes darah.


"Baik, Bu. Silahkan ikut saya." Suster yang lain segera menuntun Cynthia, menuju ruang laborat.


Setelah diambil sample darahnya, Cynthia memilih untuk menunggu hasilnya di sana.


Sekitar dua puluh menit kemudian, hasil rapid test yang dilakukan Cynthia barusan, sudah keluar dan dapat diketahui hasilnya.


"Bagaimana, Dok?" tanya Cynthia dengan tidak sabar.


"Maaf, Bu. Tenangkan dulu diri Ibu," balas dokter wanita tersebut dengan tersenyum hangat.


"Di sini hasilnya memang positif, tetapi rapid test yang baru saja Ibu jalani terkadang kurang keakuratannya. Jika Ibu ingin lebih yakin, saya sarankan untuk melakukan test antibodi-antigen, tetapi hasilnya baru dapat diketahui sekitar dua sampai tiga hari," terang dokter tersebut seraya menatap pasiennya.


"Bagaimana, Bu?" tanyanya lebih lanjut.


Wanita seksi tersebut nampak bimbang. Di satu sisi, dia memiliki kesempatan untuk mengetahui, mungkin saja hasil rapid test kali ini salah, tetapi dia sekaligus cemas bagaimana jika test selanjutnya malah benar-benar menunjukkan hasil yang positif.


Cynthia harus kembali menuju ruang laborat karena di awal tadi dia menolak, ketika suster menyarankan untuk melakukan berbagai macam pemeriksaan sekaligus.


Setelah selesai pengambilan sample darah, Cynthia segera pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan pulang, hanya kecemasan yang terlihat di wajahnya. Pikiran wanita tersebut benar-benar kacau.


'Bagaimana kalau Mas Han tahu dan dia menceraikan aku?' tanya Cynthia pada diri sendiri.


Cynthia mengambil ponsel, bermaksud untuk menghubungi sang suami, apakah suaminya itu sudah pulang atau belum. Namun, Cynthia mengurungkan niatnya dan memasukkan kembali ponsel mahalnya ke dalam tas branded miliknya


"Pak, bisa lebih cepat sedikit," pinta Cynthia dengan tidak sabar.


Sopir taksi yang mengemudikan kendaraan hanya bisa mengangguk, patuh, dan segera menambah laju kecepatan taksinya.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, Cynthia tiba di kediaman megah sang suami. Dia segera membayar ongkos taksi dan kemudian segera turun dari mobil berwarna biru muda tersebut.


'Sudah hampir setengah lima, mobil Mas Han kok belum ada,' batin Cynthia, antara lega dan curiga.


Bergegas dia memasuki rumah yang memiliki teras tinggi tersebut dan segera menuju ke kamar.


"Aku harus bagaimana ini? Apa aku harus jujur pada Mas Han?" gumam Cynthia sambil melepaskan pakaiannya di dalam kamar.


Cynthia menghela napas panjang. "Sebaiknya aku segera mandi dan kemudian menunggu Mas Han. Untuk sementara, biarlah dia tidak tahu dulu," lanjutnya sambil berjalan menuju kamar mandi.


Istri Handoyo itu mandi dengan cepat, tak seperti biasanya yang harus luluran atau berendam terlebih dahulu.


Kurang dari sepuluh menit, Cynthia telah keluar dari kamar mandi dengan membungkus tubuhnya memakai handuk kimono.


Belum sempat Cynthia berganti pakaian, terdengar pintu rumahnya diketuk oleh seseorang dari luar.


'Siapa, ya? Masak Mas Han pulang iseng pakai ketuk pintu segala.' Cynthia bertanya-tanya dalam hati, seraya melangkah keluar untuk melihat siapa yang datang.


Begitu pintu yang terbuat dari kayu jati tebal dan berukir indah tersebut terbuka, dahi Cynthia berkerut dalam melihat dua orang petugas berseragam sudah berdiri dengan gagah di depan pintu rumahnya.


"Maaf, cari siapa?" tanya Cynthia.


"Apa Anda, Nonya Handoyo?" tanya salah seorang petugas.


Cynthia mengangguk, membenarkan.


"Ada apa dengan suami saya, Pak?" cecar Cynthia yang mulai diliputi kecemasan.


"Suami Ibu saat ini menjadi tahanan sementara KPK karena dugaan kasus penyalahgunaan wewenang dan kasus suap gratifikasi."


Mendengar penjelasan petugas berseragam tersebut, dunia Cynthia seakan runtuh saat itu juga.


Dia menangis dan menjerit histeris, marah pada keadaan.

__ADS_1


"Kenapa harus kami, kenapa?" jerit Cynthia semakin menjadi.


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...


__ADS_2