
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
__ADS_1
Liburan lebaran telah berakhir, Grace, Medina, Ajeng dan Putra mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan sekolah. Sarmijo atau Putra siangnya sampai juga di kota yogyakarta, dia berangkat dari Semarang pagi-pagi sekali dengan mengendarai bus patas jurusan Semarang menuju Yogyakarta. Sore harinya, putra berencana mendatangi rumah sahabat-sahabatnya yang berada di Yogyakarta untuk mengikat kembali tali silaturahmi yang terjaga dengan baik. Karena hari ini adalah hari yang Fitri, yakni hari yang dosa-dosa manusia terhapus seperti layaknya bayi yang baru dilahirkan kembali ke Dunia. Sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk saling maaf-memaafkan untuk mempererat kembali persahabatan yang selama ini terikat.
Hari ini juga Putra akan meminta maaf kepada Ajeng sahabat yang dicintainya. Putra merasa bersalah karena dia sudah melakukan hal yang sangat buruk baginya yaitu kejadian malam Ramadhan dimana Putra telah mencium pipinya Ajeng dua kali dan merayunya untuk diajak jadian sebagai sepasang kekasih hati. Walau bagaimanapun Putra tidak bisa begitu saja melupakan hal itu, karena perbuatan semacam layaknya mencium kepada seorang gadis apalagi pujaannya baru pertama kali dalam hidupnya. Pada malam kejadian itu yang malamnya Putra langsung pulang kerumah, dia tidak bisa tidur sampai pagi. Putra merasakan pelukan hangat dari Ajeng dan merasakan lembutnya pipinya Ajeng yang putih merona merah muda. Apalagi ketika kontak mata yang begitu dekat, ketika wajah Putra berdekatan dengan wajahnya Ajeng yang sangat cantik. Putra merasakan mata indahnya yang bisa menentramkan hatinya dilanda kesedihan di kala itu. Malam itu juga dia melihat bibirnya Ajeng yang menari-nari indah, hampir saja di dalam hatinya untuk mencium bibirnya. Tapi dia sadar, karena saat kejadian itu sampai sekarang Ajeng belum menjadi kekasih hatinya. Seandainya saja Putra mencium bibirnya, pastinya Ajeng akan marah besar melebihi saat ini. Putra tidak bisa melupakan bibirnya Ajeng yang manis di manapun dia berada, ketika dia melamunkan kepada kekasih hatinya. Tiap malam Putra selalu terbayang-bayang dengan senyumnya Ajeng. Entah kenapa malam itu dia mempunyai keberanian yang sangat besar. Biasanya Putra melihat wajahnya Ajeng saja dia langsung salah tingkah. Ketika dia melamun sendirian terdengar lagu dari Afgan yang telah dihafal putra. Kata-kata lagu dari Afgan selalu terngiang di hatinya jika Putra melamunkan Ajeng apalagi bibirnya yang merona merah membuatnya sulit untuk tidur.
__ADS_1
Putra keluar kamar untuk menonton tv yang berada di ruang tamu. Dia duduk di sofa panjang merah tua yang sangat lembut sekali. Kulit sofa ini berasal dari kulit hewan asli bukan imitasi. Dia masih memikirkan Ajeng dan berusaha untuk melupakannya, tetap saja hatinya gelisah dan tidak tenang. Seluruh channel tv sudah sering dia ganti. Tombol remote nya di pencet berkali kali, akhirnya remot itu di lempar di sofa yang lebih pendek. Dia berbaring untuk tidur di sofa sambil melihat langit-langit rumahnya, dia mulai melamun lagi.
“Kira-kira, apa ya yang akan terjadi dengan hidupku. Lebaran ini rasanya sepi banget, nggak menyenangkan lagi seperti tahun yang lalu. Dulunya aku sering menyalami dan menciumi tangan Ayahku untuk meminta maaf, juga bersalaman dan bercanda sama Ajeng. Ketika itu Ayahku dengan Papa dan Mamanya Ajeng mengadakan reunian sahabatan di villa Kaliurang, sungguh senang banget aku. Entah kenapa sekarang kok seolah-olah sirna, kegembiraanku tergadaikan dengan kesedihan yang tiada berakhir. Udah gitu, Grace dan Medina pun jarang sekali menghubungi aku lagi melewati Passport mereka. Apa Grace, Medina dan Ajeng udah mulai nggak suka sama aku ya. Emangnya aku salah apa sih sehingga mereka kok enggak mau lagi bersahabatan sama aku lagi. Ah, sudahlah. Jika hidupku begini terus, aku benar-benar nggak kuat lagi hidup di Yogyakarta, aku sedih dan merana. Hatiku menangis dan teriris-iris, lebih baik aku pindah Sekolah aja. Habisnya disini aku kesepian dan nggak nyaman lagi. Ayah dimanakah kamu saat ini. Anakmu membutuhkan kasih sayangmu berupa semangat untuk hidup lagi, karena biasanya engkau selalu memberikan motivasi kepadaku untuk nggak pantang mundur dan menyerah sebelum usaha. Kenapa engkau harus pergi sih dengan menaiki pesawat itu, seandainya aja engkau nggak pergi dan kita mancing aja di tempat pemancingan di kau pasti masih hidup.” Hick, hick. Air mata Putra mulai menetes mengalir di pelipisnya yang sedang tiduran teringat Ayahnya yang sudah tiada. “Bunda, kenapa sih dikau meninggalkan aku sendiri dalam hidup di dunia ini dan seperti ini, kenapa engkau harus meninggal gara-gara anakmu ini yang nggak berguna sama sekali. Kenapa Tuhan mengambil nyawa bundaku sih, enggak nyawaku aja yang masih bayi mungil waktu itu. Jika saja saat itu nyawaku dicabut, pasti nggak terasa sakit deh. Jika waktu itu bundaku melahirkan aku kemudian aku mati sedangkan bundaku tetap hidup, pastinya aku punya adik yang imut-imut. Mungkin adikku ada tiga, dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua pintar-pintar dan bahagia dengan ayah dan bundaku. Ah seandainya waktu bisa diputar aku rela kok nyawaku diambil menggantikan nyawa bundaku, bukannya seperti ini sendirian. Idih, aku seolah-olah hidup di dalam kuburan aja yang nggak mempunyai saudara.” Kata Putra yang sedih teringat Ayah dan Bundanya yang tiada. Dia ketiduran di sofa karena kecapaian menaiki bus tadi. Walaupun dia tidur, air matanya masih mengalir, wajahnya sangat sedih sekali. Jika saja Ajeng melihat Putra tidur seperti ini, pasti dia tidak akan tega melihat sahabatnya yang merana sedih bukan main. Beginilah, ternyata persahabatan itu tidak cukup. Inilah resikonya jika sahabat sedang marahan tidak ada yang menghiburnya. Jika kalian masih punya saudara dan juga Ayah dan Bunda yang masih hidup, janganlah kalian marahan dan saling membenci. Karena dari merekalah kalian bisa bertahan hidup, jangan sampai penyesalan datang ketika musibah terjadi. Hapenya Putra yang berada di dalam kamarnya berbunyi nyaring. Dia menerima sms dari sahabat yang berada di Yogyakarta. Terdengar ringtone dari hapenya Putra sebuah lagu dari Group Band ST12 yang berjudul SAAT TERAKHIR. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 22).
__ADS_1