
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......SECARIK JIMAT SAKTI......
AKAN TIBA suatu masa rembulan akan redup meninggal kan cahayanya yang indah. Jika di lihat dari bumi dengan terowong cinta, ada bidadari yang sedang tidur pulas di kediaman yang menitiskan mata kerinduan. Bintang kelam yang mendayu dengan pukulan ledakan dahsyat telah kocar-kacir. Sang bintang telah sirna menjadi terowongan bagi lubang cacing untuk perjalanan jauh bagi yang mengetahuinya. Meteor dari langit bersorak-sorai jika Raja Meteor dan Tiga Ratunya di Bumi menemukan jodohnya. Telah lama berselang kerajaan meteor telah di kuasai Baginda Iblis, hanya beberapa saja yang di selamatkan oleh penghuni petama yang sangat bijak dan waspada.
Hujan pada malam hari yang ganas menjadi reda bagi yang kehilangan. Menyesakkan tangis bahagia bagi pohon yang telah basah sambil menitikkan tangisan dari daun mereka untuk ibunda tercinta yang telah lama tiada. Ayam pagi telah berkokok, sedangkan ayam sore telah tidur. Keempat remaja ini bangun dari tidurnya, mereka mendapati batu meteor itu menjadi buku saku lagi. Dan anehnya lagi, mereka di kejutkan ketika sedang tidur. Bangunpun terasa berat karena mata yang indah tidak mau berkompromi. Akhirnya mereka berempat meloncat dari kasurnya, buku saku berulah lagi, kali ini mengeluarkan suara yang lirih. Putra mendatangi sumber suara yang tidak jelas di kamar tidurnya, ternyata buku sakunya telah berbunyi. Begitu juga ketiga gadis cantik sahabatmya, di kamar mereka masing-masing dibangunkan dengan suara yang lirih mencerminkan aura ganas. ketika keempatnya memegang buku sakunya masing-masing, terjadilah aura yang sangat lembut namun kejam bagi yang merasakan. Mereka kaget dan panik, terjadi perubahan dari suara yang lirih menjadi keras sekali sehingga mereka terjungkal ke belakang karena hempasan suara tadi dari buku saku mereka.
__ADS_1
Buku Putra mengeluarkan suara dentuman yang sangat keras, sehingga telinganya sampai sakit. Secara reflek dia menutupi telinganya dengan kedua tangannya. Seketika itu juga buku sakunya mengeluarkan asap putih yang memenuhi ruangan kamar tidurnya. Pandangan matanya tertutupi asap, dia tidak bisa melihatdi sekeiling kamarnya. Setelah asap putih itu menyerang putra asap itu menghilang yang mengakibatkan badannya menjadikan bau yang sangat menyengat. Dia terduduk lemas, kepalanya pusing terkena aroma bau yang menyengat. Putra memegang dan menutupi hidungnya dengan tangan kanannya.
Sedangkan buku saku Medina mengeluarkan suara menjerit yang sangat keras, telinganya sangat sakit dia menjerit sambil menutupinya dengan kedua tangannya. Dia sangat takut luar biasa, asap putih mulai keluar dari buku sakunya sehingga menutupi kamarnya. Medina tidak bisa melihat di sekeliling kamarnya, dia berjalan meraba-raba memegangi dinding menuju pintu untuk keluar dari kamarnya. Sebelum dia sempat membuka pintu untuk keluar dari kamar, asap itu mulai menghilang mengakibatkan Medina menjadi mengantuk luar biasa tanpa bisa membuka matanya lagi. Dia ambruk di lantai kamarnya di pagi yang sedang buta.
Lain lagi dengan buku sakunya Ajeng, buku saku miliknya mengeluarkan suara tertawa terbahak-bahak yang sangat nyaring sekali. Dia ketakutan, badannya mematung. Dia tidak bisa bergerak seolah-olah ada yang mengunci badannya. Buku itupun mengeluarkan asap putih yang memenuhi ruangan. Ketika asap itu menghilang, seluruh badannya Ajeng menjadi gatal-gatal luar biasa. Dia bisa bergerak sambil menggaruk-nggaruk badannya. Seketika dia bisa bergerak, secepatnya dia berlari menghindar keluar dari kamarnya sambil berteriak-teriak mencari papa dan mamanya.
Akhirnya, keempat remaja ini pingsan seharian, tubuh mereka panas karena demam hingga keesokan harinya. Masing-masing keluarga mereka bingung, ketiga gadis cantik sahabat Putra di rawat sama bunda mereka. Sedangkan Putra sungguh kasihan, dia tidak mempunyai keluarga yang merawatnya. Ketika mereka sedang sakit, Grace, Medina dan Ajeng saling berkomunikasi menceritakan kejadian yang mereka alami. Sedangkan Putra tidak bisa di hubungi, ketiganya gadis cantik sahabatnya sangat khawatir dengan kondisinya. Di dalam pembicaraan ketiga gadis ini mereka sepakat untuk tidak memegang apalagi membahas tentang buku sakunya lagi. Dua hari sesudah kejadian Putra menghubungi mereka, ketiganya sangat bersukur jika putra tidak kenapa-napa.
__ADS_1
Setelah dua hari mereka istirahat, keempatnya sangat khawatir jika ada keanehan lagi. Mereka menunggu dan menyiapkan mental menantikan sebuah kejadian yang menguras energi mereka. Keempatnya merasa senang karena sesutu yang aneh tidak mendatangi mereka lagi. Pagi harinya Putra mengambil buku saku miliknya yang tergeletak di bawah meja, ketika itu dia terlempar bukunya juga terlempar masuk ke dalam meja belajarnya. Tangan putra menyentuh buku sakunya, seolah-olah buku saku miliknya bisa mengerti perasaan putra, bahkan keduanya bisa saling memahami satu sama lain.
Hari ketiga semenjak kejadian dia tidak mempunyai kegiatan. Iseng-iseng Putra membuka buku sakunya, dia mulai menulis salam pekenalan kepada buku sakunya pada halaman pertama seperti ketika dia menuliskan pada malam hari yang lampau. kali ini bukunya tidak mengeluarkan sinar dan suara angin, bukunya malah diam. Halaman kedua saja yang bergerak-gerak, seketika itu juga dia membuka halaman kedua. Di halaman ini, dia menemukan jawaban salam perkenalan balik dari buku saku miliknya. Putra menulis lagi pada halaman satu, “Siapakah aku yang menulis ini?” Putra sengaja menguji buku ini untuk mengetahui kepribadian dirinya sendiri. Halaman kedua bergetar, ketika dia membukanya putra terkejut dan takjub. Di dalam halaman kedua ada catatan data dirinya, mulai dari umurnya putra, kelahirannya, suka warna apa, dan makanan favorit putra pun ada. Bahkan kemarin jika dia bolos sekolah pun tahu kalau dia bolos sama teman-temannya nongkrong di pinggir mall.
Entah kenapa si Putra ini memikirkan Ajeng sahabatnya yang dia cintai, tanpa berfikir panjang putra menuliskan di halaman buku saku halaman satu. “Sekarang Ajeng sedang melakukan apa?” kata tulisan Putra. Pada halaman kedua buku itu bergetar, dia membalikkan halaman dan membukanya. Nampak di halaman kedua itu tertulis “Sedang mandi”. Putra berfikir, “oh dia sedang mandi ya.” Dia lebih condong merasakan firasat pada buku ini, dia pun bertanya di dalam hati, “kira-kira halaman ketiga untuk apa ya fungsinya.” Dia berfikir lama sekali sambil melamun. Ketika dia sadar dari lamunannya, tanpa di sadari oleh dirinya dia menuliskan pada halaman kesatu di buku sakunya tanpa berfikir panjang. “Bisakah menampilkan Ajeng saat ini.” Halaman kedua bergetar, dia membalikkan halaman untuk melihat apa yang terjadi . “Bisa, lihat aja halaman ketiga.” Putra membuka halaman ketiga, dia sangat terkejut melihat Ajeng yang sedang memakai handuk menutupi badannya. Putra melihat Ajeng sedang gosok gigi. Seketika itu juga dia menutup buku saku miliknya, dia sangat takjub dengan buku sakunya. “Waow...Ajeng bisa di lihat memakai buku saku ini, malahan dia sedang mandi lagi.” Kata Putra yang tertawa sendirian di dalam kamar. Dia berfikir, bila pertanyaan tadi lima menit sebelumnya saja pasti Putra melihat Ajeng sedang mandi, lebih buruknya tanpa memakau baju lagi. Dia bersukur ketika itu Ajeng tidak melepaskan bajunya, tubuhnya tertutupi dengan handuk. Putra tahu jika sampai itu terjadi dia takut menyakiti dan menghianati persahabatan mereka selama ini. Dia juga takut berdosa jika dia melakukannya, walau bagaimanapun dia masih punya iman mencintai Tuhannya yang takut terhadap siksaanNya.
Putra bertanya lagi dengan buku sakunya, dia mulai menuliskan pada halaman pertama.“Siapakah namamu.” buku itu menjawab di halaman kedua. “Panggil saja namaku dengan Passport Sarmijo.” Dia menulis lagi. “Kenapa dengan Sarmijo, itukan namaku dan kenapa Sarmijo enggak di balik menjadi Ojimras. Di sampul depan tertulis seperti itu kan.” Kata tulisannya Putra. Buku sakunya menjawab di halalaman kedua. “Karena aku adalah dirimu dan dirimu adalah aku. Sekarang kita adalah satu dan tidak akan bisa terpisahkan, cobalah lihat di cermin seperti itulah kamu dan aku. Jika tangan kamu kanan maka aku sebelah kiri. Walau bagaimanapun kita adalah berkebalikan.” Kata tulisan Putra lagi. “Apakah kamu mempunyai energi dan apakah bisa habis.” Jawab dari buku itu adalah. “Jika energiku habis aku akan menjadi batu meteor lagi, jika ingin cepat diriku hidup lagi dan menjadi Passport Sarmijo, maka kamu harus menaruh aku di bawah sinar matahari. Jika tidak ada matahari karena malam hari, maka biarkan saja aku dan letakkan aku sesukamu karena aku akan membangkitkan energi cadanganku ketika aku menyedot sinar matahari yang lalu. Ketika aku menjadi meteor, pencetlah tombol merah diatasnya. Secara ajaib aku akan berubah menjadi Passport Sarmijo. Jika kamu ingin menghendaki aku menjadi meteor karena ketika itu aku menjadi pasport sarmijo, maka pencet saja tombol merah yang berada di atas kotak bergambar diriku yang mirip deganmu.” Kata Putra lagi, “Adakah yang kamu smbunyikan dariku.” Jawab Passport Sarmijo, “Ada yaitu secarik jimat sakti. Jimat ini adalah untuk membuka dan menjadikan kerugian bagi sang pemilik yang budak mereka akan lari jika terbukanya dan keluarnya jimat ini dari badanku.” Kata Putra lagi,”Bisakah kamu mengeluarkan jimat sakti itu dari badanmu ini. Jawab Passport Sarmijo,”Bisa, lihat saja. Dia akan keluar pada halaman kedua, tunggu sebentar biar dia terbebas dari cengkramanku.” Jimat sakti ini pun akhirnya keluar dari tubuhnya. jimat ini terjatuh ke lantai, jimat sakti diambil dengan tangannya. Putra mencoba membuka jimat sakti ini, namun jimat sakti ini tidak bergeming sama sekali. Sepertinya kulit dari jimat ini seperti kulit manusia, namun Putra tidak mau tahu karena kulit itu berwarna kecoklatan seperti kulit kerbau. Sampul jimat ini agak tipis dari kulit hewan kerbau. jimat sakti ini di putari benang emas untuk menali jimatnya. Inilah keajaibannya, jika saja benang emas ini putus pasti jimatnya akan terbuka. Putra bertanya lagi kepada buku sakunya yang bernama Passport Sarmijo. “Kenapa secarik kertas ini tidak bisa di buka.” Buku saku yang bernama Passport Sarmijo itu menjawab.” Harus memakai mantra.” Perbincangan Putra dengan buku saku miliknya sampai malam hari, jam satu pagi Putra sudah malas untuk meneruskannya. Dia pun memasukkan secarik kertas jimat sakti ke dalam buku sakunya. jimat sakti menempel lengket sekali di sampul dalam bagian belakang.
__ADS_1
##T##