
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
.......TUJUH METEOR......
WASPADA LAH, hari semakin sore dan malam mulai terbangun dari tidurnya. Tubuh merinding dengan nyanyian bidadari-bidadari yang terkena kutukan pada malam hari. Bidadari yang berwajah buruk rupa telah meniupkan permusuhan, yang dulunya cinta mati menjadi dendam yang membara. Rasa hati ini teriris sedih, ku menangisi hidup ini yang menderita. Aku telah kalah dalam egoku untuk mendapatkan arti cinta. Telah aku hunus sumpahku untuk ku persembahkan junjunganku yang berwajah segawon bermoncong salju merah yang membara. Aku jual cintaku untuk mendapatkan ambisiku, maafkanlah aku adinda jika hatimu terluka dan tubuhmu hancur terkoyak kebringasan nafsuku, terkulai lemah wajahmu yang telah hancur dalam kebringasan serigala bermata merah. Aku pantas di kutuk, aku memang pantas dikutuk. Poligami yang terbentur pagar kehidupan, kehidupan yang menipu dirimu untuk menyerahkan seluruh ragamu kepadaku. Aku telah menikmatinya dan aku pula yang menghancurkanmu adinda, oh dua bidadariku yang tak tahu apa apa. Yang menjadi tumbal keangkuhanku, keangkuhan rasa dan ingin yang tak tercapai hanya sebuah manusia yang bisa pergi dan melayang-layang dalam tiga alam berbeda yang berada di bumi terselimuti jubah hijau indah. Maafkanlah aku, ampunilah aku. Oh Tuhan, hamba salah telah menghambakan diriku kepada nafsuku. Adindaku yang cantik maafkanlah perlakuan kakandamu ini yag kamu cintai apa adanya. Aku telah menjualmu dan aku pun telah lama mati, hatiku beku dan terinjak-injak keserakahan. Terkutuklah aku, terkutuklah aku seorang lelaki yang pengecut dalam kehidupan.
Sebarkanlah berita, beritahukanlah kepada khalayak ramai. Kekasih Baginda Iblis telah datang menghadap beliau, beliaulah seorang Raja baru penghuni kedua yang telah lama terkutuk dalam hidupnya. Telah lama berselang penipuan yang telah dia lakukan hanya untuk kesenangan mendapatkan tumbal manusia, yang kurang beruntung dalam hidupnya yang di jadikan budak. Sudah lama berselang tubuh manusia terkoyak dan di makan para pengikutnya hanya atas nama dendam terhadap bapak pertama kita. Tujuh meteor menerkam bumi, ingatlah...ingatlah...kutukan telah datang. Segeralah bertindak dan mengungsilah jika kamu sudah sadar dari tidur panjangmu yang membuat rambut indahmu tumbuh memanjang sepoi-sepoi di belakang badanmu terkena angin berapi yang di hembuskan dari moncong naga yang hidup lama di neraka. Jagalah seluruh cucu-cucumu untuk menikmati sesuap roti putih yang belum di kutuk olehnya.
iiiii
__ADS_1
YOGJAKARTA, TAHUN 1928...
DI TENGAH kesunyian samudra bagian selatan yang dalam, beberapa kapal nelayan pencari ikan di laut selatan tepatnya kawasan Baron Gunung Kidul Yogyakarta, nampak terombang ambing dilanda badai. Ketika malam Jumat Kliwon tanggal lima belas Jawa, Bulan Suro yang di sakralkan oleh sebagian Wong Jowo sebutan untuk Orang Jawa. Badai begitu kencang dan hujan yang besar diliputi oleh petir yang menyambar-nyambar dan suara guntur yang memekakkan telinga membuat kecut hati manusia yang paling berani sekalipun. Hujan itu menjadi air bah yang jatuh ke samudera dengan deras. Ini bukan badai biasa karena menurut prakiraan cuaca oleh Ahli Meteorologi dan Geofisika dari United Kingdom, bahwasanya kawasan laut selatan yang dimulai untuk wilayah Australia menuju Asia Tenggara terdapat sekumpulan awan hitam gelap pekat yang sangat ganas. Makin puncak malam makin besar ombak yang digerakkan oleh tiupan tangan-tangan besar angin topan.
Lima meter ombak menggulung tiga kapal nelayan yang ukurannya mungil tersebut dan setiap kapal nelayan tersebut dihuni tiga Awak kapal. Hentakan dan dentuman ombak saling berbenturan satu sama lain, terombang-ambinglah tiga kapal itu tanpa tujuan yang tak pasti. Air laut mulai masuk ke dalam kapal nelayan, berulang kali para nelayan membuang air ke laut sambil meraba dan berpegangan dengan tiang kapal, mereka mulai menguras berkali-kali.
Dua kapal nelayan yang tersisa semakin bergerak ke selatan dalam naungan samudra yang tak bertepi. Di tengah samudra yang dalam, kapal yang satunya terkena ombak yang dahsyat dan terbalik. Dua awak kapal yang terbalik itu berteriak-teriak secara histeris, mereka mulai tenggelam. Tangan-tangan nelayan itu mulai mengepak-ngepak seperti burung yang tenggelam dan menggapai-nggapai ke atas langit kosong. Namun, tidak ada yang menolong dan tidak ada perubahan. Mereka masih berada di dalam air laut, terombang-ambing sambil berteriak meminta tolong.
“Tolong tolong tolong, aduh...aduh...kakiku kram aduh...aduh...” Kata nelayan yang pertama. Tangannya sambil memegang kakinya yang sakit. Tapi malah memperparah keadaan karena badannya mulai tenggelam. “Jaka...tarik akuuu...” Dengan teriakan yang sangat keras, sampai mulutnya kemasukan air laut sehingga suaranya seperti gelembung air yang mendidih.
__ADS_1
“Uhuk uhuk aku juga sama, air laut masuk ke mulutku,” Kata nelayan yang kedua. Nelayan ini kepalanya sudah tenggelam ke dalam laut. “Paimiiin, Jaka kemana?” Sambil berenang mendekati Paimin yang kakinya kram dan sudah mulai pucat pasi.
Kedua Nelayan itu, terombang-ambing di tengah samudra tanpa pelampung dan tanpa pegangan untuk bertahan berada di tengah laut sekedar untuk berenang agar leher dan kepala tidak sampai tenggelam. Sedangkan Jaka telah melayang-layang di atas laut sambil tertawa melihat teman mereka tenggelam. Jaka merasa puas teman mereka telah mati. Akhirnya kedua nelayan itu tewas tenggelam di tengah samudra yang sangat ganas, yang telah ditutupi oleh awan hitam pekat serta hujan yang deras diiringi dengan guntur yang bertalu-talu dan kilat yang menyambar-nyambar.
Makhluk berjubah hitam dan berkepala serigala di atas para nelayan juga ikut tertawa sebagaimana Jaka yang tertawa puas. Kapal nelayan yang satunya masih berada di atas laut, para awak kapal ketakutan melihat makhluk ini sambil berpegangan di karenakan takut jatuh terkena ombak yang ganas. Penumpang Nelayan ini terdiri dari satu laki-laki yang sudah mulai tua dan beruban rambutnya, dua gadis anak para nelayan yang sudah tenggelam dan satu kepala kerbau juga satu tumpeng berisi nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya. Serta bunga setaman dan sebotol minyak yang didatangkan dari Mesir yaitu minyak Firaun harganya setara untuk saat ini tujuh ratus tiga puluh dolar Amerika. Bapak mereka dari para gadis ini satu kapal kecil dengan Jaka yang sudah tenggelam. Memang di sengaja oleh Jaka, kapal itu telah dilubanginya. kakek ini yang bersama dengan para gadis adalah sesepuh di desanya dan akan mengadakan upacara memohon berkah di tengah laut pada malam hari. Orang tua itu kaget, gemetar, ketakutan, juga para gadis pucat pasi takut luar biasa melihat makhluk berjubah berkepala serigala berbulu merah serta keadaan Jaka yang melayang-layang di udara memperlihatkan keangkuhan ilmunya.
“Wahai sesembahanku dan tuanku yang agung, hamba datang kesini akan mengadakan untuk kalian bagindaku sebuah upacara kehormatan dengan maksud mendapatkan berkah kalian.” Kata kakek ini. “Telah ku persiapkan sebuah kepala kerbau, nasi tumpeng secara lengkap beserta lauk pauknya dan juga sebotol minyak wangi Firaun atas pesanan baginda, hamba mohon maaf jika ada salah bicara ampunilah hamba tuanku baginda.”
“Ha..ha..ha..ooo..begitu rupanya tapi aku bukanlah sesembahanmu dan sesembahan kalian belum datang kesini.” Kata makhluk ini sambil mengacungkan sebuah tombak ke arah kakek tua yang berada di atas kapal kecil. Seketika itu juga Jaka tertawa sangat keras dan juga Jaka mengumpat kepada kakek ini dengan makian yang menjijikkan sehingga menimbulkan kebencian pada kakek yang sangat terhadap Jaka.
__ADS_1