Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga
Aku Pasti Bisa


__ADS_3

'Bukan, Mas! Istrimu sedang tidak mengikuti seminar apapun, tetapi dia lagi bersenang-senang dengan suamiku,' batin Aulia, getir.


'Ya Allah ... kok ada ya, ibu yang tega meninggalkan anaknya yang sedang demam hanya untuk bersenang-senang dan menuruti nafsunya semata.'


"Ayo, Nda. Dendong Yasmin!" pinta Ammar yang kembali menarik-narik tangan sang bunda.


Aulia yang tidak tega melihat anak kecil yang usianya terpaut satu tahun dengan Ammar itu, kemudian keluar dari pintu gerbang rumahnya yang tinggi dan menuju rumah sederhana milik Cynthia, sambil menggandeng sang putra.


"Maaf, Mas. Jika boleh, saya akan coba menenangkan Yasmin," pinta Aulia dengan sopan seraya membuka kedua tangannya hendak menggendong bocah perempuan yang matanya sembab dan wajahnya pucat tersebut.


"Dik, apa tidak merepotkan?" tanya Husain, suami dari Cynthia dengan tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Mas. Kebetulan semua pekerjaan rumah saya sudah selesai, kok," balas Aulia dengan sejujurnya karena memang sebelum pergi tadi pagi, dia sudah merapikan rumah.


"Saya ajak Yasmin ke rumah saya saja, ya. Biar dia istirahat dulu sama Ammar," lanjutnya meminta ijin seraya mengambil anak kecil tersebut dari gendongan sang ayah.


"Wah, kebetulan sekali kalau begitu, Dik. Terimakasih banyak sebelumnya karena saya juga harus mengantarkan pesanan barang yang mendadak minta dikirim siang ini," balas Husain dengan penuh rasa terimakasih.


Husain bekerja sebagai sales spare part kendaraan bermotor. Tak jarang dia harus lembur karena mendadak ada customer yang meminta pasokan barang dan agar drinya bisa mendapatkan penghasilan lebih, untuk membahagiakan istri dan anaknya.


"Iya, Mas. Mas Husain tenang saja, InsyaAllah Yasmin tidak rewel, kok," ucap Aulia.


Ya, setelah berpindah ke gendongan Aulia, bocah kecil tersebut memang langsung diam seraya menatap dalam wajah Aulia yang meneduhkan. Tatapan seorang anak yang merindukan sosok ibunya.


"Sudah dikasih obat belum, Mas?" tanya Aulia kemudian.


"Tadi pagi sudah, Dik. Siang ini belum karena Yasmin belum makan," balas Husain.


"Tolong obatnya sekalian saya bawa saja, Mas. Nanti biar Yasmin Lia suapi bareng sama Ammar," pinta Aulia.


"Ammal udah besal, Nda. Ammal mau maem sendili," protes bocah laki-laki yang memegangi gamis bundanya seraya mendongak menatap wanita lembut yang wajahnya menyejukkan tersebut.


"Iya, Sayang. Ammar maem sendiri nanti," balas Aulia seraya tersenyum.

__ADS_1


"Sebentar, Dik. Saya ambilkan obatnya." Husain segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil sirup penurun demam anak-anak.


"Ini, Dik, obatnya Yasmin," ucap Husain seraya memberikan obat tersebut kepada Aulia.


"Baik, Mas. Lia permisi dulu, ya," pamit Aulia setelah menerima obat tersebut.


"Ammal pulang ya, Om Syain. Jangan ambil Yasmin duyu," pinta Ammar sambil menyalami laki-laki dewasa yang tersenyum hangat pada dirinya. Bocah laki-laki itu kemudian mencium punggung tangan Husain seperti yang selama ini diajarkan oleh bundanya, agar berperilaku sopan dan hormat terhadap orang yang lebih tua.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Aulia sambil berlalu.


"Wa'alaikumsalam," balas Husain sambil menatap kepergian Aulia yang menggendong buah hatinya dengan perasaan masyghul.


'Andai Cynthia memiliki sikap lembut seperti itu, pastilah putriku akan tumbuh menjadi anak yang tidak kekurangan kasih sayang,' batin Husain, sendu. Mengingat, betapa selama ini sang istri jarang memiliki waktu untuk buah hati mereka berdua.


Cynthia selalu sibuk, begitulah alasannya. Dari mulai seminar peningkatan kapasitas diri, arisan bersama teman-teman satu gengnya, senam di sebuah sanggar senam yang cukup elite, hingga sibuk menjalani perawatan wajah di clinic kecantikan yang hampir setiap minggu dilakukan oleh wanita seksi tersebut.


Membuat Husain harus kerja ekstra keras untuk menuruti semua keinginan istrinya yang tidak tahu diri dan tidak memiliki rasa syukur tersebut.


⭐⭐⭐


Setelah membuka kunci pintu rumahnya, Aulia bergegas menyimpan tas dan kue yang tadi dia beli untuk Ammar di atas meja ruang keluarga. Wanita muda tersebut kemudian berjalan menuju dapur, yang diikuti oleh sang putra.


"Ammar bantuin bunda bikin bubur buat Yasmin, ya," pinta Aulia yang masih menggendong Yasmin.


"Ciap, Nda," balas Ammar seperti orang dewasa. "Nanti Ammal juga mau maem bubul kayak Yasmin, Nda," pintanya.


"Iya, ini bunda bikin banyak untuk kalian berdua," balas Aulia seraya mengambil panci kecil untuk memasak bubur.


"Yasmin ngantuk, Nak? Bobok dulu di gendongan tante, ya," ucap Aulia seraya membetulkan gendongan kain yang dia pakai untuk menggendong putri dari wanita yang berselingkuh dengan suaminya.


Setelah memastikan anak yang tak berdosa tersebut nyaman berada dalam gendongannya, Aulia segera menyiapkan bahan untuk membuat bubur.


"Nak, tolong ambilkan bunda sendok, Sayang," pinta Aulia dengan lembut.

__ADS_1


Sigap, bocah laki-laki tersebut mengambilkan sendok dari meja makan dengan menaiki kursi kecil.


"Ini, Nda." Bocah laki-laki tersebut menyodorkan sendok pada bundanya.


"Makasih anak pintarnya bunda," balas Aulia dengan menyelipkan do'a kebaikan di setiap ucapannya untuk sang putra.


Wanita muda tersebut memasak sambil mengajak sang putra untuk berbicara, agar putranya tersebut tidak merasa diabaikan. Dia juga sambil bergoyang perlahan agar Yasmin bisa tidur dalam gendongannya.


Benar saja, tak lama kemudian anak berusia hampir tiga tahun tersebut, terlelap seperti dalam buaian sang ibunda tercinta.


Meskipun Yasmin sudah tertidur, Aulia tak lantas menidurkan anak kecil yang memang sudah terbiasa dengan dirinya itu, jika ditinggal oleh kedua orang tuanya pergi bekerja dan hanya diasuh oleh pengasuh yang bekerja paruh waktu.


Wanita muda tersebut khawatir, Yasmin akan terbangun karena belum benar-benar lelap dan dirinya juga belum menyelesaikan masakannya.


"Nah ... sudah matang, Sayang," ucap Aulia seraya mematikan kompor.


"Ammar mau maem duluan apa nanti nunggu Yasmin bangun, Nak?" tawar Aulia.


"Nanti aja, Nda. Baleng Yasmin," balas Ammar.


"Kalau begitu, Ammar bobok dulu, ya. Bunda juga mau menidurkan Yasmin di kamar Ammar, kasihan kalau Yasmin di gendong terus, boboknya kurang nyaman." Aulia segera mengajak sang putra menuju ke kamar bocah tersebut.


Setelah menidurkan Yasmin, Aulia membimbing sang putra untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Buang air kecil dan mencuci muka, kedua tangan serta kakinya.


Aulia kemudian menidurkan sang buah hati sambil mendendangkan sholawat nabi sebagai pengantar tidur sang putra. Ammar yang memang sudah kecapekan karena bermain dengan Ririn tadi di rumah orang tua Luna, segera terlelap.


Setelah meyakinkan bahwa sang putra benar-benar terlelap, ibu muda satu anak tersebut beringsut dari tempat tidur dan segera beranjak. Perlahan Aulia keluar dari kamar putranya dan kemudian masuk ke dalam kamar utama.


Aulia tercenung di depan almari pakaian yang barusan dia buka pintunya. Dia amati tumpukan pakaian yang tak seberapa banyak di dalam almari. Pakaian yang sebagain besar dia beli ketika masih gadis dulu.


"Aku pasti bisa, bismillah ...."


💖💖💖 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2