
... MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
“Halo juga Grace. Puji syukur kepada Tuhan, aku baik-baik saja walaupun agak sedikit sedih tapi cuman dikit. Eh sekarang kamu masih di London ya.” Ucap Medina yang berada di kamarnya.
“Aku udah balik kemarin Din naik pesawat. Habisnya naik kapal laut kelamaan, tapi asik loh Din. Eh ceritanya nanti aja ya, kamu sekarang di mana sayang. Kalau di Jakarta aku mampir ke rumahmu aja.”
“Iya, aku udah pulang tiga hari yang lalu. Ya udah aku tunggu ya di rumahku.”
“Baiklah kalau gitu, tunggu aku ya. Daah.. honey.”
“Daah juga, emach.” Hapenya Medina ditutup sambil memberikan ciuman kepada Grace yang tersenyum mengingatnya. Grace kemudian turun dari kamarnya yang berada di lantai atas, sambil membawa oleh-oleh dari Inggris. Di bawah udah ada Mamanya yang sedang menyiapkan untuk makan malam nantinya di bantu Bibi pembantunya.
“Mah. Aku pergi dulu ya ke rumahnya Medina.” Kata Grace yang mencium tangan Mamanya.
“Ya udah. Barang yang kamu bawa sudah lengkap semua, itu yang kamu bawa untuk Medina kan.”
“Iya mah, dah... Mami.”
“Eh tunggu, sekalian aja aku ikut ke rumahnya Mamanya Medina. Papamu kemana Grace, coba panggil untuk siap-siap pergi ke rumahnya sahabatmu.” Kata Mamanya Grace yang pergi ke kamarnya untuk ganti baju.”
“Aduh...Aku udah di tunggu Medina Mah, Mama sama Papa nyusul aja ya.”
“Ya udah kalau gitu, hati-hati ya sayang.”
“Ah Mama ada-ada aja deh. Cuma sebelah rumah aja kok pakai hati-hati sih Mah, lagian yang nyulik Grace juga sapa.”
“Eh...nih anak di bilangin Orang Tua bisanya bantah aja. Tapi tak apalah, berarti kamu itu kritis. Bagus itu.” Kata Mamanya yang masuk ke kamarnya sambil mencari suaminya. Sedangkan Grace pergi sendiri ke rumah sahabatnya. Dia melangkahkan kakinya ke luar rumah sambil berjalan menyusuri jalanan perumahan. Rumah mereka dekat, hanya berbeda beberapa blok saja. Grace sampai juga di rumahnya Medina, dia masuk ke teras rumahnya. Ternyata di teras sudah di tunggu Medina sambil duduk di kursi membaca majalah remaja.
__ADS_1
“Halo Medina, sudah kamu tunggu yah.” Ucap Grace yang mendatangi Medina. Keduanya berjabat tangan saling menempelkan pipi mereka.
“Aduh Grace kok kamu tambah langsing dan seksi sih habis pulang dari Inggris.”
“Iya nih. Aku lagi program diet, agar berat badanku turun lagi. Aku rasa kemarin tubuhku gemukan deh.”
“Ah enggak kok. Tapi yang sekarang lebih segar. Aura tubuhmu memancar lo Grace.”
“Ah bisa aja kamu Din, Mamamu di rumah ya.”
“Iya di rumah, kenapa memangnya Grace. eh...kita masuk dulu yuk, ke kamarku aja. Aku bawa oleh-oleh loh, kesukaanmu. kali ini asli Bandung loh Grace.” Mereka berdua masuk ke rumah melangkahkan kakinya pergi ke lantai atas. Sebelum Medina ke atas, dia memanggil Bibi Ijah.
“Bibi Ijah, sini sebentar deh.” Kata Medina mencari Bibi Ijah. Dia belum datang juga menghampiri Medina.
“Din, nanti Mama sama Papaku menyusul ke mari. Kasih tahu Mamamu yah.” Kata Grace di samping Medina sambil membawa banyak barang dari rumahnya.
“Iya deh beres. Eh...barang yang kamu bawa kok banyak banget sih. Apa aja tuh isinya.” Medina penasaran apa yang dibawa oleh Grace.
“Maaf ya Non agak lama. Anu Non, ini loh. Ikan yang mau digoreng masih hidup dan loncat ke lantai. Jadinya aku ambil tuh ikan, tapi Non susahnya minta ampun nangkapnya. Oh ya Non, ada apa ya Non Medina memanggil Bibi.” Kata Bibi Ijah yang buru-buru menghampiri mereka. Tangannya Bibi Ijah harum bau sabun, karena tadi dia merasa bau amis yang menyengat. Bibi Ijah curhat masalah yang sedang dihadapinya ketika berada di dapur. Grace alexa widawati dan medina syahrani tersenyum.
“Ah...enggak apa-apa kok Bi. Eh Bi, nanti kita bikinin minuman ya yang hangat. Sepertinya sore ini agak mendung deh, mungkin sebentar lagi hujan. Juga bawain jajan yang di toples, nanti bawa ke atas, tolong ya Bi.” Ucap Medina.
“Beres Non. Maaf Non, ada lagi yang harus dibawa ke atas.”
“Emmm...cukup itu aja Bi, makasih ya Bi.”
“Iya Non, sama-sama.”
“Bi...nanti ikannya dipotong ya Bi.” Ucap Grace yang penasaran dengan nasib ikan yang akan diperlakukan oleh Bibi Ijah.
__ADS_1
“Iya Non Grace.”
“Ih serem.” Ucap Grace dalam hati yang diajak Medina naik ke atas. Kemudian Bibi Ijah pamitan pergi ke dapur. Ketika mereka di dalam kamar, Medina keluar sebentar mencari Mamanya. Sedangkan grace di dalam kamarnya Medina sambil membuka tas yang dibawanya. Medina memberitahukan sama Mamanya jika sebentar lagi Mama dan Papanya Grace akan datang kemari. Setelah Medina memberitahukan kepada Mamanya di kamar sebelah, dia masuk ke dalam kamarnya.
“Aduh...barangnya kok banyak amat sih Grace.” Medina takjub dengan barang bawaan yang dibawa Grace.
“Iya nih. Eh Din bantuin dong untuk bongkar tas ini.” kata Grace yang sedari tadi sibuk mengambilkan barang yang berada di dalam tas.
“Oke deh. Wah ini gaun cantik banget deh. Ini untuk siapa ya Grace.” Medina takjub dengan gaun berwarna coklat tua kehitam-hitaman yang di pegangnya sambil berjalan mendekati kaca besar di kamarnya. “Luar biasa anggun gaun ini, kelihatannya kalau aku pakai pas banget nih.” Medina mengaca di depan kaca besar dengan gaun baru tadi sambil tubuhnya berputar-putar.
“Itu gaun untukmu. Eh tau nggak Din, gaun itu dari siapa.”
“Dari siapa Grace, dari Tantemu yang ada di paris yah.” Medina penasaran, dia berbicara tanpa memandangi Grace. Medina asik dengan gaun yang indah itu.
“Hampir benar, tapi masih salah.”
“Terus dari siapa kalau gitu Grace. Hebat banget sih, ini bikinan sendiri ya. Anggun sekali gaun ini, jika aku pakai, aku pasti tambah cantik. Betul enggak Grace.”
“Iya, kayaknya cocok deh kalau kamu pakai Din, emang indah banget. Eh gaun itu yang bikin Rose Penelope Valentina loh, Putrinya Tante aku yang berada di Paris. Itu loh Din yang dulu masa kecilnya dia gadis tomboy, masih ingat kan.” Grace melihat Medina yang kaget bukan main. Medina mendatanginya dan duduk di kasur dekat dengan Grace.
“Beneran Grace ini dari Rose, emangnya dia udah berubah tomboynya. Hebat banget sih dia bisa bikin gaun seindah ini, jadi jealous deh aku. Kita kapan ya bisa seperti dia.”
“Tomboynya sih masih tetap, tapi dia punya bakat dari Mamanya Din. Malah dia lebih pintar loh dari Mamanya. Aku hampir saja nggak percaya jika dia bisa membuat gaun seindah ini. Tapi dia masih suka menjadi seorang Arkeolog Din. Mungkin waktu dekat dia mau datang mengunjungi Indonesia. Kata dia sih penasaran dengan candi terbesar itu loh din Borobudur. Kita doakan saja dia jadi datang, nantinya dia nginap di rumahku loh Din.”
“Wah, asik tuh kalau dia datang kesini. Nanti kita kenalin dia sama Ajeng dan Putra yang berada di Yogyakarta, makin rame kan makin bagus ya kan Grace.”
“Setuju aku Din, biar dia nantinya kerasan di Indonesia. Dan semoga saja dia kuliah disini, terutama di Yogyakarta.”
“Oh ya Grace, kabar Ajeng dan Putra gimana ya.” Mereka berdua saling pandang dan membereskan oleh-oleh yang banyak itu di taruh di pojok ruangan.
__ADS_1
“Kamu buka sendiri ya oleh-oleh dari aku. Mendingan kita hubungi mereka berdua yuk, gimana kalau pakai buku Passport.” Oleh-oleh pemberian dari Grace ini di bungkus rapi dalam kado. Oleh-olehnya di taruh di dekat kasur.
“Setuju Grace. Kamu udah bawa ya buku saku milikmu.” Medina mencari buku Passportnya di lemari buku.