
Setelah Aulia reda dari batuknya akibat tersedak air putih, mereka kemudian mulai menikmati makan malam dengan suasana yang hangat.
Pak Haji kembali dapat mencairkan suasana hati Aulia yang tadinya merasa malu dan sungkan karena perkataannya, kini wanita cantik itu dapat bersikap seperti biasa.
Obrolan ringan pun tercipta, Husain dan Dul nampak langsung akrab dan nyambung percakapannya. Sementara Mbak Jum, juga ikut antusias ngobrol bersama Husain yang memang orangnya sangat humble tersebut.
Pak Haji dan Bu Hajah, juga seringkali menimpali obrolan mereka. Hanya Aulia yang diam menyimak, sambil menikmati makan malamnya dengan khusyuk.
"Oh ya, Mas Husain. Tadi, sepertinya ada yang mau Mas Husain sampaikan. Berita bahagia apa itu, Mas?" tanya Pak Haji yang teringat obrolannya dengan Husain tadi, sewaktu laki-laki yang memiliki senyuman memikat tersebut, baru saja datang.
Aulia yang sedari tadi lebih banyak menunduk, langsung menegakkan kepalanya dan menatap ke arah Husain. Bertepatan dengan laki-laki tersebut yang juga tengah menatap dirinya.
Husain tersenyum manis pada Aulia, membuat jantung wanita berhijab tersebut, berdesir.
'Rasa apa, ini? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Padahal, dulu kami sudah sering bertemu dan semuanya biasa saja?' batin Aulia bertanya-tanya.
Husain pun sama. Kekagumannya terhadap Aulia semakin bertambah. Bukan hanya kagum, tetapi ada perasaan lain yang menyelinap begitu saja masuk ke dalam hatinya, setelah cukup lama tak saling bersua dan kemudian mereka berdua dipertemukan kembali dengan status yang berbeda.
Status yang sama-sama single parent dan disakiti oleh orang yang sama, yaitu pasangan masing-masing. Husain menelan saliva, menatap mantan tetangganya tersebut.
"Kabar apa, Mas Husain?" ulang Pak Haji, mengurai lamunan Husain.
Mereka semua telah menyelesaikan makan malam dan kini perhatian mereka tertuju pada Husain, menanti kiranya kabar bahagia apa yang akan disampaikan oleh ayah Yasmin tersebut.
"Oh, yang itu. Iya, Pak Haji. Jadi, tadi sewaktu di kantor untuk memberikan laporan, Husain bertemu dengan manager kantor pusat." Husain kemudian mengawali ceritanya, setelah sejenak menata hati dan perasaannya karena memikirkan Aulia.
Duda ganteng yang memiliki putri cantik tersebut, kemudian menceritakan bahwa dirinya kini diangkat menjadi supervisor dan ditempatkan di kantor baru, di luar ibukota provinsi.
Kantor yang akan diresmikan lusa oleh pimpinan dari pusat langsung, yang sekaligus pemegang saham terbesar di pabrik tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Alhamdulillah, selamat ya, Mas Husain. Semoga semakin berkah rizqinya dan dimudahkan pekerjaannya," ucap Pak Haji, memberikan selamat.
"Aamiin.Terimakasih banyak, Pak Haji," balas Husain seraya tersenyum tulus.
Dul juga merasa ikut senang dan menyalami Husain untuk memberikan ucapan selamat, pada ayah dari Yasmin yang naik tingkat dari sales menjadi supervisor.
Ketika wajah semua orang nampak ceria, berbeda dengan Bu Hajah yang nampak murung. Begitu pula dengan Aulia, yang tiba-tiba merasakan kehilangan.
Entah kehilangan karena apa, wanita cantik itu pun tidak dapat menjelaskan sendiri perasaannya saat ini.
"Apa itu artinya, Mas Husain akan bekerja jauh dari kami? Apakah kami tidak akan bisa sering bertemu dengan Yasmin?" tanya Bu Hajah seraya menatap ke arah Yasmin dengan tatapan sendu.
Wanita paruh baya tersebut memang langsung jatuh hati pada putri Husain karena dari dulu, Bu Hajah menginginkan seorang cucu perempuan.
Aulia memasang telinga, berharap apa yang akan disampaikan Husain, tidak seperti yang dikhawatirkan oleh Bu Hajah, juga dirinya karena sejujurnya dia sendiri pun sangat menyayangi gadis kecil tersebut.
Bahkan sejak mereka masih bertetangga dan membina rumah tangga masing-masing, Aulia memang sangat dekat dengan Yasmin melalui pengasuhnya yang sering mengajak gadis kecil tersebut main ke rumahnya bersama Ammar.
Bu Hajah mengerutkan dahi. "Apa Mas Husain akan mempercayakan Yasmin pada kami?" Bu Hajah menatap Husain dengan netra berbinar, berharap Husain akan meninggalkan Yasmin di rumahnya jika Husain pergi bekerja di tempat yang jauh.
Laki-laki itu tersenyum dan kemudian menggeleng. "Tentu tidak, Bu. Saya mana bisa pisah lama-lama sama Yasmin," balas Husain seraya menatap putrinya yang masih asyik bermain bersama Ammar.
Wajah Bu Hajah kembali diliputi mendung, wanita paruh baya tersebut nampak kecewa dengan jawaban Husain. Keinginannya untuk bisa bermain bersama Ammar dan Yasmin setiap hari, langsung pupus.
"Saya memang tidak bisa jauh dari Yasmin, Bu Hajah, tetapi Bu Hajah dan yang lain juga tetap bisa bertemu dengan putri saya setiap hari karena saya dipindahkan ke kota ini," terang Husain.
Mendengar penjelasan Husain barusan, Aulia tersenyum lega, tetapi wanita cantik itu menyembunyikan kebahagiaannya dengan segera menyibukkan diri membereskan piring-piring kotor, bekas makan malam mereka semua.
"Alhamdulillah, kalau begitu, setiap hari Mas Husain titipkan Yasmin di sini saja, ya?" pinta Bu Hajah, dengan senyuman bahagia yang menghiasi wajah anggunnya.
__ADS_1
"Dengan senang hati, jika Bu Hajah, Pak Haji, dan Dik Lia tidak keberatan," balas Husain seraya melirik Aulia.
"Tentu saja kami tidak keberatan, Mas Husain," sahut Pak Haji. "Lebih dari sekedar titip pun, itu sebenarnya yang kami mau," lanjutnya.
Husain yang sudah dapat menangkap maksud perkataan Pak Haji, tersenyum senang. Sementara Aulia, terlihat membereskan sisa makanan dengan sedikit gugup. Hingga gelas kotor yang dia pegang, hampir saja terjatuh karena tangannya gemetaran.
"Biar mbak saja, Dik Lia." Sigap, Mbak Jum mengambil alih tugas tersebut. Istri Mas Dul itu kemudian membereskan semuanya.
Setelah semua kembali rapi, Mbak Jum dan Mas Dul pamit karena anak-anaknya besok harus masuk sekolah.
"Kami juga mau beristirahat dulu, Mas Husain," pamit Pak Haji.
"Biar Ammar sama Yasmin, tidur sama ibu ya, Nak Lia," pinta Bu Hajah yang langsung membawa kedua anak kecil yang menggemaskan tersebut ke kamarnya, tanpa menunggu persetujuan dari orang tua masing-masing.
Menyisakan Aulia dan Husain, yang sama-sama terdiam dan nampak bingung harus memulai percakapan darimana?
"Dik Lia, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Suara Husain, memecah kesunyian.
"Iya. Silahkan, Mas," balas Aulia tanpa berani menatap Husain karena bertemu pandang dengan laki-laki tersebut, hanya akan membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Tapi sebelumnya aku minta maaf, jika pertanyaanku sangat sensitif," ucap Husain sambil menatap intens wajah Aulia yang terus menunduk.
Tatapan Husain yang dapat dirasakan oleh wanita cantik tersebut, membuat pipi Aulia bersemu merah dan Husain dapat melihat dengan jelas perubahannya. Laki-laki itu tersenyum dikulum.
"Apakah Ammar pernah merindukan ayahnya?" tanya Husain, yang berhasil membuat Aulia mendongak dan kemudian menatap Husain.
"Kenapa Mas Husain bertanya seperti itu?" cecar Aulia, menjawab pertanyaan Husain dengan sebuah pertanyaan pula.
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1