
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
...... LEDAKAN DAHSYAT BERANTAI......
SAAT INI, DI JAKARTA...
PAGI itu aku telah sarapan nasi putih yang terlumuti dengan ornamen seni dari Jawa dan Jepang. Melayang-layang ribuan layangan berbentuk telinga yang aku buat selama dua puluh enam tahun hanya untuk diperhatikan olehmu oh adindaku yang manis. Dari sudut manapun daku melihat, engkau nampak mempesona. Gaun birumu keputih-putihan telah memantrai aku menjadi pecinta sejati. Pelukan hangatmu membutakan aku membuat terbuai lemas yang daku tidak sadar menyakitimu selama ini. Terbakar sudah gaunmu atas dosaku selama ini, yakni daku telah membakar tubuhmu dari dalam gaun birumu. Lemas tubuhku aku telah sadar dari tidurku, engkau menjadi pesakitan yang susah terobati. Engkau hampir mati, ya...daku melihatmu adinda engkau hampir mati. Maafkanlah aku sayang...maafkanlah aku yang menyakitimu, tapi aku tidak berdaya dari nafsuku untuk memperkaya diri. Aku keruk habis kulitmu sampai dagingmu yang paling dalam, darah hitammu telah memancar lama hanya untuk sebuah kenikmatan kecepatan berkendara. Rambut hijaumu yang tergerus menjadi polos di kepalamu, yang ketika basah terkena air kehidupan engkau menjadi coklat keruh yang sangat jelek dan bau dari kejauhan. Gaunmu pun sama, aku lubangi hanya untuk kenikmatan diriku yang sesaat. Engkau telah berlubang dan telanjang, sehingga sang surya pun menikmatimu tanpa mahar dan persetujuan dari para walimu. Engkau lah Eyang Putri yang dipertuankan. Engkaulah Baginda Bumi yang sengsara oleh penghuni di tubuh kulitmu, kutu-kutu itu telah memakanmu secara pelan-pelan. Dan sesungguhnya apa yang terjadi saat ini, nampaknya engkau wahai baginda bumi telah marah sama kami. Salju putih telah hancur meleleh menjadi ingus yang mencair masuk ke dalam laut biru, tiupan mulut indahmu sangat kencang sehingga menggoncangkan rumahku yang sangat kecil ini. engkau telah mengutuki kami dengan jurusmu yang bernama Global Warming. Engkau marah...ya aku tahu jika dikau marah. Jiwamu emosi sehingga tubuhmu mendidih, mengakibatkan kami yang bertubuh kecil ini engkau anggap sebagai kutu pengerat dan parasit. Awaaa...sss Baginda Bumi telah melayangkan meriam-meriam putihnya dari kantongnya.
iiiii
Seorang pemuda buru-buru memberhentikan taksi, setiap dia memberhentikan taksi selalu saja taksi itu sudah terisi dengan penumpang, agaknya dia sedikit emosi tidak ada taksi yang kosong. Sambil melihat jam di tangannya, dia agak panik jika tertinggal pesawat yang akan di naikinya. Jakarta saat ini sangat panas, sehingga orang berjalan di luar rumah seperti berjalan di padang pasir. Pemuda ini kepanasan dengan membawa tas gendong yang lumayan besar, sebentar lagi pesawatnya akan terbang kurang dari empat puluh lima menit. Di depan pemuda ini nampak ada taksi tidak berpenumpang, maka pemuda ini turun di tengah jalan sambil membuka lebar-lebar kedua tangannya untuk memberhentikan taksi yang selalu lewat. Dia merasa dicuekin tidak dianggap penumpang taksi yang berbudiman jika melalui jalan ini. Sopir taksi ini kaget bukan main, dia mengerem secara mendadak dan sedikit syok.
“Sudah bosan hidup hai pemuda kampret.” Kata sopir taksi yang kesal banget dengan pemuda ini. Mobil taksi ini berwarna biru dan taksinya pun masih baru.
__ADS_1
“Emang gua bosan nunggu disini. Udahlah, bukain aja bagasinya gua mau naruh barang nih.” Kata pemuda ini sambil berjalan ke belakang membawa tiga tas besar.
“Oke bos.” Kata sopir taksi sambil membuka bagasi dengan menarik knob, bagasi itu terbuka. Pemuda ini memasukkan seluruh tasnya, kemudian dia kedepan lagi membuka pintu depan dan duduk di kursi depan dekat dengan sopir.
“Pir ke bandara lets go.” Kata pemuda ini sambil memasang sabuk pengamannya.
“Mau terbang tujuan kemana bos, buru-buru amat.”
“Bisa sih tapi nambah ongkos, gimana deal nggak.”
“Tambah berapa tujuh ribu.”
“Wah...kagak bisa bos, kalau tarif kencang maka fulusnya juga kencang.”
__ADS_1
“Bisa aja lo pir.” Kata pemuda ini sambil garuk-garuk kepala sambil membesarkan AC di depannya yang sedari tadi kepalanya kepanasan. ”Maunya berapa pir kalau harganya cocok, langsung tancap gas aja mumpung jalanan ini agak sepi nih.”
“Empat puluh dua ribu deal ngga.” Kata sopir taksi ini sambil senyam-senyum sendiri karena baru bahagia. Ternyata sopir ini baru dapat gajian dan di dalam taksinya tadi juga menemukan dompet yang isinya uang banyak banget. Dia juga berniat tidak mau mengembalikan kepada pemiliknya karena nanti malam mau mengadakan pesta kecil-kecilan sama gengnya sambil taruhan bola Liga Champion. Pastinya dia akan bertaruh banyak dengan uang yang didapat dari dompet penumpang yang kehilangan di mobil taksinya. Di dalam taksi pemuda ini, sayup-sayup terdengar musik dari group band SLANK yang berjudul SEPERTI PARA KORUPTOR dari ringtone hapenya pemuda ini. Di dalam hatinya, sopir taksi ini sebenarnya malu karena dia adalah koruptor bagi penumpangnya yang telah kehilangan dompet. Tapi sopir ini hanya tersenyum sendiri yang membuat heran pemuda yang berada di sampingnya.
“Ah...pejabat yang diatas sana aja nggak malu kok korupsi bermilyar-milyar duitnya rakyat yang kagak berdosa.” Bisikan di dalam hatinya. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 2).
“Oke dah bang tapi yang cepet ya, dah ditunggu sohib gua di bandara.”
“Oke bos, pegangan yang kenceng, kita ngebut.” Kata sopir taksi ini. Dia menginjakkan gasnya dalam-dalam. Mereka melajukan kencang taksinya menuju ke bandara Soekarno Hatta.
Namun baru beberapa menit jalanan kembali macet lagi dan pergerakan mobil di Jakarta saat itu padat merayap. Ketika taksi yang ditumpangi pemuda ini berjalan pelan, di samping taksinya ada bus umum yang lagi heboh. Dia melihat keributan di dalam bus, ternyata seorang copet tertangkap basah. Dia di hajar habis-habisan sama penumpang yang kesal dan marah dengan tindakannya. Copet ini dihadiahi bogem mentah dengan penumpang yang paling gendut. Pencopet itu mencoba kabur dengan meloncat lewat pintu belakang. Namun sayang, mukanya pencopet itu di hajar dengan balok besi sama penumpang yang sedang marah dengan ulahnya. Herannya lagi pemuda yang berada di dalam taksi ini merasa perasaannya tidak enak, ada yang mengganjal di dalam hatinya. Dia seolah-olah merasakan ada sesuatu yang akan terjadi dengan dirinya. Dia juga bertanya dalam hati ketika melihat keributan di dalam bus, dari mana penumpang yang sangat marah itu mendapatkan balok besi. Dengan sekali tebasan dengan balok besi tersebut, maka copet itu klenger. Dia di injak-injak sama ketiga laki-laki yang marah karena dompet temannya di ambil sama copet ini. Kemudian taksinya jalan lagi dan dia tidak bisa melihat bus itu lagi karena bus itu terjebak dalam kemacetan. Sedari melihat kejadian yang tragis itu, perasaannya bertambah tidak enak.
Ketika taksinya berada di jalan tol yang agak sepi, ada dua mobil sedan berwarna hitam dan yang satunya berwarna silver menyalip dari belakang taksinya. Mobil yang berwarna hitam dari kanan dan mobil berwarna silver melewati bahu jalan. Kedua mobil ini melajunya sangat kencang seolah-olah sedang mengikuti balapan liar. Sampai supir taksinya pemuda ini pun menyumpah-nyumpahin kedua mobil tadi. Kedua mobil yang ngebut itu mulai menjauhi mereka. Pemuda dan sopir taksi ini melihat mobil yang silver tetap di bahu jalan dan akan menyalip truk berisi bensin. Mereka berdua kaget dan panik, sopir taksi secara reflek menginjakkan rem mobilnya. Karena dari kejauhan mobil silver ini, ban roda kanan bagian depan meletus. Mobilnya oleng masuk ke dalam bawah truk berisi bensin. Naas benar mobil sedan silver itu, sedan itu terlindas truk sampai gepeng. Sedangkan truk berisi bensin ini oleng kekanan menuju lajur cepat mengenai sebuah bus ekonomi. Mengetahui kejadian itu supir taksinya membanting setir ke bahu jalan, dia memelankan taksinya sambil mengerem mendadak.
__ADS_1