Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
44. Bermalam Dengan Sang Pangeran 19


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


Malaikat Maut telah menghampiri Putra untuk mencabut nyawanya. Air mata Putra mengering, tubuhnya tidak berdaya. Rohnya Putra keluar dari badannya dan menemui malaikat maut di sampingnya.


“Sarmijo Syah putra Noto Negoro, kamu belum saatnya mati. Kembalilah ke tubuhmu.” Kata Malaikat Maut di depannya. Putra melihat tubuhnya terkapar yang masih bernafas.


“Cabut saja nyawaku, sepertinya hidupku nggak berarti. Biarkanlah sisa tubuhku yang terkulai lemah itu untuk sahabatku, sebagai bukti maafku padanya. Bahwasanya aku telah menyesal. Sepertinya diriku enggak termaafkan, jikalau aku mati pun enggak ada yang akan menangisi kepergianku untuk selamanya. Tapi aku berpesan kepadamu hai Malaikat pencabut nyawaku, aku titip kata maaf kepada ketiga sahabatku Grace, Medina dan terutama kepada Ajeng yang selama ini dia rela menjadi sahabat terbaikku yang sangat lama semenjak aku masih kecil. Tolong sampaikanlah bahwa aku telah menyesal melukai perasaan mereka dan aku sangat bahagia selama ini bersama mereka.” Tubuh Putra yang berwujud roh tidak merasakan sakit dan sedih lagi. Putra merasakan senang dengan terbebasnya rasa sakit yang masih berada di tubuhnya yang terkapar. Putra tidak nangis lagi, malahan bahagia berangan bertemu dengan Ayah dan Bundanya yang telah menunggu dirinya.


“Di sini tercatat jika kamu masih hidup sampai waktu lain menentukan kamu mati, kembalilah ke tubuhmu dan perbaikilah kesalahanmu. Tuhan masih memberikan kesempatan kepadamu untuk berbuat baik. Jika kamu mati, sahabatmu akan dimakan Makhluk Berjubah. Mereka nantinya akan menjadi tumbal karena mereka akan di kejar-kejar setelah Batu Meteor itu dimiliki mereka. Ini sudah menjadi takdir bagimu dan bagi ketiga sahabatmu untuk melawan Iblis yang terkutuk. Kembalilah ke tubuhmu.” Putra teringat dengan ketiga gadis sahabatnya, dia merasa sedih jika saja ketiganya di jadikan tumbal dan terkoyak dimakan bangsa siluman.


“Tapi, aku ingin mati. Aku nggak ingin kembali, ajaklah aku pergi ke atas langit sana.” Kata Putra yang melihat malaikat maut berjubah putih yang tidak terlihat wajahnya. “Apakah dirimu jika mencabut nyawa memakai jubah putih.”

__ADS_1


“Tidak. Jika yang aku cabut orang yang banyak dosanya pastinya akan berwajah menyeramkan dan memakai jubah hitam. Jika kamu sampai melihatnya pasti kamu lebih suka hidup di bandingkan mati. Kamu ingin pergi kemana, akan aku turuti asal kamu mau balik lagi ke badanmu.”


“Terserah kamu, aku ingin ikut kamu saja. Saat ini aku nggak punya teman, biarkanlah diriku berteman dengan dirimu.”


“Baiklah kalau begitu, naiklah ke punggungku. Kamu akan melihat sayapku yang berjumlah ribuan.” Malaikat maut ini tingginya lima meter, sangat besar sekali. Ketika sayapnya terbuka dari punggungnya Putra merasa takjub.


Setelah Putra terkapar di depan pintu gerbangnya Ajeng, Bibi pembantunya Ajeng membuka pintu gerbang. Bibi ini kaget dan shock karena teman majikannya terkapar di sana dan darahnya mengalir di lantai pintu gerbang. Bibi ini berteriak sangat kencang, dia menjerit dan memanggil Non Ajeng yang saat itu berada di ruang tamu bersama Grace dan Medina.


“Non Ajeeeeeeng....Non Ajeennnggg, temanmu non terkapar di sini.” Bibi ini lari mencarinya. Ajeng kaget mendengarkan teriakan dari bibi pembantunya. Grace dan Medina juga kaget, Mereka bertiga keluar rumah. 


“Aduh Non, Tuan dan Nyonya nggak ada. Bagaimana ini Non jika dia nggak tertolong. Kita bawa ke rumah sakit saja ya Non.” Kata Bibi pembantunya yang panik. Di rumah itu tidak ada laki-laki, kesemuanya perempuan yaitu dua pembantu perempuan, Ajeng, Grace dan Medina. Sedangkan sopir mengantarkan Papa dan Mamanya Ajeng pergi meeting entah pulangnya sampai kapan.


“Tunggu dulu Bi, kita tolong sebisa mungkin nanti kita bawa kesana. Lebih baik Bibi telpon Papa sama Mama suruh pulang, biar aku jahit keningnya putra yang robek dan bajunya juga aku lepas. Bajunya Putra basah dan kotor, kasihan Putra dia kedinginan.” Kata Ajeng yang sangat serius, untuk urusan menjahit luka robek Ajeng sudah bisa. Dia banyak belajar dari Mama dan Papanya. Pembantunya mengambil peralatan bedah yang masih steril, Ajeng menjahit lukanya Putra yang berada di keningnya. Grace dan Medina di suruh keluar sebentar dari kamar begitu juga kedua Bibi pembantunya. Disana ada Putra dan Ajeng saja, karena dia akan menggunting seluruh bajunya Putra dan menyelimutinya. Setelah Ajeng menggunting semua bajunya Putra yang basah, Grace dan Medina masuk beserta kedua pembantunya. Grace memegang tangannya Putra yang pucat, begitu juga Medina yang mengompres keningnya Putra. Ajeng memasang infus di tangan kirinya, juga memasang oksigen kepada Putra. Tak berapa lama Papa dan Mamanya pulang ke rumahnya karena mobil mereka sudah nyampai di jalan Kaliurang ketika mereka pulang dari meeting di Magelang. Ajeng, Grace dan Medina bertemu Papa dan Mamanya di luar rumah.

__ADS_1


“Pa, Ma cepat. Putra pingsan, dia kedinginan.” Kata Ajeng yang menitikkan air mata. Papa dan Mamanya beserta Grace, Medina dan Ajeng masuk ke ruang tidur tamu. Papanya memeriksa tubuhnya Putra, mulai dari matanya yang disorot dengan senter sampai memeriksa perut dan dadanya. Papanya menyuntikkan obat kepada putra dan menyuruh pembantunya untuk mengambilkan beberapa selimut untuk menyelimuti Putra agar badannya hangat. Tubuhnya Putra mulai tidak menggigil lagi dan wajahnya tampak damai dalam tidurnya. Tiga hari Putra pingsan, ketika Putra bangun Mamanya Ajeng duduk di kursi di sampingnya. Kepala Putra di perban Ajeng, jarum infus masih menempel di tangannya.


“Putra, kamu sudah siuman.” Ucap Mamanya Ajeng yang mengelus rambutnya Putra.


“Tante, aku ada dimana.” Putra yang berusaha duduk tapi masih tidak kuat.


“Jangan duduk dulu sayang, tidurlah. Yang sabar ya. Kamu sekarang di rumahnya Tante.” Mamanya Ajeng mulai menitikkan air mata teringat dengan kedua sahabatnya yang telah tiada yaitu Mama dan Papanya putra. Mamanya Ajeng tidak mau kehilangan anak sahabatnya, apalagi sampai sakit. Putra sangat diperhatikan olehnya.


“Tante, Ajeng, Grace dan Medina kemana. Aku malu bertemu mereka bertiga tante. Aku merasa bersalah telah menyakiti hatinya.” Putra mau menangis mengenang kejadian tiga hari yang lalu, tapi dia malu menangis di depan mamanya Ajeng.


“Mereka ada di kamarnya, aku panggilin untuk turun kesini ya.”


“Nggak usah Tante, biar mereka di sana.” Putra tidak enak hati bertemu dengan mereka lagi. Dia sangat malu sekali jika bertemu lagi, malunya Putra sebesar Gunung Merapi. 

__ADS_1


“Eh Put, mereka bertiga sedih loh kamu seperti ini. Tapi, jika aku lihat lagi wajah mereka bertiga sepertinya sangat benci sama kamu. Memangnya kalian lagi bertengkar ya.” Tanya Mamanya Ajeng yang penasaran dengan yang dilakukan Putra terhadap mereka bertiga. Putra shock lagi, matanya memerah. Dia sangat malu dengan mamanya Ajeng yang bertanya seperti itu. Dia juga malu bertemu mereka bertiga lagi. Putra hanya bisa memejamkan matanya.


__ADS_2