Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
8. Grace Alexa Widawati


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


...... GRACE ALEXA WIDAWATI......


Malam hari Grace dan Medina bingung harus cari bahan-bahan yang ditugaskan dari sekolah mereka. Karena mereka tinggal di kawasan perumahan elit dan tinggal satu komplek, maka bagi mereka mudah saja untuk saling bertemu karena rumah mereka berbeda blok saja. 


Grace Alexa Widawati adalah sahabat Medina Syahrani. Sejak kecil mereka bersahabat sampai menginjakkan kakinya di Sekolah Menengah Atas pun tetap sama. Mereka tidak akan mudah dan tidak akan terpisahkan, dimana ada Grace disitu juga ada Medina.  Grace adalah wanita yang sangat cantik sekali, begitu juga Medina yang tak kalah cantiknya dengan Grace. Dahulu di masa kecil mereka berdua suka mengoleksi dan bermain-main dengan boneka barbie, setelah mereka remaja mereka suka mengoleksi baju-baju yang sangat anggun yang menjadi trend masa kini. Mereka juga suka membeli buku-buku desain baju, akhirnya mereka berdua memutuskan sekolah tambahan atau les mendesain baju dan kostum. Mereka berdua pun mempunyai aliran berbeda dalam mendesain, jika Grace suka aliran dari Paris Perancis yang selalu desain bajunya menjadi trend setter dan mengglobal di dunia. Sedangkan Medina lebih suka aliran jepang terutama harajukunya, baik itu model kostum sampai model rambut. Grace dan Medina sangat fanatik sekali dengan desain yang mereka cintai dengan seluruh hati dan jiwanya. 


Semenjak dia mulai remaja, Grace ada kecenderungan untuk menyukai model baju kedaerahan atau kesukuan terutama dari Jawa. Maka dari itu dia memutuskan masuk Sekolah Menengah Atas mengambil jurusan Bahasa. Dia ingin mendalami berbagai bahasa daerah yang ada di indonesia, karena suku bahasa dan budayanya yang jumlahnya lebih dari ratusan. Dia sangat senang sekali dengan batik, mulai dari batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan sampai daerah Jawa Timuran juga suka. Karena dia ingin sekali penduduk dunia mengenal seni membatik, dia juga bercita-cita menjadi desainer terkenal. Rencana dia sih akan belajar ke Paris kotanya para desainer terkemuka yang berada di sana, tantenya juga tinggal di sana loh. Harapan dia sih akan membikin motif batik yang lainnya, Grace juga akan mendesain bajunya sendiri. Baik itu baju musim semi, musim salju, musim gugur, musim kemarau dan musim penghujan seperti dua musim di Indonesia, bahkan baju tidur pun bernuansa batik.


Sedangkan Medina, karena dia suka aliran dari Jepang. Otomatis dia gandrung sekali dengan kartun dan manga atau komik dari negeri sakura ini. Kadang kala jiwa Medina berubah-ubah ketika mendalami karakter tokoh yang disukainya, malahan Medina membuat jengkel Grace jika penyakitnya ini mulai kambuh. Dia suka tokoh wanita yang kostumnya sangat menarik dan mencolok dari yang lain. Maka dari itu, ketika dia menyukai tokoh yang di idamkannya seketika itu juga medina mengajak Grace untuk membuatnya menjadi kostum yang nyata untuk dikoleksi. Medina juga mengajak bahkan sedikit memaksa Grace untuk mengikuti perkumpulan pecinta manga yang selalu anggotanya memakai kostum dari manga tersebut. Mereka berdua senang sekali berjalan-jalan di mall juga distro maupun butik. Tujuan mereka adalah mempelajari desain baju yang sedang ngetrend di Indonesia. Bahkan mereka juga suka pergi ke negara Singapura. Katanya sih menjenguk tantenya Medina yang disana. Padahal tujuan mereka adalah memburu desain baju yang sedang ngetrend di dunia. Mereka berdua beralasan di Singapura juga tempat model-model baju yang paling baru. Jika mereka suka dengan baju tersebut dan itu susah untuk di gambar di dalam pikirannya untuk di buat dirumah. Maka mereka berdua tidak ragu-ragu untuk membelinya walaupun itu harganya selangit sekalipun.

__ADS_1


Grace Alexa Widawati adalah berdarah campuran, karena papanya orang Jawa tulen dan maminya dari putri Inggris. Papanya Grace adalah seorang direktur perusahaan handphone terkemuka di Indonesia. Sedangkan maminya adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam yang bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sahabat grace yang bernama Medina Syahrani adalah berdarah lokal campuran. Karena papanya Medina dari Jawa kebangsawanan dan maminya Medina dari putri Sunda. Papanya Medina adalah saudagar kaya raya, papanya juga memiliki perusahaan yang lumayan banyak dan juga papinya orang penting di negeri ini. Sedangkan maminya Medina juga seorang dokter teman kuliah maminya Grace semasa kuliah di Inggris. Mamanya Medina juga mengambil bidang yang sama dengan maminya Grace.


Setiap tahun sekali Grace Alexa Widawati selalu pulang kampung ke rumah neneknya yang berada di Inggris. Dia selalu mengajak sahabat sejatinya Medina Syahrani tentunya. Ketika mereka berdua di Inggris, biasanya mereka suka berkeliling ke pelosok negeri ini ditemani dengan sepupu laki-laki Grace yang berada di inggris. Setelah mereka puas melancong di Inggris, mereka berdua liburan ke rumah tantenya Grace yang berada di Paris, Perancis. Sejak kecil kedua gadis ini memang senang dengan desain baju karena tantenya Grace mempunyai butik di sana dan dia adalah desainer terkemuka di Paris. Untuk itulah di hati kedua gadis ini ingin sekali memimpikan mempunyai butik sendiri yang dikelola bersama-sama, tentunya tinggal di Paris kota yang di cintai mereka berdua. Di Paris, tantenya juga mempunyai anak yang seumuran dengan Grace dan Medina. Gadis Perancis ini juga cantik banget, namun dia adalah gadis tomboy luar biasa semasa kecilnya. Berkebalikan dengan mamanya yang seorang desainer, tentunya setiap hari keindahan bajunya terpancar dengan model-model baru bikinannya sendiri. Entah sekarang apakah dia berubah menjadi gadis anggun atau tidak. Semenjak mereka menginjak remaja, mereka jarang bertemu lagi. Jika mereka liburan di Paris, sepupu Grace yang tomboy ini selalu mengajak mereka berdua ke negeri kincir angin Belanda. Katanya sih ingin menjenguk nenek dari sepupu Grace, padahal mereka bertiga Grace, Medina dan sepupunya Grace yang dari paris suka jalan jalan saja di Eropa. Bisanya sepupunya Grace yang dari Paris bangga dengan dirinya sendiri sambil menunjukkan keanggunan dan keindahan kota-kota tua yang berada di Eropa. Karena cita-cita dia besarnya nanti menjadi seorang Arkeolog. Dengan harapan menemukan hal-hal baru yang telah menjadi purba dan hilang tertutupi bumi setelah beratus ratus tahun dimakan zaman.


Persahabatan mereka tidak hanya dari Sekolah Menengah Pertama saja. Malahan persahabatan mereka sejak dari kecil, bahkan sejak dari kandungan. Disebabkan orang tua merekalah persahabatan yang sejati. Jika saja mereka berdua berlainan jenis mungkin papa dan mama mereka akan menjodohkan mereka sejak kecil, seperti dalam kisah datuk maringgih saja.


Kedua gadis cantik ini kebingungan dengan tugas Sekolah mereka, maka di panggilah bibi mereka atau pembantu mereka yang kesehari harinya di panggil bibi Ijah. Grace saat itu ke rumah Medina untuk membahas tugas dari Sekolah. Mereka berdua berada di kamar Medina yang terletak di lantai atas.


“Iya non sebentar.” Kata bibi Ijah. Dia pergi ke lantai atas menemui Medina.


“Bibi Ijah, sebenarnya Medina ngga mau ngrepotin bibi. Tapi ini ada tugas penting dari Sekolah Medina. Bibi bisa bantu kita kan.”

__ADS_1


“Bantu apaan non Medina, masa sih sama saya yang tidak pernah merasakan bangku Sekolah. Bibi kan orangnya bodoh.”


“Jangan begitu ah bi. Merendahkan diri sendiri itu namanya enggak baik.” Medina adalah gadis berhati lembut dan baik hati dengan orang lain. Apalgi jika orang itu kesusahan dan orang yang lemah, pasti sebisa mungkin dia akan membantunya. “Gini bi, semua tugas sekolah sudah kita siapin, namun kurang satu. Kira-kira beli caping itu dimana ya bi. Apalagi ini sudah malam.”


“Caping ya non. Kayaknya adik saya yang tinggal di kampung melayu punya loh non. Malahan dia berjualan peralatan seperti itu non. Kalau non Medina mau, aku bisa menelpon mereka agar nanti di antar kemari.”


“Benar itu bi. Wah bagus deh kalau begitu.” Kata Grace sambil loncat-loncat memegang tangan bibi tadi yang sedari tadi melihat Medina dan bibinya di depan pintu kamar.


“Kalau gitu biar bibi nelpon sekarang saja ya non. Sebentar lagi juga nyampe kok.” Ujar bibi yang gembira, karena bisa membantu kedua gadis yang baik hati ini. Bibi sangat sayang dan suka jika bersama dengan kedua gadis cantik ini. karena mereka sangat menghormati yang lebih tua dan tidak memandang setatus orang lain yang lebih rendah.


Paginya setelah perlangkapan mereka lengkap, mereka berdua berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Karena mereka harus berkumpul jam setengah tujuh pagi. Mereka berbaris rapi di pagi itu, sialnya separuh dari mereka mendapat hukuman karena mereka susah mencari caping di malam hari dan jarang sekali ada yang berjualan dengan peralatan seperti itu di jakarta. Mereka juga mendapatkan hukuman dengan peralatan lain yang belum lengkap. Lusanya semua peralatan dari para siswa dan siswi baru sudah lengkap. Barang-barang yang mereka bawa di kumpulkan di depan mereka, diantaranya adalah sebotol minyak sayur, beras satu kilo, mi instan dan celana jins. Semua barang yang di kumpulkan ini akan disumbangkan kepada orang yang tidak mampu. sedangakan barang seperti caping kecil, dasi dan karung beras serta sepatu untuk di jadikan perlengkapan ospek mereka sebagai lambang penderitaan bagi mereka yang menjalaninya selama satu minggu penuh. Mereka sebal sekali dengan ospek kali ini. mereka berfikir, tidak ada gunanya ospek seperti ini yang membuat perbudakan di muka bumi. Harusnya di adakan lomba dan game-game yang lebih seru saja yang lebih menyenangkan pikir Medina. Kelereng yang mereka bawa tidak berguna, karena panitia menipu mereka lagi. Ada beberapa laki-laki dari siswa baru yang marah, setelah sorenya mereka pulang, kelereng yang mereka bawa di lemparkan kepada panitia yang mulai pulang ke rumah. Sepertinya siswa ini jengkel dan dendam dengan panitia ospek.

__ADS_1


##T##


__ADS_2