
Setelah mendapatkan buah tangan untuk mamanya Luna dan juga Ririn, Husain bergegas menjalankan mobilnya kembali menuju perumahan Asri.
Tak berapa lama, mobil Husain berbelok ke sebuah rumah dua lantai yang memiliki halaman cukup luas. Di sana, terparkir dua buah mobil yang sangat dikenali oleh Aulia.
Wanita cantik tersebut mengerutkan dahi. 'Ada apa ya, dia kemari?' batin Aulia, bertanya.
"Dik, sudah sampai, kan?" tanya Husain ketika mobilnya sudah terparkir di samping dua mobil lain, tetapi sang istri masih berdiam diri.
"Eh ... iya, Mas," balas Aulia, gugup. "Lia bangunkan adik dulu," lanjut Aulia beralasan untuk menutupi kegugupan.
Husain kemudian segera turun, membukakan pintu untuk sang putra dan membantu Ammar melepaskan sabuk pengaman.
Setelah Ammar turun, Husain kemudian membantu Aulia dengan mengambil alih Yasmin yang baru saja bangun dan mengendong putrinya tersebut.
"Adik. Ayo, tulun!" Ammar menarik pelan kaki Yasmin. "Kita masyuk ke syana, Dik. Ke lumah oma," ajaknya menunjuk ke teras rumah dua lantai tersebut.
"Adik masih ngantuk, Sayang," balas Aulia seraya merapikan anak rambut Yasmin yang menutupi pipi chabi gadis kecil tersebut.
"Ayo, Mas!" ajak Aulia seraya memeluk lengan sang suami. Sementara tangan yang satunya, menggandeng tangan sang putra.
Mereka kemudian berjalan menaiki teras kediaman orang tua Luna, seraya mengucapkan salam.
Tak ada yang menyahut, Ammar berinisiatif masuk ke dalam rumah dengan berlari kecil seraya memanggil sebuah nama. "Aunty Lilin! Aunty Lilin!"
"Ammar!" seru Luna yang langsung menghambur memeluk putra sang sahabat.
Luna tak menghiraukan tatapan heran sahabatnya.
Luna juga tak menghiraukan protes sang adik, yang memintanya untuk melerai pelukan karena Ririn pun merindukan Ammar dan ingin memeluk bocah kecil yang tingkahnya selalu menggemaskan di mata Ririn.
Sementara wanita paruh baya yang tadinya duduk bersama mereka, bergegas keluar dengan diiringi oleh Ferdi, suami Luna.
"Ammar ke sini sama Bunda, ya? Bundanya mana, Nak? Kenapa bunda enggak ikut masuk?" cecar Luna.
"Mbak Lia paling diluar, Mbak," balas Ririn yang langsung mengajak Ammar untuk naik ke lantai dua.
Sahabat Luna mengerutkan dahi, mendengar nama yang tidak asing di telinganya disebut.
"Lia? Apa, dia Ammar, putranya Aulia?" tanya Lutfi yang baru pertama kali melihat Ammar. Pemuda tersebut menatap Luna, menuntut jawab.
"Benar, Lut," balas Luna.
"Ya, Tuhan. Anak Lia, sudah sebesar itu?" Lutfi menoleh kearah Ammar yang sedang berceloteh seraya menaiki anak tangga bersama Ririn.
"Kasihan, Lia. Dia harus menghidupi seorang anak sendirian," gumam Lutfi kemudian.
__ADS_1
Ya, Lutfi yang baru datang ke kota tersebut, sengaja main ke rumah orang tua Luna. Dia datang sendirian karena sang istri yang tengah hamil muda, tidak diperbolehkan untuk melakukan perjalanan jauh.
Sebelum Ammar datang, mereka sedang memperbincangkan tentang Aulia. Panjang umur, yang dibicarakan tak lama kemudian datang ke rumah tersebut.
"Maaf, Lut. Waktu itu, Mas Ferdi yang melarangku untuk mengatakan keadaan Lia padamu," ucap Luna.
"Tidak mengapa, Lun. Aku juga pasti akan sangat dilema jika saat itu mendengar kabar Lia yang lagi down," balas Lutfi. "Semoga Lia segera menemukan jodoh yang terbaik," do'anya kemudian.
"Yuk, kita keluar!" ajak Luna.
Baru saja Luna hendak melangkah, Ammar terlihat buru-buru menuruni anak tangga.
"Loh, Ammar mau kemana, Nak?" tanya Luna.
"Ammal mau jemput adik, Mami," balas Ammar.
"Adik?" Luna mengerutkan dahi.
"Iya, Mami Nuna. Ammal 'kan ke syini, syama bunda, adik dan papa," balas Ammar yang sejenak menghentikan langkah, seraya menatap sahabat sang bunda dengan tatapan yang menggemaskan.
"Papa?" Luna kembali dibuat bingung dengan jawaban bocah laki-laki tersebut.
"Udah. Ayo, kita lihat sendiri!" ajak Lutfi yang juga ikut penasaran.
Kedua sahabat itu pun bergegas keluar, menyusul langkah kecil Ammar yang sudah keluar terlebih dahulu.
Sedetik kemudian, sahabat Aulia tersebut segera mendekat dan memeluk bundanya Ammar tersebut dengan erat.
"Kamu kemana saja, Lia? Kenapa enggak pulang ke sini? Aku nyariin kamu, tahu!" protes Luna setelah melerai pelukan.
Sementara Lutfi hanya tersenyum pada Aulia dan juga pada laki-laki yang berdiri di samping sang mantan kekasih.
"Sudah, Lun. Ajak Nak Lia dan suaminya duduk dulu," titah sang mama.
Luna dan Lutfi sama-sama mengerutkan dahi.
"Suami? Mas ini?" Luna memindai wajah Husain, tetapi wajah manis tersebut sangat asing karena memang mereka belum pernah saling bertemu.
"Anak ini, tetangga kamu, kan?" tanya Luna seraya menunjuk Yasmin yang tak asing bagi Luna. "Apa itu artinya, kamu menikah dengan ...."
"Mantan tetanggaku, Lun. Kenalkan, dia Mas Husain. Dulu rumah kami memang bersebelahan," terang Aulia seraya tersenyum. Wanita cantik itu menatap Luna dan Lutfi, bergantian.
Husain mengangguk, seraya tersenyum pada Luna dan Lutfi.
Litfi semakin dalam mengerutkan dahi, tetapi pemuda tersebut tidak berani banyak bertanya.
__ADS_1
"Ayo, ayo! Silahkan masuk Nak Lia, Nak Husain," ajak mamanya Luna dengan ramah.
"Mbak Lia!" seru Ririn sebelum Aulia sempat melangkah.
Tidak sabar menunggu lama, Ririn akhirnya menyusul Ammar. Remaja tersebut kemudian memeluk Aulia dengan erat, layaknya sang adik yang merindukan kakaknya.
"Tadi Ammar bilang, mau jemput adik dibawah. Ririn pikir, nih anak bawa mainan boneka atau bawa anak kucing, gitu. Eh, tahunya adik beneran," celoteh Ririn, sambil menoel hidung mungil Yasmin.
"Anak kucing, sembarangan saja." Ferdi menjitak pelan sang adik ipar, seraya terkekeh.
Yang lain pun ikut tertawa, termasuk Husain dan Aulia.
"Ririn 'kan enggak tahu, Mas," protes Ririn.
Mereka kemudian segera masuk kedalam, mengikuti langkah mamanya Luna.
Mereka duduk di sofa ruang keluarga yang cukup luas, sementara Yasmin dan Ammar dibawa Ririn ke lantai atas.
Perbincangan hangat pun berlangsung. Mamanya Luna nampak mendominasi obrolan dan banyak bertanya pada Aulia karena rasa penasaran dan kekhawatiran, kemana perginya Aulia dan sang putra selama ini.
"Kenapa, Nak Lia tidak pulang ke sini, Nak, ke rumah mama?" sesal wanita paruh baya tersebut.
"Maaf, Ma. Lia saat itu lagi enggak bisa berpikir apa-apa. Lia cuma kepikiran pengin pulang ke kampung halaman, tapi ternyata ...." Aulia menjeda ucapannya, wanita berhijab tersebut menghela napas panjang.
Sementara Husain mengelus punggung tangan sang istri, untuk memberikan ketenangan.
"Sepertinya, kakak kamu masih menyimpan dendam ya, sama kamu? Buktinya, waktu aku ke rumah ibu untuk nyari kamu, dia kayak ketus gitu dan secara enggak langsung ngusir aku dan Mas Ferdi," ucap Luna.
"Entahlah, Lun. Aku juga tidak tahu," balas Aulia.
"Kenapa harus dendam? Nak Lia 'kan tidak bersalah? Bukankah, Nak Lia hanya mengikuti keinginan orang tua?" tanya mamanya Luna, tak mengerti.
"Lia juga tidak tahu dengan jalan pikiran Mbak Ulfa, Ma," balas Aulia.
"Dari dulu, Mbak Ulfa selalu bilang kalau Lia sudah merebut kebahagiaannya dengan bersedia dijodohkan dengan Mas Handoyo. Padahal 'kan, ulah Mbak Ulfa sendiri hingga akhirnya dia harus menikah dengan laki-laki lain," balas Aulia.
Awalnya, memang Ulfa yang akan dijodohkan dengan Handoyo, tetapi karena Ulfa kena gerebek massa dan harus menikah dengan pacarnya yang pengangguran, mau tak mau, Aulia-lah yang kemudian disuruh sang ibu untuk menggantikan posisi Ulfa.
Aulia yang penurut, tak bisa menolak keinginan orang tuanya. Apalagi saat itu sang ibu begitu memaksa karena merasa malu dan kalah janji sama sahabatnya semasa sekolah dulu.
Ulfa yang merasa kehidupan perekonomiannya jauh dibawah Aulia, merasa iri dengan kesuksesan suami sang adik, hingga kakak pertama Aulia tersebut terus memupuk kebencian pada adik bungsunya.
Lutfi menatap Aulia yang tengah bercerita dengan tatapan yang sulit diartikan. Pemuda tersebut merasa iba, dengan kehidupan yang telah dilalui sang mantan kekasih.
Sementara Husain terlihat sangat posesif, setelah pandangan matanya menangkap tatapan Lutfi yang terus tertuju pada Aulia. Laki-laki berwajah manis tersebut, merasa cemburu pada Lutfi.
__ADS_1
'Ada hubungan apa, Dik Lia dengan pemuda itu?'
💖💖💖 bersambung ...