Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
49. Bermalam Dengan Sang Pangeran 24


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Put, kamu harus bertahan. Kamu harus kuat, aku selalu menemanimu. Janganlah kamu pergi dulu, kita masih muda put. Cita-cita kita masih menanti kita untuk kita raih bersama. Yang semangat ya Put, kamu harus kuat dengan masa kritismu ini.” Ucap Gudeg yang menangis sambil membisikkan di telinga kanannya Putra. Wajah Putra nampak tersenyum sedikit tapi sangat pucat. “Sepertinya dia nggak ada harapan lagi.” Kata Gudeg di dalam lintasan hatinya. Namun, dia menepisnya jika Putra masih kuat. “Put, aku percaya jika kamu masih kuat bertahan, yang semangat Put doaku menyertaimu.” Kata Gudeg yang sedih, takut jika Putra akan tiada untuk selamanya. Ketika Gudeg berada di Unit Gawat Darurat, hapenya berdering. Terdengar deringan suara musik dari lagunya Group Band ANDRA & THE BACKBONE yang berjudul LAGI DAN LAGI. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO.38).


Sementara itu Grace, masuk ke rumahnya Ajeng sambil berteriak memanggil mereka. Tubuhnya Grace penuh dengan darahnya Putra. Grace menangis dan marah, dia benci dengan mereka semua. Dia masuk ke dalam sambil berlari dari teras rumahnya Ajeng..


“Kenapa kalian tega, kenapa Jeng kenapa Din. Putra itu sahabat kita, kenapa kita perlakukan dia seperti ini.” Grace menangis di dekat pintu, dia hanya berdiri sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah Putra yang telah terkapar. Ajeng dan Medina kaget dengan kondisinya Grace yang penuh dengan darah di celana dan bajunya di bagian perut. Tangan dan lengannya juga ada noda darah. Mereka berdua mendekati Grace, keempat siswa ini juga berdiri.


“Kenapa kamu Grace, apa yang terjadi dengan Putra.” Tanya Medina yang shock.


“Apa dia berbuat nekat Grace, oh Tuhan.” Lanjut Ajeng yang juga shock, dikira Putra bunuh diri.

__ADS_1


“Ini perbuatan teman-temanmu itu Jeng, mereka telah menganiaya Putra. Kepala Putra berdarah, sekarang dia sulit untuk bernafas. Dadanya Putra di tendang sama orang itu, wajahnya juga dipukuli.” Kata Grace yang histeris. Jarinya menunjuk ke pelaku yang menghajar Putra, keempat siswa inilah tersangkanya. Mulutnya Ajeng dan Medina di tutup dengan tangan mereka yang sedang shock, kaget, sedih dan merasa ngeri. Mereka bertiga lari menuju tempatnya Putra yang terkapar, begitu juga keempat siswa ini. Sayang, Grace sangat kecewa, Putra sudah tidak ada di tempatnya. Dia sangat terpukul sekali.


“Putraaaaa....maafkan aku, dimana..kamu berada, kamu pergi kemana Put.” Grace mencari dan menangis secara histeris. Dia berlari keluar rumah, disusul juga Ajeng dan Medina. Sia-sia saja Grace mencarinya, dia duduk lemas di tengah jalan yang kehujanan. Dia menangis sangat sedih, Ajeng dan Medina mendekatinya dan memeluknya.


“Putra maafkan aku. Aku enggan bisa menolongmu. Kamu jangan mati Put, semoga saja ada yang menolongmu. Jeng, Din kenapa dengan kita, kenapa kita jahat sama dia.” Kata Grace yang kecewa dengan kedua sahabatnya. Ketiganya menangis sedih.


“Maafkan aku Grace, aku memang sudah keterlaluan.” Kata Ajeng yang menangis sedih. Dia sangat menyesal sekali.


“Aku juga sama. Maafkan aku ya Grace. Put bertahanlah kamu di sana. Coba Jeng hubungi hapenya Putra, mungkin diangkat sama dia.” Kata Medina. Ajeng mengeluarkan hapenya, mereka bertiga berdiri. Ajeng menghubungi Putra, selalu terjawab di luar area. hapenya Putra tertinggal di pinggir jalan, hapenya rusak terkena air. Grace mendatangi keempat siswa ini, dia sangat berani dan marah. Grace menampar mereka berempat dan menyuruh mereka untuk pergi. Keempat siswa ini pergi dan mempunyai dendam sama Putra. Ajeng memegang tubuhnya Grace yang penuh darahnya Putra, dia menangis tidak rela jika sahabatnya sampai mati. Dia terus memanggil putra berkali-kali dan memeluk Grace.


“Grace, maafkan aku ya.” Ajeng memegang tangan kanannya Grace.


“Kamu nggak salah Jeng, aku hanya sedih bagaimana nasib Putra saat ini.” Jawab Grace yang memeluk Ajeng.

__ADS_1


“Semoga Putra dilindungi sama Tuhan, kita doakan dia selamat. Jika sampai Putra enggak selamat, maka kitalah yang salah kepadanya. Kita nggak menerima dia apa adanya, aku merasa bersalah sama Putra.” Ucap Medina yang sedih. Dia mulai bangkit mendekati mereka berdua. “Ajeng, jadi kamu udah tunangan? Sejak kapan.”


“Iya Ajeng, benarkah itu.” Tanya Grace kepada Ajeng.


“Loh, kalian kok tahu kalau aku udah tunangan. Yang tahu aku tunangan kan cuma aku dan kedua Orang Tuaku, kenapa kalian bisa tahu.”


“Kamu nggak sadar ya Ajeng. Ketika kamu marah sama Putra tadi, kamu bilang kamu udah tunangan bahkan kamu pun menunjukkan cincin di jari manis kananmu. Kamu juga bilang sama Putra, jangan ganggu hidupku lagi karena aku sebentar lagi akan menikah.” Ucap Medina yang melihat wajahnya Ajeng yang belum menyadari jika dia mengatakan itu.


“Iya Ajeng apa benar yang kamu katakan tadi. Jeng kasihan Putra loh, dia enggak nyangka jika kamu udah tunangan. Apa selama ini kamu belum memberitahukan kepada Putra jika kamu udah tunangan, sepertinya dia terpukul deh. Jika aku lihat bahasa tubuhnya Putra, dia sangat mencintaimu loh Jeng.” Kata Grace. Dia juga penasaran sama seperti Medina.


“Ya Tuhan, apa yang aku rahasiakan selama ini keceplosan ketika aku marah sama dia. Aku menyesal memberitahukan dia seperti ini, sebenarnya aku akan memberitahukan sama Putra jika momennya tepat. Tapi aku membuat suatu kesalahan besar, jadi yang tahu aku tunangan enggak cuma Putra, kalian dan juga keempat teman sekolahku juga tahu. Ya Tuhan, kenapa ini bisa terjadi.” Ucap Ajeng yang menutup mukanya dengan kedua tangannya. 


“Sejak kapan kamu tunangan Ajeng, kamu sudah tahu calon suamimu.” Tanya Grace yang penasaran di sebelahnya Ajeng.

__ADS_1


“Ajeng kamu kan masih kecil, masih berumur lima belas tahun, kok udah mau menikah sih. Ceritanya gimana sih Jeng jika kamu enggak berkeberatan memberitahukan kepada kita.” Tanya Medina. Dia mulai duduk di sebelah mereka berdua.


__ADS_2