
Pagi ini, Luna bangun lebih awal karena sahabat Aulia tersebut hendak mampir terlebih dahulu ke kediaman Aulia sebelum berangkat bekerja.
Luna ingin memastikan keadaan sang sahabat yang hingga pagi ini, chat yang Luna kirimkan ke nomor Aulia masih centang satu. Sekaligus untuk memenuhi permintaan dari Lutfi, yang ingin tahu kabar sang mantan.
Ditemani oleh sang suami yang juga hendak berangkat ke kantor, Luna menapakkan kaki di halaman rumah megah tempat di mana sang sahabat tinggal.
Baru saja Luna hendak mengetuk pintu rumah tersebut, pintu terbuka dari dalam dan keluarlah seorang wanita berseragam batik yang bertuliskan Tutwuri Handayani, yang digandeng mesra oleh seorang laki-laki berseragam ASN berwarna coklat muda.
Handoyo yang mengenali Luna sebagai teman dari mantan istrinya karena mereka pernah beberapa kali bertemu, terkejut. Namun, sedetik kemudian laki-laki berwajah tegas tersebut menatap dingin pada Luna.
"Ada apa, datang kemari?" tanya Handoyo ketus. Tangan kirinya langsung memeluk pinggang ramping Cynthia untuk menunjukkan pada sahabat mantan istrinya, bahwa dirinya bisa mendapatkan yang lebih segala-galanya dari wanita yang selalu dia kata-katai berpenampilan kuno tersebut.
Tentu saja penampilan Aulia kuno karena mantan istrinya itu mengenakan pakaian yang dibeli oleh Aulia ketika masih gadis. Sebab, semenjak menikah dengan Handoyo, Aulia tak pernah sekalipun membeli pakaian yang pantas jika dipakai untuk bepergian.
Mantan istri Handoyo tersebut hanya membeli daster, itupun karena Aulia mengandung Ammar sehingga perutnya membuncit dan pakaian-pakaian yang dimiliki oleh Aulia sebelum menikah, tidak muat jika dipakai.
"Maaf, Mas. Jika kedatangan kami menggangu," ucap Luna dengan sopan. Sahabat Luna tersebut menghargai Handoyo karena usianya cukup jauh di atas dirinya dan juga Ferdi.
"Saya mau ketemu sama Lia," lanjutnya sambil mengedarkan pandangan ke dalam rumah, yang pintunya terbuka lebar.
"Dia sudah pergi dan tidak akan pernah kembali karena sejak kemarin sore, dia bukan lagi istri saya," balas Handoyo, tegas. Tidak ada nada penyesalan sama sekali dari ucapannya.
Luna tertegun mendengar jawaban Handoyo. "Lia, pisah?" gumam Luna, bertanya pada diri sendiri.
"Ya, dia sendiri yang meminta berpisah dan memilih pergi," balas Handoyo yang masih bisa mendengar gumaman Luna.
Sementara wanita yang dandanannya menor di samping Handoyo, tersenyum licik melirik ke arah Luna. Membuat sahabat Aulia tersebut, menjadi geram.
Luna mengepalkan kedua tangan, seraya menatap Cynthia dengan tatapan penuh amarah. Sahabat Aulia tersebut dapat menebak, bahwa kepergian Aulia, pastilah karena ulah Handoyo yang mendua.
"Sudah, Sayang. Ayo!" ajak Ferdi sambil memeluk pundak sang istri, berlalu meninggalkan dua orang yang tengah tersenyum dengan penuh kemenangan.
__ADS_1
"Kenapa, sih, selama ini Lia enggak pernah cerita?" protes Luna yang entah dia tujukan kepada siapa, setelah dirinya berada di dalam mobil.
"Mungkin dia memiliki alasan tersendiri, kenapa enggak cerita sama kamu, Yang. Kita hargai keputusan dialah," ucap Ferdi, bijak.
"Kamu tahu, alamat orang tua Lia? Nanti kalau libur, kita coba cari dia di sana," lanjut Ferdi, mencoba menghibur sang istri agar istrinya itu tenang karena sedari tadi, wajah Luna terlihat bergelayut mendung.
"Tahu-tahu, aku pernah sekali ke sana, waktu Lia nikah," balas Luna, antusias.
"Ya, sudah. Kita jalan sekarang, ya." Ferdi dengan penuh kasih mengusap pipi sang istri, membuat senyum Luna kembali terbit menghiasi bibir merahnya.
"Oh, iya. Aku lupa mau kasih kabar sama Lutfi," ucap Luna setelah mobil yang dikemudian suaminya, melaju meninggalkan kawasan komplek Handoyo tinggal.
Luna kemudian segera menghubungi nomor Lutfi, tetapi hingga tiga kali mencoba, nomor Lutfi tidak bisa dihubungi.
"Lutfi kemana, sih? Katanya nunggu kabar Lia, giliran mau dikasih tahu, malah enggak bisa di telepon!" gerutu Luna seraya menatap sebal pada layar ponsel yang menampilkan profil Lutfi.
"Kenapa? Enggak aktif, atau enggak diangkat?" tanya Ferdi.
"Enggak aktif, di luar jangkauan!" balas Luna, yang terlihat masih kesal.
"Iya juga ya, Mas," balas Luna, tersenyum lebar.
Buru-buru Luna membuka aplikasi perpesanan bergambar telepon berwarna hijau. "Oh, dia chat aku rupanya, Mas," ucap Luna.
Luna kemudian membuka chat dari Lutfi dan membacanya dengan bersuara agar sang suami mendengar. "Lun, kalau sudah dapat kabar tentang Lia, chat saja, ya. Ponsel aku matikan karena aku harus terbang ke luar kota. Mamanya tunanganku meninggal."
"Kasih tahu sekarang, apa nanti ya, Mas?" tanya Luna pada sang suami, setelah membaca chat dari Lutfi.
"Menurutku, enggak usah dikasih tahu saja, Yang. Tunangannya lagi berduka, terus nanti kalau Lutfi tahu bahwa Lia pisahan sama suaminya dan Lutfi kembali mengejar Lia, kasihan sama ceweknya itu, kan?" saran dan tanya Ferdi, meminta persetujuan.
Luna mengangguk, membenarkan ucapan sang suami. "Iya juga ya, Mas."
__ADS_1
Hening, sejenak menyapa kabin mobil Ferdi.
"Lantas, Luna kasih kabar gimana, Mas?" tanya Luna seraya menatap sang suami.
"Bilang saja, Lia baik-baik saja," saran Ferdi. "Karena aku yakin, wanita sebaik Lia, di luar sana, dia pasti akan bertemu dengan orang-orang yang baik pula," lanjutnya, yakin.
Meskipun jarang bertemu dengan Aulia, tetapi Ferdi dapat menilai bahwa sahabat istrinya itu adalah wanita yang baik. Selain dari cerita sang istri, juga dari sikap mantan istri Handoyo tersebut dalam berinteraksi dan bersikap dengan orang lain.
Luna menghela napas panjang. "Semoga Lia baik-baik saja ya, Mas."
⭐⭐⭐
Di teras rumah megah milik Handoyo, setelah kepergian Luna dan suaminya, pasangan mesum tersebut tertawa bersama, entah apa yang mereka tertawakan.
"Mas, sebaiknya untuk sementara waktu, aku tinggal di penginapan dulu, ya," pinta Cynthia setelah tawa keduanya, reda.
"Takutnya, nanti ada yang melihat kebersamaan kita dan kemudian mereka lapor ke dinas tempat kita bekerja, 'kan jadi repot," lanjutnya yang ternyata memiliki rasa was-was, jika hubungan mereka berdua terbongkar.
"Hem, aku setuju dengan idemu, Sayang. Lagipula, kalau kamu tinggal di penginapan, aku jadi lebih bebas berkunjung, bukan? Daripada jika kamu tinggal di rumah kontrakan, apalagi kontrakan yang berada di perkampungan padat penduduk," timpal Handoyo, setuju.
"Mas Han, ya, yang cariin penginapan untukku?" rajuknya, manja.
"Beres, Sayang. Apapun, untuk kamu seorang. Pokoknya, semua akan aku berikan," balas Handoyo merayu, seraya menangkup kedua sisi pipi Cynthia dan kemudian melabuhkan ciuman di bibir kekasihnya tersebut sebelum mereka berdua berangkat ke tempat kerja masing-masing.
Cynthia membalasnya dengan penuh nafsu. Ya, wanita itu memang sangat peka dengan sentuhan Handoyo. Hanya dengan sedikit rangsa*ngan, Cynthia akan langsung basah kuyup dan meminta untuk dipuaskan.
"Mas, aku pengin," ucapnya menatap Handoyo dengan tatapan penuh gairah, membuat Handoyo tersenyum puas.
"Aku telepon stafku dulu ya, Sayang," balas Handoyo.
"Aku juga mau ijin terlambat masuk pada Kepsek karena Yasmin sakit dan rewel," timpal Cynthia yang langsung merogoh ponsel dari dalam tas cangklongnya.
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...