
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
Ajeng sudah mulai tenang kembali dan perasaannya mulai damai. Dia mengambil Buku Passportnya yang di taruh di sebelahnya di atas tempat tidur. Dia masih melamun dan berulang kali membuka dan membolak-balikkan halaman kemudian menutup Buku Passportnya. Ajeng teringat lagi dengan Putra, dia sangat penasaran isi hatinya Putra, terutama ketakutan selama ini yang melandanya. Entah ada angin malam apa yang terlintas di dalam pikirannya. Dia berfikir jika Buku Passportnya bisa membantu dan mengetahui yang di sembunyikan Putra selama ini. Ajeng mulai mengambil pena dan menuliskan beberapa kata di halaman pertama.
“Hai Buku Passport milikku, bisakah kamu menolongku.” Kata tulisan Ajeng yang penuh dengan kelembutan. Halaman kedua dari Buku Saku miliknya bergetar hebat, dia membalikkan halamannya.
“Aku siap membantumu selama aku bisa melakukannya.” Ucap tulisan Buku Sakunya yang berada di halaman kedua.
__ADS_1
“Bisakah kamu melihat dan mengetahui isi hati dan pikirannya Putra.”
“Oh, aku mengerti maksudmu. Jika cuma masalah isi hati dan pikirannya Putra, aku bisa menembusnya.” Tulisan halaman kedua Buku Passport miliknya.
“Aku ingin tahu apa yang disembunyikan Putra selama ini. Kenapa jika aku tanya dengan permasalahan yang menghinggapinya, putra selalu ketakutan. Bisakah kamu menyelidikinya untuk aku.” Ajeng mulai penasaran apa yang diketahui bukunya. Buku Passportnya bergetar lagi, dia tergesa-gesa untuk membuka halaman kedua karena dia sangat penasaran.
“Selama ini Putra dusta dengan dirimu, begitu juga dengan Grace dan Medina. Putra sangat bersalah dan menyesal dengan perbuatannya. Dia sakit jiwa dan raganya jika rahasia ini terbongkar. Apalagi sama kamu, yang Putra selalu memanggilmu dengan nama Ayu’.” Ajeng kaget, dia tidak percaya jika Putra bisa berdusta, apalagi dengan dirinya sebagai sahabat yang selalu saling jujur dan selalu saling melindungi.
“Itu tergantung kamu. Begitu juga Grace dan Medina, bisa apa enggak memaafkan dia. Sekarang, apakah mentalmu sudah siap jika aku utarakan jawaban yang kamu inginkan.” Tulisan Buku Passport yang memberikan tantangan mental kepada Ajeng.
__ADS_1
“Aku sih siap aja, memangnya apa sih yang dilakukan Putra sehingga fatal akibatnya.” Tulisan Ajeng pada halaman pertama.
“Ternyata, kemarin Putra melihatmu mandi. Dia juga berdusta jika telah mengikrarkan sumpah. Kamu tahu, sumpahnya Putra selama ini palsu kepada kalian, Masih ada lagi.....” Ketika Ajeng membaca kata-kata ini yang belum selesai dibacanya, dia menutup Buku Passportnya dan menaruh di atas kasurnya. Ajeng menangis sedih, dia marah dan malu apa yang diperbuat oleh Putra.
“Putra. Apa yang kamu lakukan selama ini Put. Kamu dusta, kamu jahat. Kamu telah melihatku mandi. Dan kamu pun bersumpah di hadapanku, tapi sumpahmu palsu. Jahat...jahaaa....ttt kamu Put. Selama ini aku membelamu, ternyata selama ini Grace dan Medina benar jika kamu melihat kita yang sedang mandi.” Ajeng menangis sesenggukan dengan hebat. Ajeng tidak percaya jika Putra sangat tega terhadapnya. “Jadi selama ini dia melihatku mandi, dan juga melihat Grace dan Medina mandi. Putra betapa bodohnya kamu ini, pasti sampai saat ini kamu melihat aku mandi tadi sore dengan Buku Sakumu. Aku nggak akan memaafkanmu Put untuk selamanya. Apapun caramu untuk meminta maaf kepada kita, aku nggak rela memaafkanmu. Hati ini sudah hancur, persahabatan kita telah runtuh. Kamu penjahat Put, kamu pantasnya di penjara dan diadili seumur hidup bahkan kamu pantas mati di tiang gantungan.” Ajeng marah dan malu. Dia mulai membayangkan ketika dia mandi tidak memakai baju dilihat seperti tontonan murahan, seperti hewan sapi yang berada di kubangan ditonton oleh Putra. Ajeng juga membayangkan Putra yang cekikikan dan tertawa melihat tubuhnya di konsumsi olehnya. Ajeng marah dan berteriak keras malam itu. Dia tidak terima di lecehkan sama Putra, sahabatnya sendiri yang seharusnya bisa melindunginya malah dia menikam dari belakang. Ajeng tidak bisa tidur, dia masih menangis histeris. Dia mulai berdiri dan membuang semua buku dan gelas yang berada di meja belajarnya. Dia marah dan kecewa, dia berteriak memanggil Putra yang jahat, akhirnya Ajeng kecapaian sendiri. Dia duduk lemas di pojok ruangan di bawah jendela. Ajeng masih menangis sampai jam dua pagi. Dia menangis, menangis dan menangis. Ketika dia sedang marah, CD player miliknya memutarkan musik secara otomatis. Suara musik itu dari lagunya MAHADEWI yang berjudul JANGAN TUSUK AKU DARI BELAKANG. Mendengar lagu ini, Ajeng makin kecewa dengannya dan marahnya makin memuncak. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 30).
Akhirnya Ajeng ketiduran sambil duduk bersandar di dinding. Dia tertidur di bawah jendela yang di bawahnya terdapat karpet lembut dan halus yang sangat hangat. Terasa nyaman untuk tubuhnya yang mulai lelah dan putus asa. Ketika Ajeng tidur pun memanggil nama Putra yang jahat. Air matanya Ajeng juga masih mengalir. Dia shock dengan kejadian yang dialaminya. Dia masih tidak percaya apa yang dilakukan putra, sahabat yang dicintainya.
Di malam yang semakin larut, ketika Ajeng tidur bersandar di dinding. Begitu juga Grace yang tidur di kasur kamarnya dan Medina yang tertidur di atas kasurnya. Tiba-tiba ketiganya di teror dengan makhluk yang sangat jahat. Makhluk ini akan menghabisi nyawa mereka. Ternyata, tamu tak di undang itu adalah Roh Gentayangan yang mulai mendatangi mereka. Nampak sekali arwah-arwah orang yang beribu-ribu tahun mati mendatangi mereka. Tubuh Roh Gentayangan ini pucat pasi, ada yang berupa tengkorak, ada yang tubuhnya sudah tidak utuh, ada juga kepala saja yang melayang-layang. Tangan-tangan yang terpotong mulai merangkak mendatangi tubuh mereka. Bahkan ada yang datang berupa jeroannya manusia, jantung yang melayang-layang, usus yang telah terurai dan paru-paru yang dihinggapi belatung. Semua makhluk ini baunya busuk bukan main yang bisa menusuk dan merusak rasa penciuman yang dimiliki hidung.
__ADS_1
Sungguh malang nasib Grace, Medina dan Ajeng. Makhluk-makhluk ini mulai mengerubunginya yang masih tidur dan tidak sadar. Sampai akhirnya ketiganya terbangun, kaget dan ketakutan apa yang dilihat dengan kedua matanya. Di depan mereka ada mata yang meloncat-loncat ke mukanya Medina ketika masih tidur. Tangan-tangan yang memegangi tubuhnya Grace di atas kasur. Ada juga tubuh yang tidak utuh menindih Ajeng di lantai. Ketiganya mulai sadar dengan kamarnya yang penuh keanehan. Ketiga gadis cantik ini berteriak sangat kencang dengan rasa takut yang menderanya. Bahkan badan mereka pun tidak bisa untuk digerakkan. Ketiganya menjerit-jerit sejadi-jadinya, memanggil-manggil keluarga mereka. Memanggil Mama dan Papa mereka, bahkan sampai memanggil pembantunya. Ketiganya Putus asa karena yang diharapkannya tidak kunjung datang juga ke kamar untuk menolong mereka. Tiba-tiba pintu ketiga kamarnya dibuka, Grace, Medina dan Ajeng mengira jika yang datang Papa dan Mamanya. Setelah kamar itu terbuka lebar-lebar dan dibanting dengan keras, ketiganya sadar yang datang bukan keluarga mereka. Melainkan sosok hitam yang memakai jubah melayang-layang membawa tombak. Di atas tombaknya ada pisau yang melengkung ke depan.
Makhluk ini mendatangi Grace, Medina dan Ajeng. Roh gentayangan yang tadinya mengerubungi mereka berteriak menjerit secara histeris yang sangat menyayat hati. Roh gentayangan menjerit sejadi-jadinya melihat makhluk berjubah yang melayang-layang mendatanginya. Grace, Medina, dan Ajeng bisa terlepas dari cengkraman roh gentayangan. Ketiganya menutup telinganya sambil berlari ke pojok ruangan dan menutup mata mereka yang ketakutan setengah mati. Roh gentayangan telah menutupi ruangan kamar mereka sedari tadi dan bertambah-tambah banyak. Roh gentayangan itu bergerak ke arah mereka yang duduk di pojok kamar sambil menutup telinga dan matanya masih di pejamkan.