Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
43. Bermalam Dengan Sang Pangeran 18


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Selama ini kamu dusta dengan kita, kamu tega Put.” Kata Grace yang memegangi bajunya Putra agar dia berdiri. Seluruh kimono yang dipakai mereka bertiga hampir copot yang tadinya menendangi tubuhnya Putra. Dia berdiri dan di tampar mereka bertiga. Putra hanya minta ampun dan menangis sedih, dia tidak mau melawan mereka bertiga apalagi melindungi wajahnya dari tangannya dengan serangan tamparan yang sangat menyakitkan. Wajahnya memerah terkena tamparan. Putra bertahan dan menahan rasa sakit di wajahnya. Pukulan ketiga gadis ini sangat keras mengenai hidungnya sehingga mimisan mengeluarkan darah, bibirnya juga lecet berdarah. Di dekat matanya putra kebiruan yang di tonjok Medina. 

__ADS_1


“Ampun, kalian jangan salah paham. Biar aku jelasin permasalahannya, setelah itu kalian boleh memperlakukan aku yang kalian kehendaki. Bahkan kalian boleh membunuhku pun aku rela. Tapi aku mohon dengarkanlah penjelasanku.” Mereka bertiga tidak menyerang putra lagi dan mendudukkan dia di sofa. Ketiganya berdiri mengerubunginya sambil mengepalkan tangannya, ingin rasanya ketiganya memukuli putra lagi yang gemas dan benci dengannya.


“Cepat bicara, pendusta. Apa yang kamu ingin omongin.” Tanya Medina yang marahnya memuncak, dia merasa risih dengan Putra yang tubuhnya dijadikan obyek olehnya.


“Udah Grace, Din. Kita biarin aja dia membusuk disini, kita tinggal pergi aja dia. Biar Tuhan saja yang menghukum perbuatan dia. Tangan kita nggak pantas mengotori orang yang berdusta dan pendosa ini. Nanti tangan kita terkontaminasi virus yang ada di tubuhnya, virus jahat dan nggak pantas untuk kita miliki. Ajeng menarik lengannya Grace dan Medina untuk pergi ke luar rumahnya yang ketiganya masih menangis dan marah. Putra dibiarkan duduk di sofa, dia masih syok dengan tindakan dan perlakuan yang tidak adil yang telah diterimanya. Ketika ketiganya marah dan memukulinya, hapenya Putra menerima telepon dari sohibnya yang bernama Gudeg. Hapenya mengeluarkan suara musik yang mengalun. Deringan hapenya masih menyala di dalam kamarnya Putra. Ringtone hapenya Putra mengalun sebuah lagu dari GITA GUTAWA yang berjudul BUKAN PERMAINAN. Putra tidak mencari hapenya karena dia masih shock dengan kejadian tadi. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 33).

__ADS_1


“Ya Tuhan, apa itu tadi. Kenapa ketiga sahabatku menjadi monster yang sangat mengerikan.” Kata Putra yang menangis sedih, dia sangat terpukul dengan tindakan ketiganya. Bahkan pukulan ini lebih berat dibandingkan kehilangan orang tuanya, terutama Ayahnya yang kemarin saja baru tiada. Dia tidak percaya dan seperti mimpi baginya. “Ya Tuhan apa salahku, apa dosaku sehingga Engkau menghukum dan menguji diriku yang saat ini lemah. Kenapa aku harus hidup seperti ini, aku nggak kuat lagi ya Tuhan. Ini fitnah yang sangat besar, ini aib yang membuatku malu bertemu dengan orang yang aku kenal.” Putra menggerayangi wajahnya yang kesakitan. “Aduh, wajahku sakit banget. Mata kananku terasa ngilu, Bibirku perih, pipiku, aduh aku pegang sakit banget. Pipiku memerah memar, tapi lebih sakit hati ini yang merasakan. Yu’, kenapa kamu tega sama aku, Grace kenapa Grace, Din kenapa Din, kalian semua perlakukan aku seperti ini.” Putra menangis lagi, tubuhnya lemas akhirnya dia pingsan di atas kursinya yang tidak kuat dengan kejadian yang dialaminya. Putra pingsan sangat lama sekali, jam tujuh malam dia terbangun. Seluruh tubuhnya kaku dan sakit, lambungnya terasa sakit, penyakit lambungnya kambuh lagi. Selama kepergian Ayahnya, dia sering telat makan. Apalagi jika obatnya telat diminum, pasti perut bagian kiri terasa sakit. Biasanya jika sampai parah dia sering pingsan dan mengeluarkan keringat dingin. Ajeng tidak tahu jika Putra sakit-sakitan, karena dia tidak tega jika Ajeng mengetahui sahabatnya sakit. “Aduh lambungku sakit banget, sepertinya aku nggak kuat untuk berdiri. Kepalaku sangat pusing, tapi aku harus ke rumahnya Ajeng malam ini juga untuk meminta maaf kepada mereka. Aku tahu aku yang salah telah melihat Ajeng mandi memakai handuk. Aku yang salah telah membohongi mereka dengan sumpah palsu itu. Sungguh sial nasibku, gara-gara Buku Passport itu malah membawa malapetaka bagi diriku. Sebenarnya aku bersumpah palsu karena takut kehilangan mereka, tapi jika aku jujur pun juga mereka akan memusuhiku. Sepertinya aku telah makan buah simalakama, takdir ini memang nggak bisa ditolak.” Putra berusaha berdiri dari kursi, dia berjalan menggerayangi dinding untuk ke dapur sambil memegangi perut sebelah kiri. Putra mengambil air putih di dalam kulkas, dia meminumnya sampai habis satu botol kecil.


Kepala Putra masih merasa pusing, dia masih kuat berjalan pelan. Di luar rumah mendung menyelimuti, sepertinya langit juga ikut sedih ikut empati kepadanya. Dia berjalan keluar rumah tertatih-tatih dan kesakitan. Ketika dia sampai di pintu gerbang, rumahnya Ajeng terasa sepi dan terkunci dari dalam. Sepertinya Papa dan Mamanya Ajeng pergi, hanya terlihat lampu di teras. Lampu kamarnya Ajeng juga menyala terang, Putra yakin jika Ajeng dan kedua sahabatnya berada di lantai atas. Putra mulai berteriak memanggil-manggil nama mereka.


“Yu’, maafkan aku. Grace, Medina dengarkan penjelasanku.” Putra berteriak di jalan, gorden kamar dibuka. Mereka melihatnya dari jendela kamar dan menutupnya kembali, lampu kamar juga dimatikan. Sia-sia saja Putra berteriak karena mereka tidak juga turun, dia masih berteriak berkali-kali hingga suaranya habis. Tubuhnya terasa lemas, lambungnya juga terasa sakit. Putra tidak kuat untuk berdiri lagi, dia duduk terkapar bersandar di pintu gerbang rumahnya Ajeng. Guntur menghibur Putra yang lemas, malam itu hujan turun deras. Angin sangat kencang, tubuhnya kedinginan. Putra terkena air hujan dan angin malam yang sangat kencang. Dia bertekad untuk berada di sana sampai mereka memaafkan kesalahannya yang tidak dimengerti oleh dirinya. Putra kedinginan, tubuhnya terasa sakit dan mati rasa. Bibirnya mulai mengering, wajahnya pucat. Putra sudah tidak berdaya lagi untuk berjalan ke rumahnya. Dia hanya pasrah menunggu pertolongan, tubuhnya menggigil dan demam menghinggapinya. Jam lima pagi masih hujan, dia terkena hipotermia. Putra pingsan yang tubuhnya masih menggigil. Dia terbangun karena terkena sinar matahari yang sangat menyengat. “Sepertinya aku sia-sia saja disini, aku ingin pulang ke rumah. Tapi jalanan kok sepi tidak ada orang yang lewat, padahal ini sudah siang. Kemanakah orang-orang, aku ingin mereka menolongku untuk mengantarkan aku ke rumahku.” Putra bertekad berdiri, walaupun itu tidak mampu baginya. Tubuhnya masih menggigil sangat kencang, bajunya basah terkena hujan semalam. Seluruh badannya pucat dan perutnya rasanya tidak karuan. Akhirnya Putra bisa berdiri, walaupun dia berpegangan dengan pagar rumahnya Ajeng. Ketika Putra berjalan lima langkah untuk pulang ke rumahnya, dia terjatuh keningnya berdarah terkena gesekan besi. Untung saja tidak sampai menancap, cuma tergores dan sobek. Jika saja besi itu mengenai keningnya, mungkin besi itu akan menembus kepalanya. Putra pingsan terkapar di pintu gerbangnya Ajeng, darahnya keluar deras dari keningnya. Hapenya Putra mengalunkan suara, ternyata alarm hapenya berbunyi. Terdengar sebuah lagu dari TANGGA yang berjudul OH TEGANYA. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 35).

__ADS_1


__ADS_2