Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
42. Bermalam Dengan Sang Pangeran 17


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Jadi yang menyerang kalian Roh Gentayangan dan Makhluk Berjubah, aku pikir Buku Passport yang bikin onar.” Kata Putra melihat Ajeng yang masih diam, tidak mau bercerita kejadian yang dia alami. “Kamu nggak apa-apa kan Yu’, sedari tadi kamu diam saja. Ada apa!.” Kata Putra yang menanyakan kepadanya. Ajeng mulai cuek dengan dirinya.


“Ah enggak apa-apa.” Jawaban Ajeng ketus dan sedikit marah. Ajeng diam lagi yang dari awal dia duduk di sofa membuang muka dari perhatiannya Putra. Medina yang duduk di tengah meraih kepalanya Ajeng untuk di sandarkan di bahunya Medina agar Ajeng bisa tenang sebentar dan tidak menangis. Ajeng duduknya paling jauh dari putra, Grace duduknya paling dekat dengannya agar Putra tidak curiga yang dialami Ajeng yang sangat terpukul dengan dirinya. 


“Sabar ya sayang, jangan menangis. Aku tahu penderitaanmu.” Kata Medina yang membisikkan di telinganya. Ajeng mulai memeluknya, Medina membelai rambutnya Ajeng. Putra merasa heran dengan sikap Ajeng yang seperti itu. Putra bangkit dari duduknya dan pindah ke kursi sofa yang dekat dengan Ajeng.

__ADS_1


“Yu’, ada apa. Kenapa kamu sedih.” Kata Putra yang bertanya kepada Ajeng di pelukannya Medina. Wajahnya Ajeng di sembunyikan di pelukannya Medina dengan memunggunggi Putra. 


“Sudahlah Put, biarkanlah dia. Mungkin masih shock.” Jawab Medina yang digelayuti Ajeng. Dia menitikkan air mata di bahunya Medina, pelukannya Ajeng makin erat karena dia sangat benci sekali dengan Putra. “Sabar ya Ajeng, jangan menangis. Setelah ini selesai kita tanyain kepadanya, kenapa dia tega menyakitimu.” Bisikan Medina di telinga Ajeng. Putra hanya bisa diam melihat kelakuan Ajeng yang aneh. 


“Terus, kamu tahu enggak kenapa kita bisa terdampar kesini.” Tanya Grace yang jauh dari Putra karena dia sudah pindah tempat duduk dekat dengan Ajeng.


“Malam itu aku nggak bisa tidur dan sedang bahagia karena Buku Saku Passport kita bisa untuk chatting dan berselancar internet. Aku berniat besok paginya akan memberitahukan kepada kalian kabar yang sangat membahagiakan ini. ketika aku asyik membuka website sekolahku, tiba-tiba Buku Passport milikku melayang-layang di udara di atas kepalaku sambil mengeluarkan asap hijau. Secara reflek aku meloncat menjauhinya. Buku Passport itu berubah bentuk menjadi Batu Meteor yang mengeluarkan suara dentuman keras berkali-kali, seolah-olah batu itu memanggil sesuatu. Tak berapa lama, asap hijau mulai menebal di kamar tidurku sampai aku enggak bisa melihat Batu Meteor yang masih melayang-layang di udara. Batu itu mengeluarkan ledakan cahaya berwarna biru muda yang menerangi kamar tidurku. Ledakan suara itu sangat keras, sehingga aku khawatir batu itu menjadi granat yang bisa menghancurkan rumahku.” Kata Putra yang diam sebentar melihat Ajeng. Dia masih dalam pelukan Medina yang mulai menangis terisak-isak. Putra penasaran kenapa Ajeng menangis dan tidak mau melihat wajahnya. Putra ingin sekali bisa menyentuh Ajeng agar dia tidak menangis.


“Oh ya, tadi sampai mana ya.” Tanya Putra kepada Grace dan Medina.

__ADS_1


“Sampai ledakan suara yang kamu takutkan menjadi granat bisa menghancurkan rumah ini.” jawab Grace yang menimpali buru-buru karena penasaran. Medina juga menganggukkan kepalanya yang tertutupi rambutnya Ajeng terurai indah.


“Mmmm, setelah ledakan itu, asap hijau dan cahaya biru mulai menghilang. Ketika aku lihat dengan kedua mataku, Batu Meteor yang tadinya ada satu berubah menjadi empat yang saling menempel. Batu tersebut berputar-putar diatas kepalaku secara berlawanan dengan arah jarum jam yang putarannya makin keras. Tiba-tiba Batu Meteor yang masih berputar itu mendatangiku, maka aku siap-siap untuk menangkapnya. Setelah Batu Meteor berada di tanganku, Batu Meteor nggak berputar lagi. Batu meteor mengeluarkan dentuman yang di barengi suara perintah untuk memencet tombol berwarna merah pada Batu Meteor milikku. Buru-buru aku memencet tombol merah itu. Setelah aku memencetnya, ketiga Batu Meteor yang menempel di Batu Meteor milikku mengeluarkan kalian bertiga. Kalian terlempar di depanku, wajah kalian pucat aku pikir kalian sudah mati. Aku panik, aku mendatangimu Grace, ternyata kamu masih hidup mengerang kesakitan tidak sadarkan diri. Kamu juga Din, aku datangi kamu nggak sadarkan diri yang mengerang kesakitan. Dan kamu Yu’. Ayu’ aku mohon lihatlah diriku, ada apa denganmu Yu’.” Putra memegang bahunya Ajeng yang di peluk Medina. Ajeng hanya diam tidak melihatnya, Putra duduk lagi di kursinya.  Putra menundukkan mukanya, air matanya menetes. “Yu’, waktu itu kamu enggak bernafas, aku panik karena kamu sudah tiada. Maafkan aku Yu’ yang telah melakukan CPR kepadamu. Maafkan aku Yu’ yang telah meniupkan nafasku melewati mulutmu. Maafkan aku Yu’ yang telah menekan dadamu.” Kata Putra yang masih menundukkan wajahnya. Dia menangis terisak mengenang kejadian semalam. “Yu’ jangan salah paham. Ketika aku melakukan terakhir kalinya, kamu sudah sadar. Kamu anggap aku telah menciumimu dan meraba tubuhmu, padahal bukan seperti itu kejadiannya. Percayalah padaku Yu’, aku nggak dusta.” Putra sedih dan shock takut jika kehilangan Ajeng untuk selamanya yang sangat dicintainya. Ajeng menyandarkan kepalanya di sofa, air matanya mengalir deras. Putra mendongakkan kepalanya dan mendekati Ajeng untuk melihat wajahnya yang menangis.


“Yu’, kamu enggak apa apa kan.” Putra mendatangi Ajeng yang masih menangis. Tiba-tiba Ajeng menamparnya sangat keras ketika Putra membungkukkan badannya di depannya. Grace dan Medina kaget dengan tindakan Ajeng yang menampar Putra dan mendorongnya sampai terjatuh mengenai meja yang juga terguling menjatuhkan Putra. Tubuhnya Putra kesakitan terutama bagian siku tangannya yang menahan tubuhnya terbentur ke lantai. Putra meringis kesakitan terduduk di bawah dan dia berdiri lagi. “Ada apa Yu’ dengan dirimu. Apa salahku Yu’, sehingga kamu perlakukan aku seperti ini. Sakit banget tamparanmu Yu’ sebagaimana hati ini yang juga ikut sakit.” Putra berdiri, Ajeng juga berdiri yang marah besar. Grace dan Medina yang shock ikut berdiri untuk melerai Ajeng. Dia dipegang mereka berdua.   


“Itu memang pantas ganjaran untukmu, dasar mata keranjang, penjahat, pengkhianat kamu.” Kata Ajeng yang menangis. Dia memeluk Medina yang berada di sisi kanannya. Putra memegang tangannya Ajeng.


“Apa maksudmu Yu’, apa salahku.” Kata Putra. Dia memegangi pipinya yang sangat sakit bekas tamparannya. Ajeng mendorong tubuhnya Putra, dia hampir terjatuh. 

__ADS_1


“Lihat Grace, lihat Din. Laki-laki ini enggak pantas untuk di kasihani. Selama ini dia pendusta. Tahu nggak kalian, selama ini dia telah melihat kita mandi melalui Buku Passport busuknya itu. Dia juga berbohong dengan sumpahnya yang kita anggap suci dan sakral. Apaan, kamu bilang memberikan nafas buatan kepadaku. Seluruh dunia enggak percaya denganmu tukang bohong. Kamu memanfaatkan aku yang nggak sadarkan diri. Tahu nggak Grace, Dina., dia telah menggerayangi tubuhku yang masih suci ini, dan menciumi bibirku. Mungkin kalian juga sama di gerayangi sama dia. Orang ini nggak pantas menjadi seorang sahabat untuk kita. Aku sangat terpukul mempunyai sahabat yang kotor, yang busuk, yang jahat seperti kamu Sarmijo yang nggak tahu diri.” Ajeng berbicara menangis histeris. Dia sangat sakit hati mempunyai sahabat yang tidak tahu diri. Ajeng di peluk mereka berdua yang juga marah dengan perbuatannya Putra yang tidak bermoral. Ketiganya menangis dan marah sama Putra yang tidak senonoh dengan mereka. Kemarahan ketiganya tidak terbendung lagi, mereka mulai memukuli dan menampari wajahnya Putra yang kesakitan. Ketika Ketiganya menyerangnya, Putra hanya diam mundur kebelakang. Dia dikejar dan didorong mereka bertiga sampai terjatuh. Ketika Putra terjatuh dan terkapar di lantai, ketiganya menendangi tubuhnya Putra yang tidak berdaya.


__ADS_2