
"Kerja apa, sih, dia sekarang? Bisa punya uang sebanyak itu? Atau jangan-jangan, Mas Husain menjual diri dan melayani tante-tante kaya dengan menjadi gigolo karena sakit hati aku tinggal pergi?" tuduh Cynthia tanpa alasan.
Wanita seksi tersebut segera beranjak dari tempatnya dan kemudian berjalan menghampiri pasangan Husain dan Aulia.
Sementara di sudut gerai, Handoyo yang tengah duduk di sebuah kursi, menatap mantan istrinya dengan tanpa berkedip.
'Selama ini, aku bahkan tidak pernah perduli apakah kamu menginginkan membeli pakaian atau tidak, Lia. Kini, laki-laki itu begitu perhatian dan memanjakanmu.'
Lamunan Handoyo buyar, ketika melihat istrinya mendekati pasangan yang sedari tadi dia perhatikan.
Buru-buru, suami Cynthia itu beranjak untuk mencegah sang istri dari melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Sudah banyak duit rupanya kamu, Mas?" Cynthia bertepuk tangan, hingga mengundang perhatian pengunjung lain.
Sementara Aulia yang sedang memangku Yasmin, langsung mendekap gadis kecil itu yang ketakutan melihat mamanya datang menghampiri.
"Nda, Adik tatut," ucap Yasmin, hampir tak terdengar.
"Yasmin jangan takut ya, Sayang. Ada bunda yang akan melindungi Yasmin," hibur Aulia, berbisik.
Husain maju dua langkah, tepat di hadapan sang istri untuk berjaga-jaga dan melindungi istri serta anak-anaknya dari kemungkinan terburuk karena melihat kilatan kemarahan di mata Cynthia.
Entah marah karena apa, Husain tak dapat menebak.
Sementara Ammar, memeluk tubuh bundanya dan menyembunyikan wajah di lengan sang bunda.
"Ternyata kalian tak lebih baik dari kami! Kalian sudah menjalin hubungan lama, kan? Kalian juga berselingkuh, kan?" Cynthia menuding mantan suaminya.
"Bicara apa kamu, Cyn?" tanya Husain tak mengerti.
"Halah, jangan sok polos kamu, Mas! Baru empat bulan kita pisah, kini kalian sudah bersama. Apa itu mungkin kalau sebelumnya kalian tidak ada hubungan apa-apa?" Cynthia menatap sinis pada mantan suaminya, juga pada Aulia yang sedikit terhalang tubuh gagah Husain.
Cynthia nampak masih ingin menghakimi tanpa bukti, ketika Handoyo datang dan langsung menyeret tangannya keluar dari gerai tersebut.
Husain bernapas lega, begitu pula dengan Aulia. Namun, sedetik kemudian Husain mengerutkan dahi.
"Cynthia menghampiri kita, bukannya menanyakan bagaimana kabar anaknya, tetapi malah sibuk membahas tentang kita. Apa, sih, yang ada di benaknya?" gumam Husain seraya menatap sang istri.
"Lia juga tak mengerti jalan pikiran Mas Han, dia juga sama sekali tak melihat putranya, apalagi menanyakan Ammar," ucap Aulia, pelan.
Husain menghela napas panjang. "Ya, sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Kita fokus saja sama anak-anak," pungkas Husain.
__ADS_1
Setelah membayar tagihan belanjaan untuk sang istri, Husain segera menuntun keluarga kecilnya untuk keluar dari mall menuju mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, hanya keheningan yang tercipta tanpa ada celoteh riang anak-anak karena mereka berdua ketiduran setelah capek bermain di wahana permainan anak.
Sementara Aulia sibuk sendiri dengan pikirannya, begitu pula dengan Husain. Netra suami Cynthia itu memang fokus ke depan, tetapi pikiran Husain kemana-mana.
'Kebangetan sekali, sih, Cynthia. Masak seorang ibu sama sekali tak perduli dan kangen sama anak kandungnya sendiri.' Husain menghembuskan napas kasar.
Menyadari kegalauan sang suami, Aulia menoleh dan kemudian menepuk pelan lengan suaminya.
"Kita fokus sama keluarga kita, ya?" pinta Aulia yang juga bertekad akan melupakan kejadian barusan.
Tak penting lagi baginya saat ini, apakah Handoyo perduli dan memikirkan Ammar atau tidak karena sudah ada Papa Husain yang sangat menyayangi sang putra.
Toh, Aulia juga tahu bahwa dari dulu, mantan suaminya itu memang tidak pernah perduli sama anaknya sendiri.
Husain menoleh sekilas dan kemudian tersenyum. "Tentu, Sayang, karena kalian adalah masa depanku," balas Husain, membuat hati Aulia berbunga.
Perjalanan pulang itupun selanjutnya diwarnai dengan kemesraan pasangan pengantin baru tersebut. Aulia menyandarkan kepala pada lengan sang suami yang sedang menyetir.
Sesekali, Husain mencium puncak kepala sang istri yang tertutup hijab dengan penuh rasa sayang.
"Mas, Lia bahagia banget bisa menjadi istri Mas," ucap Aulia, membuat Husain tersenyum lebar.
Aulia mendongak, dengan dahi berkerut.
"Kalau benar kamu bahagia dan bukan hanya sekadar untuk membuat mas senang, buktikan dong. Coba cium mas," pinta Husain, mulai menggoda sang istri.
"Itu, sih, bukan bukti, Mas, tapi modus." Aulia cemberut.
"Kalau Mas beneran mau bukti, nanti, ya, di rumah," lanjutnya sesaat kemudian, membuat sang suami tersenyum bahagia dan tak sabar ingin segera sampai rumah.
"Istriku benar-benar pengertian," puji Husain seraya mencubit gemas pipi Aulia yang sedikit chabi.
"Ih, Mas nakal, deh." Aulia membalas dengan mencubit pinggang sang suami.
"Kenapa milih disitu nyubitnya, Yang? Pasti berharap tangannya kepleset ke bawah, ya?" Husain terkekeh pelan.
Sementara Aulia mengerutkan dahi. "Kepleset?"
Laki-laki yang memiliki senyum menawan tersebut kemudian mengarahkan tangan istrinya ke bawah.
__ADS_1
"Kepleset ke sini," balas Husain. "Dah, tangannya diam di sini saja, ya, tapi jangan dicubit." Husain tersenyum seraya menoleh pada sang istri yang sudah tak lagi bersandar di lengannya.
Aulia tersipu malu. "Mas, masih di jalan. Jangan aneh-aneh, deh." Aulia menarik kembali tangannya.
"Nanti saja di rumah, Mas. Lia janji, Mas bebas melakukan apapun pada Lia."
"Nanti di lumah, Bunda dan Papa mau ngapain?" Suara Ammar yang duduk di bangku belakang, membuat suami istri itu, saling pandang.
⭐⭐⭐
Di dalam mobil Handoyo.
Wanita seksi istri dari Handoyo tersebut tak berhenti mengomel, kecewa dengan sikap sang suami yang tidak membela dirinya, tetapi malah menyeret paksa Cynthia dan membawanya pulang.
"Tadi aku 'kan belum sempat memilih tasnya, Mas! Main seret saja!" gerutu Cynthia yang tidak suka dengan perlakuan sang suami yang dinilainya kasar dan membuatnya malu.
Ya, semua mata pengunjung gerai barang branded menatap sinis pada Cynthia tadi, bahkan tak sedikit yang mencibir wanita bar-bar tersebut.
"Itu bukan salahku, Cyn, tetapi salahmu sendiri!" balas Handoyo, tak mau disalahkan.
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk memilih, tapi kamu malah sibuk mengurusi orang lain!" lanjutnya, ketus.
"Aku sudah memilih sebelum mereka datang, Mas, tapi kamu melarangku untuk mengambil tas itu. Malah Mas Husain yang mengambil untuk istrinya." Cynthia menatap sinis sang suami.
"Masak kamu yang seorang kabag, kalah sama dia yang hanya seorang sales spare parts kendaraan!" cibir Cynthia, membuat Handoyo terbakar.
Cynthia belum mengetahui kalau saat ini mantan suaminya itu telah naik jabatan menjadi supervisor dan bukan lagi seorang sales, seperti yang selama ini dia pandang sebelah mata.
Ya, di mata Cynthia, profesi Husain yang bekerja sebagai sales selalu dipandang sebelah mata dan direndahkan. Sebab itulah, Cynthia tak pernah menghargai Husain, meskipun mantan suaminya itu mampu menuruti semua keinginannya yang bergaya hedon tersebut.
Handoyo yang merasa harga dirinya sebagai laki-laki, terinjak dengan ucapan istrinya dan merasa diremehkan oleh Cynthia, membuat dia bertekad akan menuruti semua keinginan istrinya agar dia tidak kalah sama suaminya Aulia yang royal pada sang mantan.
"Ck!" Handoyo berdecak kesal. "Lain kali kalau mau belanja lagi, kamu bebas untuk memilih. Jangankan hanya satu tas branded seperti yang tadi dibelikan Husain untuk Aulia, bahkan jika kamu menginginkan gerainya sekalipun, akan aku belikan!"
Cynthia tersenyum senang. 'Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.'
💖💖💖 bersambung ...
__ADS_1