
Hal itulah yang sedari tadi, di sepanjang perjalanan yang Aulia pikirkan. Apa mungkin dia bisa mendapatkan pekerjaan, jika sambil membawa anak?
"Saya tidak pernah memperbolehkan karyawan saya bekerja dengan membawa anak, Nak, karena itu sangat berbahaya bagi anak-anak, apalagi seusia anak kamu yang pasti lagi aktif-aktifnya," balas Bu Hajah, membuat wajah Aulia yang tadinya sempat cerah, kembali menjadi sendu.
Wanita muda itu mengangguk, mengerti. "Baik, Bu, saya mengerti," ucapnya, lirih dan nyaris tak terdengar.
Bibir Aulia bergetar, dia kedipkan matanya berulang-ulang agar air yang mulia menggenang di pelupuk mata, jangan sampai tumpah.
'Sudah semakin malam, sedangkan pak sopir taksi juga harus segera pulang. Kemana lagi aku akan mencari tempat untuk berteduh?' batin Aulia, pilu.
Aulia melirik sopir taksi yang membawanya ke sini, mengisyaratkan agar mereka segera berpamitan karena dirinya merasa di tempat ini sudah tidak ada lagi harapan.
Pak Haji berdeham, mengurai keheningan yang sejenak tercipta.
"Memang tidak kami perbolehkan bekerja dengan membawa anak karena nanti kerjanya jadi tidak maksimal, tetapi kamilah yang akan menjaga Nak Ammar jika nanti kamu bekerja," terang Pak Haji.
Aulia menatap Pak Haji dengan dahi berkerut dalam. "Maaf, Pak Haji. Jadi maksud Pak Haji, saya diterima bekerja di tempat Bapak dan Ibu?" Aulia menatap dua orang paruh baya yang memiliki tatapan teduh tersebut, bergantian.
Pak Haji mengangguk, tetapi Bu Hajah menggeleng, membuat Aulia menjadi bingung. Sementara Dul, sopir taksi yang membawa Aulia ke tempat mantan bosnya, tersenyum lebar. Dul seolah sudah dapat menebak apa yang ada dipikiran Bu Hajah, sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Haji sewaktu di teras tadi.
"Kamu kami terima, bukan hanya sebagai karyawan Nak Aulia," ucap Bu Hajah. "Tetapi jika kamu tidak keberatan dan mau menerima kami berdua, kami menginginkan kamu dan Ammar menjadi bagian dari keluarga kami, menjadi anak dan cucu kami," lanjutnya penuh harap.
Aulia nampak semakin bingung.
"Jadi, sebagaimana seorang anak yang ikut memiliki tanggung jawab terhadap usaha milik orang tuanya, Nak Aulia. Kamu juga harus ikut membantu kami bekerja, meskipun hanya sekadar menjadi pengawas di toko dan bengkel kami yang ada di sebelah," imbuh Pak Haji, menjelaskan.
__ADS_1
Aulia masih nampak belum mengerti.
"Jadi begini, Mbak Aulia. Mbak dan putra Mbak, diterima dengan senang hati oleh Pak Haji dan Bu Hajah. Diharapkan, Mbak dapat menggantikan posisi almarhumah putri dan cucu beliau berdua yang telah meninggal, sebagai pengobat rindu pada putri dan cucunya. Saya harap, Mbak menerima baik kesempatan ini." Dul menatap dalam netra Aulia.
"Sebagai anak?" tanya Aulia, bergumam. Wanita muda itu menatap ketiga orang yang baru ditemuinya hari ini, dengan perasaan bingung.
Baru saja dia memutuskan untuk berpisah dengan suami, kemudian diusir oleh keluarganya sendiri dan secepat inikah dia menemukan keluarga baru yang begitu tulus? Aulia tak bisa mempercayai begitu saja, tetapi apa yang dilihatnya saat ini, nyata adanya.
Orang-orang yang baru dia temui menunjukkan ketulusannya. Pak sopir dengan caranya yang peduli pada Aulia dan menawarkan bantuan untuk mencarikan tempat berlindung. Sementara Pak Haji dan Bu Hajah, memberinya lebih dari sekadar tempat untuk berlindung, tetapi sekaligus keluarga yang utuh.
Rasa syukur yang sangat luar biasa Aulia rasakan, hingga tanpa terasa, bulir bening berjatuhan membasahi pipinya dan menetes mengenai tangan sang putra.
"Nda, kenapa nangis? Apa kita tidak jadi bobok di sini?" tanya Ammar yang mengerti bahwa saat ini sang bunda tengah mencari-cari tempat untuk mereka berdua, berteduh.
"Jadi, Sayang. Di sini 'kan rumah Ammar, Nak. Selamanya Ammar akan tinggal di sini," tutur Bu Hajah dengan suara yang lembut, membuat Aulia semakin tergugu.
"Panggil ibu dan bapak saja, Nak," pinta Bu Hajah, membuat hati Aulia yang tadinya gersang akan kasih sayang, seolah mendapatkan siraman air hujan yang menyejukkan.
Tak henti wanita muda yang matanya sembab tersebut mengucapkan rasa syukur, atas karunia yang diberikan kepadanya.
Benar apa yang dikatakan sopir taksi tadi, bahwa akan ada kelulusan yang membahagiakan, setelah ujian bertubi-tubi yang dialami Aulia, yang tetap bersabar menjalani ujian tersebut.
Aulia menatap sopir taksi yang membawanya kepada keluarga baik, seraya tersenyum tulus. "Terimakasih banyak, Pak. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami berdua, jika tadu kami tidak bertemu dengan Bapak lagi."
Dul hanya mampu mengangguk dan tak ingin berkata apapun, karena dadanya terasa sesak melihat Aulia yang terus meneteskan air mata, haru. Laki-laki matang itu pun ikut terharu dan berbahagia karena Aulia dan putranya telah menemukan tempat bersandar.
__ADS_1
"Maaf, Pak Haji, Bu Hajah, karena sudah semakin malam, saya mohon undur diri," pamit Dul seraya beranjak.
"Oh iya, Pak. Tadi ongkosnya taksinya belum saya bayar." Aulia kemudian membuka tas cangklong untuk mengambil uang.
"Tidak perlu, Mbak. Saya ikhlas, kok, mengantarkan Mbak sampai ke sini," tolak Dul sungguh-sungguh.
"Sudah Nak Aulia, tidak perlu dibayar. Biar itu menjadi amal buat Dul karena dia sudah mengikhlaskan," tutur Pak Haji.
Dul mengangguk seraya tersenyum. "Hanya hal kecil seperti itu yang baru bisa saya lakukan, Pak Haji. Berbeda dengan Bapak yang memiliki rizqi lebih," ucapnya merendah.
"Kamu ini termasuk orang kaya lho, Dul. Kaya hati dan InsyaAllah kaya iman," tutur Pak Haji, yang tersirat do'a kebaikan untuk mantan karyawannya yang memang baik hati dan jujur tersebut.
"Aamiin, InsyaAllah ... terimakasih, Pak Haji," balas Dul.
Bu nampak berjalan menuju ruang belakang yang berfungi sebagai dapur. Tak berapa lama kemudian, beliau telah kembali dengan membawa kantong kresek berisi buah-buahan.
"Dul, titip ini untuk anak dan istrimu." Wanita paruh baya tersebut menyodorkan satu kantong kresek yang terlihat penuh dan berat kepada sopir taksi tersebut, seraya menyelipkan sejumlah uang ratusan ribu di tangan Dul.
"Jangan, Bu Hajah. Bu Hajah kok malah jadi repot-repot begini," tolak Dul, sungkan.
"Terima, Dul. Itu adalah rizqi dari Allah untuk keluarga kamu melalui kami. Sebagaimana kamu yang menolak dibayar sama Nak Aulia, kami pun ingin berbagi kebaikan dan semoga menjadi amal untuk kami berdua," tutur Pak Haji, membuat Dul tak dapat lagi menolak.
"Terimakasih banyak, Pak Haji, Bu Hajah. Semoga Bapak dan Ibu senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam hidup," do'a Dul dengan tulus setelah melihat lembaran rupiah berwarna merah di tangan kanannya, yang jumlahnya tidak sedikit tersebut.
Sopir taksi itu tak menyangka, kebaikan kecil yang dia lakukan langsung dibayar tunai dengan berlipat-lipat oleh Allah Yang Maha Pemurah.
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...