Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Ada yang Harus Kita Bicarakan


__ADS_3

"Yasmin!" seru seorang bocah laki-laki, ketika Husain belum sempat menjawab pertanyaan pemilik toko yang merupakan pelanggan lamanya.


Husain menoleh ke arah sumber suara dan laki-laki itu tersenyum lebar melihat bocah laki-laki yang tengah berlari menghampirinya.


Reflek Husain berjongkok untuk menyambut tubuh kecil Ammar. "Hai, Boy. Kemana saja, Dik Yasmin kangen tahu sama Mas Ammar," ucap Husain, ketika sudah berhasil mengangkat tubuh Ammar dengan tangan kanannya. Sementara tangan kiri Husain, masih menggendong sang putri yang langsung tersenyum melihat sosok Ammar.


Laki-laki berbadan tegap tersebut langsung menggendong dua bocah sekaligus, membuat Ammar tertawa riang dalam gendongan Husain.


Sementara Pak Haji, pemilik toko sparepart kendaraan, mengerutkan dahi melihat keakraban dan kehangatan Husain dan putrinya, kepada Ammar.


"Memangnya, Om Syain enggak lindu ya syama Ammal," protes bocah kecil tersebut seraya menatap lekat netra hazel milik laki-laki dewasa yang menggendongnya.


Momen seperti inilah yang Ammar rindukan, di gendong oleh laki-laki dewasa yang disebut ayah. Namun selama ini, Ammar tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti yang dia harapkan dari sang ayah.


Hanya Husain, yang sering menggendong Ammar seperti seorang ayah menggendong putranya.


Laki-laki itu biasanya menyempatkan waktu untuk bermain sebentar bersama sang putri dan juga Ammar, jika dia pulang lebih awal.


"Rindu, dong," balas Husain. 'Om rindu sama bundamu juga, Nak,' batin Husain, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Husain masih memindai ke dalam ruko, berharap bertemu dengan wanita sholehah yang selama empat bulan ini tidak dia ketahui kabarnya.


Sementara Ammar dan Yasmin nampak bercanda ria, dalam gendongan Husain.


"Mas Husain, kalian?" Suara Pak Haji mengurai lamunan Husain. Laki-laki paruh baya tersebut menunjuk Ammar yang tertawa-tawa dalam gendongan Husain, seraya menggoda Yasmin.


"Eyang, Yasmin ini temannya Ammal. Lumah kami dulu, dekat banget," celoteh Ammar yang membuat wajah Husain tiba-tiba menjadi mendung.


Buru-buru laki-laki dewasa itu berdeham untuk menetralisir perasaan yang tiba-tiba menyesakkan dada, ketika sekilas mengingat tentang perselingkuhan mantan istrinya dengan ayah Ammar, tetangga dekatnya sendiri.


"Mas Husain, bertetangga dengan Nak Aulia?" tanya Pak Haji kemudian, seraya menatap sales sparepart kendaraan bermotor tersebut, lekat.


Husain mengangguk dan laki-laki itu kemudian menurunkan Ammar. "Ada hubungan apa, Pak Haji dengan Dik Lia?" tanya Husain, penasaran.

__ADS_1


Pak Haji tak langsung menjawab, laki-laki paruh baya tersebut mengangguk-anggukkan kepala dan kemudian menghela napas panjang.


Orang tua angkat Aulia tersebut kini mengerti, kenapa tadi sempat melihat wajah Husain yang tiba-tiba menjadi sedih.


"Ceritanya panjang, Mas Husain. Tetapi penyebab Ammar dan ibunya bisa sampai di sini, Mas Husain pasti sudah dapat menebak bukan?" Pak Haji kembali menatap Husain dan putrinya yang masih berada dalam gendongan, bergantian.


Sementara Ammar yang sudah diturunkan, menggelitik kaki gadis kecil itu, hingga membuat Yasmin tertawa geli.


Ammar pun ikut tertawa, bahkan tawa bocah laki-laki tersebut dapat didengar oleh sang bunda yang sedang membereskan warung karena jam makan siang baru saja usai.


"Mbak Jum, tolong teruskan cuci mangkoknya, ya. Lia mau lihat ke depan," pinta Aulia seraya mengeringkan tangan dengan serbet.


"Iya, Dik. Tinggal saja, nanti habis ngelap meja mbak cuci," balas Mbak Jum, sambil mengelap meja.


"Itu Ammar kok sepertinya seneng banget, lagi ketemu sama siapa, ya?" lanjut Aulia bertanya, yang entah dia tujukan kepada siapa.


Wanita muda dengan satu anak tersebut bergegas keluar untuk menghampiri sang putra. Baru saja kakinya selangkah dari pintu ruko, netra Aulia terpaku melihat sosok yang sangat dia kenali.


"Bunda!" seru Ammar yang melihat bundanya keluar dari warung.


Untuk sesaat, kedua netra mereka terkunci. Masing-masing merasa canggung dan tak tahu, apa yang mesti diucapkan untuk saling menyapa.


"Ehm." Suara dehaman Pak Haji, mengurai tatapan mereka berdua.


Husain kemudian tersenyum manis, menampakkan dua lesung pipinya yang menambah pesona laki-laki tersebut.


"Assalamu'alaikum, Dik Lia. Apa kabar?" sapa salam Husain, seraya menanyakan kabar, mengurai kegugupan.


Aulia mulai melangkah mendekat. "Wa'alaikumsalam, Mas. Alhamdulillah, kabar baik dan ini semua karena Bapak," balas Aulia seraya menoleh ke arah Pak Haji.


Pak Haji menggeleng, mengisyaratkan bahwa beliau tidak setuju dengan ucapan Aulia barusan.


"Bukan karena bapak, Nak Lia, tapi karena kebaikan hati dan doa Nak Lia sendiri sehingga Allah menolong Nak Lia dan Ammar. Bapak ini hanya perantara saja," sanggah laki-laki paruh baya tersebut, merendah.

__ADS_1


Aulia dan Husain tersenyum seraya mengangguk-amggukkan kepala.


"Nda, ayo gendong Yasmin!" pinta Ammar.


"Yasmin, salim dulu Nak, sama Aunty Lia," suruh Husain seraya menuntun tangan sang putri untuk menyalami Aulia.


Dahi wanita berhijab tersebut berkerut ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit lembut Yasmin, yang terasa panas.


"Kamu sakit, Nak?" tanya Aulia seraya menyentuh kening Yasmin dengan punggung tangannya.


"Ya Allah, badan kamu panas sekali, Nak." Wajah Aulia nampak panik.


"Mas, Yasmin sakit kenapa diajak pergi jauh?" protes Aulia seolah pada suaminya sendiri, tanpa sadar.


Wanita itu pun mengulurkan tangan hendak mengambil Yasmin dari gendongan Husain, membuat laki-laki berwajah manis tersebut tersenyum dalam hati.


"Mas bawa obat Yasmin?" tanya Aulia yang kini telah menggendong Yasmin. "Apa dia sudah makan siang?" lanjutnya, kembali bertanya. Membuat Husain bingung, harus menjawab yang mana, terlebih dahulu.


"Kami, kami belum sempat makan, Dik Lia," balas Husain, akhirnya jujur.


"Ya Allah, Mas, ini sudah telat banget. Jangan dibiasakan makan telat, nanti punya magg. Kasihan juga 'kan, sama Yasmin. Dia masih dalam tahap pertumbuhan, asupan gizinya harus cukup," celoteh Aulia panjang lebar, membuat Pak Haji melongo karena selama ini tak pernah mendengar sang putri angkat berbicara panjang dan tanpa jeda.


Husain tersenyum mendengar ceramah panjang Aulia, dia merasa kembali menemukan kehangatan setelah sekian lama hidup dalam kebekuan dan hanya ada pekerjaan serta mengurus anak yang masih kecil.


Sadar, dia sudah terlalu banyak bicara, Aulia menutup mulutnya sendiri. "Maaf, saya hanya khawatir pada Yasmin," ralat Aulia yang tak ingin Husain salah menafsirkan perhatiannya.


"Mas Husain silahkan makan dulu di sana, nanti biar Mbak Jum yang melayani," suruh Aulia. "Biar saya suapin Yasmin di atas," pamitnya yang segera berlalu karena tak ingin lama-lama berada di dekat Husain, Ammar langsung mengekor langkah sang bunda.


"Maaf, Pak Haji. Saya turunkan barangnya nanti saja, ya. Mau isi bensin dulu," canda Husain, seraya tersenyum lebar.


Duda dengan satu anak itu hendak beranjak menuju warung, tetapi Pak Haji mencegah.


"Kita makan di dalam saja, Mas Husain. Ada yang harus kita bicarakan," ajak Pak Haji, menuntun Husain masuk ke dalam rukonya, mengikuti jejak Aulia.

__ADS_1


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_2