
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
“Maafkan kami Tante, maafkan kami Om jika kami telah melukai hatinya Putra, dan membiarkannya.” Grace dan Medina meminta maaf kepada kedua Orang Tuanya Ajeng.
Malamnya mereka bertiga tidur bersama di atas kasur yang lembut dan hangat di dalam rengkuhan kamarnya Ajeng terselimuti dengan kedamaian dan ketenangan. Grace dan Medina tidurnya di pinggir sedangkan Ajeng berada di tengah mereka. Di tengah malam yang sunyi, mereka bertiga tidur dengan pulas. Suara burung hantu yang mengintai dari tidur manusia membangkitkan aura roh yang ingin saling bertemu, Grace, Medina dan Ajeng bermimpi yang sama. Entah ini disebut hubungan batin atau apa. Di dalam mimpi yang sama mereka bertiga bangun dari tidurnya, mereka saling mengenal satu sama lain. Mereka bertiga duduk di kasur, tiba-tiba kamar Ajeng di ketuk seseorang dari luar.
“Ajeng kamarmu di ketuk seseorang, mungkin itu Mamamu.” Ucap Grace di dalam mimpi.
“Ajeng suruh masuk aja, siapa tahu itu sangat penting.” Kata Medina di dalam mimpi. Tidur mereka pulas dan tenang sekali, tidak seperti malam-malam sebelumnya.
“Masuk aja enggak di kunci kok.” Ucap Ajeng yang duduk di kasur di antara Grace dan Medina. Pintu dibuka, mereka bertiga kaget sekali. Ternyata Putra datang dengan luka di kepalanya yang berdarah. Seluruh bajunya ternoda dengan darahnya, Putra tersenyum kepada mereka yang duduk di kasur. Putra mendatangi mereka, wajah Putra sangat pucat, ketika mereka bertiga menyentuh tangannya Putra rasa dingin terselimuti kamarnya Ajeng. Mereka bertiga tahu jika tubuh Putra dingin. Mereka bertiga menangis melihat Putra yang seperti ini.
__ADS_1
“Put kamu sekarang tinggal dimana dan kenapa kamu masih berdarah.” Tanya Grace. Putra hanya diam dan tersenyum kepada Grace.
“Put, sakitkah lukamu itu. Sakitkah. Sini Put biar kita obati.” Ucap Medina yang menangis sedih. Putra hanya tersenyum kepada mereka, dia tidak menjawab.
“Put, kenapa kamu diam saja. Apakah kamu marah sama kami. Sini Put duduk diantara kita bertiga.” Ucap Ajeng yang memandangi wajahnya. Putra kembali tersenyum dan memegangi kedua bahunya Ajeng yang duduk di apit Grace dan Medina. Dia membungkuk di depannya Ajeng, mereka berdua saling bertatap muka.
“Ayu’, sahabatku. Maukah kamu memaafkan kesalahanku. Kesalahan yang telah aku lakukan. Din maafkan sahabat barumu ini, terima kasih Grace engkau telah memaafkan aku ketika itu. Aku tahu aku salah telah membohongi kalian dengan sumpah itu, jika aku jujur pun kalian pasti membenci aku. Grace, Medina dan kamu Ayu’, kamu tahu sanksinya apa dengan sumpah itu. Kamu pasti tahu isi sumpahku ketika kita berempat chating ya kan, kamu masih ingatkan.” Ucap Putra yang memandangi wajah ketiganya satu persatu.
“Jika kamu berdusta, maka maut akan menjemputmu Put.” Ucap Grace, Medina dan Ajeng yang tidak sadar. Mulut Mereka bertiga seolah-olah begerak sendiri. Mereka bertiga menangis jika Putra akan pergi untuk selamanya. Mereka tidak rela jika Putra akan tiada di malam yang sunyi ini. mereka sedih dan menangis jika Putra akan mati.
“Aku memaafkan segala kesalahanmu Put.” Ucap Ajeng yang menitikkan air mata. Putra berdiri dari membungkuk yang tadinya memegang bahunya Ajeng. Putra melihat wajahnya Medina yang duduk di sebelahnya Ajeng.
“Bagaimana dengan kamu Din, maukah kamu memaafkanku.”
__ADS_1
“Aku memaafkanmu Put. Kamu enggak bersalah, malah kamu sangat baik banget dengan kita, ya kan Ajeng ya kan Grace.” Ucap Medina. Grace dan Ajeng menganggukan kepalanya.
“Sekarang aku bisa tenang dan damai. Jaga diri kalian ya, aku akan pergi. Relakanlah kepergianku, sahabatmu ini yang menyayangi kalian. Selamat tinggal semuanya.” Putra tersenyum kepada mereka, dia membalikkan badannya. Putra melangkahkan kakinya, baru berjalan tiga langkah, Ajeng berlari dan menubruk tubuhnya Putra dari belakang. Dia menangis dan memeluknya sangat erat sekali di belakang tubuhnya Putra.
“Put, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku enggak rela kamu pergi begitu saja. Putra, aku mencintaimu, aku sangat menyayangimu. Jangan tinggalkan aku Put, jika kamu pergi juga, ajaklah aku untuk pergi bersamamu. Put nafas yang kamu berikan ini adalah nafasmu, kita sekarang sudah menjadi satu tubuh dan satu jiwa. Kamu adalah belahan jiwaku dan akupun belahan jiwamu, jangan pergi Put. Kamu jangan mati, aku mencintaimu. Aku selalu bermimpi kamu mecium bibir merahku ketika aku enggak sadar ketika itu yang dirimu memberikan nafas buatan untukku ketika aku mati, mimpi ini selalu berulang Put. Aku menderita jika enggak ada kamu. Jangan mati Put, bertahanlah kamu disana dan hiduplah untuk cinta kita berdua.” Kata Ajeng. Dia masih menangis di pelukannya Putra. Dia memeluknya sangat erat tidak mau melepaskan tangannya, takut jika dia benar-benar pergi untuk selamanya. Putra berputar dan memeluk Ajeng yang menangis. Ajeng menciumi kedua pipinya Putra yang masih ada noda darahnya. “Aku mencintaimu Put, jangan pergi ya. Aku pasti akan menyayangimu sampai kapanpun.”
“Benarkah itu Yu’, tapi sayang sepertinya sudah terlambat. Aku sudah di tunggu kedua Orang Tuaku di alam sana. Aku juga mencintaimu Yu’, aku bersukur dengan nafas pemberianku kamu bisa hidup lagi. Tapi kamu enggak tahu yu’, sebenarnya aku telah menjual nyawaku kepada Tuhan agar kamu bisa hidup di dunia. Sebagai gantinya aku rela jika nyawaku diambil asal kamu hidup bahagia dengan tunanganmu Yu’. Aku sangat mencintaimu, tapi apa daya dengan takdir ini, semua telah di atur oleh Tuhan Yu’.” Ajeng masih menangis dan memeluk sangat erat. Ajeng mencium lagi, kali ini dia mencium bibirnya Putra lama sekali dan berkali-kali.
“Put kamu jangan pergi, kamu tetap disini. Grace, Medina, pegangi tubuh Putra agar dia tetap hidup dan dia tinggal di kamar ini. cepat Grace, cepat Din agar dia enggak pergi dari sisi kita, agar dia engak pergi keluar dari pintu itu.” Kata Ajeng yang menyuruh keduanya untuk memeganginya. Grace dan Medina mulai sadar, keduanya bangun dari tidurnya. Air mata mereka berdua mengalir deras. Mereka duduk di kasur dan melihat Ajeng yang masih memangil-manggil nama Putra.
“Putra jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu Put. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.” Kata Ajeng yang masih tidur dan memanggil-manggil nama Putra. Grace dan Medina membiarkan Ajeng yang masih mengigau agar dia bisa puas melihat Putra untuk terakhir kalinya. Mereka berdua menangis sedih melihat Ajeng yang menangis, terisak, berteriak memanggil Putra. Ajeng bangun dari tidurnya, dia duduk dan memeluk mereka berdua.
“Grace Putra Grace, Din Putra Din. Dia meninggalkan diriku, dia meniggalkan kita. Aku baru sadar jika aku sangat mencintainya. Aku sangat mencintainya, dialah yang seharusnya menjadi tunanganku. Dialah yang seharusnya menjadi jodohku, dialah belahan jiwaku. Dia telah menjual dirinya untuk menghidupkan aku yang sudah mati, dialah yang menggantikan aku untuk mati, aku baru sadar jika diriku telah mati waktu itu. Kenapa harus begini, Put maafkanlah aku Put. Kenapa pertemuan terakhir kita seperti ini, Putra...putra...Putra....Aku cinta mati sama kamu, jangan mati put....” Kata Ajeng yang menangis di pelukan mereka berdua. Grace dan Medina juga menangis. Di malam yang kelabu untuk di rasakan, hapenya Ajeng berbunyi, ternyata alarm menyala dari hapenya. Seolah-olah hapenya turut empati dengan nasib yang di alami Putra yang mati di dalam mimpinya Ajeng. Terdenagr suara musik dari MP3 di hape. Lagu dari Group Band D’MASIV yang berjudul CINTA INI MEMBUNUHKU yang mengalun di malam yang redup dalam perpisahan yang terakhir untuk sahabat yang saling menyatu, Ajeng dan Putra. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 41).
__ADS_1
Ajeng tidak kuat, tiba-tiba tubuhnya terkulai, dia pingsan di pelukan sahabatnya. Jam dua malam mimpi itu menyelimuti tidur mereka. Ajeng di tidurkan kedua sahabatnya di atas kasur dan menyelimuti tubuhnya. Air matanya Ajeng masih menetes di pipinya. Ajeng masih terbayang dengan Putra yang sangat di cintainya. Grace dan Medina memanggil kedua orang tuanya Ajeng, keduanya menceritakan kejadian mimpi itu. Mamanya Ajeng memeluk Ajeng yang pingsan, dia juga menciumi pipi dan keningnya Ajeng. Papanya hanya bisa memegang tangannya Ajeng yang terkulai tidak berdaya. Lagu dari alarm hapenya Ajeng berhenti. Tiba-tiba hapenya Ajeng menyala sendiri, terdengar suara musik lagi. Suara merdu dari GITA GUTAWA mengalun di malam itu. GITA GUTAWA membawakan nyanyian Bidadari ALUNAN SEBUAH LAGU di dalam hapenya Ajeng. Hapenya ikut sedih jika belahan jiwa majikannya telah tiada di dalam mimpinya. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 42).
##T##