Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
38. Bermalam Dengan Sang Pangeran 13


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Kembalikan jimat itu, kembalikan buku berkulit manusia itu. Dimana jimat itu ayo katakan, kalau tidak aku akan membunuhmu.” Sebelum roh gentayangan menyerang Grace, Medina dan Ajeng, makhluk berjubah yang tidak nampak mukanya melayang-layang mendatangi mereka. Roh gentayangan ketakutan melihat makhluk berjubah ini. Mereka menjerit makin keras dan menyingkir pergi menghindarinya. Roh gentayang mulai menghilang dari kamar ketiganya. Setelah roh gentayangan lenyap, ruangan kamar mereka sekarang digantikan dengan keberadaan makhluk berjubah yang bertambah-tambah banyak sambil menembus dinding kamar.


“Mana jimat itu, kembalikan kepada kami. Jika tidak, kepalamu akan terpotong seperti makhluk tadi.” Kata makhluk ini. Grace, Medina dan Ajeng diam dan ketakutan. Tubuhnya kedinginan, tatapan matanya pun kosong ketika melihat mata merah makhluk berjubah ini, seolah-olah ketiganya terhipnotis. Badan mereka tidak bisa digerakkan, mulutnya tidak bisa di buka sampai suatu ketika makhluk itu mengeluarkan bunyi aneh. Mendengar suara itu ketiganya bisa bernafas kembali dan mulutnya pun bisa dibuka. Setelah terbebas dari pengaruh mereka, ketiganya menjerit ketakutan sambil ancang-ancang untuk melarikan diri. Ketiganya tidak mampu untuk kabur karena makhluk berjubah mengayunkan di muka mereka sebuah tongkat yang bermata pisau bengkok di depan matanya. 

__ADS_1


Grace, Medina dan Ajeng menangis dan meminta ampun kepada makhluk tanpa muka ini yang tertutupi dengan jubah hitam sambil melayang-layang di atas mereka. Makhluk tanpa perasaan ini mengancam dengan tombaknya, setelah itu apa yang terjadi sungguh memilukan. Grace, Medina dan Ajeng tubuhnya nampak lemas dan makin melemah. Makhluk berjubah ini menarik roh mereka bertiga dari tubuhnya yang indah, sungguh sakit rasanya. Seperti sakaratul maut sebelum kematian menghampiri. Grace, Medina dan Ajeng lemas terkulai di pojok kamarnya, roh mereka hampir lepas dari tubuhnya. Rohnya Medina sudah terangkat sampai ke perutnya, kepala rohnya Medina sudah keluar dari kepala jasadnya. Rohnya Grace terangkat sampai di dadanya, kepala dan tangannya rohnya Grace juga sudah keluar dari tubuhnya yang terkulai lemas. Sungguh malang tertimpa Ajeng, rohnya Ajeng sudah terangkat sampai kakinya yang berada di kepala jasadnya. Tubuhnya ajeng mulai berhenti bergerak.


Sebelum hal itu menjadi lebih buruk, Buku Saku Grace dan Medina yang berada di meja belajar mengeluarkan asap putih. Bukunya Ajeng berada di atas kasur juga mengeluarkan asap putih. Mereka bertiga tidak sadar, tubuhnya diam seperti mayat. Ketika memasuki alam lain, mereka tidak bisa melihat dan tidak tahu di sekitar mereka. Yang mereka tahu di sekitarnya hanya ruangan hitam dan gelap serta berbau sangat menyengat. Ketiganya pasrah jika suatu saat nanti ajalnya telah tiba. Ketika mereka bertiga pasrah dengan nasib yang dialaminya, tiba-tiba asap putih memenuhi ruangan kamarnya yang menjadikan sangat pekat. Makhluk berjubah hitam ini menjerit-jerit, jubah mereka mulai terbakar.  Mereka berlarian menembus dinding kamar. Asap pekat berwarna putih masih memenuhi ruangan. Tubuhnya Grace, Medina dan Ajeng masih terkulai lemah di lantai. Ketiganya masih tidak sadar sampai asap pekat berwarna putih itu mulai berangsur-angsur lenyap. Ketika asap putih sudah tidak ada di kamar mereka, ketiganya juga lenyap tidak berada di kamarnya masing-masing. Sungguh malam yang sangat berat untuk dirasakan, dua jam mereka bertiga mengalami penderitaan yang sangat memilukan. ketiganya telah menghilang bersama Buku Passportnya itulah yang terjadi. Entah kemana perginya.


Tiba-tiba Putra di kagetkan di dalam kamarnya. Tubuh Grace, Medina dan Ajeng terkulai lemah di sampingnya. Putra melihat ketiga gadis cantik sahabatnya yang pingsan di lantai. Grace dan medina mengerang kesakitan sedangkan Ajeng tubuhnya tidak bergerak. Putra mulai mendatangi mereka, dan memeriksa satu persatu.


“Din, kamu enggak apa-apa kan Din.” Putra mulai khawatir menghinggap di hatinya. “Din bangun Din, ada apa dengan kalian.” Putra mengoncangkan tubuhnya Medina agar bangun. Medina masih mengerang kesakitan dan dia pun tidak sadar. Akhirnya Putra mendatangi tubuhnya Ajeng di sebelah Medina yang tidak bergerak dan tidak bersuara.

__ADS_1


“Yu’, bangun Yu’.” Kata Putra. Tubuh Ajeng diam, putra mengecek nadinya Ajeng dan juga merasakan hembusan di hidungnya. Tiba-tiba Putra gugup, karena Ajeng benar-benar tidak bernafas. Putra mulai menangis, di dalam hatinya berkecamuk tidak tenang. Akhirnya dia bisa menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya berkali-kali. Setelah dia merasa tenang, dia mulai melakukan tindakan. Tubuhnya Ajeng di terlentangkan oleh Putra. Dia mulai membuat nafas buatan terhadap Ajeng. Putra membuka saluran nafas dengan menekankan satu tangan di dahi dan dua jari tangan yang lain agar agak mendorong dagunya Ajeng. Putra memeriksa dadanya Ajeng jika ada gerakan nafas, dia pun berusaha merasakan nafasnya di hidungnya Ajeng dengan pipinya sendiri. Ajeng benar-benar tidak bernafas. Putra menjepit hidungnya dengan dua jari tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menengadahkan memegang dagunya agar mulutnya  terbuka. Putra menangkupkan mulutnya menutupi seluruh mulutnya Ajeng, dia memberikan dua kali nafas bantuan dan dia pun menyelingi dengan jeda untuk mengambil nafas sendiri. kemudian Putra meniupkan udara lagi dari mulutnya yang bertemu dengan bibirnya. Berkali-kali bibirnya Putra bersentuhan dengan bibirnya untuk memberikan udara yang dimasukkan ke paru-parunya. Ajeng masih diam, dia tidak bernafas, kepala Putra mendekapkan di dadanya untuk mengecek detak jantungnya, Ajeng masih tidak bernafas dan detak jantungnya tidak ada. Putra mengecek denyut lehernya selama sepuluh detik dan memeriksa tanda pemulihan lain. Dia juga memeriksa warna kulitnya Ajeng untuk melihat ada tanda-tanda pemulihan. Air mata putra mengalir dengan deras, karena sahabatnya mati.


“Ya Tuhan. Yu’, jangan mati Yu’. Dengan siapa lagi aku nanti jika kamu tiada. Yu’ bernafaslah.” Putra kembali memberikan nafas buatan lagi, air matanya Putra menetes di matanya Ajeng yang terpejam. Kemudian Putra menempelkan kepalanya di dadanya untuk mendengarkan detak jantungnya, Putra kecewa karena jantungnya masih tidak berdetak.


“Yu’, aku sangat mencintaimu janganlah mati.” Putra mengambil inisiatif lagi. Putra mulai melakukan teknik CPR yaitu Cardiopulmonary Resuscitation yaitu teknik penyelamatan yang menggabungkan bantuan pernafasan dengan penekanan dada. Teknik ini dilakukan pada korban pingsan yang tidak bernafas dan tidak ada denyut nadi, untuk memaksa darah keluar dari jantung dan beredar ke seluruh tubuh, serta menjaga oksigen dari nafas bantuan tetap mencapai otak dan organ vital lainnya. Jangan berhenti memberikan CPR sampai jantung korban mulai berdenyut atau datang bantuan medis. Bila anda kelelahan mintalah orang terlatih lainnya untuk menggantikan anda sampai datang bantuan medis. Tekanan dada pada anak harus sedikit lebih ringan untuk menghindari cidera, dan juga dengan irama yang sedikit berbeda. Nafas bantuan pada anak juga dengan irama berbeda dan tiupan pun tidak terlalu kuat, apalagi menangani bayi. 


Kemudian Putra buru-buru berlutut di sebelah dadanya Ajeng. Dengan tangan terjatuh dari kepalanya Ajeng, dia mulai menggeser jarinya sepanjang tulang rusuk terbawah ke arah pertemuan dengan tulang dadanya Ajeng. Putra meletakkan ujung jari tengah di sana dan telunjuknya persis di atasnya. Putra menempatkan pangkal telapak tangan yang lain di tulang dadanya Ajeng, persis di sebelah telunjuk. 

__ADS_1


__ADS_2