
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
“Itulah masalahnya. Selama ini aku enggak tahu tunanganku, kata Mamaku dia adalah Pangeran Cintaku seperti Romeo dan Juliet. Dahulu waktu aku masih kecil Mamaku sering bercerita tentang Romeo dan Juliet, seorang Pangeran Cinta di cium oleh Putri Cinta ketika Pangeran itu sedang tidur. Waktu kecil aku nggak sengaja mencium bibirnya ketika tidur di atas kasur yang aku anggap Pangeran Cintaku. Ketika aku mencium dia, keluargaku dan keluarga dia mengabadikan sebuah foto. Tapi sayang, aku enggak tahu rupa wajahnya waktu kecil, apalagi sekarang. Karena keluarga kita berdua memfoto di pintu kamar yang mengenai punggungku. Jadinya aku enggak tahu siapa dia yang nantinya akan menjadi suamiku, seperti apa wajahnya, bagaimana kelakuannya, orang mana dan saat ini sekolah dimana.” Mata Ajeng memerah sedih dengan yang dialaminya.
“Maksudmu apa Jeng, kok kamu enggak tahu. Bukankah yang namanya tunangan harus tahu jodohnya seperti apa, laki-laki baik apa bukan dan segala macam faktor lain yang mendukung mengenai jati dirinya harus diketahui. Ceritanya bagaimana kok bisa aneh begini.” Ucap Medina.
“Sebenarnya aku udah tunangan sejak kecil tapi aku belum tahu aja. Ketika aku beranjak umur lima belas tahun yang kemarin baru saja aku merayakan ulang tahunku. Orang Tuaku memberitahukanku sebuah kejutan yang membuat merinding bulu kudukku. Aku saja ketika itu hampir pingsan mendengarkan penjelasan Orang Tuaku, jika aku telah tunangan. Dan anehnya lagi setelah ulang tahun ke delapan belas Orang Tuaku akan mempertemukan aku dengan calon suamiku.”
“Jadi selama tiga tahun yang akan datang kamu nggak tahu siapa dia, bahkan namanya saja kamu nggak tahu.” Ucap Grace.
“Yah semacam itulah.” Kata Ajeng yang sedih. “Itulah kenapa aku sangat marah di hatiku. Sebenarnya kemarahanku adalah aku sudah bertunangan dan nggak tahu siapa dia. Kasihan Putra, dia hanya aku jadiin kemarahan hatiku aja. Emang sih dia punya salah, tapi jika aku enggak tunangan yang membuat sensitif dan mudah marah, pastinya nggak begini jadinya dengan yang dialami Putra. Grace, Medina maafkan aku ya yang melibatkan kalian dan juga melukai hati Putra.” Ajeng menangis dia tidak tahu harus berbuat apa. “Aku bingung Grace, aku bingung Din. Aku harus bersikap bagaimana. Permasalahan semacam ini adalah permasalahan orang dewasa, sedangkan aku masih remaja yang masih ingin menikmati masa keremajaanku yang sekarang sedang memikirkan tunangan yang nggak jelas.” Ajeng di peluk mereka berdua.
__ADS_1
“Yang sabar dan tabah ya sayang dengan ujian berat yang kamu alami.” Medina mengelus rambutnya Ajeng.”
“kamu nggak salah Jeng jika hatimu marah, dan permasalahan yang menumpuk banyak menjadi sebuah gunung amarah akhirnya meledak juga. Kamu harus tegar ya sayang.” Grace mengusap air matanya Ajeng.
“Makasih ya, kalian menghiburku. Jika nggak ada kalian seperti apa lagi hidupku ini.” mereka bertiga menangis sedih di kamar lantai atas. Ajeng memperlihatkan cincin tunangannya yang ada gambar aneh di lingkaran cincin bagian luar.  Gambar cincin ini ada warna merah dan hitam juga bertuliskan namanya yaitu Putri
“Cincin tunanganmu gambarnya aneh yah Jeng. Jadi nama yang tertera di cincin ini namamu yah.” Ucap Medina.
“Iya Jeng. Gambarnya melingkar di cincinnya, maksud gambar ini apa sih Jeng. Kita berdua nggak ngerti deh.” Kata Grace yang penasaran.
“Ajeng, kamu harus baikan lagi dengan Putra, kamu harus menolong kesusahan dia selama kita enggak berada disini. Kamu harus membantu Putra dari kesedihan. Sebentar lagi kita akan balik ke Jakarta dan kita nggak sempat berpamitan kepadanya. Aku mohon ya Jeng, aku takut jika nantinya Putra trauma dan ketakutan dengan kita bertiga. Aku takut jika nantinya dia berfikir di dalam hatinya jika kita ini seperti bukan kita yang dia kenal selama ini. Aku takut jika kita dianggap orang lain enggak seperti sahabat sendiri. Kenapa aku takut Jeng, kenapa aku takut Din, kamu tahu kita telah memukulinya dan menampari di rumahnya kemarin ya kan. Ada keanehan sama Putra ketika itu. Yang aku rasakan dia nggak melindungi wajahnya, dia nggak membalas apalagi lari dari pukulan dan tamparan kita yang membuat hatinya terluka. Aku tahu dan aku merasakan, dia kecewa dan sakit banget hatinya jika sahabatnya memperlakukan dia seperti itu. Dia hanya pasrah dengan kita yang marah. Dia hanya pasrah jika kita menganiaya dirinya. Aku tahu jika kita ini sudah dianggap bagian dari tubuhnya, aku tahu jika kita ini sudah dianggap seperti saudaranya sendiri untuk dirinya. Karena dia hidup sebatang kara Din, dia sebatang kara Jeng. Udah gitu, dia mengalami trauma dengan kejadian kemarin ketika dia pingsan dan hampir mati di depan pagar rumahmu Jeng, dia berdarah dan kedinginan. Ketika itu dia sangat mencintai kita sebagai sahabat, dia rela untuk mati hanya satu ucapan kata dari yang kita miliki. Kata maaf Jeng, kata maaf Din, Putra hanya menginginkan kata-kata ini dari kita yaitu memaafkan segala kesalahan darinya. Ketika dia berdarah di kepalanya tadi, Putra sudah putus asa. Aku merasakan dia sudah cinta dengan kematian daripada kehidupan. Ketika dia meminta maaf di pelukanku yang darahnya terus mengalir, Putra sangat tulus, aku menangis dan memaafkan dia, Putra sangat bahagia banget mendengarkan kata-kata maaf dariku. Sepertinya dia rela dengan maafku digantikan dengan nyawanya, itulah kenapa aku sangat terpukul banget di saat-saat terakhir aku nggak bisa menolongnya.” Grace menangis dan terharu dengan ucapannya sendiri, demikian juga Ajeng dan Medina yang menangis ikut terharu. Mendengar penjelasan darinya, Ajeng memeluk Grace dengan erat. Air mata Ajeng mengalir dengan deras, dia rindu lagi dengan Putra, dia rindu dengan senyumnya Putra, dia rindu dengan marahnya Putra, dia rindu dengan pelukannya Putra ketika itu, dia rindu dengan ciuman dari Putra di pipinya, bahkan Ajeng sekarang merasakan kenikmatan dengan ciuman dari bibirnya Putra ketika dia tidak sadarkan diri. Tubuhnya merinding dan merasakan menjadi ringan jika mengenang ciuman dari bibirnya Putra bersentuhan dengan bibirnya sendiri. Ajeng mengira itu ciuman, padahal yang sebenarnya terjadi adalah Putra telah memberikan nafas kehidupan kepada Ajeng, nafas cinta yang tulus untuk menghidupkan kembali ke dunia seorang kekasih. Nafas yang hanya dimiliki oleh cinta sejati dan belahan jiwa saja yang bisa merasuk ke relung-relung jiwa yang paling dalam. Ajeng merasakan nafasnya Putra yang penuh cinta, sekarang Ajeng benar-benar jatuh cinta kepada Putra. Dia rela mati hanya untuk membahagiakan Putra kembali yang telah terluka karenanya. Grace mengambil empat buah Buku Passport 3 Alam yang berada di sakunya. “Lihatlah Jeng, lihatlah Din, buku ini penuh dengan darahnya Putra, dia pun mengembalikan Buku Passport 3 Alam miliknya. Katanya Putra, dia sudah nggak pantas memilikinya. Kata dia, gara-gara buku ini aku telah menyakiti kalian bertiga, seperti itu katanya.” Kata Grace lagi. Ketiganya melihat fotonya Putra yang berada di Buku Passportnya. Foto tersebut mengalami perubahan, fotonya Putra matanya terpejam yang mengeluarkan air mata. “Bukunya Putra juga ikut sedih, lihatlah jika pemiliknya telah terluka.” Kata Grace. Ketiganya sedih melihat fotonya Putra yang menangis sedih mengeluarkan air mata. Ajeng menangis melihat bukunya Putra.
“Put, maafkan aku. Aku baru merasakan jika aku jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupku dan cinta pertamaku adalah kamu Put. Aku baru sadar jika aku sangat mencintaimu, aku takut kehilanganmu. Aku menyesal melukaimu seperti ini, maafkanlah aku Put. Aku nggak bisa menjagamu, aku takut jika kamu tiada meninggalkan aku untuk selamanya. Oh Tuhan, ampunilah aku. Selamatkan Putra, sahabat dekatku yang aku cintai.” Kata Ajeng yang menangis melihat fotonya Putra yang sedih. Dia mengambil Buku Passport 3 Alam miliknya Putra dari tangan kanannya Grace. Dia menciumi fotonya Putra berkali-kali dan membelainya dengan tangannya yang berada di sampul depan Buku Passport 3 Alam. Mereka bertiga mendengar suara musik dari laptopnya Ajeng yang masih menyala. Mereka menangis lagi mendengarkan suara musik dari lagunya GITA GUTAWA yang berjudul BILA. Ajeng makin sedih mendengar lagunya dari Gita Gutawa. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 40).
__ADS_1
Sementara itu Papa dan Mamanya Ajeng telah pulang dari rumah sakit. Mamanya Ajeng mencari Bibi pembantunya. Dia merasa heran di depan rumahnya, tepatnya di dinding pagar ada cap telapak tangan darah manusia. Mama dan Papanya Ajeng bertemu dengan Bibi pembantunya di ruang tengah.
“Bi, apa yang terjadi. Di depan rumah kok ada cap telapak tangan orang bahkan ini dari darah lagi.” Tanya Mamanya Ajeng.
“Iya Bi, siapa yang terluka sampai parah begitu.” Tanya Papanya Ajeng. Papa dan Mamanya Ajeng heran dengan Bibinya yang menangis sedih.
“Tadi ada keributan Tuan, Nyonya di depan pintu. Ternyata Den Putra yang mau bertemu dengan Non Ajeng di pukuli sama temannya Non Ajeng. Den Putra kesini mau minta maaf sama Non Ajeng, Non Medina dan Non Grace. Tapi Non Ajeng nggak mau memaafkan Den Putra. Setelah itu Bibi takut melihat lagi, Bibi nggak tega jika Den Putra di aniaya sama teman laki-lakinya Non Ajeng. Bibi masuk ke dalam rumah dan menangis, tiba-tiba Non Grace berteriak histeris. Non Grace marah banget jika Den Putra terkapar berdarah di jalan yang lagi kehujanan. Bukan hanya berdarah saja Den Putra juga susah bernafas. Katanya Non Grace, dadanya Den Putra di tendang sama teman laki-lakinya Non Ajeng. Terus mereka semua keluar, Bibi juga keluar ingin melihat kondisinya Den Putra. Tapi sayang Tuan, sayang sekali Nyonya, Den Putra sudah engga ada di sana. Non Grace, Non Ajeng dan Non Medina menangis sedih jika Den Putra menghilang, apalagi kondisinya seperti itu. Mereka bertiga takut jika Den Putra enggak selamat lagi. Bibi dari tadi menangis terus jika mengenang kejadian yang sangat memilukan. Begitu Tuan, Nyonya kejadiannya.” Kedua bibi ini menangis sedih.
“Ya Tuhan ada apalagi ini. Pa, bagaimana kondisi Putra saat ini. Bagaimana jika Putra enggak selamat. Bagaimana aku mempertanggung jawabkan ini kepada Almarhum Mamanya Putra. Beliau telah menitipkan Putra kepada aku Pah. Putra...dimana kamu nak...Tante merindukanmu.” Mamanya Ajeng menangis di pelukan Suaminya. Papanya Ajeng menghibur Istrinya untuk tidak sedih.
“Sudahlah, kamu jangan sedih. kamu juga jangan berpikiran seperti itu. Kasihan Putra, Ajeng juga kasihan kedua temannya Ajeng. Saat ini kita harus mendoakan untuk Putra agar dia selamat. Semoga saja ada yang menyelamatkan dia, entah saat ini Putra berada di rumah sakit atau ada yang merawat dia. Jangan kamu sesali ya.” Kata papanya Ajeng yang menghibur Istrinya yang sedih kehilangan Putra, anak dari sahabatnya. Papa dan Mamanya Ajeng pergi ke lantai atas menuju kamarnya Ajeng. “Sayang, kamu jangan marahin Putri ya. Pasti ketiganya terpukul sekali menyaksikan sahabatnya telah menghilang dan terluka. Kamu jangan marahin mereka ya sayang, kasihani mereka.” Kata Suaminya.
“Iya. Tapi aku masih marah, bagaimana ini bisa terjadi.” Kata Mamanya Ajeng. Suaminya memeluknya lagi untuk memberikan ketenangan Istrinya yang sedang menangis sedih dengan memberikan ciuman di keningnya. Keduanya sudah sampai di depan pintu kamarnya Ajeng dan mengetuk pintunya. Ajeng membukakan pintu, Ajeng yang mengetahui Mama dan Papanya yang datang Ajeng lantas memeluk mereka dan menangis untuk minta maaf.
__ADS_1
“Pa, Ma maafkan Putri ya. Putri telah membuat Putra menderita, Putri telah membuat dia jadi begini. Maafkan Putri ya Pa maafkan Putri Ma, Putri sangat menyesal.” Kata Ajeng yang menangis di pelukan mamanya. Dia memeluk Mamanya sangat erat sekali, dia merasa menyesal menyakiti Putra. Mamanya Ajeng mencium kepalanya Ajeng yang terurai dengan rambutnya yang indah dalam pelukan Mamanya. Grace dan Medina yang tahu jika Papa dan Mamanya Ajeng datang, mereka berdua lantas berdiri dari duduknya di atas kasur dan menangis sedih terharu dengan apa yang mereka lihat.
“Sudahlah Putri, yang penting kamu jangan mengulanginya lagi ya. Sayangilah Putra seperti engkau menyayangi dirimu sendiri. Suatu saat nanti kamu tahu Putra itu siapa dalam hidupmu. Putri cintailah dia sebagai sahabat dan kalian harus saling tolong-menolong.” Mamanya mencium kepalanya Ajeng lagi. Ajeng di panggil dengan nama Putri oleh Mama dan Papanya, nama Putri ini adalah nama panggilan kesayangan Papa dan Mamanya untuk Ajeng.