Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Segera Dihalalkan


__ADS_3

Malam harinya, Husain tiba kembali di ruko milik Pak Haji tepat menjelang isya' karena perjalanan yang harus dia tempuh menuju kantor cukup panjang.


Selain itu, Husain juga harus mampir ke rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor, untuk mengambilkan pakaian sang putri, juga pakaian ganti untuk dirinya.


Husain datang dengan wajah berseri-seri. Entah karena akan bertemu dengan wanita pujaan hati atau karena ada alasan lain, hanya dia yang tahu.


Tak sabar, laki-laki berwajah manis tersebut memasuki ruko milik Pak Haji, ketika sang pemilik ruko sendiri telah membukakan pintu untuk Husain.


"Naga-naganya, bakal ada kabar gembira dari Mas Husain," tebak Pak Haji sambil menuntun Husain untuk naik ke lantai dua karena kamar untuk papanya Yasmin tersebut telah disiapkan oleh Aulia di atas.


"Alhamdulillah, Pak Haji," balas Husain, membenarkan.


"Tapi ceritanya nanti saja, Mas Husain. Biar yang lain ikut mendengar dan ikut senang," cegah Pak Haji seraya terkekeh.


Husain pun ikut tertawa dan tawa mereka terhenti, ketika suara Ammar terdengar menyambut Husain dengan antusias.


"Om Syain!" bocah laki-laki tersebut langsung menghambur ke dalam pelukan laki-laki dewasa, yang hampir seusianya dengan ayahnya.


Sementara Yasmin, nampak sedang duduk di atas pangkuan Aulia. Wajah gadis kecil tersebut masih terlihat sedikit pucat.


"Mas Ammar, turun Sayang," titah Aulia pelan. "Kasihan Om Syain kalau Mas Ammar minta gendong seperti itu, Om Syain 'kan baru datang, pasti capek," lanjutnya memberikan pengertian pada sang putra.


"Tidak mengapa, Dik Lia," balas Husain seraya tersenyum. Duda beranak satu itu kemudian duduk di sofa, di sebelah Pak Haji dan memamgku Ammar yang nampak masih ingin dekat dengannya.


"Ammar kangen ya, sama om?" tanya Husain, menggoda anak kecil yang berada di atas pangkuannya.


"Bukan Ammal, Om, yang kangen syama Om Syain. Bunda tuh yang kangen syama Om," balas Ammar, membuat pipi Aulia merona merah.


Dahi Aulia nampak berkerut dalam. 'Ammar, siapa yang ngajarin kamu bicara seperti itu, Nak? Kapan bunda bilang begitu?' batin Aulia bertanya, seraya menahan malu.


Sementara Pak Haji dan sang istri tertawa senang, mendengar celotehan Ammar. Begitu pula dengan Husain, laki-laki tersebut tersenyum lebar, menampakkan kedua lesung pipinya yang membuat Husain, semakin menawan.


'Benarkah, Dik? Benarkah kamu kangen sama aku?' tanya Husain dalam hati, seraya menatap Aulia yang pura-pura menyibukkan diri merapikan rambut Yasmin.

__ADS_1


Aulia bukannya tak menyadari, bahwa ada sepasang mata yang terus memperhatikan dirinya. Hanya saja, wanita cantik tersebut tak ingin terlihat grogi di hadapan Husain, meskipun saat ini hatinya berdebar tak karuan.


"Ammar tahu darimana, kalau Bunda kangen sama Om Syain?" tanya Pak Haji seraya tersenyum dan melirik Aulia.


"Dali matanya, Eyang. Kata Bunda, tatapan mata itu tidak dapat belbohong," balas Ammar dengan wajah serius.


Husain semakin melebarkan senyumannya, hatinya kini semakin bahagia karena dia tahu pasti, anak kecil pastilah berkata dengan sejujurnya.


"Bu, tolong pangku Yasmin dulu, ya. Lia mau menyiapkan makan malam," ucap Aulia, mengalihkan pembicaraan.


Buru-buru, bundanya Ammar tersebut segera bangkit setelah menyerahkan Yasmin kepada Bu Hajah.


"Panggil mbakku juga, Nak Lia. Biar mereka semua ikut makan bersama kita malam ini," titah Bu Hajah, sebelum Aulia turun ke lantai bawah.


"Makanannya bawa naik ke sini saja, biar muat karena malam ini anggota keluarga kita bertambah," timpal Pak Haji seraya tersenyum bahagia.


Ya, kedua orang tua paruh baya tersebut, kini sangat bahagia. Kehadiran Aulia dan Ammar malam itu, benar-benar membawa keberkahan dalam kehidupan mereka yang tadinya kesepian, sekarang ramai dan dikelilingi oleh anak dan cucu.


"Baik, Pak," balas Aulia yang kemudian segera turun.


"Dik Lia, tamu Bapak yang anaknya lengket banget sama kamu itu, orangnya seperti apa?" tanya Mbak Jum, yang memang belum sempat bertemu dengan Husain.


"Seperti apa, bagaimana maksud Mbak Jum?" balas Aulia dengan pertanyaan, membuat Mbak Jum menghentikan aktifitasnya dan kemudian menatap Aulia, dengan dahi berkerut dalam.


"Maksud mbak, papanya Yasmin itu orangnya baik apa tidak? Terus sikapnya, bagaimana?" terang Mbak Jum.


"Karena sepertinya, Ibu dan Pak Haji, ada keinginan untuk menjodohkan kamu sama laki-laki itu," lanjut Mbak Jum.


Kini, gantian Aulia yang menghentikan aktifitasnya dan menatap Mbak Jum dengan tatapan menyelidik.


"Mbak Jum tahu dari mana?" cecar Aulia.


"Dari Mas Dul," balas Mbak Jum. "Tadi kata Mas Dul, Pak Haji sempat cerita, kalau salesnya yang bernama Mas Husain itu orangnya baik dan dia juga sangat menyayangi Ammar." Mbak Jum menatap dalam netra Aulia.

__ADS_1


"Sedangkan kamu sendiri, Dik, kamu juga sangat menyayangi Yasmin, kan?" selidik Mbak Jum.


"Mbak, sebaiknya kita segera bawa makanan ini ke atas, yuk!" ajak Aulia, mencoba menghindar.


Wanita muda itu kemudian bergegas, membawa sebagian makanan yang sudah disimpan di atas baki menaiki anak tangga, meninggalkan Mbak Jum yang masih mematung seraya menatap kepergian Aulia.


"Kamu sepertinya juga menyimpan perasaan pada Mas Husain, Dik," gumam Mbak Jum seraya tersenyum.


"Sebaiknya, aku segera ke atas. Aku jadi penasaran, seperti apa rupa Mas Husain itu. Apakah dia lebih ganteng dari Mas Syamsul, yang sering nitip salam untuk Dik Lia?" Bergegas, Mbak Jum membawa baki yang lain dan kemudian menaiki anak tangga untuk menyusul Aulia.


Aulia sedang menata makanan di atas meja dengan dibantu Husain karena Ammar sudah mau turun dan kini bermain bersama Yasmin, ketika Mbak Jum tiba di lantai dua.


Wanita dengan dua anak itu tersenyum, melihat kebersamaan Aulia dan laki-laki yang baru pertama kali ini dilihatnya.


'Ganteng dan sepertinya sopan, pantes saja kalau Dik Lia kesengsem. Syamsul memang ganteng juga, tapi sikapnya masih kalah santun sama Mas Husain ini,' batin Mbak Jum sambil menata makanan di atas meja, yang juga dibantu oleh Husain.


"Karena semua sudah siap, ayo kita mulai makannya!" ajak Pak Haji.


Bu Hajah kemudian meladeni suaminya, sebelum mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Berikutnya adalah Mbak Jum, yang juga melayani sang suami dan kemudian kedua anaknya yang kalem seperti Mas Dul, barulah wanita lugu itu mengambil makanan untuknya sendiri.


Ammar dan Yasmin dibiarkan asyik bermain karena bakda maghrib tadi, kedua bocah tersebut sudah disuapi Aulia dan Yasmin juga sudah diberi obat penurun panas.


"Ayo, silahkan Nak Husain, jangan sungkan," tutur Pak Haji ketika Husain masih belum mengambil makanan.


"Atau, Nak Husain mau dilayani juga?" lanjut Pak Haji, bertanya dengan senyuman yang menggoda.


Mendengar perkataan Pak Haji yang sepertinya menjurus, Aulia meraih gelas yang berisi air putih untuk diminum karena tiba-tiba tenggorokannya terasa kering.


"Kalau mau dilayani seperti kami ...." Pak Haji menjeda penuturannya dan menunjuk dirinya sendiri serta Mas Dul.


"Segera dihalalkan Nak Lia-nya," tegasnya, kemudian.

__ADS_1


Aulia langsung tersedak air putih yang baru saja masuk ke dalam kerongkongan, mendengar penuturan orang tua angkatnya tersebut.


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_2