
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......RAME BERKUNJUNG KE TOKO BUKU......
“Putra, cepat pergi dari situ. Rak itu sangat berbahaya bagi kita.” Ucap Grace, Medina dan Ajeng yang memanggilnya. Namun, Putra tetap diam mematung.
“Eh kalian semua, datanglah kemari.” Kata Putra yang memanggil mereka agar mendekati dia. Ketiganya pun mendekati putra dengan berharap-harap cemas entah apa yang akan terjadi nantinya. Setelah mereka bertiga mendekati Putra, dia mengambil buku saku lagi untuk mereka. Sebelum Putra memberikan buku saku tersebut Putra berucap kepada mereka.
“Bacalah mantranya kemudian pegang buku saku ini.” kata Putra serius yang berwajah agak aneh. Grace, Medina dan Ajeng bengong tidak mengerti apa yang dimaksud dengan perkataan Putra.
“Mantranya adalah Terjaga Sudah Harapan Yang Kelam.” Kata Putra lagi. Akhirnya ketiganya mengikuti kata-kata Putra yang akhirnya dia memberikan buku saku tersebut kepada ketiga gadis sahabatnya yang cantik-cantik ini.
Masing masing mereka berempat membawa satu buku saku ini. Ketika salah satu dari mereka membuka buku sakunya untuk mengetahui apa isinya, tiba tiba saja keempatnya terlempar dan terjerembab ke belakang menjauhi lorong rak Filsafat Kehidupan Dan Penghianatan Alam Yang Tertidur. Ada semacam sinar terang dari rak itu melemparkan mereka. Grace, Medina dan Ajeng yang saat itu paling jauh dari rak tersebut jatuh kebelakang. Sedangkan Putra yang paling dekat dan membelakangi rak Filsafat Kehidupan Dan Penghianatan Alam Yang Tertidur untuk memberikan buku saku yang didapatkannya terlempar jauh mengenai rak bagian novel. Dia sampai menjatuhkan beberapa novel yang ditumpuk meninggi di atas meja. Braaa....kk, suara keras terdengar ke seluruh ruangan. Novel-novel yang ditumpuk berserakan di lantai tertindih badannya Putra.
__ADS_1
Keempat remaja ini pun berdiri sambil melihat rak Filsafat Kehidupan Dan Pengkhianatan Alam Yang Tertidur menghilang di depan matanya. Di samping kedua Rak Filsafat itu saling bergeser masuk yang mulai berdekatan dan saling berjajar kembali ke kondisi semula. Rak yang kumuh itu di tengah-tengah rak tadi yang sebenarnya lorong rak. Para pengunjung toko buku mulai berdatangan ke tempat sumber suara yang novelnya pada jatuh tertindih badannya putra. mengetahui Putra jadi pusat perhatian, maka seketika itu dia berpura-pura memasang muka yang dibloon-bloonkan untuk di paksa dirinya agar di kasihani. Ketiga gadis sahabat putra mendekati dan menanyakan kondisinya. Demikian juga pengunjung yang lain keheranan, mereka berpikir apa yang sebenarnya di lakukan Putra terhadap rak novel.
“Kamu ngga apa-apa kan Put.” Kata ketiga sahabatnya yang mendekatinya. Mereka memeganginya untuk berdiri. Sebelum Putra di tolong sama mereka, dia tadi berdiri ketika rak itu hilang dan dia pun pura-pura duduk lagi sambil berakting.
“Tolong pegangi aku terus, biar aku pura-pura pusing agar mereka tidak curiga.” Kata Putra sambil berbisik-bisik kepada ketiga sahabatnya. Security juga karyawan toko buku mendatangi sumber suara untuk mendekati Putra. “Maaf pak, tadi enggak sengaja. Tiba-tiba saja kepalaku pusing dan terpeleset. Kata dokter pribadi saya sih, saya terkena tekanan darah rendah. Lihatlah badanku yang mulai kurus begini, apa kalian enggak percaya.” Kata Putra yang di pegangi Grace dan Ajeng. Dia berakting, pura-pura hilang kesadaran.
Mengetahui ada kehebohan di malam itu, dan yang membuat ulah adalah Putra sahabatnya Medina. Om, tante dan keponakannya yang berada di toko buku mendatangi keramaian dan bertemu dengan Medina. Grace serta Ajeng memegangi Putra yang sempoyongan, sedangkan Medina memegang dahinya. Dia pura-pura mengecek suhu tubuh badannya putra.
“ya Tuhan, Putra, kamu enggak apa-apa kan nak. Ajeng juga di sini bersama kalian. jadi kalian sudah saling kenal yah. Ajeng dan Putra kan anak dari sahabatku.” Kata tantenya Medina yang melihat Putra pura-pura pusing sambil kepalanya digeleng-gelengkan. Tangannya Putra juga memegangi dahinya.
“Ya sudah kalau gitu, enggak apa-apa. biar Om sama Tantemu yang mengurus ini. memang lebih baik Putra di ajak turun ke bawah untuk mencari tempat istirahat buat dia.” Kata Omnya Medina.
“Makasih banyak Tante, Om.” Kata ketiga gadis yang memegangi Putra. Akhirnya mereka turun ke lantai bawah sambil cekikikan, sebelum mereka turun Ajeng menyuruh Medina dan Grace untuk ke kasir membayar buku yang di beli. Ajeng juga menitipkan buku yang telah di ambil untuk di bayar ke kasir. Di antara buku itu adalah tiga komik dan dua novel. Ajeng dan Putra menunggui mereka berdua di tangga sambil melihat mereka yang sedang mengantri di bagian kasir. Mereka berempat berjalan turun ke bawah dari lantai tiga menuju ke lantai satu. Akhirnya keempatnya keluar gedung untuk melihat konser Indie Band sambil duduk di tangga membicarakan kejadian tadi. Karena suara musiknya keras dan pembicaraan agak terganggu, keempatnya pindah tempat menjauhi keramaian. Putra mengajak ketiga gadis cantik ini membicarakan pengalaman yang paling seru sepanjang sejarah di toko buku di bawah pohon, dekat dengan jalan raya. Tepatnya di trotoar yang agak sepi dari orang yang berlalu lalang.
__ADS_1
Gerangan apa yang terjadi, masing-masing membuka buku saku yang mereka dapatkan dari toko buku yang tidak kelihatan oleh kasir ketika mereka keluar dari sana. Keempatnya takjub sekaligus heran, karena di sampul bagian depan bertuliskan Aksara Jawa Pribumi masa lampau.
“Ini tulisan apaan sih, kok kayak tulisan dari Negeri Thailand.” Kata Grace yang melihat sampul dari buku saku ini. “Tapi lebih mirip Aksara Jawa deh, ada beberapa kesamaan dalam hurufnya.”
“Kalian kan orang Yogya, yang tiap harinya pakai bahasa Jawa. Pasti tahu dong ini tulisan apa.” Tanya Medina kepada Ajeng dan Putra.
“Abjad dari awal sih sama yaitu Ha Na Ca Ra Ka, tapi selanjutnya benar-benar beda.” Kata Putra sambil membolak-balikkan buku sakunya.
“Buku ini terdiri dari tiga halaman, kenapa kosong enggak ada isinya ya.” Tanya Ajeng sambil membolak-balikkan isi buku saku tersebut. “Sampulnya semacam dari kulit hewan yang berwarna hitam secara keseluruhan, mungkin dari kulit kerbau atau dari kulit sapi.”
“Eh tunggu dulu deh, di atas bagian tengah sampul depan di atas tulisan Aksara Jawa sepertinya ada tombol berwarna merah. Milik kalian sama enggak kayak milikku.” Kata Putra sambil memencet tombol itu. Seketika itu juga keajaiban terjadi lagi, bukunya mengeluarkan asap putih dari tombol itu. Asap putih ini mengenai wajahnya Putra, dia kedinginan karena asap itu terasa dingin sekali.” Wow...apa ini bukuku keluar asap, rasanya dingin banget.” Ketiga cewek cantik ini minggir dan menghindar dari Putra yang wajahnya di penuhi asap putih. Buku itu juga mengeluarkan suara petir ketika asap makin banyak. Ketiganya menjerit dan lari ketakutan sambil menutup telinganya.
“Putra....awas. kamu enggak apa-apa kan put.” Kata ketiga gadis cantik ini mendekatinya. kepalanya Putra pusing terkena suara petir, dia juga kedinginan. Wajahnya pucat terkena asap yang berkabut dingin.
__ADS_1
“Waduh...kepalaku pusing dan huuuuu...dingin sekali mukaku, coba pegang deh pipiku ini.” Katanya sambil menawarkan pipinya untuk di pegang. Badannya juga merinding kedinginan.
“Iya dingin banget, seperti terkena salju mukamu.” Kata ketiganya yang memegangi wajahnya Putra bergantian.