
Di kediaman orang tua Luna. Wanita cantik sahabat dari Aulia tersebut baru saja tiba di sana, tanpa sang suami karena Ferdi sedang lembur.
"Bagaimana, Lun. Apakah sudah ada kabar tentang Lia?" tanya sang mama pada putri pertamanya tersebut.
Luna menggeleng lemah. "Belum, Ma. Luna juga bingung harus mencari Lia dan Ammar kemana? Kakaknya tidak mau memberikan keterangan apapun ketika Luna sama Mas Ferdi ke sana, Ma," balas Luna dengan wajah sendu.
Dia teringat kembali pada Handoyo dan wanita seksi yang bersama mantan suami Aulia pagi itu di kediaman Handoyo, ketika Luna dan suaminya berkunjung untuk memastikan keadaan sang sahabat.
"Lia pasti pergi jauh dari kota ini, Ma, tapi kemana itu yang tidak bisa Luna tebak," lanjut Luna.
"Luna yang enggak peka sebagai sahabat, Ma. Luna merasa sangat bersalah pada Lia, Ma, karena Luna enggak pernah tahu apa yang selama ini dialami oleh Lia." Luna menyembunyikan wajahnya di bahu sang mama dan terisak di sana.
"Luna yakin, selama ini Lia menyembunyikan banyak hal pada Luna. Dia pasti tersiksa dengan pernikahannya, Ma," lanjut Luna di sela isakan.
"Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu, Luna?" tanya sang mama seraya mengusap lembut pipi sang putri.
"Sejak menikah dengan Mas Han, tubuh Lia menjadi kurus, Ma, dan Lia, Lia sama sekali tidak pernah merawat wajah dan tubuhnya sendiri. Bahkan, pakaian yang Lia kenakan pun pakaian lama," balas Luna.
"Luna pikir, Lia seperti itu karena Mas Han terlalu posesif dan tidak ingin istrinya itu dilirik oleh laki-laki lain. Ternyata Luna salah, Ma, karena buktinya, selingkuhan Mas Han adalah wanita yang suka bersolek dan sangat modis," lanjutnya berapi-api.
Kemarahan, nampak menguasai sahabat Aulia tersebut.
Wanita paruh baya yang sudah menganggap Aulia seperti putrinya sendiri itu pun, menghela napas berat.
Dadanya pun ikut terasa sesak, setelah mengetahui kenyataan yang dialami Aulia, wanita yang selalu menampakkan keceriaan jika berkunjung ke rumahnya.
"Berhenti menyalahkan diri sendiri, Luna. Kamu tidak bersalah karena Lia tidak bercerita. Lia pun tidak salah karena sebagai seorang istri, dia berusaha menyembunyikan aib suami," tutur sang mama, mencoba menenangkan Luna.
"Kita do'akan saja, semoga Lia dan putranya, senantiasa dalam lindungan Tuhan dan senantiasa dalam kebahagiaan," lanjutnya dengan bijak.
Luna mengangguk. "Luna sangat berharap, suatu saat nanti, Lia berkunjung ke sini untuk menemui Mama karena dia bilang, dia selalu merindukan Mama jika lama tak bertemu," harap Luna.
Wanita anggun itu berkaca-kaca mendengar perkataan putrinya. "Mama juga suka kangen sama Lia, apalagi sama Ammar." Setetes air mata jatuh, membasahi pipinya.
Hening, sejenak menyapa. Luna masih tenggelam dalam kesedihan, begitu pula dengan sang mama.
__ADS_1
"Apa Mbak Luna sudah mencoba menghubungi nomor Mbak Lia lagi?" tanya Ririn, mengurai keheningan. Adik kandung Luna tersebut sedari tadi diam, menyimak percakapan sang kakak dan mamanya.
"Siapa tahu Mbak Lia sudah mengaktifkan kembali nomornya," lanjut Ririn.
Luna menggeleng. "Chat Mbak dari waktu itu, masih centang satu, Dik. Sepertinya, Lia tidak akan pernah memakai nomor lamanya," balas Luna.
Terdengar ponsel Luna berdering, tanda ada panggilan masuk.
Luna menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut karena yang menelepon Luna adalah nomor asing.
"Siapa, Mbak?" tanya Ririn.
"Enggak tahu, Dik. Nomornya belum tersimpan di ponsel, Mbak," balas Luna, seraya mengedikkan bahu.
"Terima, Mbak. Siapa tahu dari Mbak Lia," suruh Ririn dengan antusias, berharap itu adalah telepon dari wanita yang baru saja mereka bicarakan.
"Benar, Lun. Ayo, terima!" titah sang mama yang juga sudah tidak sabar.
Luna kemudian menggeser gambar telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan telepon, dari nomor yang tidak dikenal tersebut.
"Halo, Lun. Ini aku, Lun, Lutfi," balas Lutfi dari seberang sana.
"Hai, Lut. Apa kabar? Kenapa tiba-tiba kamu menghilang?" cecar Luna.
Ya, semenjak Luna menghubungi Lutfi terakhir kali dan Lutfi mengatakan bahwa dia harus buru-buru terbang ke luar kota karena calon ayah mertuanya meninggal dunia, Lutfi kemudian menghilang bak ditelan bumi.
Teman-teman yang lain pun tak ada yang tahu, kemana Lutfi menghilang. Di kampusnya di luar negeri sana, pun tak ada jejaknya. Sementara tak ada satupun yang tahu, siapa dan dari mana tunangan Lutfi berasal.
Keluarga Lutfi pun seolah menutup akses informasi tentang putranya, entah apa alasannya.
"Maaf, Lun. Ada banyak kejadian yang membuat aku harus menepi untuk sementara waktu," balas Lutfi seraya terkekeh.
"Happy banget sepertinya kamu, Lut?" Luna mengerutkan dahi, seolah Lutfi dapat melihatnya.
"Iya, Lun, karena sebentar lagi aku akan menjadi ayah," balas Lutfi dengan suara yang terdengar begitu bahagia.
__ADS_1
Ya, setelah membaca chat dari Luna yang mengatakan bahwa Lia baik-baik saja, Lutfi akhirnya menerima permintaan terakhir almarhum untuk menikahi putrinya sebelum almarhum dikebumikan.
Setelah menikah, Lutfi terpaksa mengambil cuti karena harus mengurus perusahaan yang ditinggalkan almarhum papa mertuanya dan memulai semuanya dari nol.
Untuk sementara waktu, Lutfi juga harus mengubur mimpinya untuk menjadi dosen dan menggeluti bidang baru yang sama sekali belum pernah dia mengerti, sehingga Lutfi harus banyak belajar.
Praktis karena kesibukannya tersebut, Lutfi sejenak melupakan Aulia dan semua teman-temannya. Fokus Lutfi hanya ada pada perusahaan dan keluarga barunya.
"Wah, selamat ya, Lut. Kamu menyalipku tanpa memberi aba-aba," canda Luna yang ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya tersebut.
"Hahaha ... sorry, Lun, aku enggak bermaksud untuk mendahului kamu, tetapi ini sudah menjadi rizqi kami, maka kami tak dapat menolaknya, bukan?"
"Iya, kamu benar, Lut. Rizqi hadirnya buah hati, tak ada yang tahu, kapan akan menghampiri. Aku ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian," ucap Luna, yang tengah menanti hadirnya sang buah hati dengan perasaan yang entah.
Luna menghela napas panjang. Dia sebenarnya iri dengan kebahagiaan Lutfi yang baru beberapa bulan menikah, tetapi langsung mendapatkan amanah. Namun, rasa iri Luna bukan iri dengki tetapi iri yang membuat Luna harus lebih serius lagi dalam berdoa dan berusaha, agar segera mendapatkan momongan.
"Lia, apa kabar, Lun?" tanya Lutfi, mengurai lamunan Luna.
Telepon yang sengaja di mode load speaker oleh Luna, membuat sang mama bisa ikut mendengar pertanyaan Lutfi, dan mamanya Luna tersebut mengisyaratkan pada sang putri agar tidak mengatakan apapun tentang perpisahan Lia dan Handoyo.
"Lia ... dia baik, Lut," balas Luna seperti yang diminta oleh sang mama.
"Syukurlah, aku selalu berharap dan berdoa untuk kebahagiaan Lia. Karena aku takkan bahagia, jika tahu Lia tidak bahagia," pungkas Lutfi.
"Apa yang akan kamu lakukan, jika kamu tahu bahwa saat itu, Lia pergi dari rumah karena diceraikan oleh suaminya, Lut?" gumam Luna bertanya pada diri sendiri, setelah Lutfi mengakhiri panggilan teleponnya.
"Kenapa, Lun?" tanya sang mama.
Luna kemudian menceritakan mengenai Lutfi dan Lia.
"Mas Ferdi, benar. Jika saja saat itu, Luna mengatakan yang sejujurnya tentang Lia, pasti akan ada seorang gadis yang terluka karena mungkin saja Lutfi akan memilih untuk kembali pada Lia."
Wanita paruh baya tersebut mengangguk, setuju. "Karena mereka berdua memang tidak berjodoh, sehingga jalannya seperti itu. Lutfi tiba-tiba harus terbang jauh, di saat Lia butuh seseorang sebagai tempat untuk berlindung."
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1