
Kehidupan terus berjalan. Meski tertatih, rumah tangga Handoyo dan Cynthia kembali membaik, setelah istri seksinya tersebut meminta maaf dan berjanji akan memperbaiki diri.
Begitu pula dengan Handoyo yang juga berjanji, tidak akan banyak menuntut pada sang istri.
Mereka berdua mulai menyesuaikan diri satu sama lain. Cynthia bersedia menyiapkan pakaian kerja suaminya dan juga membuatkan sarapan di setiap harinya, meskipun untuk makan malam mereka selalu beli di luar.
Bagi Handoyo, itu sudah cukup membuktikan bahwa Cynthia telah berubah.
Sementara Handoyo pun menunjukkan rasa pengertiannya, dengan memberikan uang belanja lebih pada Cynthia.
"Sarapan dulu yuk, Mas," ajak Cynthia yang melihat suaminya keluar dari kamar mandi.
Handoyo mengangguk dan segera mengekor langkah sang istri.
Cynthia kemudian mengambilkan nasi goreng _masakan andalan yang Cynthia bisa_ dan memenuhi piring suaminya.
Melihat nasi goreng yang warnanya kehitaman karena kebanyakan kecap tersebut, Handoyo menghela napas panjang. "Nasi goreng lagi, Cyn?" tanya Handoyo tanpa melihat istrinya.
"Iya, Mas. Maaf, ya. Aku belum belajar masak yang lain," balas Cynthia, seolah menyesal.
'Huh … masih untung aku mau masak! Kalau saja aku tidak butuh uangmu, aku tidak sudi mengotori kukuku!' gerutu Cynthia dalam hati.
Handoyo pun memakan nasi goreng buatan istrinya yang rasanya entah itu, dengan diam.
Sebenarnya laki-laki itu enggan untuk memakannya, tetapi dia sudah malas karena hampir setiap hari bertengkar dengan Cynthia, sehingga Handoyo terpaksa makan meski dengan hati yang dongkol.
"Kok enggak dihabiskan, Mas? Enggak enak, ya?" Netra Cynthia berkaca-kaca, seolah menunjukkan kesedihan karena kerja kerasnya ternyata belum bisa memuaskan sang suami.
"Maaf, ya," lanjut Cynthia dengan penuh penyesalan yang dibuat-buat. Wanita ular itu memang pandai memainkan sandiwara.
"Handoyo mencoba tersenyum. Enak, kok. Hanya saja, aku sudah kenyang," balasnya, berbohong.
Cynthia tersenyum lega. Wanita itu kemudian membereskan piring kotor bekas mereka makan dan membawanya ke dapur.
Wanita yang suka bersolek itu mencuci piring dengan menggerutu panjang pendek karena mengira, bahwa sang suami tak mendengar.
"Dulu, sewaktu masih menjadi istri Mas Husain, aku diperlakukan seperti layaknya ratu, tetapi sekarang, setelah menikah dengan Mas Han yang katanya orang kaya, aku malah seperti babu!"
Cynthia mencuci piring dengan kasar, sehingga suara dentingnya terdengar keras.
Handoyo yang tadinya hendak mengambil sesuatu di dapur, menghentikan langkah dan laki-laki itu menghela napas kasar mendengar gerutuan sang istri.
__ADS_1
Laki-laki berwajah tegas itu segera berbalik dan kemudian melangkah menuju kamar yang dulunya ditempati oleh Ammar. Sekarang, kamar tersebut dia fungsikan sebagai ruang kerja.
Handoyo menghempas bobot tubuhnya di atas kursi kerja yang empuk. Tatapannya tertuju ke arah jendela kaca yang belum terbuka.
'Apa dulu, Lia juga merasa menjadi babu di rumah ini?' Ingatan Handoyo kini tertuju pada sang mantan istri.
Wanita berhijab yang sikapnya santun dan tutur katanya selalu lembut. Wanita yang tak pernah dilihat keberadaannya oleh Handoyo selama ini.
'Apa sebagai suami, aku terlalu tak perduli dengan apa yang dia rasakan?' batin Handoyo yang mulai meraba kesalahannya.
Asyik melamun, Handoyo sampai tak menyadari kehadiran Cynthia.
"Mas, melamunin apa, sih?" tanya Cynthia seraya memeluk leher sang suami dari belakang.
Cynthia kemudian menghujani suaminya itu dengan ciuman di pipi dan terus berlanjut ke tempat-tempat lain, di titik sensitif suaminya.
Ya, Cynthia pandai mengambil hati Handoyo dengan servis yang dia berikan. Sehingga, meskipun Handoyo sedang kecewa atupun sangat marah, hal itu takkan berlangsung lama.
"Emm ... terus seperti itu, Sayang," pinta Handoyo dengan tatapan berkabut gairah.
Benar saja, cumbuan Cynthia berhasil membuat sang suami bergairah dan semakin menggebu ketika Cynthia membuka semua pakaiannya.
Handoyo yang sudah tidak tahan dengan rangsa*ngan yang diberikan sang istri, mulai terlena ketika Cynthia memposisikan diri dan siap menerima serangan darinya.
"Mas, habis ini, anterin aku ke klinik kecantikan, ya," rajuknya, memohon.
"Iya, Sayang," balas Handoyo yang sudah hampir mencapai kli*maks.
⭐⭐⭐
Handoyo menekuk wajahnya ketika menunggu Cynthia perawatan di klinik kecantikan langganan sang istri karena lamanya waktu yang dibutuhkan wanita seksi tersebut dalam menjalani perawatan.
"Ngapain saja, sih, lama benget?" tanya Handoyo, ketus.
"Ya, biasa, Mas. Perawatan wajah dan tubuh, agar Mas selalu senang dan puas padaku," balas Cynthia dengan bergelayut manja di lengan Handoyo.
"Bayar dulu, Mas," pinta Cynthia ketika Handoyo hendak melangkah keluar.
Handoyo yang mengira bahwa dirinya hanya disuruh untuk mengantarkan sang istri, mengerutkan dahi. Namun, laki-laki itu tidak dapat menolak karena klinik sedang ramai dan dia tidak mau berdebat dengan Cynthia yang hanya akan membuat Handoyo malu sendiri.
"Berapa?" tanya Handoyo, dingin.
__ADS_1
"Dua juta tujuh ratus ribu rupiah, Pak," balas kasir dengan senyumannya yang ramah.
Handoyo membulatkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Bayar saja, Mas, malu dilihatin orang," suruh Cynthia, berbisik.
"Itu murah, Mas, karena aku punya kartu member dan dapat diskon dua puluh persen," lanjutnya ketika melihat sang suami nampak ragu mengeluarkan dompet.
Handoyo mendengkus kesal. "Pakai kartu debit bisa, kan?" Handoyo menyodorkan kartu berwarna biru miliknya.
Setelah pembayaran selesai, laki-laki itu bergegas keluar dari klinik tanpa berkata apa-apa lagi.
Sepanjang perjalanan pulang, Handoyo masih saja mendiamkan istrinya.
"Jadwal rutinku untuk perawatan, tiap minggu pertama seperti ini, Mas. Mas jangan lupa, ya." Suara Cynthia, mengurai keheningan.
"Apa? Jadi setiap sebulan sekali, kamu harus perawatan mahal seperti itu, Cyn?" tanya Handoyo dengan meninggikan suara.
"Iya, kenapa? Itu hal yang sepele buat kamu 'kan, Mas? Kamu 'kan Kabag? Gajimu cukup besar, kan? Belum lagi proyek-proyek lain?" cecar Cynthia dengan banyak pertanyaan.
"Cyn, kamu tahu 'kan, berapa gaji ASN sepertiku yang memiliki golongan empat A?" tanya Handoyo seraya melirik tajam pada istrinya.
"Tidak ada proyek seperti yang kamu sangka, Cyn!' lanjutnya, jengah karena sang istri terlalu turut campur dengan urusan pekerjaannya.
Tidak seperti Aulia, yang lebih banyak diam dan tidak pernah meminta macam-macam padanya.
"Untuk belanja bulanan saja, kamu sudah meminta tiga juta! Padahal, kamu jarang masak, Cyn! Setiap makan malam, selalu di luar dan aku juga yang membayar!" Handoyo mulai itung-itungan.
"Harusnya, kamu bisa menyisihkan uang belanja tersebut untuk perawatan dan bukannya malah meminta lagi!" tegur Handoyo, ketus.
"Mas, hanya tiga juta! Mana bisa menyisihkan? Apa-apa serba mahal sekarang, Mas!" lawan Cynthia, tidak terima.
'Tiga juta dan dia bilang, enggak bisa menyisihkan? Bagaimana caranya, Lia bisa mengatur keuangan yang setiap bulan hanya aku kasih satu juta untuk semuanya?' Bayangan mantan istrinya yang penurut, kembali melintas dan hal itu membuat dada Handoyo menjadi sesak.
"Mas Husain saja yang hanya seorang sales, setiap bulan mampu memberiku uang untuk belanja bulanan dan perawatan sebesar lima juta!" Suara Cynthia, mengurai lamunan Handoyo.
"Belum lagi, Mas Husain juga bersedia membayarkan arisan perhiasan dan cicilan tas branded-ku yang total nilainya mencapai dua juta lebih!" lanjut Cynthia yang kembali membandingkan sang suami dengan mantan suaminya, membuat Handoyo semakin kesal.
Ya, meski hanya bekerja sebagai sales, tetapi rizqi Husain sangat bagus. Penjualannya setiap bulan selalu memenuhi target bahkan lebih, sehingga dia mendapatkan bonus penjualan yang tidak sedikit.
"Husain, Husain ... Husain, terus!" maki Handoyo seraya memukul setir mobil dengan keras.
__ADS_1
Laki-laki berwajah tegas tersebut kemudian menginjak gas dengan dalam, sehingga mobil Handoyo melaju dengan kecepatan penuh.
💖💖💖 bersambung ...