Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
39. Bermalam Dengan Sang Pangeran 14


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Di sinilah tempat yang harus di tekan.” Putra bergumam sendiri yang masih sedih. Putra mengangkat tangan yang pertama tadi dan meletakkan di atas tangan yang kedua. Putra menggenggamkan tangan kedua sehingga jari-jari tangan yang pertama terjungkit dari dadanya Ajeng. Putra berlutut tegak dengan bahu tepat di atasnya Ajeng dan kedua sikunya putra terkunci tetap lurus. Putra menekan ke bawah, menekan dadanya Ajeng empat sampai lima centi meter, lalu Putra mengendurkan tekanan tanpa memindahkan tangannya. Putra menekan dadanya Ajeng seperti itu lima belas kali dengan frekuensi sekitar lima belas tekanan dalam sepuluh detik, dengan irama yang dijaga seimbang. Lalu Putra memberikan dua kali nafas bantuan kepadanya. Putra melanjutkan siklus lima belas tekanan dan dua bantuan pernapasan tersebut. Setelah empat putaran, putra memeriksa denyut jantung dan nafas Ajeng, dia memeriksa setiap beberapa menit sesudahnya. Namun, Ajeng masih tidak bernafas. Putra melanjutkan pemberian CPR lagi berkali-kali, akhirnya Ajeng bernafas kembali. Putra masih panik dikira Ajeng belum bernafas, ketika dia menekan dadanya Ajeng dan memberikan nafas buatan, Ajeng sudah sadar dan air mata Putra menetes lagi ke matanya yang mulai membuka.


“Putra. apa yang kamu lakukan. Kamu telah merabaku dan menciumi aku. Dasar ka...kam..kamu jahat.” Ajeng pingsan kali ini dia bisa bernafas. Air mata Ajeng mengalir karena dia ketakutan dengan makhluk tadi. Dia terpukul dengan kebohongan Putra, dia juga sangat terpukul dengan perbuatan Putra yang merabanya dan menciuminya ketika Ajeng tidak sadarkan diri. Ajeng marah di dalam hatinya, padahal maksud hati Putra menyelamatkan nyawanya Ajeng yang telah tidak bernafas. Sepertinya kali ini Ajeng salah paham begitu juga kejadian janji palsunya. Putra berbohong karena dia tidak ingin persahabatan dirinya dengan Grace, Medina dan tentunya Ajeng yang sangat dicintainya putus. Putra tidak sepenuhnya melihat Ajeng mandi yang memakai handuk. Dia tidak sengaja, sungguh dia tidak sengaja.

__ADS_1


“Syukurlah kamu Yu’ bisa bernafas kembali.” Air mata putra di usap dengan tangannya, dia juga mengecek nadinya Ajeng di lehernya. Dia duduk lemas melihat ketiga sahabatnya terkapar di lantai kamarnya. Putra membisikkan di telinganya Ajeng ketika dia pingsan dan bisa bernafas kembali. “Aku sangat mencintaimu, terima kasih kamu masih hidup untukku. Aku harapkan kamu selamanya adalah milikku. Aku rela menggantikan nyawaku agar kamu bisa hidup kembali. Jika nanti aku mati karena aku menghidupkanmu, aku rela dan sangat senang sekali. Aku pikir kamu seperti belahan jiwaku saja yu’. Semoga kamu bisa bahagia dengan hidupmu. Dan semoga lagi hari esok, kamu lebih bahagia dari biasanya. Dengan nafasku kamu menjadi Ayu’ yang baru dari sebelumnya, itulah harapanku untukmu”. Di dalam kamarnya, Putra mendengarkan suara musik dari MP3 player yang masih menyala. Suara musik itu dari lagunya GITA GUTAWA yang berjudul DENGAR. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 31).


Setelah Grace, Medina dan Ajeng ini sadar, ketiganya berbaring di atas kasur yang berada di dalam kamar tidurnya Putra. Tubuh mereka tertutupi selimut berwarna merah bergambar Klub Bola Manchester United. Mereka bertiga lemas dan tidak mampu bergerak. Untuk menggerakkan tangan saja berat, apalagi membuka selimut rasanya malas dan tidak sanggup. Grace, Medina dan Ajeng mulai menangis dikiranya sudah mati. Akhirnya ketiganya sadar jika mereka tidak sendirian karena mereka saling mengenal satu sama lain. Ketiga gadis cantik ini mulai duduk dan saling berpelukan sambil menangis. Setelah merasa tenang perasaan dan hatinya, ketiganya mulai agak baikan karena mereka merasa tidak sendirian lagi.


“Di manakah kita berada.” Kata Grace kepada Ajeng dan Medina. Ajeng melihat sekeliling kamar sambil berfikir bahwasanya dia merasa pernah kemari. Nalarnya Ajeng tidak nyampai untuk menyesuaikan dengan pikirannya karena kepalanya Ajeng pusingnya bukan main, sehingga dia bingung sendiri berada dimana saat ini. Ruangan kamar tidur terang karena lampunya menyala. Di dalam kamar itu ada kasur kecil yang sempit untuk bertiga. Ada meja belajar dan lemari yang bersih dan terawat. Lantai kamar itu dari keramik berwarna hijau, ternitnya di cat seperti langit dan nampak ada gambar matahari pagi, kamar ini masih bau cat. Setelah mereka bertiga puas memandangi kamar yang asing bagi mereka bertiga, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Grace, Medina dan Ajeng takut bukan main, ketiganya masih lemas. Untuk jalan saja tidak kuat, apalagi lari. Karena mereka bertiga merasa lemah, wajahnya ditutupi dengan kedua tangannya. Di dalam hatinya mereka merasa ketakutan, apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah nantinya ada roh gentayangan dan makhluk berjubah atau ada yang lebih buruk lagi. Setelah seorang lelaki masuk, mereka bertiga sadar jika mengenalnya.


“Syukurlah kalian selamat dan sudah mulai sadar.” Kata Putra yang menaruh minuman di meja belajar. Kemudian Putra mendatangi mereka di atas kasur. Grace, Medina dan Ajeng menangis sejadi-jadinya. Ketiga gadis ini memeluk Putra sangat erat sambil menangis. Air mata mereka mengalir di tubuhnya, putra hanya diam dan merasa kasihan dengan ketiganya. “Tenang, kalian sudah aman disini.” Ketiganya masih memeluknya sangat erat. Air mata ketiganya makin menumpahkan di bajunya Putra. Wajahnya Putra mulai pucat karena sangat erat pelukan ketiganya, sehingga Putra sulit bernafas sampai dia batuk-batuk. Ketiga gadis cantik sahabatnya baru sadar kalau Putra susah bernafas di karenakan mereka memeluk sangat erat. 

__ADS_1


“Putra, benarkah ini kamu. Dan di manakah kita berada.” Ucap Medina yang mulai mengusap air matanya.


“Apakah di sini aman Put.” Ucap Grace yang bertanya kepadanya dan memandangi wajahnya Putra. Sedangkan Ajeng masih diam, sepertinya dia masih linglung dengan kejadian yang sangat berat dalam hidup mereka.


“Tenang, kalian aman disini. Kalian saat ini juga tinggal di Istana Pangeran.” Kata Putra sambil bercanda untuk menghibur mereka, agar mereka bisa melupakan yang telah dialami ketiganya. Ketika Putra mengatakan Istana Pangeran, sayup-sayup di pikiran Ajeng mulai sadar dengan Pangeran Cintanya waktu kecil yang akan menjadi tunangannya. Dia pun mulai sadar kebohongan Putra selama ini. Ketiganya heran dengan omongannya Putra 


“Pangeran siapa Put.” Tanya Grace dan Medina, sedangkan Ajeng masih diam. Dia memandangi Putra yang tersenyum kepadanya. Nampak, Ajeng sangat marah sama Putra. Dia ingin sekali melabraknya, sayangnya saat ini dia tidak berdaya karena tubuhnya masih lemas dan kurang tenaga.

__ADS_1


“Pangeran Sarmijo, saudagar kaya raya jaman Mataram Islam.” Ucap Putra sambil tertawa cekikikan dan menjadi tawa yang lebar. “Hahahaha......” Medina menonjok mukanya Putra, Grace memukul dadanya Putra. Ajeng mencubit sekeras mungkin menjadikan kulitnya Putra menjadi lebam, dia marah dan jengkel sama Putra. Seketika itu juga Putra menjerit kesakitan, terutama jubitannya Ajeng yang tidak biasanya, Putra merasakan ada keanehan dengan Ajeng. Ketika dia melihat wajahnya lagi. Wajahnya Ajeng sangat marah tidak seperti biasanya, Putra merasakan ketakutan yang tersirat di hatinya. Sebenarnya menjerit adalah pantangan baginya sebagai lelaki yang jantan menurut persepsinya. Ketiga gadis ini marah besar dan memukuli Putra sejadi-jadinya, putra masih tertawa sambil memohon ampun kepada mereka. Grace, Medina dan Ajeng tidak mengampuni putra, ketiganya masih memukulinya agak lama sampai puas. Setelah ketiganya merasa sudah puas memukulinya, marah mereka menjadi reda. Rasa takut yang dialaminya pun sirna, kecuali Ajeng yang masih menyimpan marah sama Putra. 


__ADS_2