Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
29. Bermalam Dengan Sang Pangeran 4


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Maafkan aku Yu’, aku pikir kamu marah gara-gara kejadian itu. Ternyata ini salah paham saja ya.” Putra mengambil sekuntum bunga yang di selipkan di jaketnya dan sebuah coklat yang dibungkus sangat rapi dan elegan. “Sebagai tanda maafku, ini Yu’ aku bawain bunga mawar dan coklat. Jangan salah loh Yu’, mawar dan coklat ini sebagai tanda persahabatan agar nantinya persahabatan kita lebih erat lagi. Benar begitu kan Yu’.” Kata Putra untuk memastikan pemberiannya diterima Ajeng.


“Apa ini Put, wah kamu romantis sekali sih. Tapi aku masih marah loh Put sama kamu. Udah nggak memberikan kabar eee..malah pergi begitu saja dari sisiku. Aku sedih tau’ kehilangan kamu.” Kata Ajeng yang menerima pemberian dari Putra. Dia mencium bunga mawar dan menyimpan coklat pemberiannya.


“Benarkah Yu’, kamu merindukanku. Aku pikir kamu masih marah sama aku, sehingga kamu nggak sudi bersahabat dengan aku yang baru kesepian dengan kesendirianku ini.” Kata Putra yang sudah berani memegang tangan kanannya Ajeng yang sangat indah dan putih. “Jadi, jika malam itu aku meminta ijin sama kamu. Aku boleh menciummu ya Yu’.” Kata Putra agak takut dengan pertanyaan ini dan akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya. Sebenarnya dia penasaran kalau minta izin dibolehin apa enggak mencium Ajeng. 


“Enak aja. Jelas nggak boleh lah. Emangnya aku cewek apaan. Aku kan cewek yang sangat mahal sekali, tidak hanya sekali bahkan berjuta-juta kali tau’. Bukan hanya dinilai dengan materi apalagi fisik yang indah, akan tetapi dinilai dengan cinta yang paling dalam sekali di hati sang kekasih. Emangnya kamu punya cinta semacam itu, kamu kan nggak cinta sama aku. Lagian kita kan masih kecil Put, belum pantas pacaran. Nanti dikira kita monyet lagi, gara-gara kita dilanda cinta monyet tau’.” Kata Ajeng yang ketus sama Putra. Dia pun tidak ada feeling sama sekali dengannya, jika Putra itu sangat cinta mati sama dia.


“Yah...!! Enggak boleh ya.” Kata Putra agak kecewa. Namun, dia sangat bersyukur karena dia sudah merasakan ciuman ke pipinya gadis yang dia cintai, walaupun harus marahan sama dia. “Untung saja aku nggak minta ijin dulu sama Ayu’, jika saja aku minta ijin pastinya nggak boleh. Kadang menjadi pencuri cinta itu ada enaknya juga ya. Walaupun itu ilegal jika di pandang hukum pacaran, apalagi hukum persahabatan.” Kata Putra yang melamun sambil tersenyum sendiri. Ketika putra melamun Ajeng memperhatikan wajahnya Putra. Di dalam hatinya Ajeng, ada perasaan aneh. 

__ADS_1


“Ih Putra kok kelihatan cute banget yah kalau melamun.” Kata Ajeng yang masih memperhatikan Putra. Nah semacam inilah benih-benih cinta bersemi dan nantinya akan tumbuh menjadi pohon cinta yang banyak sekali buah-buah cinta. “Kamu melamun apa Put, jangan melamun jorok ya.” Kata Ajeng yang mengagetkan Putra sambil menyentuh bahunya. Seketika itu, Putra kaget dan salah tingkah di buatnya. “Put aku mohon, jangan kamu ulangi lagi ya semacam itu. Aku risih tau’. Kamu main peluk dan cium, aku nggak mau put. Janji ya Put sebagai sahabat dirimu yang selalu melindungi gadis cantik sahabatmu yang berada di sisimu. Kamu sering aku anggap sebagai gadis paling cantik iya kan.”


“Iya deh, aku janji.”


“Janji apa Put.”


“Janji enggak akan menciummu lagi sampai ada ijin sama kamu, betul kan begitu.” Ajeng mencubit pinggangnya Putra sangat keras, kulitnya Putra sampai memerah bekas cubitan. Dia pun menjerit merasa kesakitan.


“Walaupun kamu minta ijin pun, aku nggak akan ngasih, tau’. Salah, ulangi lagi janjimu itu.”


“Ih serem banget sih Put, sampai maut menjemput. Emangnya aku ini malaikat maut apa. Sudahlah, pokoknya kamu nggak boleh mencium aku. Aku merasa risih dicium apalagi sama kamu.” Kata Ajeng yang marah sambil melemparkan bantal kursi kepada Putra yang mengenai mukanya.


“Aduh, iya deh iya. Aku nggak akan melakukan hal yang gituan lagi. Lagian, emangnya hidup seperti itu terus apa.” Mereka berdua diam dan membisu agak lama, sambil melamun.

__ADS_1


“Putra, kita ke belakang aja yuk ngobrolnya. Kalau kita berada di taman lebih asik deh.” Ucap Ajeng yang menggandeng tangannya Putra mengajak dia untuk ikut Ajeng. Ketika Putra di gandeng Ajeng, Putra deg-degan dan bahagia sekali. Di belakang rumahnya Ajeng, nampak ada taman yang sangat indah sekali, ada juga kolam renang dan kolam ikan. Letak kolam ikan di bawah lantai terasnya yang terbuat dari kayu berongga. Mereka duduk berada di atas teras ini yang ada kolam ikannya. Sambil bercanda ria mereka asyik mengobrol. Ajeng sudah lupa dengan kesedihan yang dialami bersama dengan Putra. Begitu juga Putra mulai melupakan penderitaan selama ini yang menderanya. Mereka sangat kompak sekali, layaknya dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Namun mereka tidak sadar jika masing masing dari mereka saling mencintai. Ajeng mendapatkan sms dari hapenya, dia mulai membuka isi sms itu. Ternyata teman sekolahnya yang mengirimkan sms. Keduanya mendengarkan deringan dari hapenya Ajeng. Ringtone dari hapenya berbunyi sebuah lagu dari GITA GUTAWA yang berjudul TO BE ONE. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 24).


“Eh Put, teman-temanku dari SMK Unggulan Terpadu udah datang kemari loh.” Ucap Ajeng yang tersenyum sama Putra.


“Oh ya, pasti rame ya. Bahkan teman-temanmu pasti senang bertemu dengan Papa dan Mamamu. Pasti kedua Orang Tuamu menjadi idola bagi mereka, ya kan.”


“Iya, malahan mereka bertanya banyak loh. Misalnya, menjadi dokter nantinya itu bagaimana sih tentang keserasian hubungan kedokteran dengan dunia nyata, itu kata mereka Put.” Kata Ajeng yang menjelaskan dan menceritakan kedatangan temannya.


Mereka pun mengobrol yang lainnya sampai membahas Grace dan Medina yang berada di Jakarta. Ajeng juga membawa buku Passportnya, demikian juga Putra tidak lupa membawanya. Kemanapun Putra pergi, dia selalu ingat buku Passportnya untuk ikut serta.


Sementara itu, sahabatnya Ajeng dan Putra yang berada di Jakarta juga sudah kembali ke Jakarta. Medina sudah kembali ke Jakarta tiga hari yang lalu membawa oleh-oleh khas Bandung untuk di kasihkan kepada sahabatnya yang tercinta Grace tentunya. Demikian juga Grace membawa oleh-oleh khas dari Inggris. Ada juga titipan dari sepupu perempuan Grace yang dari Prancis berupa gaun yang sangat indah sekali untuk di berikan Medina agar Medina tidak sedih lagi. Grace Alexa Widawati sudah kembali ke Jakarta satu hari yang lalu. Dia datang ke rumahnya Medina karena dia sudah kangen banget ingin bertemu dengan Medina. Dia akan datang membawa cerita yang seru yaitu pengalaman menaiki kapal pesiar tujuan Jakarta yang transit dulu di singapura kemudian menuju ke Inggris pulang pergi. Jarang-jarang Grace menaiki kapal laut, biasanya dia naik pesawat terbang. Pagi itu hapenya Medina berdering, dia pun mengambil hapenya yang di taruh di atas kasurnya, kemudian mengangkatnya. 


“Siapa sih yang nelpon, oh Grace ya.” Dia berbicara sendiri, kemudian hapenya diangkat sambil tiduran di kasur.

__ADS_1


“Halo Medina sayangku, gimana kabarmu baik kan.” Kata Grace yang menelepon medina lewat hape untuk memastikan kalau Medina berada di rumah. Kali ini Grace tidak memakai buku Passportnya untuk menghubungi Medina.


__ADS_2