Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
25. Ciuman Pertamaku 2


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......CIUMAN PERTAMAKU......


“Sebenarnya aku, aku, aku enggak pantas Yu’ untuk di kasihani. Apalagi sama kamu yang baik hati, biarlah kesedihan ini aku pendam sendiri.” Kata Putra yang mukanya memerah teringat kesedihan yang selama ini melandanya.


“Kenapa kamu berpikir seperti itu sih Put, kamu pandang aku sebagai apa Put.” Kata Ajeng. Dia mengusap air matanya Putra di pipinya. Kemudian tangan Putra memegang tangannya Ajeng yang masih memegang pipinya.


“Suatu saat nanti, kamu pasti marah sama aku dan kamu enggak memaafkan aku Yu’.”


“Sebesar itukah ketakutanmu. Apa lagi yang mengganggu pikiranmu Put.” Tanya Ajeng. Putra tiba-tiba saja memeluk Ajeng, dia agak shock dan kaget karena Putra mencium pipinya. Putra masih memeluk Ajeng dan setelah Putra mencium pipinya, Putra membisikkan kata-kata di telinganya. 


“Aku cinta mati sama kamu Yu’. Bagiku, kamu seperti rembulan bagi hati dan jiwa ini yang mulai redup. Ayu’, angan ini telah membuatku mengingatmu dimanapun kamu berada. Wajahmu cantik dan kepribadianmu sangat anggun. Aku sangat-sangat mencintaimu, apapun aku lakukan hanya untuk membahagiakanmu. Walaupun kita saling bersahabat apakah kamu cinta sama aku Yu’. Maukan saat ini kamu menjadi kekasihku. Nantinya, setelah lulus dari kuliah selama penantian tujuh tahunan lagi, maukah kamu menjadi pendamping hidupku. Dan kita pun akan mempunyai buah hati kita berdua yang lucu dan imut-imut.” Kata Putra. Kemudian dia mencium pipinya Ajeng untuk yang kedua kali. Ketika Putra berkata-kata indah di telinganya, Ajeng menangis di dalam hatinya. Setelah kata-kata terucap Ajeng mendorongnya, dia menangis di depannya Putra.


“Apa yang kamu lakukan Put. Nggak minta ijin lebih dulu sama aku, langsung main peluk dan cium segala.” Kata Ajeng. Air matanya menetes di pipinya dan memandangi Putra dengan marah dan malu.


“Maafkan aku Yu’, aku pikir kamu suka jika aku cium dan aku peluk.” Ucap Putra yang terdorong oleh kedua tangan Ajeng dan kembali lagi di hadapannya sambil memegang kedua tangannya. “Kamu nggak cinta sama aku Yu’.” Putra agak shock karena cintanya tak terbalas dan bertepuk sebelah tangan. Ajeng diam seribu bahasa. 

__ADS_1


”Jangan kamu ulangi lagi perbuatan itu Put, aku nggak suka. Jika kamu lakukan lagi, hubungan persahabatan kita putus.” Kata Ajeng yang masih marah. Putra terdiam, malu dan sedih. Ternyata, sahabat yang selama ini dia cintai tidak sesuai harapannya. Selama ini yang dipikirkan Putra di dalam hatinya bahwasanya Ajeng merespon cintanya. 


“Maafkan aku Yu’ jika kamu nggak cinta sama aku dan perbuatan tadi melukai hatimu. Paling nggak, aku tahu perasaanku kepadamu ternyata kamu nggak cinta sama aku.”


“Harusnya kamu tahu ini hari apa, ini masih Ramadhan Put. Ingat. Kamu nggak boleh main peluk dan cium sama aku yang bukan muhrimmu.” Kata Ajeng yang marah. Hampir saja dia akan menampar pipinya Putra. Tapi, dia ingat lagi kalau dia sahabat yang baik hati dan dia tidak mau kehilangannya lagi. Apalagi kalau Putra mulai berubah seperti dulu. Mereka berdua diam lama sekali dan saling pandang.


“Sekali lagi, maafkan aku ya Yu’.”


“Kali ini aku maafkan. Tapi ingat, jangan kamu ulangi lagi ya. Janji.”


“Kenapa harus pakai janji sih Yu’.” Kata Putra yang mulai mundur dari hadapannya Ajeng. “Apa selama ini kamu udah punya kekasih dan jika kamu udah punya, kenapa kamu enggak memberitahukanku. Aku juga berhak tahu Yu’ karena aku sahabat dekatmu.”


“Baiklah, aku janji. Lagian itu kan hakmu Yu’ untuk mempunyai pacar. Bodohnya aku, siapa aku ini.” Kata Putra yang memukul kepalanya sendiri. Putra sadar karena dia memandang derajatnya saat ini. Siapa dirinya dan pantaskah dia untuk dicintai. Anak yatim piatu yang mencari cinta, orang yang hidup sebatang kara mengharapkan kasih sayang dari sang kekasih. Apalagi sama Ajeng pastinya dia mempunyai pacar yang lebih pintar, tentunya kaya dan pacarnya pasti seorang calon dokter pula. “Bodoh, bodoh aku ini, selama ini mencintai sahabat sendiri. Aku pikir dia cinta sama aku. Ah, sudahlah. Lebih baik saat ini aku pergi aja dari hadapannya. Pasti dia sangat benci sama aku, apa yang tadi aku lakukan terhadapnya. Aku malu, aku nggak sopan. Tamu yang sangat jahat terhadap nona rumahnya. Bodoh, bodoh.” kata Putra di dalam hatinya, dia memukuli kepalanya lagi. Ajeng mulai tidak marah lagi dan bisa tersenyum.


”Eh Yu’. Kalau aku lupa, hubungi aku ya lewat passport milikmu. Namanya Passport Ajeng kan.” Kata Putra basa-basi berjalan mundur sambil memandangi wajahnya Ajeng yang berdiri di pintu gerbang rumahnya. Dia kaget sedang melamun di depannya Putra karena shock dengan perbuatannya tadi. Dia masih melamun sambil memegangi pipinya bekas ciuman dari Putra.


“Eh iya.” Ucap Ajeng yang masih shock. “Oke deh beres. Hati-hati ya, awas loh ada pocong sama kuntilanak di pohon pisang tadi.” Kata Ajeng sambil tertawa kecut. Dia nakut-nakutin Putra pulang ke rumahnya.

__ADS_1


“Iya. Paling kalau aku ketemu sama pocong, aku ajak kenalan terus aku suruh mampir ke kamarmu yang berada di lantai atas.” Kata Putra yang cekikikan agar Ajeng tidak marah. Putra melangkah pergi dari hadapannya Ajeng untuk pulang ke rumahnya.


“Kurang ajar kamu Put. Awas nanti kalau mampir beneran, besok paginya aku balas kamu.” Kata Ajeng yang sebel sama Putra dan tidak tertawa lagi. Dia masuk ke rumah dan menutup pintu gerbang rumahnya. Ketika mereka berdua masih berada di pintu gerbang, hapenya putra berbunyi. Terdengar ringtone dari lagunya GITA GUTAWA yang berjudul AKU CINTA DIA. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 19).


Paginya Putra menjemput Ajeng untuk pergi ke Sekolah. Ketika mereka bertemu di depan pintu gerbang rumahnya Ajeng, mereka berdua saling diam dan malu. Karena kejadian tadi malam yang tidak pernah terlupakan bagi mereka berdua. Bahkan sampai di Sekolah pun Ajeng menghindar dari Putra. Dia langsung menghampiri teman-temannya Ajeng satu jurusan yang sedang berada di parkiran. Putra sadar ada keanehan dengan Ajeng yang mulai menghindar. Sekarang Putra merasa bersalah dan berjanji untuk menjaga jarak dengannya. 


Memang saat ini Ajeng marah besar dengannya yang mulai kurang ajar, pikirnya Putra. Sejak kejadian malam itu, Ajeng sudah jarang mampir ke rumahnya Putra. Setiap dia pergi ke Masjid dia pasti bersama teman wanita yang masih satu komplek, bahkan jika selesai sholat tarawih Ajeng langsung pulang ke rumahnya. Acara makan di tempatnya Ajeng gagal karena Putra memilih pergi ke Toko Buku Gramedia sendirian. Malam itu juga dia makan di pinggir jalan dan mampir ke tempat kos temannya yang dekat dengan kampus UNY. Baik buka puasa maupun sahur Putra menghindar pergi dari rumahnya untuk mencari makan di rumah makan. Sekarang Ajeng sudah jarang mengirimi Putra makanan lagi. Kadang Putra kangen sama masakannya Ajeng, tapi apa boleh buat pikirnya, dia sudah terlanjur marah. Bahkan berangkat ke sekolah saja Putra tidak lagi menjemputnya yang membuat heran Mamanya Ajeng. Mamanya bertanya-tanya di dalam hati ada apa gerangan. Dua sejoli ini tidak bicara dan saling menyapa sampai liburan lebaran yang membuat sakit hati masing-masing. Kejadian ini seharusnya tidak perlu terjadi untuk dirasakan. Di dalam kamarnya Putra, dia sering melamun memikirkan Ajeng dengan kejadian kemarin malam yang tak terlupakan buat dirinya untuk selamanya. Terdengar musik dari radio di kamarnya. Lagu itu dari Groub Band LETTO yang berjudul BUNGA DI MALAM ITU. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 20).


Ketika Grace, Medina, Ajeng dan Putra sedang ujian mid semester, sungguh malang yang terjadi. Negara tetangga terkena nasib yang sama yang dialami oleh Negara Indonesia. Tiba-tiba saja cuaca di Asia Tenggara menjadi buruk, banyak pesawat yang meledak di udara sebagaimana yang dialami oleh Indonesia. Fenomena alam yang aneh ini telah melanda Asia Tenggara yaitu turun salju yang sangat lebat sekali. Di Negara kita Indonesia juga turun salju, di lanjutkan Negara Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, Australia, Selandia Baru dan negara lainnya yang masih di kawasan Asia Tenggara. Di sekitar Benua Australia juga mengalami hal yang sama yaitu badai salju yang sangat lebat. Langit telah tertutupi awan tebal yang sangat putih karena salju turun begitu lebatnya. Sungguh aneh, garis khatulistiwa sudah tidak seperti dulu lagi. Sang Surya merasa malu untuk menampakkan dirinya. Mungkin, apakah ini ya dampak dari Global Warming yang sudah sangat parah dengan dunia kita ini. 


Di sekolah mereka, baik di Jakarta yang ditempati Grace dan Medina juga di Yogyakarta yang ditempati Ajeng dan Sarmijo. Teman-teman sekolah mereka berempat maupun semua warga Indonesia banyak yang memakai jaket tebal karena kedinginan. mereka merasa keheranan dengan cuaca di Indonesia yang bisa menurunkan salju. Banyak juga rumah yang roboh karena tidak kuat menahan dari tumpukan salju di atas genteng mereka. Seluruh warga Indonesia menderita dengan suhu yang sangat dingin dan lembab, kebanyakan mereka membakar kayu agar hangat. Mereka kaget, panik dan tidak siap dengan cuaca yang sangat aneh ini, mereka berpikir apa mungkin akan terjadi kiamat.


Buku Passport Sarmijo miliknya Putra bergetar hebat di sakunya karena ada informasi darurat dari buku sakunya. Putra mengambil bukunya untuk melihat halaman kedua, dia melihat informasi yang aneh. Mungkin inilah yang dimaksud buku itu yaitu keonaran yang dilakukan oleh roh gentayangan, pikirnya Putra setelah membaca informasi dari buku Passport Sarmijo. Selama ujian badai salju tidak berhenti, dilanjutkan liburan Lebaran pun tidak berhenti bahkan sampai Lebaran pun salju tetap turun. Ketika ujian telah selesai Putra pulang ke rumah Nenek angkatnya yang berada di Semarang. Ajeng berlebaran di Yogyakarta karena dia asli warga gudeg. Medina mudik ke Bandung ke rumah Nenek dan Kakeknya, dia sedih karena tidak bisa lebaran bareng sama Papa tercintanya. Seharian pada hari lebaran dia menangis terisak-isak kangen sama Papanya yang belum ditemukan.


Ketika libur panjang ini, Grace pulang ke Negara Inggris untuk menjenguk Neneknya yang sakit yang dirawat di rumah sakit. Pada hari turunnya salju di Asia Tenggara, penerbangan pesawat lumpuh total. Grace dan Mamanya naik kapal pesiar tujuan Jakarta ke Eropa yang transit dulu di Singapura. Kapal ini menuju ke Negara inggris karena kapal ini berbendera Inggris dan juga milik negara ini. Syukurlah saat itu kondisi alam agak mendingan karena badai dan salju tidak mulai turun. Desas-desus kapal super cepat ini baru dipakai lima bulan, cukup baru bila dibandingkan dengan kapal Indonesia yang sudah mulai uzur tetap saja dipakai. Padahal itu kapal jamannya kakeknya Sarmijo.


Mereka menghabiskan liburan lebaran di rumah nenek mereka masing-masing. Ketika mereka liburan, mereka pun sering berkomunikasi lewat buku saku milik mereka. Putra sedikit heran, ternyata komunikasi dua arah antara Sarmijo dan Grace bisa dilakukan tanpa adanya gangguan. Padahal Grace saat itu berada di Negara Inggris di rumah Neneknya. Sedangkan ketiga gadis yaitu Grace, Medina dan Ajeng sering mengobrol dan bergosip tanpa sepengetahuan Sarmijo tentunya.  Gosip mereka tidak menggunakan chatting maupun hape lagi. Namun, menggunakan buku Passport milik mereka masing masing. Grace, Medina dan Ajeng saat ini tidak takut lagi menggunakan bukunya, akan tetapi jika kasus yang lain dan menyeramkan masih perlu dipertanyakan keberanian mereka bertiga.

__ADS_1


##T##


__ADS_2