
Waktu terus berlalu dan kehidupan terus saja berjalan.
Hampir empat bulan dari kejadian tertangkapnya Handoyo karena dugaan kasus penyelewengan jabatan dan suap gratifikasi dari para pegawai baru, mantan suami Aulia tersebut kini mendekam di balik jeruji besi yang dingin dan lembab.
Setelah melalui proses panjang persidangan, Handoyo dikenakan hukuman penjara lima tahun, dipotong masa tahanan tiga bulan. Dia juga diwajibkan untuk mengembalikan sejumlah uang, pada negara.
"Terimakasih, Ma. Mama masih peduli padaku," ucap Handoyo dengan lirih, ketika sang mama menjenguk.
"Siapa lagi kalau bukan mama, Han. Istrimu bahkan saat ini kondisinya lebih buruk, dia butuh uang banyak untuk pengobatan, tetapi keluarganya juga tidak ada yang peduli sama Cynthia," balas Bu Tarno, sendu.
Cynthia mengalami stress berat setelah mengetahui sang suami ditangkap KPK dan beberapa minggu kemudian dinyatakan bersalah.
Beban psikogis Cynthia semakin bertambah berat, ketika hampir seluruh kekayaan sang suami disita karena harus dikembalikan kepada negara.
Kesedihan hati dan kekalutan pikirannya, membuat sistem imun tubuh Cynthia drop hingga virus HIV yang bersarang ditubuhnya dengan mudah menyerang dan menggerogoti tubuh Cynthia.
"Cynthia terbaring di rumah sakit dengan fasilitas yang seadanya sendirian, Han," terang Bu Tarno
Handoyo menghela napas berat. Laki-laki yang biasanya memiliki tatapan tajam tersebut, kini tatapannya kosong dan seolah tak ada kehidupan di sana.
"Mama juga tidak bisa membantu pengobatan Cynthia, Han, karena kamu tahu sendiri 'kan, setelah papa meninggal mama hanya menerima sedikit dari pensiunan papa," lanjutnya seraya menggenggam tangan sang putra.
Ya, Pak Tarno meninggal dunia ketika mendengar kabar bahwa putranya ditangkap KPK karena terjerat kasus di kantornya. Sementara sang menantu dikabarkan selingkuh dengan laki-laki lain, hingga Cynthia harus menerima ganjaran dengan mengidap penyakit HIV Aids.
"Tidak apa-apa, Ma. Jangan dipaksakan karena Mama juga butuh uang untuk belanja sehari-hari," balas Handoyo.
__ADS_1
"Maafkan aku ya, Ma, karena aku Mama jadi ikutan susah," lanjutnya dengan netra berkaca-kaca.
"Kalau pensiunan papa tidak cukup untuk keperluan Mama sehari-hari, Mama jual saja rumahku dan uangnya masukkan deposito. Hasil bulanannya bisa Mama pakai," imbuh Handoyo seraya menatap sang mama.
"Terimakasih, Han. Memang hanya kamu yang dari dulu mengerti mama," ucap wanita paruh baya tersebut dengan air mata menggenang.
"Kedua adikmu, mana pernah peduli dengan mama," lanjutnya seraya menyeka air mata yang mulai menetes.
"Tapi itu tidak perlu, Han. Biarlah rumah itu tetap ada karena kalau kamu keluar nanti, kamu juga butuh tempat untuk berlindung." Bu Tarno menghela napas panjang.
"Untuk keperluan mama sehari-hari, kamu tidak perlu khawatir meskipun uang pensiunan yang mama terima cuma sedikit karena ada orang baik yang sering memberi mama uang." Mamanya Handoyo tersebut kembali menatap sang putra.
"Siapa, Ma?" Dahi Handoyo berkerut dalam.
"Mantan istrimu dan suaminya," balas sang mama, membuat Handoyo kesulitan menelan saliva.
"Ya, dia takziah sewaktu papamu meninggal. Lia tahu kabar tersebut dari sahabatnya, Luna," terang Bu Tarno.
"Dia juga tahu semua yang terjadi padamu dan Cynthia dari para tetangga," lanjutnya.
"Lia sangat sedih mendengar kabar buruk tentangmu, Han. Dia masih peduli meski kita sudah menyakiti hatinya sedemikian rupa," Bu Tarno tergugu, menyesali semua kesalahannya pada sang mantan menantu.
"Mantan suami Cynthia juga sangat baik, dia juga memberikan uang bulanan untuk mamanya Yasmin, meski hanya cukup untuk makan sehari-hari istrimu itu dan tidak bisa mengcover pengobatannya," lanjut Bu Tarno, dengan menahan sesak di dada.
"Mereka memang orang baik, Ma, dan mereka pantas untuk mendapatkan kebahagiaan," gumam Handoyo, yang merasa ikut bahagia mendengar sang mantan hidup berbahagia dengan keluarga barunya.
__ADS_1
Ya, Handoyo telah menyesali semua perbuatannya di masa silam. Dia bertekad, akan menemui Aulia dan meminta maaf pada mantan istrinya tersebut jika sudah bebas nanti. Dia juga berjanji pada diri sendiri, akan memperbaiki diri dan hidup dengan lebih baik lagi.
⭐⭐⭐
Sementara Cynthia saat ini tengah terbaring lemah di sebuah rumah sakit, tanpa ada yang menemani. Hanya sesekali Bu Tarno datang untuk melihat kondisinya.
"Sus, suntik mati saja saya, Sus. Saya sudah tidak tahan menjalani semua," pinta Cynthia dengan suara yang sangat lemah.
"Maaf, Bu. Kenapa Bu Tia berbicara seperti itu?" tanya suster yang merawat dengan tatapan iba.
"Percuma juga saya hidup, Sus. Jika harus menanggung beban seperti ini," balas Cynthia yang mulai terisak.
"Saya sudah dicap buruk oleh masyarakat dan saya juga sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Pekerjaan, harta, semua hilang begitu saja," sesal wanita yang kini tubuhnya tinggal kulit pembungkus tulang.
Ya, Cynthia diberhentikan secara tidak hormat setelah kasus perselingkuhannya terbongkar dan dirinya dinyatakan positif HIV.
"Tidak ada lagi yang tersisa dalam hidup saya, Sus," imbuhnya, memelas.
"Tenangkan diri Ibu, ya. Jika Ibu sembuh nanti, semua pasti akan kembali seperti semula," hibur perawat tersebut yang sebenarnya tidak yakin akan kesembuhan pasiennya, melihat kondisi Cynthia yang terus memburuk.
Cynthia menggeleng lemah.
"Maaf ya, Bu. Saya tidak bisa memenuhi permintaan Ibu ," tolak sang suster, seraya tersenyum hangat.
Suster tersebut kemudian berlalu meninggalkan Cynthia karena masih banyak pasien lain yang belum dia kunjungi.
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...