Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
1. Rame, Berkunjung Ke Toko Buku 1


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......RAME BERKUNJUNG KE TOKO BUKU......


SEMENJAK kejadian di sarkem yang berada kawasan Malioboro. Grace dan medina selama dua hari malas untuk keluar rumah tantenya, katanya sih agak sedikit trauma. Hari ini hari kelima mereka berdua di kota Yogyakarta. Om dan tante mengajak mereka beserta keponakan yang imut-imut menikmati makan malam di luar. Hari itu waktu menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit, mereka menaiki mobil kijang innova menuju ke jalan kaliurang kawasan kampus UGM, namun omnya medina tidak jadi meminggirkan mobilnya untuk makan. 


“Kita pergi ke toko buku dulu ya, habis dari sana baru deh kita cari makan.” Kata omnya Medina yang sedang menyetir mobil. Sambil menyetir mobil, omnya medina banyak bercerita mengenai kampus UGM yang dia banggakan. karena beliau adalah seorang Psikolog sejati, omnya medina adalah dosen yang mengajar di Fakultas Psikologi di kampus tercinta.


“Kita hampir sampai nih, medina sama grace mau beli buku apa.” Kata tantenya yang duduk di depan di samping suaminya.


“Ah lihat-lihat dululah tante nanti gampang, kalau sudah di toko buku juga ingat mau beli buku apa.” Jawab medina yang duduk di belakang bersebelahan dengan grace sahabatnya, bersama keponakan medina yang diapit  diantara mereka.


Jam tujuh malam mereka sudah sampai di perempatan jalan toko buku, nampak jalanan saat itu rame dan padat. Ternyata toko buku mengadakan festival musik indie band dari kota gudeg sendiri. Mereka mulai memasuki halaman gedung, mobil mereka masuk ke dalam mencari tempat parkir yang masih kosong. Terlihat para pemuda pemudi yogyakarta berlonjak-lonjak mendengarkan musik aliran rock alternatif. Setelah mereka dapat tempat parkir mereka turun dari mobil. Grace bersama medina minta izin kepada tante dan omnya untuk melihat musik indie band tadi, kedua gadis cantik ini menyilahkan untuk masuk lebih dulu ke toko, nantinya mereka menyusul jika sudah puas melihat band di pelataran halaman depan gedung toko buku.


“Maaf tante, medina bersama grace mau lihat musik tadi yah. Tante duluan aja masuk ke toko.” Kata medina yang didukung sama grace sambil menganggukkan kepalanya. Di malam itu tangannya grace memegang tangan keponakannya medina.


“Mamah, mamah, inggrid boleh ikut tante medina sama tante grace, boleh ya mah boleh ya.” Kata keponakan medina berusaha merayu-rayu mamanya agar dibolehkan ikut bersama mereka.


“Aduh sayang, nanti yang milihin buku pelajaran sama bacaan di rumah siapa. Kamu kan nggak mau di pilihin buku bacaan sama mama.” Kata mamanya Inggrid. Tapi keponakannya Medina tetap ngotot ingin ikut mereka. Mamanya Inggrid sambil mendekatinya kemudian mengelus rambutnya dan menggandeng tangannya.


“Untuk kali ini mama aja deh yang nyariin buku kesayanganku. Pasti deh aku nanti baca dan aku rawat mah. Boleh yah mah ikut tante.” Kata Inggrid yang sedang merayu sambil menarik tangan mamanya

__ADS_1


“Sayang, nanti aja nontonnya kalau waktunya masih banyak. Eh lihat sekarang jam berapa, sebentar lagi tokonya akan tutup loh gimana coba. Kamu nanti enggak bawa pulang buku baru loh.” Kata mamanya yang memberi alasan agar putrinya ikut dia. Mamanya Inggrid memeluk dia, anak semata wayang yang dicinta.


“Tapi mah, Iggrid pengen lihat musik band mah.” Kata Inggrid yang digandeng sama mamanya sambil berjalan dengan langkah yang diberat-beratkan. Medina dan grace cekikikan melihat kejadian yang lucu tadi. Keponakan medina adalah gadis kecil yang baru saja duduk taman kanak-kanak nol besar. Dia sangat cerdas dan pandai karena dia sudah bisa baca dan nulis dengan lancar.


“Hati-hati ya kalian.” Pesan om dan tante kepada mereka sebelum melangkah pergi masuk ke gedung.


“Iya tante. Paling kita cuma sebentar saja, penasaran lagunya bagus ngga sih.” Kata grace menggandeng medina yang mulai melangkahkan kakinya untuk melihat band tadi. Grace bersama medina akhirnya membaur dengan pengunjung toko buku yang melihat dengan berlonjak-lonjak ikut mengalir dalam suasana kerasnya musik indie beraliran rock.


Baru mendengarkan dua lagu, grace dan medina sudah bosan. Mereka masuk lewat pintu depan ke lantai satu sambil melihat-lihat printer baru yang dipajang staf toko. Mereka berdua berjalan lurus untuk melihat alat musik. Setelah mereka puas melihatnya sambil mencoba beberapa alat musik, Grace dan Medina belok ke kanan melihat alat fitnes dan peralatan renang. Setelah mereka puas dengan melihat-lihat tas yang dipajang di sana, mereka menuju ke tangga naik ke atas lantai dua. Mereka melihat-lihat baju yang dipajang di sana, cukup lama mereka melihat beberapa motif baju. Mereka juga melihat-lihat DVD film yang dijual di sana. Merasa puas cuci matanya, lantas kedua gadis cantik ini naik ke lantai atas ke toko buku. Pada akhirnya mereka berdua menghirup pelan udara ruangan toko untuk merasakan aura buku-buku baru yang dipajang di sana. Mereka sangat senang sekali dengan suasana yang penuh dengan buku dan pengetahuan.


Ketika mereka melihat-lihat dan pergi ke lorong peta, grace dan medina melihat peta yogyakarta karena masih buta dengan kota gudeg ini. Sambil membuka peta yogyakarta, mereka mencari alun-alun utara dan alun-alun selatan. Ketika mereka berdua sedang asik dengan melihat peta yang serius saling bicara, grace serta medina dikagetkan dengan seorang laki-laki dari belakang mereka yang berada di lorong dibatasi rak buku. Laki-laki ini menyapa mereka dengan suara keras dengan menyebutkan nama mereka. Grace serta medina menoleh ke belakang melihat laki-laki ini di sebelah lorong rak buku.


“Hayo sedang ngapain kalian.” Kata lelaki ini dengan menyentuh bahu mereka berdua.


“Hebat ya, suatu keajaiban bisa bertemu lagi dengan kalian.” Kata putra kepada mereka berdua yang mulai berbisik-bisik di antara mereka. Putra pun tahu apa yang dimaksud mereka. ”Oh kenalkan ini....” Sebelum kata-kata di sambung sama Putra, dua cewek cantik ini berbarengan dengan suara keras.


“Ceweknya ya....” Tebak grace dan medina yang cekikikan. Putra pun kaget dengan sikap mereka berdua yang menjodohkan dirinya dengan sahabatnya.


“Bukan, bukan. Ini sahabat aku namanya ajeng. Yah kalau dia mau jadi cewekku sih enggak apa-apa, masih kosong kok diriku ini.


“Ngomong apaan sih put, jangan harap yah.” Kata ajeng sambil senyum membuang mukanya yang sangat cantik dihadapan mereka bertiga.

__ADS_1


“Kenalkan namaku Grace Alexa Widawati panggilannya grace.” Kata grace sambil berjabat tangan dengan ajeng.


“Aku Medina Syahrani panggilannya medina.” Dia Juga berjabat tangan sama ajeng.


“Namaku Ajeng Indah Ayu Putri panggil aja dengan ajeng atau putri.” Kata ajeng yang menyalami mereka berdua.


“Kalau nama lengkapmu siapa put.” Kata medina.


“Ehem...namaku adalah jangan kaget ya, namaku adalah Sarmijo Syah Putra Noto Negoro.” Kata putra dengan pede. Ketiga gadis cantik ini cekikikan karena ada nama sarmijo.


“Ih lucu banget sih namamu, harusnya panggilan kamu sarmijo aja put.” Ujar grace yang menimpali sambil senyum kepada putra.


“Ah kalian, bisanya cuma ngeledek aku aja. Gini-gini nama sarmijo itu gelar nenek moyangku sebagai saudagar yang kaya raya loh.” Kata putra agak jengkel. Akhirnya dia tersenyum juga yang tadinya sedikit cemberut. Keempat remaja itu pun tertawa senang dengan persahabatan yang baru saja terjalin.


Di malam itu, mereka lantas asik mengobrol dengan tema yang tidak jelas sambil berjalan-jalan di lorong-lorong rak buku. Mereka berempat melihat-lihat juga memegang buku yang dianggap menarik. Ketika sedang asik membahas pengalaman ospek di sekolahnya masing-masing, medina bertanya mengenai motornya putra karna waktu menolong mereka berdua dia membawa helm. Motor vespa miliknya putra rusak, jok motornya sudah tidak ada di buang sama preman yang sangat marah dengan dirinya. Beruntung ketika itu preman sudah tidak ada ketika putra mengambil motor. Putra pun bersyukur motornya bisa menyala walaupun rusak parah, langsung saja putra lari tunggang langgang dengan motornya. Ketiga cewek ini pun manggut-manggut sambil membayangkan kengerian jika saja preman itu menangkap putra dan menghajarnya rame-rame sampai di bunuh terus di buang ke sungai. 


“Ih serem banget put.” Kata mereka bertiga.


Ketika mereka berjalan di area komik, ajeng meraih tiga komik sekaligus. Yang dilihatnya ajeng mengambil komik naruto dan cerita komik yang lain. Sambil bercanda dan saling meledek satu sama lain, terutama putra yang di musuhi ketiga gadis cantik ini, keempat remaja ini jalan ke tempat lorong rak bagian novel. Mereka berempat membuka dan melihat sampul novel itu. Seketika itu di lorong rak ada novel Harry Potter yang dipajang di sana, tidak disangka keempat remaja ini gandrung dan suka sama filmnya maupun novel Harry Potter. Apalagi Grace yang mempunyai darah Inggris, dia sangat bangga sekali dengan JK Rowling yang tinggal di Inggris. Bahkan dia pernah bertemu dengan novelis terkenal ini. Grace minta tanda tangan di kaos yang dipakainya ketika itu bergambar Ronald Weasley memegang tongkat sihir. Dia bercerita, bertemu dengan JK Rowling saat launching novel Harry Potter di toko buku di kota London. Grace senang sekali bisa mendapatkan tanda tangannya apalagi bertemu dengan penulisnya karena waktu itu penggemar Harry Potter banyak sekali yang berdatangan untuk berkumpul meminta tanda tangannya. Grace juga bercerita dengan bangganya jika kaos bertanda tangan itu masih ada, bahkan tidak dicuci sampai sekarang yang masih ada tanda tangan di punggung kaosnya. Medina dan Ajeng merasa ngilu dengan sikap Grace yang agak aneh. 


“Ih bau ah Grace nggak di cuci apalagi sampai sekarang.” Kata Ajeng yang menutup mulutnya.

__ADS_1


“iya nih, aku baru tahu loh sahabat dekatku sampai fanatiknya seperti ini.” ucap Medina yang merangkul Ajeng di sisinya. Melihat kelakuan Ajeng dan Medina yang bersikap seperti itu, Grace malah menjadi-jadi kefanatikannya. Putra agak cuek dengan sikap ketiga cewek ini, karena dia merasa senang bisa bersahabat dengan ketiga gadis yang sangat cantik, seksi dan cerdas.


Grace juga bercerita tentang novel Harry Potter yang di tanda tangani sama penulis idamannya JK Rowling. Bahkan dia pun bercita-cita akan menjadi penulis yang handal, untuk itulah dia mengambil jurusan Bahasa di sekolahnya. Putra pun tidak mau kalah dengan Grace, dia mulai mengutarakan pendapatnya jika dia lebih suka dengan novel Lord Of The Ring. Yah, walaupun Putra belum pernah beli novel sekalipun, dia saja menyewa atau pinjam di tempat penyewaan yang berada di dekat sekolahnya. Sambil mengutarakan pendapatnya dia cekikikan di dalam hati karena dia jarang sekali beli novel, paling banter pinjem sama Ajeng sahabatnya.


__ADS_2