Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
32. Bermalam Dengan Sang Pangeran 7


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Bawa kok, tenang aja. Besok aku kirimin lewat pos. Untuk Putra juga ada.” Kedua gadis yakni grace dan medina kemudian mengambil buku passportnya yang di taruh di atas permadani. Dan mereka pun menuliskan lagi nama kedua sahabat yang berada di yogyakarta, passport ajeng dan passport sarmijo pada halaman pertama. Passport miliknya Ajeng dan putra bergetar dan mengeluarkan bunyi tertawa yang nyaring mengerikan dan juga miliknya putra berbunyi dentuman yang dahsyat.


“Putra, Buku Passport kita bunyi lagi. Kali ini nggak mengeluarkan asap putih.” Keduanya heran dengan perubahan terhadap Buku Saku mereka.


“Iya Yu’, kita angkat aja ya. Sepertinya sudah aman deh. Sebenarnya tadi ada apa ya, Buku kita kok mengeluarkan asap putih sih. Mungkin ada sesuatu hal yang ingin disampaikan Buku Saku kita, kira-kira apa ya Yu’.”


“Put, kamu jangan nakut-nakutin aku ah. Masak sih akan terjadi yang aneh lagi.” Putra hanya diam membisu, kemudian Putra dan Ajeng meraih Buku Passport mereka untuk membuka halaman ketiga. Nampak kelihatan di layar halaman ketiga Buku masing-masing terdapat dua gambar bergerak yang terbagi dua kotak. Milik Buku Passport Putra terdapat kotak bergambar Grace dan kotak bergambar Medina demikian juga miliknya Ajeng sama seperti miliknya Putra. Karena pada awalnya mereka dipanggil oleh sahabat mereka yang berada di Jakarta. Sedangkan miliknya Grace dan Medina nampak pada halaman ketiga terdapat dua kotak gambar, yaitu Ajeng dan Putra secara visual.


“Hai, apa kabar kalian. Gimana Buku Passport milik kalian masih mengeluarkan asap putih lagi.” Tanya Grace kepada Ajeng dan Putra.


“Sudah enggak kok, aman kayaknya sih. Nanti jika ada asap putih lagi buku ini aku buang ke kolam renang aja biar buku ini enggak mengeluarkan asap lagi.” Kata Ajeng yang jengkel dan takut.

__ADS_1


“Eh...Yu’, jangan berkata begitu. Buku Passport ini punya hati dan perasaan loh, nanti jika dia marahan sama kita gimana nasib kita. Mungkin kita bisa gatal-gatal lagi.” Ucap Putra di sampingnya Ajeng.


“Masak sih Put Buku Passport ini bisa marah.” sambut Medina yang melihat keseriusan wajahnya Putra yang di lihat dari Buku Passport miliknya.


“Bisa loh, tahu enggak Buku Passport milikku membawa Jimat Sakti iya kan. Katanya Jimat Sakti ini yang mengikat perjanjian antara Makhluk Berjubah Hitam Bermoncong Serigala dan Roh Gentayangan yang diperbudak olehnya. Jadi, Buku Passport ini bukan sembarang Buku biasa. Pastinya ada sesuatu kekuatan yang sangat besar dari Buku Passport yang kita miliki.” Tanggapan dari Putra yang serius, sehingga suasana menjadi seram. “Eh tau nggak, informasi yang aku dapat dari Buku Saku milikku ini. Bahwasanya yang menyebabkan badai salju di khatulistiwa adalah Roh Gentayangan yang keluar dari persembunyiannya yang sangat kelam.”


“Udah ah jangan bicara yang serem-serem, yang lainnya aja deh.” Ucap Ajeng yang merinding, Grace dan Medina juga merinding di kamarnya Medina. Walaupun Grace merinding, dia juga penasaran apa yang dikatakan Putra. Akhirnya Ajeng dan Medina ikut penasaran juga.


“Maksudmu apa sih Put. Badai salju di kawasan Asia Tenggara, penyebabnya adalah Roh Gentayangan.” Ucap Grace.


“Terus kenapa Roh Gentayangan bisa lepas dari cengkraman Makhluk Berjubah bermoncong Serigala. Jangan-jangan ada yang membuka ya Segel Kunci Penjara mereka.” Analisis Ajeng yang sangat akurat. Akhirnya Grace dan Medina juga berpikir sama.


“Maaf, maafkan.” Putra agak ragu-ragu dengan ucapannya sendiri. “kalian semua Grace, Medina dan kamu Yu’ maafkan lah aku ya.” Kata Putra. Ketika dia berkata nama Ajeng, dia melihat mukanya. Putra pun menundukkan wajahnya ketika di lihat Ajeng.


“Ada apa Put kok kamu minta maaf, memangnya kamu salah apa sama kita.” Kata Ajeng yang mulai memegang tangannya Putra yang sangat dingin sekali.

__ADS_1


“Apa yang kamu sembunyikan dari kami Put.” Ucap Medina yang serius dengan pertanyaannya.


“Iya Put, kamu kelihatan serius banget dan wajahmu pucat ketakutan. Apakah kamu melakukan kesalahan yang sangat besar.” Kata Grace yang memandangi wajahnya Putra yang pucat melalui Buku Passportnya.


“Maaf ya, ini semua salahku. Akulah yang mengeluarkan Roh Gentayangan dari penjara. Membebaskan mereka dari perbudakan dari Makhluk Berjubah Bermoncong Serigala baik sengaja maupun nggak disengaja.” Putra hanya bisa pasrah dan menundukkan mukanya karena merasa bersalah. Tangan Putra yang di pegang Ajeng mengeluarkan keringat dingin karena Putra ketakutan sendiri. Waktu itu dia ingin bisa melihat wujud Roh Gentayangan lewat Buku Passportnya. Ketika dia melihatnya, seolah-olah rohnya terhisap masuk ke Buku Passportnya ketika ada tubuh Roh Gentayangan yang berada di halaman ketiga. Roh Gentayangan itu marah melihat wajahnya Putra, tubuhnya seolah-olah terhipnotis untuk mendekatkan wajahnya dengan Buku Passportnya. Ketika itu air mata Putra tiba-tiba tertarik ke dalamnya, air mata itu di hisap oleh Roh Gentayangan. Sampai akhirnya air mata Putra mengering dan tergantikan dengan darah yang keluar dari matanya. Ketika darah keluar dari matanya yang tersedot masuk ke dalam mulutnya Roh Gentayangan, dia tersadar dari hipnotis atau pengaruh dari makhluk ini. Putra pun berteriak sangat kencang yang akhirnya Buku Passportnya terlempar dan melayang kemudian Bukunya menutup sendiri. Putra merasa kesakitan di seluruh tubuhnya. Rasa paling sakit yang dirasakan Putra adalah matanya yang masih mengeluarkan tetesan darah di pipinya, dia tidak bisa melihat selama lima jam. Putra sangat panik, tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengurung dirinya di kamar. Tiba-tiba ketika putra memanggil Buku Passportnya, buku itu melayang di mukanya dan mengeluarkan asap putih yang sangat dingin sekali. Ternyata asap putih itu adalah obat dan penawar racun yang ditularkan dari Roh Gentayangan sebagai penanda yang nantinya akan dijadikan santapan baginya. Putra tidak memberikan informasi ini kepada ketiga gadis cantik sahabatnya karena Putra berpendapat nantinya mereka akan ketakutan.


“Benarkah itu Put, kok bisa sih. Emangnya kamu pernah bertemu dengan makhluk itu Put.” Ucap Ajeng yang mulai mendekati Putra. Bahunya Ajeng sebelah kiri menempel bahunya Putra sebelah kanan karena dia jadi merinding. Apalagi dia habis memegang tangannya Putra yang dingin dan mengeluarkan keringat dingin. Seluruh badannya Ajeng jadi merinding dibuatnya. Putra sadar jika Ajeng ketakutan, dia hanya bisa tersenyum yang wajahnya masih pucat.


“Kamu takut ya Yu’, sampai mendekati aku seperti ini.” ucap Putra yang merasa senang didekati Ajeng.


“Iyalah. Lihat saja wajahmu seperti itu, membuat merinding seluruh tubuhku tau’. Padahal ini kan masih sore, kok auranya menyeramkan ya Put.” Ucap Ajeng yang malu sama Putra ketika dia mendekati tubuhnya. Dia berusaha mengalihkan perhatian agar tidak takut.


“Bagaimana Put, apa kamu pernah melihatnya.” Kata Medina yang penasaran. Apakah Putra pernah bertemu dengannya yang pada akhirnya segel penjara itu terbuka karena ulahnya.


“Iya Put. Kamu jangan membuat kita penasaran deh. Mulai saat ini kamu harus terus terang sama kita, apa yang sebenarnya kamu alami selama ini. Kenapa kamu kok nggak memberitahukan kita sejak dulu.” Kata Grace yang mulai menghakimi Putra. karena Grace, Medina dan Ajeng tidak ikut dilibatkan dalam masalah ini.

__ADS_1


__ADS_2