
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......CIUMAN PERTAMAKU......
Burung kutukan melayang mengepakkan sayapnya untuk berputar-putar di angkasa mencari mangsanya yang telah pucat kebiruan. Ingin rasanya hati ini pergi dari sini dan berhijrah ke negeri yang damai dan sejahtera. Namun, apakah kamu tahu negeri seberang yang kamu tuju telah porak poranda dilanda meriam-meriam putih yang mengerikan. Tidak hanya itu sepupu meriam ini juga membuat onar dengan menggerakkan badai salju di khatulistiwa. Banyak korban berjatuhan di negeri seberang sana, dialah Asia Tenggara dalam naungan keranda mayat.
Sungguh tak tega umur bertambah, inilah tantangan hidup untuk menjadi dewasa yang lebih sempurna. Demikian juga dengan kemampuan kita diuji dengan hari ulang tahunnya, yang menjadikan pusing seluruh para pelajar di nusantara ini. tapi syukur nikmat kita harus rasakan, karena sang bangau putih kembali hidup di pikiran kita. Bangau itu mengepakkan sayap yang menjatuhkan buah-buah pengetahuan yang sangat indah dan sejuk di pandang kedua mata.
Hari suci telah tiba. Seperti inilah kesucian dalam hidup yang di penuhi kemunafikan dan kepalsuan. Jika gunung itu hancur karena lelehan dosa dari manusia, sudah sepantasnya hati manusia yang lebih tinggi dari gunung itu rasa keangkuhannya dan lebih keras dari batu-batu gunung yang menjulang itu rasa ego kita. Pantas lah kita di maksud dengan makhluk hina oleh bidadari yang telah menunggu untuk menyambut tali kasih. Memaafkan adalah mantra yang ampuh untuk mendekatkan kita kepada Tuhan dan sesama. Sungguh jikalau diri ini punya salah terima lah maaf yang daku bungkus dengan kata-kata kain sutera yang bertali kan benang kasih sayang dari emas.
Ujian mid semester satu bertepatan dengan puasa ramadhan. Mereka berempat menyiapkan dirinya untuk belajar agar mendapatkan nilai yang terbaik untuk ujian kali ini. Medina, Ajeng dan Sarmijo panggilan untuk Putra saat ini menjalankan puasa Ramadhan. Sedangkan Grace Alexa Widawati tidak, karena dia beragama Nasrani. Namun dia sangat menghormati sahabatnya yaitu Medina Syahrani ketika mereka bersama-sama ke sekolah dan juga berkumpul di rumah untuk belajar bersama. Sebelum fajar terdengar Adzan subuh, Putra bangun untuk sahur. Dia sering makan di rumah makan. Mereka saling berebut untuk mendapatkan sepiring porsi karena Mahasiswa dan Mahasiswi Yogyakarta banyak yang sahur. Sungguh ramainya Yogyakarta saat ini para pelajar yang sedang kelaparan karena paginya mereka akan sangat-sangat kelaparan sampai maghrib tiba. Suasana seperti ini hanya bisa dirasakan setahun sekali. Kadang kala Ajeng sebelum maghrib dan imsak datang ke rumahnya Putra naik motor matik untuk memberikan makanan yang di bikin dari dirinya sendiri. Kalau sudah begini Putra sangat bahagia sekali karena makanan yang akan dimakan adalah bikinan Ajeng sendiri. Setiap suapan nasi selalu dinikmati oleh Putra sambil membayangkan wajahnya Ajeng yang sangat cantik.
Bahkan jika ada Sholat Tarawih, mereka selalu bersama ke masjid. Setelah ibadah Sholat Tarawih selesai, biasanya ajeng mampir sebentar di rumahnya Putra. Mereka sering bercanda ria, biasanya Ajeng pulang dari rumahnya Putra pukul sembilan malam. Nah, kesempatan yang seperti inilah yang dimanfaatkan Putra untuk pendekatan kepadanya jikalau nanti Ajeng mau diajak jadian. Wajarlah suatu saat nanti hati mereka cocok pastinya mereka akan menjadi dua sejoli yang bahagia.
“Put, udah malam. Udah pukul setengah sembilan, aku pulang dulu yah.” Kata Ajeng yang dari tadi melihat putra membuat software baru tugas dari sekolahnya. ”Besok ujian kamu apa Put.” Ajeng mulai berdiri mendekati pintu rumahnya Putra.
“Kok buru-buru sih, biasanya pulangnya jam sembilan. Masih ada setengah jam lagi.” Kata Putra yang juga berdiri dari duduknya di hadapan laptop. “Besok apa ya, kayaknya ada dua mata pelajaran yang diujikan deh, Statistik sama Komunikasi Data.”
“Iya nih aku belum belajar. Eh besok habis sholat tarawih kamu ke rumahku ya, besok aku bikin makanan yang sangat spesial loh.” Kata Ajeng yang memandangi putra, sepertinya Ajeng dingin sama Putra tidak ada perasaan spesial dengan dirinya. Mungkin Putra aja yang kegeeran.
“Tapi, jangan menu diet lagi ya. Kamu tahu sendiri kan aku udah langsing seperti ini. Kalau sampai terkena menu diet, ujung-ujungnya aku tambah kurus tinggal tulang belulang hehehe...” Kata Putra yang memancing candaan agar Ajeng tertawa. Putra-Putra tak bosan-bosannya menggoda Ajeng agar dia punya feeling dengan dirinya.
__ADS_1
“Untuk kali ini enggak lah. Masak sih habis puasa seharian kita diet lagi, nggak seru lah Put.” Kata Ajeng sambil senyum sama Putra. Mereka berdua keluar dari rumahnya Putra. ”Put, aku anterin lagi yah sampai ke rumahku. Aku takut, di tengah jalan sana kan sepi, apalagi banyak pohon pisangnya lagi. Kata warga sini pocong itu sukanya di pohon pisang sambil bergelantungan.” Ucap Ajeng yang ketakutan jika lewat daerah situ. Setiap malam hari jika Ajeng mampir di rumahnya Putra, dia selalu mengantarkan ke rumahnya Ajeng. biasanya Putra selalu menakut-nakuti Ajeng yang ketakutan di daerah sepi yang banyak pohon pisangnya. Kalau sudah begini, Ajeng selalu menempel dan memegang erat tangannya Putra sambil menutup matanya. Akhirnya Ajeng minta di peluk sama Putra. Dasar putra, hal semacam seperti ini juga dimanfaatkan sama dia untuk saling berdekatan sama Ajeng yang panas dingin ketakutan. Jarak antara rumahnya Putra dan Ajeng kira-kira lima puluh meter, cukup dekat. Makanya putra mengantarkan Ajeng tidak naik bendi. Setelah Ajeng sampai di depan rumahnya, di sana sudah ada Mama dan Papanya Ajeng yang sedang duduk di kursi teras rumahnya.
“Malam Om, malam Tante.” Kata Putra sambil mencium tangan Papa dan Mamanya Ajeng.
“Kok baru pulang sih, habis dari mana kalian.” Kata Papanya Ajeng.
“Dari rumahnya Putra Pah belajar bersama. Biasa, besok kan ujian.” Kata Ajeng yang juga mencium tangan Papa dan Mamanya.
“Belajar apa belajar. Kalian kan jurusannya berbeda.” Kata Mamanya yang mengelus rambutnya Ajeng yang tertutupi kerudungnya.
“Idih Mama enggak percaya aja deh sama Ajeng.” Kata Ajeng yang memeluk Mamanya ketika Mamanya berdiri.
“Put sini, duduk dulu sebentar deh. Om mau ngomong sama kamu.” Kata Papanya Ajeng yang menyilahkan Putra untuk duduk.
“Akhir-akhir ini jika aku lihat kamu kok pucat sih dan tubuhmu juga tambah kurus. Apa kamu masih memikirkan Papamu ya.” Kata Papanya Ajeng. Ayahnya Putra adalah sahabat dekatnya Papanya Ajeng, sedangkan Mamanya Ajeng adalah sahabat dekatnya Mamanya Putra. Jadi, Putra sudah dianggap anaknya sendiri setelah kedua sahabatnya telah tiada yaitu Ayah dan Bundanya Putra.
“Enggak kok Om. Mungkin banyak kegiatan di sekolah dan bisnis yang baru Putra geluti Om, sehingga tubuhku makin kurus.” Sebenarnya tiap malam Putra menangisi dirinya, karena sudah tidak mempunyai saudara. Apalagi papanya yang meninggal dunia, dia sangat terpukul sekali. Namun dia menyembunyikan kesedihan dari semua orang agar orang yang melihatnya tidak merasa iba kepadanya. Mungkin inilah yang membuat sedih dirinya dan untuk itulah dia tidak mau kehilangan orang yang di cintai di sekelilingnya yang akan meninggalkan dia.
“Iya Pah. Putra sering suka lupa Pah dan juga melamun. Kemarin aja boncengin aku ke sekolah hampir aja nabrak ayam yang berada di tengah jalan, terus kita masuk ke got deh. Untunglah saat itu gotnya tertutup, jika nggak kita pasti akan terjatuh dan masuk ke dalam got.” Ucap Ajeng yang melihat Putra sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejeknya.
“Ah enggak Tante, Om. Ajeng aja yang nyolek-nyolekin aku dari belakang.” Kata Putra. Dia pun mengejek Ajeng. “Untung aja Putra waspada naik motornya, jadinya nggak ada korban jiwa.” Kata Putra yang malu sambil menundukkan mukanya.
__ADS_1
“Iya loh Put. Rasa-rasanya kamu tiap harinya berubah deh. Apa kamu masih sedih.” Kata Mamanya Ajeng yang melihat Putra dari kepala sampai kakinya.
“Sebenarnya sih iya Tante. Siapa sih yang enggak sedih ditinggal kedua orang tua.” Kata Putra yang hampir saja menangis teringat dengan kedua orang tuanya. “Udah ah Tante. Jangan ngomongin itu lagi, jadi sedih nih.” Putra mengusap air matanya yang menetes.
“Ya udah kalau gitu, yang sabar ya Put. Semoga kamu cepat pulih lagi ya sayang, seperti dulu lagi. Jangan lupa, sering-seringlah main kesini.” Ucap Mamanya yang merangkul Ajeng sambil berdiri.
“Maaf Om, Tante. Sepertinya sudah malam deh, aku pulang dulu ya. Ada tugas sekolah nih, besok kan masih ujian.” Kata Putra yang mengalihkan topik pembicaraan.
“Kok buru-buru sih Put. Gimana sih nih Ajeng nggak bikinin minuman untuk Putra.” Kata papanya Ajeng.
“Makasih banyak Om. Enggak apa-apa kok, tadi dari rumah udah minum kok.” Kata Putra sambil bersalaman kepada kedua orang tuanya Ajeng. Dia juga bersalaman sama Ajeng.
“Besok jemput aku yah. Waktu ujiannya kan sama, jangan lupa loh.” Kata Ajeng. Dia memandangi wajahnya Putra yang sedih, hampir saja ada keinginan Ajeng untuk memeluk Putra jika tidak ada Papa dan Mamanya Ajeng
“Beres Yu’. Eh kalau kamu pakai kerudung, kamu kok tambah cantik sih.” Kata Putra yang menggodanya. Mereka berdua berjalan ke pagar rumah yang sudah jauh dari orang tuanya Ajeng. Makanya Putra berani menggoda Ajeng yang saat itu memakai kerudung.
“Ah bisa aja deh kamu Put. Emangnya kalau enggak pakai kerudung, kelihatan jelek gitu.” Kata Ajeng yang gemes sama dia. Putra pun di cubit sama Ajeng di pinggangnya. Kerudung Ajeng yang menutup sebagian rambutnya, jatuh di bahunya terkena terpaan angin malam. Sungguh rambut panjang nan indah terawat terkena mukanya Putra ketika mereka berjalan berdampingan.
“Au sakit Yu’. Udah ya, aku pulang dulu. Besok kita ketemu lagi oke.”
“Put, tunggu dulu berhenti sebentar deh. Aku mau tanya sama kamu.” Kata Ajeng yang memberhentikan langkah kakinya Putra yang mau pulang. Mereka berdua saling pandang di pinggir jalan yang sepi dan tidak ada orang disana
__ADS_1
“Kamu masih sedih ya di tinggal Papamu. Kenapa kamu nggak cerita sama aku sih Put. Aku kan sahabat baikmu.”