
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
“Iya Tante, maafkan Putra ya Tante. Putra mau minta tolong sama Tante untuk menyampaikan maafku kepada mereka.” Putra baru sadar jika bajunya dilepas semua, tubuhnya Putra hanya tertutupi selimut saja. “Tante, bajuku kemana. Siapa yang melepaskan bajuku Tante.” Putra ketika itu hampir saja melepaskan selimut dari badannya, dia sadar kalau dia tidak memakai baju.
“Oh yang melepas bajumu Papanya Ajeng.” Jawab Mamanya Ajeng agar Putra tidak malu jika yang menggunting bajunya adalah Ajeng.
“Syukurlah kalau gitu. Tante kira-kira baju milikku ada nggak.”
“Ada, itu di sebelahmu. Jika kamu kuat untuk berdiri kamu boleh memakainya. Ajeng dan dua temannya yang mengambilkan dari rumahmu. Istirahat dulu ya, agar badanmu kembali sehat kembali. Kamu nggak usah khawatir dengan mereka bertiga, biar Tante nasehatin mereka agar memaafkanmu. Kamu tenang saja ya dan yang sabar.”
“Makasih Tante.” Mamanya Ajeng melangkahkan kakinya membuka pintu kamar, dan menutupnya kembali. Putra di kamar hanya sendirian, dia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Akhirnya dia bisa bangkit dan memakai baju yang berada di sampingnya. “Aku malu banget bertemu mereka bertiga. Aku nggak kuat lagi jika berhadapan dengan Grace, Medina apalagi Ayu’. Lebih baik aku pergi saja dari rumah ini, aku nggak tahan lagi. Hati ini sudah sakit dan merana. Walaupun ini disebut pengecut, tapi rasa malu sungguh besar banget. Aku takut jika kita bertemu lagi, malah aku menyakiti hati mereka.” Putra berjalan tertatih-tatih keluar dari kamar tidur tamunya Ajeng. Di ruang tengah tidak ada orang, dia berjalan keluar rumah dan bertemu dengan pembantunya.
“Mas sudah enakan ya, kok jalan sendirian.” Tanya pembantu perempuan Mamanya Ajeng.
“Iya Bi. Makasih ya Bi, aku pulang dulu. Nanti jika Ajeng dan dua temannya nanyain aku, bilang saja kalau aku udah pulang.”
__ADS_1
“Iya Mas, memangnya mereka belum tahu ya Mas”
“Belum, sampai ya Bi.”
“Iya Mas.” kepalanya Putra masih pusing terutama bagian keningnya yang terasa sakit, badannya masih meriang dan masih merinding. Putra melangkahkan kakinya keluar rumah, dia berjalan menuju rumahnya. Sementara itu Mamanya Ajeng pergi ke lantai atas menghampiri kamarnya Ajeng. Mamanya mengetuk pintu kamar, Ajeng membukakan pintu. Mamanya masuk dan duduk di kasur, begitu juga Ajeng dan Medina duduk di sana. Sedangkan Grace duduk di kursi belajarnya Medina.
“Putri, Mama mau ngomong. Boleh kan.” Tanya Mamanya kepada Ajeng yang duduk di sebelah Mamanya. Nama Putri bagi Mamanya adalah panggilan kesayangan untuknya.
“Tentang apa ya Ma.” jawab Ajeng yang penasaran.
“Apakah kalian sedang bertengkar dengan Putra. Lihatlah Putra kondisinya sampai seperti itu.
“Apakah sebesar itu tindakan Putra sehingga kamu bertiga sangat marah sama dia.” Tanya Mama Ajeng kepada ketiga gadis remaja yang nantinya akan menginjak dewasa.
“Benar Tante. Tindakan Putra sudah di luar batas. Dia nggak senonoh sama kita bertiga. Jika aku bercerita tentang ini aku menjadi jijik mengingatnya dan marah besar sama dia.” Jawab Medina yang terisak menangisi dirinya.
“Betul Tante. Entah kenapa Putra sekarang seperti ini. Padahal ketika kita bertemu pertama kali dengannya, dia itu ramah dan baik hati.” Grace agak tabah, dia bisa menerima cobaan ini.
__ADS_1
“Seperti itukah Putra. Jika Tante berpesan kepada kalian terutama untuk kamu Putri yang telah lama menjadi sahabatnya. Putra itu nggak akan melakukan seperti itu yang kalian tuduhkan, dia itu anak yang baik. Tante percaya jika dia itu jujur, mungkin saja ketika dia berjanji palsu dia takut kehilangan kalian. Tadi aku lihat wajahnya sangat sedih sekali. Jika aku bertanya sama dia, sepertinya hatinya sangat terluka. Jika Putra bicara, dia selalu mengeluarkan air mata. Apakah sikap seperti itu jika dia nggak jujur. Jika aku perhatikan, dia sangat terpukul loh kehilangan persahabatan dengan kalian.” Kata Mamanya Ajeng yang membela Putra, anak dari kedua sahabatnya paling dekat. Di dalam hati Mamanya Ajeng, beliau menginginkan agar mereka bisa kembali bersahabat lagi dengan Putra. “Begini saja, aku ajak kalian untuk turun biar Tante yang menengahi permasalahan kalian agar masalah seperti ini enggak terjadi lagi. Mau ya kalian, Tante mohon. Mau ya Putri, ayolah sayang kamu jangan cemberut aja. Lihatlah sahabat dekatmu yang menderita seperti itu. Ingat loh dia sekarang nggak mempunyai kedua orang tua dan kedua orang tuanya putra itu adalah sahabat dekatnya Tante. Kalian mau turun ya.” Tanya Mamanya Ajeng yang mulai menitikkan air mata. Melihat Mamanya menangis, Ajeng memeluk mamanya.
“Mama jangan menangis, baiklah jika itu permintaan mama. Tapi untuk kali ini saja ya mah. Jika dia bohong lagi aku nggak mau bertemu dengannya lagi, sampai bumi ini hancur pun aku nggak sudi memaafkannya.” Ucap Ajeng yang memeluk erat Mamanya. Medina jadi teringat Ayahnya ketika Mamanya Ajeng menyinggung soal kehilangan Orang Tua. Grace hanya bisa menundukkan kepalanya yang juga ikut sedih dan marah.
“Iya untuk kali ini saja, pasti Putra akan jujur sama kalian.” Kata Mamanya yang berdiri dan menggandeng Ajeng untuk turun, demikian juga Grace dan Medina. Mamanya Ajeng dan ketiganya sampai di pintu kamar tidur tamu, mereka masuk kedalam. Tapi sayang, Putra sudah tidak ada disana.
“Aduh Putra kemana yah, mungkin ke kamar mandi coba ketuk pintu itu Putri.” Suruh Mamanya kepada Ajeng yang mengetuk pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tamu. Setelah beberapa kali pintu itu di ketuk, di dalam kamar mandi tidak ada suaranya Putra. Ajeng memberanikan diri untuk membuka pintu itu, ternyata di dalamnya kosong tidak ada Putra.
“Nggak ada mah, mungkin dia pergi. Dia takut kali mah, tuh benar kan mah dia itu memang jahat. Dia nggak berani bertanggung jawab dengan tindakannya.” Ajeng marah-marah jika putra kabur. Tiba-tiba pintu kamar diketuk, setelah dibukakan Grace, kedapatan Bibi pembantunya Ajeng datang dari luar yang mengabarkan jika Putra sudah pulang.
“Aduh kenapa Putra pulang duluan sih, kondisinya kan belum sembuh benar.” Kata Mamanya yang khawatir dengan kondisinya Putra. Ketiganya masih marah kepadanya, lebih-lebih Putra yang pulang tanpa izin dulu kepada mereka dan kepada Papa dan Mamanya Ajeng.
“Kamu sudah memberikan kabar Papa dan Mamamu di Jakarta Grace, Medina jika kamu disini.” Tanya Mamanya Ajeng yang duduk di kasur.
“Udah aku kabari Tante, malahan lusa yang lalu. Lagian aku disini juga punya Tante di daerah sleman, jadinya aku dan Grace bisa mampir kesana.” Ucap Medina.
“Ya udah kalau gitu, jadinya kan Tante nggak khawatir jika kamu di cari Papa dan Mama kalian.” Kata Mamanya Ajeng. Medina menangis menitikkan air mata yang duduk di sebelah Ajeng.
__ADS_1
“Kenapa kamu menangis Medina, apa Tante menyinggung perasaanmu sayang.” Ucap Mamanya Ajeng yang mendekati Medina.
“Aku kangen Papa Medina Tante, yang kemarin barusan meninggal kecelakaan pesawat.” Kata Medina yang masih menangis. Mamanya Ajeng memeluknya dengan erat sekali, layaknya anaknya sendiri.