
Rumah tangga Handoyo dan Cynthia seringkali diwarnai pertengkaran, dari hal yang kecil dan sepele hingga hal yang sangat sensitif.
Mulai dari pagi hari ketika keduanya sama-sama terburu-buru hendak berangkat bekerja, hingga malam ketika mereka berdua sama-sama harus lembur karena membawa pulang pekerjaan kantor.
Handoyo yang dominan dan tak pernah mau mengerti keadaan sang istri, masih bersikap sama seperti dulu, selalu menuntut kesempurnaan dari pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh Cynthia.
Sementara Cynthia yang manja dan tak mau direpotkan dengan urusan rumah tangga, semakin sensitif ketika Handoyo sering membandingkan wanita seksi tersebut dengan Aulia.
"Bisa enggak, sih, sarapannya jangan nasi goreng dan mie instan terus. Bosan!" gerutu Handoyo yang langsung beranjak dan meninggalkan meja makan, ketika Cynthia membawakan nasi goreng kehitaman seperti biasanya.
"Mas, aku sudah capek-capek, ya, menyiapkan semuanya!" seru Cynthia yang tidak terima diperlakukan seperti itu.
Wanita seksi tersebut segera menyimpan dua piring nasi goreng di atas meja makan dan mengejar sang suami yang masuk ke dalam kamar kerja Handoyo.
"Aku mau berangkat sekarang, mau cari sarapan dulu di luar," pamit Handoyo yang masuk ke dalam kamar kerja tersebut hanya untuk mengambil tas kerjanya.
Laki-laki berahang tegas tersebut melewati Cynthia yang berdiri di ambang pintu, begitu saja. Tanpa menawarkan apakah sang istri mau ikut berangkat bersamanya, atau tidak.
"Mas, urusan kita belum selesai!" teriak Cynthia yang kembali mengejar Handoyo.
"Urusan apalagi, Cyn? Urusan masak nasi goreng yang selalu gosong itu!" Handoyo menatap Cynthia dengan tatapan sinis.
"Aku 'kan sudah berkali-kali bilang, Mas, kalau aku enggak bisa masak! Kenapa Mas enggak cari pembantu lagi, saja? Mas 'kan punya jabatan tinggi di kantor, apa susahnya, sih, punya pembantu?" Cynthia membalas tatapan mata sang suami, tak kalah sinis.
"Bukan masalah bagiku kalau memang ada yang mau dan betah bertahan lama bekerja di rumah ini, Cyn. Masalahnya itu ada pada kamu!" balas Handoyo seraya menunjuk Cynthia dengan jari telunjuknya.
"Kamu terlalu cerewet dan suka mengatur, sudah begitu banyak maunya pula! Mana ada pembantu rumah tangga yang betah bekerja di rumah ini, kalau nyonya rumahnya seperti kamu!" lanjut Handoyo penuh penekanan pada kalimat terakhir.
"Aku 'kan sudah menyuruh kamu untuk kursus masak, agar bisa menyiapkan makanan untukku. Kenapa sampai sekarang masih belum becus juga?" Handoyo membuang kasar napasnya.
"Aku bukan pengangguran, Mas! Aku juga harus bekerja setiap hari, jadi aku tak punya banyak waktu untuk kursus dan praktek!" balas Cynthia yang selalu berbicara dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Berhenti dan keluar dari pekerjaan kamu! Sudah berapa kali aku menyuruhmu untuk berhenti, Cyn?" Handoyo kembali menatap istrinya.
"Cukup di rumah saja, menjadi istri dan ibu yang baik. Jangan khawatir dengan uang belanja karena aku bisa memberimu uang lebih banyak dari gajimu sebagai guru honorer yang tak seberapa itu," lanjutnya dengan memelankan suara.
"Aku enggak bisa jika hanya berdiam diri di rumah seharian, Mas," rajuk Cynthia yang juga mulai memelankan suara.
"Ck ...." Handoyo berdecak. "Dulu, Lia bisa berdiam diri di rumah dan tidak pernah menuntut apapun. Semua pekerjaan rumah, dia lakukan sendiri dan semuanya rapi. Kenapa kamu tidak bisa?" tanya Handoyo dengan menyipitkan mata.
"Lia, lagi! Lia, lagi! Apa istimewanya dia, sih, Mas? Kalau dia memang istimewa di mata Mas, Mas Han enggak mungkin melirikku! Itu artinya, aku lebih istimewa dari dia!" balas Cynthia dengan geram karena Handoyo sering memuji mantan istrinya.
Handoyo menghela napas panjang.
'Ya. Dulu, sebelum kamu aku miliki, kamu terlihat begitu istimewa, Cyn. Sekarang, setelah kita menikah dan aku mengetahui semua tentangmu, kamu sangat jauh dari kata itu. Sama sekali tidak istimewa.' batin Handoyo, penuh penyesalan.
'Benar adanya, jika segala sesuatu yang belum menjadi milik kita, memang akan terlihat sangat indah dan menarik. Namun, semua akan menjadi biasa saja jika kita sudah memiliki dan menggenggamnya.' monolog Handoyo dalam hati.
'Dulu, di mataku Lia sangat tidak menarik, bahkan membosankan. Kenapa setelah dia pergi, aku jadi sering merindukannya, ya? Apa benar yang dikatakan teman-teman di kantor, bahwa aku kurang bersyukur dengan apa yang telah aku miliki?' Handoyo menghela napas kasar.
Handoyo betah berlama-lama berdiri di teras rumahnya yang tinggi, hanya untuk mengawasi Cynthia. Dia bahkan mengabaikan Aulia yang sedang kerepotan seorang diri di dapur, sambil momong putra mereka, untuk menyiapkan sarapannya.
Penampilan Cynthia yang selalu seksi dengan dandanan paripurna, membuat Handoyo sering menelan air liurnya sendiri ketika otak mesumnya membayangkan isi dibalik baju ketat yang Cynthia kenakan.
Gayung bersambut. Rupanya Cynthia pun diam-diam mengagumi sosok Handoyo yang masih muda hampir seusia dengannya, tetapi sudah mapan.
Rumah megah, mobil bagus dan jabatan cukup bergengsi di Pemkot setempat, membuat Handoyo memiliki nilai lebih di mata Cynthia jika dibandingkan dengan Husain yang hanya seorang sales.
"Aku juga mau berangkat, sudah hampir jam tujuh." Suara Cynthia membuyarkan lamunan Handoyo.
"Kita berangkat bareng," ajak Handoyo, datar.
Cynthia menghela napas panjang seraya memejamkan mata sejenak.
__ADS_1
Wanita itu kemudian bergegas mengambil tas kerja branded miliknya dan segera menyusul sang suami yang telah menunggu di dalam mobil.
Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang tercipta. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri.
Handoyo yang terus menyesali keputusannya melepaskan Aulia demi Cynthia. Sementara Cynthia yang juga menyesal karena meninggalkan laki-laki yang penuh pengertian seperti Husain demi Handoyo.
Helaan napas panjang keduanya terdengar secara bersamaan. Mereka saling menoleh, sejenak saling menatap dan kemudian sama-sama tersenyum.
"Pernikahan kita baru seumur jagung, Mas. Kita masih harus belajar banyak untuk saling memahami dan menyesuaikan diri," ucap Cynthia mengawali pembicaraan.
"Aku janji, akan mulai belajar untuk menjadi istri yang baik buat kamu, Mas," lanjutnya.
Ya, Cynthia sudah berpikir panjang. Dia tak mungkin melepaskan Handoyo yang bisa memberinya uang lebih banyak dari mantan suaminya, meski harus melalui perdebatan terlebih dahulu.
Jika dia melepaskan Handoyo, belum tentu dia akan bisa mendapatkan laki-laki pengganti seperti Handoyo, mengingat jumlah usianya yang semakin bertambah banyak.
"Kamu benar, Cyn. Kita harus terus belajar untuk saling mengerti dan memahami," balas Handoyo yang juga berat jika harus berpisah dengan Cynthia karena malu sama rekan-rekannya.
'Masak, dalam setahun aku harus bercerai dua kali? Apa kata orang-orang di kantor?' Handoyo menggeleng-gelengkan kepala.
'Semoga dia bisa berubah seperti yang aku mau, meski tidak bisa sesempurna Aulia,' batin Handoyo penuh harap, seraya melirik sang istri.
"Mas, lusa 'kan libur. Kita jalan-jalan ke mall, ya. Sudah sebulan lebih lho, kita menikah, tapi Mas Han belum pernah membelikan aku baju baru. Mau, ya?" rajuk Cynthia seraya bergelayut manja di lengan Handoyo.
Jika sudah demikian, Handoyo hanya bisa mengangguk, menuruti keinginan istrinya.
"Asyik ..." sorak Cynthia, senang. "Aku mau tas dan sepatu couple yang brand dari Perancis itu ya, Mas," lanjutnya memohon.
Handoyo menghela napas panjang seraya menghitung dalam hati, berapa budget yang akan dia keluarkan nanti.
'Repot juga, ya, punya istri doyan belanja,' sesal Handoyo dalam hati.
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...